“Akuntabilitas Adalah Bagian Penting Dari Proses Kerja, Bukan Sekedar Untuk Ceramah Dan Propaganda, Tetapi Untuk Membentuk Perilaku Kerja.”~Djajendra
Akuntabilitas adalah tentang kemampuan untuk menjalankan sebuah proses kerja dengan jujur dan terbuka, sehingga mampu mempertanggungjawabkannya secara rinci dan seutuh-utuhnya. Akuntabilitas merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas good governance dan kepemimpinan. Orang-orang yang terlalu berkuasa dan memiliki lingkaran kekuasaan yang absolut akan sangat sulit menjalankan fungsi akuntabilitas. Sebab, kekuasaan dan kekuatan yang melekat bersama mereka akan menjadi penghalang utama untuk menjalankan fungsi akuntabilitas di dalam manajemen. Hilangnya akuntabilitas dalam manajemen dan kepemimpinan menjadikan keputusan-keputusan yang diambil pasti merugikan stekeholders secara luas. Organisasi akan berjalan tanpa good governance, sebab ambisi dan nafsu akan menguasai proses kerja. Karena kekuatan dan kekuasaan absolut yang berjalan dengan ambisi dan nafsu untuk pencapaian, maka efektivitas organisasi tidak akan berjalan dan semakin hari semakin menurun. Kualitas organisasi dan kepemimpinan yang turun secara konstan mengakibatkan pencapaian kinerja juga selalu turun. Jika ini berlangsung dalam waktu yang lama secara terus-menerus, maka dapat dipastikan keberadaan organisasi ini akan lenyap secara perlahan-lahan. Akuntabilitas adalah perilaku kerja yang memperlihatkan proses kerja di dalam tanggung jawab dan kejujuran. Sistem dan prosedur kerja difungsikan dengan integritas yang kuat, sehingga semua rencana dan tindakan tercatat dalam dokumentasi yang dapat dipercaya.
Akuntabilitas berfungsi untuk mengendalikan nafsu kekuasaan pemimpin yang berpotensi merugikan stakeholders. Pemimpin jujur dan rendah hati selalu bekerja dari integritas yang paling tulus untuk menjaga agar lingkaran kekuasaannya tidak melakukan pelanggaran hukum, etika, moral, dan kemanusiaan. Mencegah diri sendiri dari potensi penyalahgunaan kekuasaan dan kepemimpinan. Bekerja di dalam sistem dan tata kelola yang efektif untuk kepentingan stakeholder dengan jujur, penuh tanggung jawab, terbuka, dan tidak pernah mengambil keuntungan pribadi atau kelompok. Semua ini hanya dapat dilakukan oleh pemimpin yang sudah tercerahkan dan memahami arti kehidupan yang sesungguhnya. Pada saat pemimpin sudah sadar bahwa nafas yang dia hirup itu pun harus dikembalikan kepada kehidupan, maka barulah dia mampu menjalankan fungsi akuntabilitas dengan seutuh-utuhnya. Intinya, akuntabilitas baru dapat dijalankan kalau kekuatan spiritual sudah menguasai kesadaran seorang pemimpin. Selama pemimpin dan lingkaran kekuasaannya masih dalam tahap idealis, pragmatis, dogma, ambisi dan nafsu; maka akuntabilitas sangat sulit dijalankan. Dia hanya akan menjadi konsep dan teori yang sering disebut dan dibicarakan tanpa pernah mampu menjalankannya atau hidup di dalamnya dengan jujur.
Akuntabilitas dihasilkan dari kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif muncul ketika good governance dijalankan dengan melibatkan setiap individu di dalam organisasi secara efektif. Setiap orang yang memiliki pekerjaan mampu melakukan pekerjaan mereka dengan prinsip-prinsip good governance secara bebas dan mandiri. Tidak boleh ada orang di lingkungan kerja yang tidak memiliki peran atau fungsi. Oleh karena itu, setiap orang yang di lingkungan kerja sudah mengerti apa yang harus mereka kerjakan, kapan harus dimulai dan diselesaikan, bagaimana cara menyelesaikannya, bagaimana suatu keputusan dibuat, mereka juga harus mengerti cara mengendalikan diri, dan paham bahwa mereka berada dibawah kendali apa atau siapa. Intinya, setiap individu di dalam organisasi sudah memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjalankan perilaku akuntabilitas di setiap langkah dari proses kerja dan proses strategi. Organisasi yang paling efektif memiliki tim di mana setiap orang merasa mereka memiliki pengaruh. Mereka merasa diperhatikan dan didengar, sehingga keberadaan mereka dibutuhkan dalam kolaborasi untuk mencapai kinerja terbaik. Pemimpin terbaik mampu meningkatkan prestasi dan kinerja dari orang-orangnya, dengan cara memberitahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.
Akuntabilitas adalah bagian penting dari proses kerja, bukan sekedar untuk ceramah dan propaganda, tetapi untuk membentuk perilaku kerja. Jika dalam sebuah proses kerja tidak ada perilaku akuntabilitas, maka proses kerja itu sulit dipertanggung jawabkan dengan seutuh-utuhnya. Perilaku kepemimpinan yang menjadi teladan dan mampu mempromosikan energi akuntabilitas pada orang-orangnya , akan membangkitkan kekuatan besar di dalam organisasi untuk bekerja dengan kualitas dan prinsip-prinsip good governance. Perilaku akuntabilitas memberikan kemandirian kepada pegawai untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab. Persoalan akan muncul pada saat pemimpin tidak terlalu yakin dan percaya pada kemampuan karyawannya. Berharap dan menuntut perilaku akuntabilitas kepada karyawan yang kurang kita percaya tidak pernah bisa didapatkan. Akuntabilitas baru dapat dihasilkan pada saat kepercayaan di lingkungan kerja mencapai puncaknya. Ketika pemimpin mempercayai masing-masing orang boleh membuat keputusan sesuai batas dan wewenangnya, maka perilaku akuntabilitas akan muncul.
Terimplementasinya akuntabilitas dalam sebuah organisasi sangat tergantung kepada gaya kepemimpinan. Pemimpin yang berani dan sangat percaya untuk memberikan kekuasaan dan wewenang penuh kepada karyawannya boleh berharap dan menuntut akuntabilitas dari mereka. Sebaliknya, jika pemimpin belum mampu memberikan kekuasaan dan wewenang kepada karyawan, maka akuntabilitas akan hilang dari proses kerja. Intervensi dan keterlibatan pemimpin di setiap proses kerja membuat karyawan kehilangan hak untuk mempertanggung jawabkan pekerjaan tersebut. Akuntabilitas hanya bisa lahir dari kepercayaan penuh kepada pelaksana kerja. Tugas pemimpin adalah memberikan konsep, definisi, sistem, prosedur, kebijakan, dan arah untuk mencapai hasil yang diinginkan. Selanjutnya, semua proses kerja ada dalam kekuasaan dan wewenang pelaksana kerja. Jika pemimpin sudah berani melepaskan kontrol penuh kepada pelaksana kerja, barulah pemimpin berhak menuntut akuntabilitas dari pelaksana kerja. Selama proses kerja sepenuhnya masih ditangan pemimpin, maka berharap perilaku akuntabilitas dari karyawan adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Bagaimana pemimpin bisa mengharapkan karyawan untuk bertanggung jawab jika mereka benar-benar tidak diberikan wewenang, kekuasaan, visi yang jelas, sistem yang efektif, prosedur yang meminimalkan resiko, dan definisi tentang apa yang perlu dilakukan dengan jelas.
Djajendra, 19072025
Menghubungi email djajendra2024@gmail.com