Mewujudkan Cita-Cita
“Pada Saat Kita Berada Di Puncak Kesulitan Pada Saat Itu Kita Sedang Membuka Pintu Kesuksesan.”~Djajendra
Setiap orang memiliki cita-cita untuk diwujudkan, tetapi beberapa tuntutan hidup akan melucuti cita-cita tersebut. Cita-cita akan lenyap ditelan keadaan untuk bertahan hidup di lingkungan yang secara perlahan-lahan menghilangkan kehendak jiwa. Peradaban menciptakan sistem kehidupan agar kita melayani kekuasaan yang terlihat dan tak terlihat. Bagi peradaban, setiap orang adalah sumber daya untuk menguatkan dan memperkaya yang berkuasa. Cita-cita atau kehendak alam bawah sadar kita membutuhkan kesadaran untuk bebas dari sistem peradaban. Pertama, kita harus berani membawa kehidupan kita di luar zona kenyamanan kita, selanjutnya memiliki integritas untuk mewujudkan cita-cita sambil beradaptasi dengan kenyataan hidup kita yang baru. Beradaptasi dengan keadaan proses kehidupan kita akan menjadi kunci keberhasilan di luar zona kenyamanan.
Cita-cita yang sesuai dengan tujuan jiwa adalah obat sehat untuk sepanjang kehidupan kita. Jika kita mampu mengenali tujuan jiwa dan sudah menjalani rutinitas kehidupan sesuai dengan tujuan jiwa, maka semua hal yang kita lakukan di dalam hidup akan memberikan kebahagiaan. Pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakan selalu akan berada di jalan kehidupan yang kita inginkan. Semua kehendak kita berada dalam kondisi mengetahui dan mampu bertindak sesuai pengetahuan. Cita-cita menjadi kekuatan kehendak untuk diwujudkan melalui tujuan, rencana, dan tindakan yang fokus untuk hasil terbaik. Cara kita melakukan setiap proses untuk mewujudkan cita-cita membutuhkan disiplin, pembelajaran terus-menerus, kontemplasi, ritual yang fokus pada kualitas proses, dan kebiasaan-kebiasaan yang secara khusus dilakukan untuk mencapai kemajuan di level yang lebih tinggi.
Pikiran, perasaan, dan kehendak wajib ditransformasikan menjadi kekuatan utuh yang fokus untuk melakukan tindakan tepat target. Gaya hidup kita adalah fokus seratus persen pada proses diri kita dalam mewujudkan cita-cita. Paradigma kita tidak lagi mengurusi kekurangan orang lain, tidak lagi menjadi penilai untuk kehidupan orang lain. Kita secara total sadar untuk membangun diri sendiri dari dalam. Semangat dan spirit hidup kita fokus pada cara kita melakukan segala sesuatu, untuk meningkatkan kesadaran dengan memberikan cahaya kemenangan bagi diri sendiri. Intuisi, imajinasi, dan inspirasi dihadirkan dari cahaya kemenangan. Kehendak yang dikuasai cahaya kemenangan akan memberikan intuisi untuk bertindak. Pikiran yang dikuasai cahaya kemenangan akan memberikan imajinasi untuk menyusun rencana. Perasaan yang dikuasai cahaya kemenangan akan memberikan inspirasi untuk membentuk tujuan dan cara mencapainya. Jiwa yang sudah menyatu dengan cita-citanya akan menemukan cara untuk mewujudkannya. Apa pun kesulitannya, seberat apa pun prosesnya, jiwa tidak akan membatalkan cita-citanya. Membatalkan cita-cita berarti kehilangan kebutuhan jiwa, dan hal ini sama saja membawa jiwa ke dalam penderitaan hidup.
Bagaimana kita menemukan tujuan jiwa? Menemukan tujuan jiwa adalah tujuan keberadaan kita di dalam hidup ini. Cita-cita yang satu nafas dengan kehendak jiwa adalah jalan kehidupan yang memberikan kita keindahan dan kebaikan. Tujuan jiwa pada dasarnya menyangkut sebuah gaya hidup atau sebuah cara kita menjalani hidup untuk kebahagiaan. Ada semacam suara hati yang memiliki kehendak untuk menjalani kehidupan yang sesuai kebutuhan jiwanya. Kehendak bebas ini sadar untuk berkontribusi kepada kehidupan dengan sebaik-baiknya. Kehendak ini ada di dalam suara hati dan alam bawah sadar. Kehendak di alam sadar sangat bergantung pada kebutuhan hidup, ego, dan nafsu. Tidak mudah untuk membangun kehidupan berdasarkan kehendak alam bawah sadar, sebab kehendak sadar selalu hadir dengan logika dan naluri untuk menghadapi dunia luar diri. Pada saat harus menghadapi dunia nyata di luar diri kita akan membatalkan atau menghilangkan cita-cita dari tujuan jiwa. Kita mulai sibuk melayani cita-cita dari ego dan nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak pernah habis di sepanjang hidup kita.
Dominasi ego, nafsu, dan kebutuhan hidup di dalam kompetisi akan menghilangkan secara total cita-cita kehendak jiwa. Dalam jangka pendek realitas ini menyenangkan hati, tetapi dalam jangka panjang semua pencapaian ini akan menjadi sesuatu yang biasa. Kehendak jiwa yang diabaikan akan menciptakan kekosongan di dalam hati. Kekosongan ini sifatnya menyakitkan, tetapi tidak tahu cara mengobatinya. Semua kesuksesan yang dihasilkan dari ego, nafsu, dan kebutuhan hidup akan meninggalkan jiwa di dalam kebingungan. Kekayaan dan kesuksesan berlimpah meninggalkan kekosongan di mana kita merasa bingung, dan pikiran kita mulai mempertanyakan apa yang salah. Kesalahan utama kita adalah sudah meninggalkan atau membatalkan cita-cita kehendak jiwa. Di dalam kondisi ini, kita memiliki kesempatan untuk mulai mewujudkan cita-cita kehendak jiwa. Hal ini baru dapat dilakukan kalau kita sudah mampu membatalkan cita-cita kehendak ego, nafsu, dan kebutuhan hidup. Ini tidak mudah dan bukan pekerjaan ringan. Kemampuan kita untuk memutuskan hubungan dengan ego, nafsu, dan kebutuhan hidup memerlukan tindakan setara dengan mewujudkan cita-cita kehendak jiwa.
Pada waktu kita melakukan transformasi di luar zona kenyamanan, kita akan melewati fase paling gelap dan paling sulit. Kita harus menguatkan diri sendiri dengan memahami bahwa saat yang paling gelap adalah sebelum fajar. Pada saat kita berada di puncak kesulitan pada saat itu kita sedang membuka pintu kesuksesan. Tidak ada kata terlambat dalam hidup ini. Selama nafas bersama kita semua kehendak dapat diwujudkan. Kita memiliki kemampuan untuk keluar dari satu tujuan dan memasuki tujuan lain. Kita memiliki kemampuan untuk keluar dari satu cara dan memasuki cara yang lain. Kita ini dirancang untuk beradaptasi dengan realitas seperti apa pun. Kita mampu keluar dari satu dimensi dan memasuki dimensi lainnya. Keberadaan kita menakjubkan di dalam keajaiban yang diluar jangkauan imajinasi kita. Pada saat terjadi transformasi, kita wajib membebaskan diri dari ketakutan dan keterbatasan. Secara bertahap tumbuhkan kesadaran dari dalam diri untuk menerima dan bersyukur dengan apa pun yang terjadi di dalam transformasi. Kalau kita menyikapi transformasi dari pikiran dan perasaan, maka kita akan sangat menderita. Sebaliknya, kalau kita menyikapi transformasi dari kesadaran dan penyerahan total dalam keikhlasan, maka transformasi akan menjadi proses yang indah dan memberikan banyak pengetahuan untuk memperkaya kebijaksanaan hidup kita. Kesadaran untuk menerima transformasi membuat kita seolah-olah sedang terdampar di lautan pengetahuan. Rasanya seperti sedang berada di pulau pengetahuan tanpa memahami jalan keluar, dan sedang belajar pengetahuan yang memperkaya jiwa. Selama transformasi kita tidak pernah tahu jalan keluar, kita hanya berputar dalam kerasnya transformasi. Secara perlahan merasakan kekuatan di dalam diri dan mulai melihat cahaya yang menuntun menuju jalan kesuksesan. Sampai akhirnya kita mampu merasakan sudah hidup di dunia cita-cita kehendak jiwa dengan kesuksesan dalam keberlimpahan di semua aspek kehidupan.
Djajendra, 07092025
Email djajendra2024@gmail.com