BEKERJASAMA DENGAN VISI DAN NILAI BERSAMA

“Setiap orang dalam tim merupakan bagian yang memberikan energi positif untuk menciptakan budaya kerja sama yang kuat.”~Djajendra

Merasa bersatu dan selalu satu persepsi adalah kekuatan yang paling penting dalam membangun kerja sama tim yang unggul. Setiap individu menjadi berharga ketika mampu membangun hubungan yang kuat dengan satu sama lain, dan bekerja untuk misi organisasi. Bekerja dengan visi dan nilai bersama merupakan fondasi untuk keberhasilan tim.

Bekerja dalam perusahaan berarti bekerja secara tim. Semua fungsi kerja dan individu harus mampu menggabungkan kompetensinya untuk menyatu dalam kerja sama. Tidak mungkin dalam kehidupan kerja dan bisnis semuanya dikerjakan oleh satu orang, diperlukan tim kerja yang andal dan berkualitas, agar bisa mencapai tujuan dan mengatasi semua hambatan tersulit. Prinsipnya, kerja bersama-sama lebih memudahkan pencapaian terbaik daripada kerja sendirian.

Hubungan kerja sama haruslah bersifat rasional dan diterima oleh akal sehat. Dalam hal ini, pimpinan harus mampu meningkatkan keterlibatan setiap individu secara rasional; mendorong motivasi individu untuk meningkatkan produktivitas; membangun hubungan antar pribadi yang solid dengan visi, nilai-nilai, dan persepsi yang sama; serta membangun jembatan untuk membuat setiap individu terhubung satu sama lain.

Diperlukan kesadaran individu untuk terhubung dan terikat dengan visi organisasi; terhubung secara produktif dan benar-benar bekerja keras untuk menciptakan kinerja tinggi; terhubung secara ikhlas dan sukarela untuk menjadi bagian dari keberhasilan tim. Dan semua ini merupakan tugas pemimpin untuk membangun kesadaran individu, lalu menyatukan mereka semua di dalam kekuatan tim yang solid dan unggul.

Keberhasilan organisasi bukan ditentukan oleh kehebatan individu, tetapi oleh kehebatan individu untuk bekerja dalam perasaan bersatu dan terhubung menjadi satu jiwa yang solid. Kekuatan persatuan dan merasa terhubung dalam satu hati di dalam tim, akan menjadikan kerja sama tim lebih kuat. Bersatu dan terhubung menjadi satu jiwa yang solid di dalam tim membutuhkan kemampuan untuk berpikir positif, mengelola ego, mengembangkan kerendahan hati, mengembangkan energi kolaborasi, berkomunikasi dan berkoordinasi secara produktif, berkomitmen menjaga kebersamaan, dan menyelesaikan konflik dengan bijak.

Setiap orang dalam tim merupakan bagian yang memberikan energi positif untuk menciptakan budaya kerja sama yang kuat. Menciptakan dan mengalirkan pola kerja sama dengan cara berbagi kompetensi, bersatu bersama nilai, berkomunikasi berdasarkan visi, dan selalu terhubung secara solid dalam situasi apapun.

Persahabatan dan perasaan senasib di sepanjang proses kerja akan menyatukan tim menjadi lebih solid. Tim yang menyatu selalu berhubungan erat dan memiliki empati dalam mencapai kinerja terbaik. Dalam hal ini, setiap individu akan menjadi kekuatan yang menyebabkan peningkatan kinerja dan produktivitas organisasi.

Kerja sama tim tidak selalu mudah, setiap hubungan berpotensi untuk saling bertentangan, dan berpotensi melalui pasang surut perjalanan bersama. Oleh karena itu, pemimpin harus selalu menciptakan suasana kerja yang optimis, penuh harapan, penuh kehangatan, dan memfasilitasi setiap individu untuk bersatu dan menyatu dalam visi organisasi. Di samping itu, pemimpin juga harus membangun budaya organisasi dan budaya kerja tim yang menciptakan kebahagiaan bersama.

Meningkatkan visi bersama tim dan meningkatkan budaya terhubung haruslah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Membangun ikatan kerja sama tim yang unggul dan menciptakan hubungan antar pribadi yang mau bekerja dalam keunggulan kompetitif, menjadi tugas penting dari pemimpin. Kebersamaan dalam kerja sama tim yang solid akan mengembangkan budaya kerja sama organisasi yang kuat. Pemimpin harus selalu hadir dan ada di dalam tim, serta membantu tim bergerak dengan produktif untuk mencapai misi organisasi.

Pemimpin harus mendengarkan pendapat setiap individu dan menyatukan mereka untuk mencapai tujuan besar organisasi. Nilai-nilai organisasi dikembangkan dan ditransformasikan menjadi energi etos kerja, dan memotivasi individu untuk beraktivitas sehari-hari di dalam tim yang berfondasikan nilai-nilai organisasi.

Visi dan nilai-nilai bersama haruslah menjadi energi untuk menyatukan dan menggerakan anggota tim. Setiap orang di dalam tim harus saling peduli satu sama lain. Pemimpin harus berkonsentrasi dengan sepenuh hati, untuk dapat merawat orang-orang agar selalu bersikap dan berperilaku sesuai nilai-nilai organisasi. Intinya, tim harus dijaga dan dirawat agar selalu menghasilkan keuntungan bagi organisasi.

Pemimpin bersama-sama setiap anggota tim harus jujur menilai diri sendiri dan berkomitmen penuh untuk menghasilkan kinerja terbaik. Dalam hal ini, integritas dan akuntabilitas harus dipromosikan dan dibuktikan oleh setiap orang melalui etos kerja.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENINGKATKAN KERJASAMA ANTAR DIVISI DI TEMPAT KERJA

“Ketika hati para pemimpin divisi dikuasai energi kegelapan, maka tidak ada terang yang bisa mengharmoniskan hubungan kerja. Nyalakan cahaya agar terang menemani kerja sama antar divisi untuk kinerja terbaik.”~Djajendra

Semua divisi dalam struktur organisasi bertanggung jawab untuk bergerak ke satu arah, yaitu ke arah visi yang sama. Walaupun fungsi dari masing-masing divisi berbeda, mereka tidak diciptakan untuk menjadi berbeda. Semua divisi diciptakan untuk bersatupadu melalui kolaborasi agar dapat menghasilkan kinerja terbaik. Intinya, tidak boleh ada penghalang untuk kolaborasi di tempat kerja. Setiap devisi harus memiliki kesadaran untuk beradaptasi dengan cara kerja masing-masing fungsi yang berbeda. Perbedaan masing-masing divisi sesungguhnya untuk memperkuat keamanan dan memperkecil resiko organisasi, bukan untuk menonjolkan ego sektoral atau ego fungsinya.

Sebuah kenyataan bahwa semua divisi dibentuk untuk menjadi kekuatan eksekusi dalam mencapai kinerja terbaik. Ini adalah kenyataan yang harus bekerja di dalam organisasi, bukan setiap divisi saling menonjolkan ego dan melemahkan proses pencapaian kinerja. Produktivitas dan kinerja adalah dua hal yang harus dimiliki dan diperjuangkan secara bersama-sama oleh setiap divisi. Kesadaran para pemimpin divisi untuk bersatupadu di dalam kolaborasi yang solid dan kompak, adalah sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan integritas.

Manajemen difokuskan untuk menyatukan semua kekuatan divisi dalam mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Saling mendukung, saling tolong menolong, proaktif, dan saling membantu menyelesaikan semua prioritas kerja, haruslah menjadi etos dari semua divisi. Kurangnya kerja sama dan empati antara divisi berdampak negatif terhadap pencapaian kinerja. Semua pimpinan divisi harus meninggalkan ego masing-masing, serta mampu mengalir di dalam kolaborasi dan koordinasi yang produktif bagi pencapaian terbaik.

Koordinasi dan kolaborasi adalah kekuatan yang tidak boleh diabaikan. Bila diabaikan, maka perusahaan berpotensi kehilangan produktivitas kerja. Akibatnya, proses kerja menjadi tidak efektif dan produktif; masalah akan menumpuk tanpa mendapatkan solusi yang tepat. Di samping itu, moralitas dan disiplin kerja akan turun, dan semua orang bekerja seadanya tanpa memiliki fokus dan gairah untuk mencapai target.

Mengembangkan sikap positif dan menciptakan budaya kerja yang fokus pada pencapaian terbaik. Untuk itu, setiap divisi harus dibukakan hati dan pikirannya agar mereka sadar tentang keberadaan mereka di tempat kerja. Semangat untuk selalu bekerja sama, melayani, berkontribusi, dan menyumbangkan ide-ide atau solusi yang tepat, haruslah menjadi perilaku kerja sehari-hari. Kebersamaan di dalam perbedaan fungsi kerja harus dijaga demi menciptakan budaya kerja yang unggul. Kesadaran untuk mengembangkan sikap rendah hati dan ikhlas melayani yang lain menjadi sesuatu yang penting.

Salah satu penyebab perusahaan menjadi tidak sehat karena rasa tinggi hati dari masing-masing pimpinan divisi terhadap pemimpin divisi yang lain. Saling berkompetisi untuk mendapatkan tempat istimewa di hati dewan direksi menjadikan kerja divisi kurang berkolaborasi. Bila hal ini terus-menerus berlangsung, maka perusahaan berpotensi menderita kerugian dan kehilangan peluang untuk mencapai kinerja terbaik. Oleh karena itu, peran direksi untuk mengkoordinasi semua divisi secara adil dan profesional, serta memotivasi semua pimpinan divisi untuk selalu bekerjasama dan berkolaborasi dengan baik, akan meningkatkan kinerja divisi.

Para pimpinan divisi harus saling percaya satu sama lain, dan menyatukan staf-stafnya di dalam hubungan kerja yang saling melengkapi. Semua pimpinan divisi harus bersama-sama bergerak secara efektif dan produktif untuk mencapai tujuan perusahaan. Hindari konflik sejauh mungkin, sebab konflik dari pimpinan divisi bisa mempengaruhi dan menarik karyawan dan manajemen ke dalam konflik. Dan harus diingat bahwa konflik hanya memperbesar masalah dan menyulitkan penyelesaian pekerjaan. Dampaknya, produktivitas akan turun dan etos kerja menghilang.

Hubungan kerja yang produktif tidak pernah dibangun dari hubungan antagonis; hubungan yang penuh cinta dan peduli di dalam perusahaan akan meningkatkan produktivitas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMIMPIN DAN BUDAYA KERJA KERAS

MOTIVASI 29042016

“Pemimpin adalah teladan untuk budaya kerja keras. Bila pemimpinnya banyak alasan, tidak berani mengambil resiko, dan malas bekerja keras; maka, dia adalah pemimpin yang sedang melemahkan budaya kerja keras.”~Djajendra

Dalam budaya kerja keras, kualitas pemimpin menentukan apakah budaya kerja keras itu tumbuh atau tidak berkembang. Bila pemimpin sadar bahwa seorang pemimpin ditakdirkan untuk bekerja lebih keras seumur hidup; lebih mencurahkan perhatian dan perilaku produktif; lebih berani menerobos resiko dan memenangkan situasi; lebih siap untuk menderita; dan lebih siap untuk menaklukkan setiap rintangan dan hambatan dengan integritas yang tinggi. Maka, pemimpin tersebut menjadi energi untuk menumbuhkan budaya kerja keras.

Ketika pemimpin bekerja keras, dia akan melakukannya bersamaan dengan pemberdayaan individu dalam kerja keras. Energi dan semangat kerja keras pemimpin ditularkan kepada setiap individu yang bekerja dibawah koordinasinya. Sebagai pemimpin, dia menghormati kehebatan individu, sehingga setiap karyawan dimotivasi dan dikuatkan kompetensinya agar siap berkontribusi dalam kerja keras.

Budaya kerja keras adalah budaya yang berkoordinasi, berkomunikasi, dan berkolaborasi secara profesional. Ide dan pendapat harus mengalir dan terkoordinasi secara baik, hal ini diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat. Setiap karyawan dan pemimpin adalah satu kekuatan yang tak terpisahkan. Setiap orang di dalam struktur organisasi adalah satu tubuh dengan satu visi yang jelas, untuk mengeksekusi rencana dan target. Dengan kata lain, semua orang di dalam organisasi bersikap dan bertindak di dalam koordinasi yang dipimpin dengan semangat gotong royong dalam menghasilkan yang terbaik.

Setiap individu di tempat kerja adalah kekuatan yang bisa mengungguli apapun yang ditargetkan. Prinsip-prinsip budaya kerja keras harus ditanamkan ke dalam mind set, dan dimotivasi agar menjadi perilaku kerja yang andal. Karyawan dan pemimpin harus bersama-sama dalam satu persepsi, keyakinan, visi, misi, nilai-nilai, dan budaya kerja keras. Tidak boleh ada yang melemahkan budaya kerja keras, semua orang harus berkomitmen dalam menjaga budaya kerja keras yang efektif dan produktif.

Dalam budaya kerja keras dibutuhkan kontribusi intelektual dan perilaku produktif dari individu. Selanjutnya, dari keunggulan individu dibangun sebuah budaya kerja keras yang kolektif; budaya kerja keras yang kolektif harus terlihat dalam kolaborasi kerja. Pendekatan individu sangat penting agar setiap orang merasakan sentuhan pemimpin dan merasa diperhatikan oleh manajemen. Jadi, walau di tempat kerja harus digunakan pendekatan kolektif atau team work, tetapi pendekatan individu akan menguatkan budaya kerja keras. Artinya, kombinasi yang baik dari pendekatan individu dan pendekatan kolektif dapat meningkatkan kinerja setiap orang.

Etos kerja yang tak kenal lelah; etos kerja yang tak pernah menyerah; etos kerja yang ikhlas berkorban untuk mendorong kinerja; etos kerja yang kaya integritas; etos kerja yang penuh disiplin dan semangat; etos kerja yang mengejar prestasi dan kinerja; etos kerja yang kreatif dan inovatif; etos kerja yang berjuang untuk menjaga prestasi terbaik; etos kerja yang rendah hati dan terus-menerus meningkatkan kompetensi; etos kerja yang memperbaiki kelemahan dan meningkatkan kekuatan, adalah bagian dari budaya kerja keras. Intinya, budaya kerja keras harus dilengkapi etos kerja yang membuat budaya kerja keras tersebut unggul dan bersaing di pasar dunia yang bebas.

Dalam budaya kerja keras, setiap karyawan harus unggul dengan kompetensi inti. Ini adalah dasar untuk menghasilkan kualitas kerja terbaik. Setelah kompetensi inti sudah berkualitas tinggi, selanjutnya setiap individu secara berkelanjutan dimotivasi untuk pengembangan kualitas soft skill diberbagai aspek dan dimensi individu. Nantinya, soft skill inilah yang menjadi inti dari budaya kerja keras tersebut.

Soft skill sangat menentukan budaya kerja keras. Sebab, budaya kerja keras tidak akan ada bila soft skill karyawan dan pimpinan lemah atau kurang. Jadi, untuk menciptakan budaya kerja keras dalam harmoni, loyalitas, integritas, dan akuntabilitas. Maka, perusahaan harus menyiapkan anggaran untuk penguatan soft skill karyawan secara berkelanjutan dan terus-menerus di sepanjang zaman. Siapapun yang meremehkan tentang pentingnya soft skill diberbagai dimensi individu akan kecewa dengan kinerja individunya.

Pemimpin harus mengkoordinasikan budaya kerja keras. Pemimpin harus menjadi teladan yang menghormati setiap potensi individu, untuk dimaksimalkan menjadi energi kolektif organisasi. Pemimpin harus menetapkan kebijakan yang menginternalisasikan nilai-nilai untuk mendukung budaya kerja keras. Pemimpin tidak boleh hanya menuntut, berharap, dan menunggu karyawan untuk bekerja keras. Tetapi, membangun budaya kerja keras dan menciptakan gaya manajemen yang berorientasi pada budaya kerja keras.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGKOORDINASI DAN TERKONEKSI SECARA SOLID UNTUK BISA MENGEKSEKUSI RENCANA MENJADI TINDAKAN YANG TEPAT

VISI 29022016“Visi adalah harapan. Visi adalah masa depan. Tanpa visi yang jelas sulit melangkah menuju masa depan.”~Djajendra

Dengan mengkomunikasikan visi, pemimpin menempatkan dirinya untuk bekerja sesuai arah, serta mampu menghubungkan karyawan dengan tujuan perusahaan yang lebih besar. Pemimpin menyediakan nilai-nilai yang tepat bagi karyawan untuk menjadi perilaku kerja yang menguatkan budaya kerja. Pemimpin menyediakan misi yang jelas agar setiap karyawan mampu bertindak dan membantu rutinitas yang ditargetkan. Nilai-nilai budaya kerja yang tepat mampu menciptakan perilaku kerja yang menggeser fokus dari ketakutan akan kegagalan menjadi fokus pada keyakinan untuk mencapai kemenangan. Pada saat nilai-nilai budaya kerja menyatu dengan suara hati, maka setiap karyawan mampu saling bekerja bersama dalam misi mereka. Mereka dengan mudah saling terkoneksi, dan pemimpin dapat melakukan koordinasi secara tepat.

Cara menggunakan visi, nilai-nilai, dan misi hanya efektif pada saat koordinasi dan koneksi dijalankan secara tepat dan produktif. Hal inilah yang bisa menciptakan budaya eksekusi yang kuat dan produktif. Hubungan antar manusia dalam ikatan nilai-nilai budaya kerja menciptakan keunggulan kompetitif dalam proses. Proses kerja yang berkualitas dihasilkan dari budaya koneksi yang meningkatkan kolaborasi bersama, serta semua bagian kerja harus mampu memperlihatkan keunggulan melalui fungsi dan perannya masing-masing.

Pemimpin bekerja dengan menciptakan budaya yang menghubungkan satu sama lain di dalam visi bersama. Visi bersama dikomunikasikan, serta dimotivasi kepada semua karyawan agar mereka terinspirasi untuk bekerja sepenuh hati dalam mencapai tujuan. Setiap karyawan dalam budaya koneksi dan koordinasi mampu bekerja dengan lebih produktif karena mereka bisa terhubung satu sama lain dengan mudah. Tidak ada penghalang. Tidak ada penghambat. Dalam hal ini, seluruh kepemimpinan di dalam perusahaan, di semua level kepemimpinan, harus tegas dan peduli untuk berkoordinasi dan terkoneksi dari hati ke hati agar tindakan yang tepat dapat segera dilakukan, untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Koordinasi dan koneksi dari hati ke hati mempererat hubungan kerja, yang pada akhirnya meningkatkan kinerja masing-masing individu. Hubungan kerja antar pribadi yang positif meningkatkan kualitas empati dan toleransi. Semua orang dalam hubungan kerja yang sehat merasakan bahagia, tenang, sehat, dan bisa fokus pada pencapaian prestasi terbaik. Persatuan dan koordinasi yang tepat adalah kunci untuk mencapai kesuksesan di dalam organisasi.

Visi membutuhkan persatuan dan koordinasi yang solid dan tepat, hanya dengan persahabatan kerja yang solid dapat mencapai kinerja terbaik. Oleh karena itu, seseorang sebelum bergabung dengan perusahaan, dia harus bisa meyakinkan dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang tunduk dan bekerja sesuai dengan nilai-nilai budaya kerja. Hubungan antar pribadi yang positif adalah salah satu bagian terpenting dalam membangun budaya organisasi yang kuat. Hubungan yang terkoneksi dengan sempurna dapat meningkatkan keterlibatan karyawan, meningkatkan suasana kerja yang harmonis dan penuh semangat, meningkatkan kinerja, meningkatkan produktivitas, meningkatkan inovasi, serta meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan setiap individu.

Koordinasi kepemimpinan tidak hanya menyatukan orang secara fisik, tetapi juga mampu mengartikulasikan visi yang jelas berdasarkan fondasi nilai-nilai inti organisasi, sehingga karyawan dapat menggunakan nilai-nilai inti perusahaan sebagai fondasi perilaku dan karakter kerja sehari-hari. Di samping itu, pernyataan misi juga harus sederhana dan jelas sehingga mudah dipahami dan dapat ditindaklanjutkan dengan aksi yang tepat.

Visi adalah harapan. Visi adalah masa depan. Tanpa visi yang jelas sulit melangkah menuju masa depan. Tugas pemimpin adalah menjelaskan visi dan memotivasi karyawan agar tidak mengabaikan misi, serta mengajari karyawan untuk menjadikan nilai-nilai budaya kerja sebagai perilaku sejati di tempat kerja. Dan, untuk semua ini, membutuhkan koordinasi dan koneksi yang solid dan utuh dari hati ke hati.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENINGKATKAN KUALITAS HUBUNGAN KERJA

LOGO

“Hierarki boleh sangat berlapis-lapis dan itu bagus, tetapi mental kerja harus tunduk pada kolaborasi kerja yang cepat dan produktif.”~Djajendra

Empati, akuntabilitas dan kolaborasi adalah kata-kata yang sangat penting untuk peningkatan kualitas hubungan kerja. Empati menghubungkan dan menyatukan hati, akuntabilitas meningkatkan rasa tanggung jawab dan membuat orang bertanggung jawab penuh, kolaborasi membuat orang bergerak secara sadar untuk melayani proses kerja dengan sepenuh hati dan saling membantu mempercepat pencapaian.

Hubungan kerja melekatkan kewajiban sosial terhadap satu sama lain dalam struktur organisasi. Ketika kesadaran sosial meningkat di tempat kerja, setiap orang akan menyatu dalam kolaborasi kerja dengan empati dan akuntabilitas yang tinggi.

Struktur organisasi bila dikuasai oleh kepentingan pribadi, gila hormat dan haus kekuasaan; maka, mereka akan menciptakan hierarki dengan birokrasi berlapis yang dengan sengaja memperlambat dan mempersulit. Sesungguhnya, hierarki dalam struktur organisasi bermaksud untuk menguatkan sistem pengawasan di dalam organisasi. Persoalannya, kekuasaan yang dimiliki bisa membuat seseorang sesuka hatinya, sehingga dia lupa bahwa hierarki yang berlapis-lapis itu harus dijalankan secara efektif dan produktif. Oleh karena itu, di setiap level manajemen, seperti: di level bawah (first line), menengah (middle management), dan top manajemen (senior management) harus bekerja dengan empati yang tinggi, kreatif, akuntabilitas yang tinggi, terbuka, dan mengalir cepat dalam kolaborasi kerja.

Hierarki boleh sangat berlapis-lapis dan itu bagus, tetapi mental kerja harus tunduk pada kolaborasi kerja yang cepat dan produktif. Struktur organisasi dengan hierarki berlapis bukanlah bertujuan untuk memperlambat, tetapi bertujuan agar setiap orang bertanggung jawab penuh dalam setiap tindakannya. Hierarki berlapis dimaksudkan agar kesalahan dan risiko dapat dicegah melalui proses kerja, sehingga hasil akhir bebas dari masalah.

Sekarang ini, muncul tren baru untuk meninggalkan hierarki dan menjalankan holacracy. Holacracy bekerja dalam kelompok dan bukan hierarki, tujuannya agar birokrasi berlapis itu bisa dihapus dan diganti dengan kecepatan kerja tanpa birokrasi. Baik dan buruknya Holacracy dalam struktur organisasi dapat ditemukan melalui pengalaman dan waktu.

Kualitas hubungan kerja haruslah dibangun di atas empati, akuntabilitas dan kolaborasi. Bila ke tiga pilar ini menguat dalam jaringan kerja atau dalam struktur organisasi, maka setiap orang mampu fokus pada tugas dan tanggung jawabnya secara efektif dan produktif.

Struktur oraganisasi haruslah menjadi komitmen di internal untuk membangun jaringan organisasi yang kuat dan solid. Jaringan organisasi internal yang kuat dapat menjadi alat sosial perusahaan untuk menyatukan dan menemukan bakat-bakat terbaik. Dan, ini semua haruslah menjadi alat kolaborasi untuk pencapaian terbaik.

Dalam organisasi selalu ada pemimpin formal dan informal. Pemimpin formal pasti menduduki posisi dan jabatan dalam struktur organisasi, biasanya mereka menjadi bagian dari birokrasi berlapis. Sebaliknya, pemimpin informal muncul oleh kebutuhan orang-orang di sekitar. Pemimpin informal muncul dari jaringan, lalu memimpin kolaborasi tanpa memiliki kekuasaan apapaun dalam hierarkis organisasi.

Peningkatan hubungan kerja harus diawali kesamaan visi dan energi. Bila semua orang berada dalam satu visi dan satu frekuensi energi, maka hubungan kerja menjadi harmonis di dalam kolaborasi yang efektif dan produktif.

Kualitas hubungan kerja yang baik haruslah mengalir melalui etos dan budaya organisasi yang kuat. Hubungan kerja yang baik membangun kesadaran untuk bekerja dan terlibat dalam pekerjaan bersama. Setiap individu yang sadar untuk berkolaborasi secara ikhlas dan penuh tanggung jawab menjadi kekuatan yang menciptakan etos kerja yang kuat di dalam budaya organisasi yang kuat dan andal.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KOLABORATOR MEMBUAT STRUKTURAL DAN INTERPERSONAL BERADA DALAM FREKUENSI YANG SAMA

KOLABORATOR MEMBUAT STRUKTURAL DAN INTERPERSONAL BERADA DALAM FREKUENSI YANG SAMA

“Kolaborasi merajut kekuatan internal menjadi sangat kuat dan bergerak bersama solusi untuk pencapaian terbaik.”~Djajendra

Kolaborasi adalah dasar untuk mengeksekusi sebuah proyek dengan tepat. Kolaborasi berarti semua orang bersatupadu di dalam kerja sama yang terikat untuk mencapai tujuan. Tidak ada kepentingan apapun selain kepentingan pencapaian tujuan. Oleh karena itu, kolaborasi mampu mengatasi konflik, mengatasi kepentingan pribadi atau kelompok, serta mampu mengatasi ego individu dan ego sektoral. Kolaborasi yang baik dapat meningkatkan pencapaian dan mengurangi potensi kegagalan.

Organisasi bisnis memiliki berbagai fungsi dan peran yang dibutuhkan untuk menjalankan strategi. Walaupun setiap fungsi dan peran memiliki perbedaan orientasi pekerjaan, tetapi harus menyatu melalui kolaborasi untuk mencapai tujuan inti bisnis. Setiap perbedaan harus menyatu dan mengalir dengan sempurna di dalam aliran kolaborasi.

Kolaborasi meningkatkan kecepatan, mengoptimalkan kapasitas dan memperbanyak peluang. Ketika orang-orang sudah mengalir sempurna di dalam kolaborasi, mereka menjadi pabrik penghasil ide-ide terbaik yang dapat diimplementasikan dengan sempurna. Tidak akan muncul kesulitan saat semua orang bersatupadu secara ikhlas di dalam aliran kolaborasi yang produktif.

Dalam aliran kolaborasi; semua bakat, pengetahuan, wawasan, pengalaman dan energi positif menyatu untuk menghasilkan kinerja. Kolaborasi merajut kekuatan internal menjadi sangat kuat dan bergerak bersama solusi untuk pencapaian terbaik. Semua masalah dan tantangan selalu dapat dituntaskan di tempat munculnya masalah tersebut, sehingga semua rintangan dan tantangan dapat dimatikan sejak dia masih kecil.

Kolaborasi membuat organisasi bergerak dengan cepat, efektif, lincah, produktif, kreatif dan selalu berbagi di dalam kerjasama yang solid. Kolaborasi menjadikan setiap individu dan tim sebagai mitra berharga yang saling membantu dengan ikhlas untuk mencapai tujuan.

Karena kolaborasi menyatukan semua energi organisasi untuk fokus pada tujuan dan kepentingan organisasi, maka semua orang harus mendapatkan kejelasan dan kepastian. Tidak boleh ada kebingungan di dalam kolaborasi, semua orang harus tahu dan sadar tentang pentingnya hubungan kerja dengan etos yang menjadikan semua orang cepat dan produktif.

Kolaborasi harus diikuti dengan tanggung jawab penuh. Setiap bantuan, kontribusi, informasi, pengetahuan, wawasan, pengalaman dan aliran kerja harus di dalam rasa tanggung jawab yang tinggi. Tanggung jawab yang tinggi mengurangi konflik, dan juga mengurangi ketergantungan.

Bisnis membutuhkan kecepatan dan ketepatan. Bisnis membutuhkan waktu dan tempat yang tepat untuk meraih keuntungan. Bisnis membutuhkan momen yang paling tepat untuk mengeksekusi strategi. Bisnis yang hebat selalu memiliki tindakan yang membuat pesaing tidak berkutik. Oleh karena itu, kolaborasi harus menjadi kekuatan yang memastikan keberhasilan dari semua ketidakpastian di dalam organisasi. Setiap kolaborator harus cerdas mengidentifikasi semua potensi risiko dan menyiapkan energi bersama untuk mengambil langkah-langkah tepat bagi pencapaian terbaik.

Kolaborasi berarti secara struktural dan interpersonal harus berada dalam frekuensi yang sama, sehingga jarak organisasi dan jarak relasional sangat dekat, serta menyatu di dalam soliditas bersama yang produktif.

Para kolaborataor yang cerdas selalu siap berkeringat untuk sukses yang lebih baik daripada menangis selama kegagalan. Menyatukan dan mengalirkan proses bisnis dengan sempurna, serta mengatasi hambatan dan perbedaan untuk sebuah hasil akhir terbaik.

Tujuan utama kolaborasi adalah menguatkan keyakinan dan meminimalkan keraguan. Kolaborator terbaik selalu sadar untuk menyatukan jiwanya di dalam misi organisasi. Mereka menyiapkan dirinya untuk bisa hidup bahagia di dalam satu visi dan satu budaya. Mereka membangun strategi bersama untuk mencapai hasil akhir dengan kecepatan tinggi. Mereka menyatu ke dalam kelompok berenergi positif dan mengalir dengan produktif di setiap batas wilayah proses kerja. Mereka menjadi kekuatan yang mempercepat aliran bisnis dan membersihkan semua penyumbat dengan segera.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

INTEGRITAS MENGHASILKAN SOLIDITAS KERJA

INTEGRITAS DJAJENDRA

“Organisasi tanpa integritas menjadi mudah dipecah dan diruntuhkan oleh orang-orang dari dalam.”~Djajendra

Menurut keyakinan kuno orang Yunani dan Mesir, manusia digambarkan lebih rendah dari dewa dan lebih tinggi dari binatang. Karena manusia berada diantara dewa dan binatang, maka manusia harus memiliki integritas agar bisa lebih mirip dewa daripada binatang.

Apa itu integritas? Integritas merupakan sebuah perilaku kehidupan yang keluar dari kepribadian asli seseorang. Biasanya, perilaku dan kebiasaan baik, seperti: ketulusan hati, ikhlas, jujur, adil, utuh, tidak serakah, terhormat, beretika, tidak korupsi, dan semua perilaku mulia yang sifatnya konsisten dan bersumber dari hati nurani.

Di tempat kerja, integritas merupakan sebuah perilaku yang sangat penting dan menentukan keberhasilan misi dan visi organisasi. Sikap dan perilaku integritas menciptakan keadilan dan kebaikan untuk semua orang. Ketika integritas menjadi budaya kerja, maka semua orang di tempat kerja akan bekerja keras, melakukan yang terbaik, dan memberikan loyalitas secara ikhlas dan tulus kepada perusahaan mereka. Integritas adalah kunci untuk menciptakan keharmonisan dan keadilan di tempat kerja.

Biasanya, di tempat kerja, implementasi integritas dimulai dari nilai-nilai perusahaan (corporate values), untuk menciptakan insan korporasi yang bisa dipercaya dan diandalkan. Dalam hal ini, nilai-nilai tersebut haruslah ditaati dan dihormati oleh semua orang. Dan, semua orang harus meyakini dan menyetujui nilai-nilai tersebut dari hati terdalam mereka. Setiap insan perusahaan harus memberi kepercayaan yang tinggi terhadap nilai-nilai tersebut. Selain itu, perusahaan harus membuat kode etik untuk semua unit kerja, untuk setiap fungsi dan peran kerja, dan juga membuat etika bisnis untuk dipatuhi oleh semua stakeholdernya.

Integritas membentuk soliditas kerja yang hebat dan andal. Ketika integritas sudah membudaya dan menjadi perilaku sehari-hari di tempat kerja. Maka,  semua orang menjadi mudah berkolaborasi dan berbagi kebaikan di tempat kerja. Semua orang akan memperlihatkan sikap baik, penuh senyum, tegur sapa yang sopan, dan saling menjaga kemuliaan masing-masing. Ketika masalah datang, kekuatan kolaborasi mampu bersinergi untuk menuntaskannya. Soliditas, kebersamaan, keterikatan batin, dan perasaan ingin membantu akan  menjadi kekuatan yang menyatukan semua orang dalam satu visi, satu budaya kerja, dan satu misi.

Integritas menciptakan para teladan, para model yang bermoral mulia. Integritas menciptakan cara kerja dan cara hidup bermoral mulia; serta mampu menularkan kepada orang lain melalui keteladanan sikap, perilaku, kebiasaan, dan gaya kehidupan yang terhormat.

Integritas menciptakan perilaku kerja yang hati-hati, rendah hati, waktu yang terkelola dengan produktif, emosi yang terkendali, serta meningkatkan reputasi dan kredibilitas dari masing-masing individu. Dan hal ini, menjadi kekuatan untuk meningkatkan keyakinan pada rekan kerja, atasan, bawahan, dan stakeholder lainnya. Pada akhirnya, setiap individu atau insan perusahaan menjadi orang-orang yang dapat dipercaya oleh siapapun di lingkungan tempat kerja.

Integritas menjadikan insan perusahaan tidak lagi menyembunyikan kekurangan dan kelemahan. Tidak lagi ada tempat untuk ketidakjujuran. Semua orang menjadi jujur dengan realitas dirinya, serta mengakui kelemahan dan keterbatasan yang dimiliki. Hal inilah yang akan menjadi fondasi untuk memperkuat soliditas kerja. Sikap rendah hati akan menjadi dasar untuk saling menghargai kejujuran.  Di sini, akan ada kesadaran bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna atau paling pintar. Hanya sikap rendah hati dan kejujuran bersama yang mampu menciptakan perilaku integritas.

Perilaku integritas akan membuat orang-orang fokus pada kekuatan, kompetensi, dan kemampuan masing-masing. Setiap orang sadar untuk mengerjakan bagiannya dengan sempurna dan berkualitas. Mereka tidak akan fokus untuk menyalahkan orang lain atas masalah yang timbul. Mereka akan membantu untuk menuntaskan masalah dan menemukan solusi yang tepat. Mereka akan bekerja dan bertindak dalam standar pribadi yang berkualitas tinggi. Mereka tidak akan asal kerja, selalu menunjukkan konsistensi karakter kerja yang diekspresikan melalui kejujuran, transparansi, akuntabilitas, dan komitmen untuk menjalankan etika secara profesional.

Walaupun seseorang memiliki bakat dan keterampilan yang lebih dari yang lainnya, dalam budaya integritas hal ini tidak akan dijadikan untuk menyombongkan diri. Tidak akan ada obsesi atau kecendrungan untuk menempatkan dirinya menjadi yang pertama, atau yang paling hebat. Tidak akan ada sikap saling mencurigai. Tidak ada perilaku saling menjatuhkan.

Memang betul. Manusia hadir membawa kekuatan baik dan kekuatan buruk di dalam dirinya. Dimana, kekuatan baik dan buruk ini kapan saja bisa saling bergantian tampil untuk mengekspresikan dirinya, seperti siang dan malam, seperti gelap dan terang. Tetapi, dalam budaya integritas, hanya hal-hal baik di dalam kerendahan hatilah yang akan muncul.

Integritas menyatukan semua sikap, perilaku, perbedaan, dan keragaman. Integritas menjaga agar semuanya bersatupadu di dalam keharmonisan kerja. Di mana, hal ini tidak mungkin dapat diwujudkan tanpa integritas. Biasanya, organisasi tanpa integritas menjadi mudah dipecah dan diruntuhkan oleh orang-orang dari dalam.

Integritas diperlukan untuk membangun dan mengelola praktek bisnis atau proses kerja yang berkualitas tinggi. Di sini, kejujuran dan kebenaran selalu hadir untuk mengharmoniskan berbagai sikap dan perilaku berbeda; mengharmoniskan berbagai keyakinan dan kepercayaan yang berbeda; mengharmoniskan berbagai persepsi dan logika berpikir yang berbeda. Integritas adalah tentang konsistensi perilaku etis yang memberdayakan sumber daya untuk menghasilkan kinerja terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGELOLA TIM: MENYATUKAN SIFAT, KEBIASAAN, DAN PERSEPSI ANGGOTA TIM

“Bersatu semakin kuat dan tangguh, bercerai-berai semakin kehilangan kekuatan untuk meraih sukses.”~Djajendra

Setiap individu hadir dengan sifat dan kebiasaan hidup yang beragam. Ketika para individu ini disatukan ke dalam sebuah tim, maka perlu diperhatikan tentang sifat dan kebiasaan dari masing-masing orang. Sifat dan kebiasaan hidup beragam yang dibiarkan berpotensi merusak kebersamaan dalam tim. Penyatuan persepsi di dalam tim sifatnya mutlak. Selama persepsi belum menyatu, selama itu, dari waktu ke waktu, berpotensi menciptakan kebingungan dan konflik di dalam tim. Tim yang profesional dan kuat selalu cair di dalam proses kerja, selalu solid dan fokus pada tujuan tim.

Pengelolaan tim harus fokus untuk menumbuhkan semangat kerja, meningkatkan potensi sukses, memelihara kebersamaan dan soliditas, dan melibatkan semua individu untuk menguatkan tim dalam menghadapi berbagai kemungkinan di depan.

Pengelolaan tim tidak hanya bertugas mengawasi sifat, kebiasaan, dan menyatukan persepsi, tetapi juga perlu mengelola realitas dengan cerdas. Realitas adalah kebenaran yang sedang dihadapi. Anggota tim tidak boleh membiarkan pikirannya dan realitas tumpang tindih. Mereka harus mampu memisahkan mana realitas, mana impian, mana harapan, mana imajinasi. Kemampuan memetakan realitas akan memudahkan tim, untuk menemukan solusi dan membuat keputusan yang tepat.

Strategi yang tepat dan rinci dapat mengarahkan tim. Fungsi dan peran masing-masing individu harus dapat dioptimalkan untuk mencapai tujuan tim. Tim dikelola agar para individu tidak terjebak dalam niat yang sangat berbeda. Semuanya harus disadarkan bahwa kerja tim adalah kerja di dalam kebersamaan. Ego individu harus dihilangkan, soliditas dan kebersamaan persepsi harus dikuatkan.

Bersama-sama dalam satu arah, dalam satu fokus, dalam satu kekuatan sikap, dan dalam satu eksekusi untuk sukses. Soliditas dan jiwa korsa tim menentukan kualitas eksekusi tim. Mengelola merupakan tugas pemimpin tim. Pemimpin tim yang baik pasti mampu menyatukan semua perbedaan individu untuk penguatan soliditas kerja.

Manajemen tim harus selalu fokus pada kekuatan intinya, yaitu: hubungan, soliditas, kolaborasi, komunikasi, sinergi, jiwa korsa, toleransi, empati, dan menjadi satu jiwa. Pengelolaan tim tidak hanya bertujuan untuk mencapai target dan tujuan organisasi. Ini adalah proses menciptakan satu jiwa dari banyak jiwa. Ini adalah mengubah individu menjadi tim yang kuat dan unggul. Ini adalah proses pembentukan kekuatan besar dari akumulasi kekuatan-kekuatan kecil. Ini adalah tentang menarik energi dan potensi sukses individu ke dalam energi dan potensi sukses kelompok besar. Ini adalah tentang penyatuan kekuatan agar organisasi bisa menjangkau ke wilayah kerja, yang tak mungkin bisa diselesaikan oleh seorang diri.

Anggota tim harus mampu mengkonversi sifat dan kebiasaan kerja sesuai budaya organisasi. Hal ini akan menyempurnakan hubungan kerja berbasis budaya kerja yang kuat. Budaya yang kuat dan profesional akan membiasakan individu untuk memiliki sifat, sikap, perilaku, dan karakter kerja sesuai dengan nilai-nilai inti budaya kerja.

Tim yang kuat selalu memiliki motif kerja yang jelas dan terang. Tidak ada seorang pun yang memiliki motif atau sifat-sifat tersembunyi. Semuanya bekerja secara terbuka, penuh tanggung jawab, jujur, dan saling memberikan atau mendapatkan umpan balik dari proses kerja bersama.

Nilai-nilai inti budaya kerja berfungsi untuk mengikat semua individu di dalam jiwa korsa dan soliditas kerja. Ketika nilai-nilai kerja menjadi pengawal dan pengawas sifat dan kebiasaan individu, maka nilai-nilai tersebut mampu menjadi alat untuk mengukur hasil akhir dari karakter kerja individu.

Nilai-nilai budaya yang dipatuhi dengan integritas dan tanggung jawab, akan menjadi penunjuk arah kerja terbaik. Membuat anggota tim tidak ragu, mampu mengelola kebersamaan, dan secara bersama-sama mampu mengambil tindakan yang tegas dan terarah menuju tujuan.

Mengelola tim untuk meningkatkan kualitas kebersamaan di dalam soliditas kerja.  Bersatu semakin kuat dan tangguh, bercerai-berai semakin kehilangan kekuatan untuk meraih sukses. Interaksi tim yang penuh tanggung jawab, serta kemampuan kepemimpinan tim untuk mengelola sebuah komunitas kerja yang solid dan kompak sebagai tim, adalah keunggulan yang menjadikan organisasi mencapai tujuan dengan sukses.

Pengelolaan tim yang baik dapat memotivasi dan meningkatkan integritas individu untuk lebih produktif. Semakin produktif dan berkinerja para anggota tim, semakin mampu mereka bekerja untuk meningkatkan reputasi organisasi. Pengelolaan tim tidak hanya fokus untuk hasil akhir terbaik, tetapi juga untuk membangun reputasi dan kredibilitas organisasi yang andal di persepsi stakeholders. Tim yang hebat adalah harta terbaik yang dimiliki oleh perusahaan atau organisasi bisnis.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMBIASAKAN YANG BAIK DI TEMPAT KERJA

“Di luar zona nyaman banyak peluang, banyak keajaiban. Di luar zona nyaman; Anda pasti merasa tidak nyaman, gelisah, takut, cemas. Tetapi, itu semua akan memaksa Anda untuk lebih kreatif, lebih cerdas, lebih disiplin, lebih tekun, lebih percaya diri, lebih fokus mencapai prestasi dan kinerja.”~Djajendra

Menjadi lebih produktif. Menjadi lebih terhubung. Menjadi lebih berkinerja. Kehidupan kerja membutuhkan orang-orang dengan kebiasaan kerja yang kaya kinerja.

Tidak peduli sepintar apa Anda, setinggi apa nilai-nilai akademis Anda. Anda hanya dianggap hebat, saat Anda menjadi produktif, terhubung, bertindak, berkinerja, dan menuntaskan pekerjaan sesuai waktu dan komitmen.

Setiap orang di tempat kerja merupakan bagian dari salah satu yang lain. Setiap orang di tempat kerja tidak boleh bekerja dengan maunya diri sendiri, tetapi bekerja sesuai budaya organisasi yang berorientasi soliditas dan kolaborasi. Setiap orang di tempat kerja harus mampu mengembangkan kebiasaan positif, untuk bisa memberikan kontribusi dan pelayanan bagi keberhasilan organisasi.

Kebiasaan yang baik dimulai dengan sifat, sikap, perilaku, karakter, dan kepribadian yang rendah hati, menerima budaya organisasi, mengalir bersama budaya organisasi, dan menjadi produktif bersama budaya kerja.

Perilaku kerja yang baik memprioritaskan apa-apa yang harus diselesaikan dalam delapan jam kerja. Intinya, jam kerja betul-betul difokuskan, untuk mencapai hal-hal yang paling penting, sehingga tidak ada pemborosan yang menjadikan Anda tidak produktif.

Musuh kolaborasi adalah keegoisan. Membiarkan sikap egois di tempat kerja, sama saja dengan membiarkan kolaborasi tidak berfungsi. Padahal, tanpa kolaborasi yang efektif, tidak mungkin semua orang bersatupadu dalam soliditas kerja. Dalam realitas, orang-orang pintar dikalahkan oleh keegoisan diri mereka sendiri, sehingga mereka menjadi tidak berharga di tempat kerja.

Kebiasaan-kebiasaan baik harus dengan rajin dikembangkan. Perilaku-perilaku kerja yang hebat harus terus-menerus diberdayakan. Organisasi yang hebat tercipta dari kebiasaan dan perilaku yang hebat. Tanpa kebiasaan dan perilaku yang hebat, organisasi tidak akan tumbuh menjadi yang berharga bagi stakeholdernya.

Kegagalan kerja selalu disebabkan oleh perilaku yang mengabaikan sistem, aturan, etika, dan hubungan baik. Sikap kerja yang kurang profesional, dan perilaku kerja yang saling menjatuhkan, akan menjadikan orang-orang marah, dan tidak berkinerja. Lingkungan kerja yang penuh marah, hanya akan menghadirkan energi negatif, untuk merusak produktivitas dan kinerja.

Ikhlas untuk menjadi terorganisir. Kehidupan kerja adalah kehidupan yang terorganisir. Apapun sifat, sikap, perilaku, karakter, keyakinan, dan kepribadian Anda; Anda harus ikhlas terorganisir di tempat kerja. Kehidupan kerja adalah kehidupan tim, kehidupan kerja sama, kehidupan kolaborasi. Di sini, tidak ada kata ‘saya’, tapi ‘kami’. Kehidupan kerja adalah ‘kami’, bukan ‘saya’ atau ‘kita’. Jadi, setiap orang harus terbiasa, atau membiasakan dirinya terorganisir, dan menjadi bagian dari yang lain.

Sikap rendah hati dan rasa ingin belajar, adalah cara untuk tumbuh. Jangan pernah merasa tahu semua, atau tahu banyak hal. Tetaplah rendah hati, dan dengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Semakin tinggi kemampuan Anda untuk mendengarkan pendapat orang lain, semakin cepat Anda tumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih profesional.

Zona nyaman itu membahayakan kemajuan. Semakin Anda terobsesi untuk mendapatkan realitas kerja yang nyaman, semakin Anda akan terjebak dalam proses kemunduran, dan sulit menemukan jalan untuk kemajuan. Jadilah pribadi yang selalu memaksakan diri untuk bekerja di luar zona kenyamanan. Anda yang terbiasa di luar zona nyaman, sangat mudah untuk menciptakan rekor-rekor pencapaian kinerja terbaik. Anda yang di luar zona kenyamanan berpotensi memaksimalkan potensi Anda. Anda yang bekerja di luar zona nyaman berpotensi mendapatkan keajaiban, dan hasil-hasil yang luar biasa. Jadi, biarlah hati sedikit tidak nyaman, sedikit gelisah, sedikit takut, sedikit cemas. Tetapi, itu semua membuat Anda lebih kreatif, lebih fokus untuk mencapai prestasi dan kinerja.

Membiasakan yang baik di tempat kerja. Semua kebiasaan-kebiasaan yang baik, akan menciptakan keindahan, menciptakan kebahagiaan. Temukan nilai-nilai terbaik untuk menjadi sahabat kerja Anda. Jaga dan rawat kebiasaan baik yang menjadikan Anda produktif, berkinerja, berprestasi, dan penuh persahabatan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

TIM TANGGUH TERCIPTA DARI SIKAP RENDAH HATI ANGGOTA TIM

“Sikap rendah hati menjadikan anggota tim mampu belajar dan bangkit kembali, saat rintangan menghentikan kegiatan untuk mencapai sukses tim.”~Djajendra

Memiliki tim kerja yang tangguh dan andal pastilah merupakan impian setiap organisasi. Setiap pemimpin pasti memiliki impian untuk membentuk dan membangun tim yang andal dan berkinerja hebat. Dan juga, pasti berencana menjadikan timnya tumbuh dan berkembang, supaya bisa menjawab berbagai tantangan di masa depan.

Hal yang pasti, dalam membangun tim yang andal dan tangguh membutuhkan karakter, kompetensi, dan kualitas. Karakter yang cerdas dalam berkolaborasi dan berkoordinasi, adalah syarat terpenting untuk mewujudkan tim yang andal. Sedangkan kompetensi dan kualitas merupakan komponen yang sangat menentukan untuk mencapai kinerja terbaik.

Karakter yang rendah hati mampu dikelola dan dioperasionalkan di segala situasi dan kondisi bisnis. Sebab, orang-orang yang rendah hati dan sederhana selalu mau belajar, dan mengikuti perubahan yang ada dengan sepenuh hati. Karakter yang rendah hati mudah dimotivasi dan diajak untuk meningkatkan produktivitas. Mereka selalu rendah hati dan mudah mengalir di dalam proses kerja, untuk mewujudkan target.

Orang-orang rendah hati sangat mudah berbagi visi, menerima kritik, menerima pengetahuan baru, dan selalu bersemangat untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik. Mereka tidak pernah merasa sudah pintar, sehingga mudah dipimpin untuk mengembangkan kualitas tim yang lebih kuat. Mereka selalu mau dengan rendah hati, untuk disiapkan dan dilatih agar dapat mengatasi rintangan dan tantangan.

Karakter rendah hati mudah terhubung dalam sistem kerja tim, langsung bekerja secara kohesif dan kolaboratif, untuk mencapai kinerja tim yang tinggi. Mereka sangat sadar untuk bekerja dalam aliran tim yang tangguh, bekerja menuju tujuan bersama, berbicara bahasa yang sama, dan saling mendukung untuk hasil akhir sesuai target. Mereka memahami motivasi, keinginan, harapan, dan etos kerja dari setiap individu di dalam tim kerja.

Orang-orang rendah hati mudah mengalir di dalam misi kerja sehari-hari. Mereka tekun dan penuh disiplin di dalam rutinitas misi sehari-hari. Mereka sadar untuk memimpin diri sendiri, serta selalu bersikap lebih profesional dalam memberikan pelayanan dan kontribusi.

Pekerjaan tim bukanlah siapa yang melakukan dengan lebih pintar dan hebat, tetapi siapa yang paling rendah hati melayani pekerjaan, dan siapa yang paling mudah terhubung untuk mencapai kinerja terbaik. Sikap rendah hati menjadikan anggota tim mau saling mendengarkan pikiran dan ide-ide, dan mau memperluas wawasan dan membangun kemampuan tim yang lebih efektif.

Sikap rendah hati untuk mematuhi nilai-nilai perusahaan; untuk mematuhi etika bisnis perusahaan; untuk menjalankan perilaku etis berdasarkan kode etik perilaku kerja; akan menjadikan tim tumbuh dan berkembang menuju sukses besar.

Sebuah tim yang solid haruslah tahu dan sadar tentang kesuksesan yang harus dicapai. Lalu, mempersiapkan tim untuk fokus pada misi, dan memperjelas visi dalam mencapai tujuan di sepanjang perjalanan sukses tim.

Tim yang kuat selalu melakukan pekerjaan dengan terencana sesuai visi, taktik, dan strategi bisnis. Setiap anggota tim menjadi energi yang selalu siap memainkan strategi dan taktik bisnis, supaya dapat mencapai kinerja terbaik. Mereka selalu mengembangkan rencana yang ada, dan sangat kreatif untuk menemukan solusi di setiap keadaan yang menghentikan perjalanan sukses tim.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMIMPIN ANDAL DIHASILKAN OLEH BUDAYA ORGANISASI YANG KUAT

DJAJENDRA 17 07 2014
“Setiap perbedaan bukan untuk dipermasalahkan, tetapi untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan. Setiap keragaman digunakan sebagai realitas untuk saling bersedia, saling menghormati, saling berbeda, saling belajar, saling rendah hati, saling berjiwa besar, dan saling menguatkan kepercayaan.”~Djajendra

Peran kepemimpinan sangatlah menentukan keberhasilan pencapaian kinerja terbaik. Kepemimpinan yang andal memiliki kapasitas untuk mempengaruhi, memotivasi, menguatkan loyalitas, mengartikulasikan visi dan misi, mendorong pencapaian terbaik, dan menjadi energi positif untuk keandalan organisasinya.

Kepemimpinan yang andal diciptakan dari nilai-nilai budaya organisasi dan dikuatkan langkahnya dengan sistem, prosedur, dan proses kerja yang penuh integritas dan akuntabilitas. Pemimpin andal selalu bekerja berbasis budaya, dan tidak pernah bertindak tanpa mematuhi nilai-nilai budaya ataupun perilaku utama yang disepakati di dalam budaya kerja.

Kepemimpinan yang perilakunya keluar dari budaya organisasi, dan bertindak sesuai kepentingannya, pasti kehilangan kekuatan dan arah dalam mencapai kinerja terbaik.

Sumber daya manusia hanya bisa disatukan dalam budaya organisasi yang kuat. Semakin sadar perusahaan untuk menguatkan nilai-nilai budaya organisasi dan perilaku kerja, semakin terbentuk kepercayaan yang kuat diantara insan perusahaan. Bila budaya organisasi yang kuat menjadi fondasi kerja perusahaan, maka segala kerumitan kerja pasti hilang, dan segala potensi baik akan tergali secara berkelanjutan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Budaya organisasi yang kuat memiliki kemampuan untuk merekrut, meningkatkan, menguatkan, mempertahankan, memberdayakan bakat dan potensi unik sumber daya manusia. Nilai-nilai budaya organisasi mampu membawa sebuah pola, perilaku, dan sikap kerja yang memberikan peluang kepada setiap individu, untuk berkarya dan berkontribusi sesuai kekuatan nilai-nilai tersebut. Jadi, tidak akan ada ketegangan di antara insan perusahaan. Semua orang di dalam perusahaan akan mengalir dan bertindak oleh energi yang dikeluarkan nilai-nilai budaya. Jadi, setiap perubahan, kecepatan, kompleksitas, dan ketidakpastian dapat diterima dan dikelola dengan sistem nilai yang kuat dari budaya organisasi.

Kepemimpinan dalam budaya organisasi yang kuat mampu menjalankan manajemen hirarkis dengan kolaborasi yang utuh. Artinya, struktur organisasi walaupun dipimpin dengan pola hirarkis, tetapi budaya organisasi mampu meleburkan semua orang dalam pola kerja yang berkolaborasi, sehingga hirarkis tidak menciptakan jarak dan tembok pemisah. Kondisi ini menciptakan pertukaran ide secara bebas, hubungan kerja yang saling menghargai dalam kemerdekaan berpendapat, loyalitas yang saling melengkapi, manajemen taktik harian untuk memenuhi misi secara berkualitas. Intinya, budaya perusahaan mengarahkan setiap orang untuk terfokus pada cara kerja berdasarkan nilai-nilai perusahaan, yang mengharuskan setiap orang selalu bersama-sama dalam kolaborasi yang produktif.

Mungkin saja orang-orang hadir di perusahaan dengan beragam nilai, perilaku, karakter, dan budaya. Tetapi, kepemimpinan berbasis budaya pasti cerdas memetakan sistem nilai yang berbeda dari insan perusahaan. Lalu, mempengaruhi setiap insan perusahaan dengan nilai-nilai perusahaan, serta mengelola setiap orang untuk membiasakan sikap dan perilaku dengan nilai-nilai budaya perusahaan.

Kepemimpinan andal berbasis budaya organisasi selalu menyatukan energi dan potensi insan perusahaan di dalam tujuan bersama. Dalam hal ini, setiap insan perusahaan wajib bekerja sepenuh hati untuk mewujudkan misi perusahaan sehari-hari; mempersiapkan hari ini untuk menuju dan mewujudkan visi dengan kinerja hebat; serta semua orang harus bersatupadu dalam kolaborasi kerja berdasarkan nilai-nilai, sistem, proses agar dapat memenuhi tujuan kerja dengan berkualitas.

Kepemimpinan yang bekerja dengan budaya organisasi yang kuat selalu menempatkan setiap insan perusahaan sebagai aset produktif. Setiap orang yang hadir haruslah menjadi energi tunggal, untuk bergerak secara bersama-sama dalam mewujudkan kinerja. Interaksi dan komunikasi kerja secara lintasi fungsional dan lintas tim dikendalikan oleh nilai-nilai budaya organisasi. Setiap perbedaan bukan untuk dipermasalahkan, tetapi untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan. Setiap keragaman digunakan sebagai realitas untuk saling bersedia, saling menghormati, saling berbeda, saling belajar, saling rendah hati, saling berjiwa besar, dan saling menguatkan kepercayaan.

Kepemimpinan andal berbasis nilai-nilai budaya organisasi bekerja secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Tidak mungkin budaya kuat dibangun dalam semalam. Dibutuhkan waktu, kepercayaan, kesabaran, ketegasan, keterbukaan, investasi, komitmen, kerja keras, komunikasi, pertanggung jawaban, motivasi, harapan, dan keikhlasan untuk hidup dan tumbuh bersama nilai-nilai budaya perusahaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BERPRESTASI DALAM RUTINITAS KERJA DAN MERAIH KINERJA TERBAIK SETIAP HARI

DJAJENDRA2013“Orang-orang sukses selalu menyadari bahwa kualitas rutinitas kerja sangatlah menentukan keberhasilan di setiap wilayah waktu; baik itu di waktu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Rutinitas kerja dengan disiplin dan ketekunan yang luar biasa akan menghasilkan keunggulan dan kehebatan. Rutinitas kerja yang berkualitas pastinya harus hidup di wilayah tujuan, sistem, dan proses.” ~ Djajendra

Pada umumnya, penilaian kinerja terfokus pada dua aspek besar, yaitu: aspek angka atau akuntansi dan aspek non angka. Menilai aspek angka sangatlah mudah, sebab faktanya dapat dilihat dengan hitungan yang jelas dan sederhana; sedangkan aspek non angka, biasanya berada di wilayah kompleksitas, berpotensi sangat subyektif oleh persepsi, sehingga diperlukan kebijaksanaan untuk bisa menilai aspek non angka. Artinya, salah menilai di aspek non angka, berpotensi kinerja di tahun yang akan datang turun oleh rasa frustasi dari yang tidak puas dengan hasil penilaian.

Perusahaan yang berbudaya kuat selalu sadar akan bahaya dari rasa frustasi atau rasa tidak percaya karyawan pada hasil penilaian kinerja. Bila karyawan merasa tidak puas dengan proses evaluasi kinerja mereka, maka dapat dipastikan mereka akan bekerja dengan setengah hati, dan tidak mungkin mau mengoptimalkan keterampilannya untuk mencapai kinerja yang diinginkan perusahaan.

Sekarang ini, sudah banyak perusahaan yang tidak memaksakan tujuan kepada karyawannya. Perusahaan-perusahaan berbudaya kuat mulai mengalirkan energi dan potensi karyawan ke dalam sistem dan proses. Karyawan dibuat bahagia dan senang di wilayah proses dan sistem, sehingga mereka berfokus dengan sepenuh hati pada sistem dan proses untuk melakukan pekerjaan dengan berkualitas. Di sini, tidak ada benchmark yang digunakan untuk mengukur kinerja karyawan. Budaya perusahaan yang kuat telah dirancang untuk menciptakan lingkungan kerja, yang membuat setiap orang menikmati rutinitas, sehingga totalitas mereka di dalam rasa senang menghasilkan kinerja terbaik.

Dalam budaya perusahaan yang kuat, sistem kerja telah dirancang dengan baik untuk selalu menang dan untuk selalu berkinerja terbaik. Budaya kerja yang berfokus pada sistem yang unggul, akan menguatkan komitmen setiap orang untuk proaktif dan totalitas di dalam proses kerja.

Seperti kita ketahui, tujuan selalu memberikan arah dan pandangan untuk mencapai sesuatu. Sistem dan proses yang unggul akan memberikan ruang yang terang untuk bertindak dengan sepenuh hati.  Jadi, perusahaan tidak perlu memaksa karyawan untuk fokus pada tujuan. Perusahaan cukup memotivasi dan merawat kualitas rutinitas kerja karyawan di dalam sistem dan proses kerja, untuk bisa menghasilkan kinerja terbaik setiap hari. Dan hal ini, karyawan secara otomatis akan mencapai tujuan perusahaan melalui kinerja rutinitas yang dihasilkan dari sistem dan proses yang unggul.

Sistem yang kuat tidak akan mengkotak-kotakan karyawan oleh ego peran dan fungsi masing-masing. Jadi, walaupun dalam realitas struktur organisasi karyawan merupakan bagian-bagian unit kerja yang berkolaborasi untuk mewujudkan visi organisasi. Tetapi, tanpa sistem dan budaya yang unggul, kerja sama yang baik sulit terwujud.

Bila sistem dan proses bergerak berpondasikan indikator kinerja yang transparan dan adil, maka sangatlah mudah untuk memotivasi dan menginspirasi karyawan supaya mereka menjadi pekerja keras, yang berdedikasi untuk menghasilkan kinerja terbaik organisasi. Perusahaan harus menguatkan transparansi atas Key Performance Indicator (KPI). Setiap karyawan wajib diberikan edukasi tentang arti KPI atau indikator utama dalam penilaian kinerja. Setiap poin-poin yang ada di dalam KPI, yang akan digunakan untuk mengukur dan menilai kinerja individu wajib diinternalisasikan, sehingga mereka tahu apa yang membuat mereka terlihat hebat, berhasil, unggul, menang, dan mencapai kebesaran karir.

Berprestasi dalam rutinitas kerja dan meraih kinerja terbaik setiap hari. Setiap karyawan yang ingin mendapatkan karir hebat haruslah bekerja dengan motivasi 100 persen dan kemampuan menghasilkan kinerja yang 100 persen. Jadi, bila sudah berada dalam lingkungan budaya organisasi yang kuat dan unggul, maka hanya diperlukan kesadaran untuk mendisiplinkan diri, memampukan diri, dan memotivasi diri sendiri secara terus-menerus agar mampu menjadi pribadi hebat yang selalu konsisten memberikan kinerja kerja terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ORGANISASI TIM LEBIH TANGKAS DIBANDINGKAN ORGANISASI HIERARKIS

DJAI

“Tim penghasil kinerja terbaik merupakan kekuatan kolektif dari energi positif individu. Dalam hal ini, tim memiliki jati diri yang otentik untuk membangun dan merawat kepercayaan antar satu sama lain, sehingga semua orang di dalam tim bekerja untuk kinerja dan keunggulan.”~ Djajendra

Perusahaan-perusahaan terbaik selalu memperkuat pondasinya dengan pola kerja tim. Semangat untuk peningkatan kinerja kerja tim, peningkatan kedisiplinan dan kepatuhan pada etika, serta menumbuhkan jiwa wirausaha pada perilaku kerja karyawan telah menjadi sebuah tren.

Sekarang ini, pola kerja hierarkis yang kuat dengan birokrasi mulai diratakan dengan pola kerja tim. Kesadaran untuk membalikkan piramida organisasi, sehingga semua kekuatan di akar rumput organisasi dikuatkan di dalam budaya kerja tim yang solid.

Tim penghasil kinerja terbaik merupakan kekuatan kolektif dari energi positif individu. Tim yang unggul memiliki jati diri yang otentik, untuk membangun dan merawat kepercayaan antar satu sama lain, sehingga perhatian semua orang di dalam tim, bekerja untuk kinerja dan keunggulan.  

Konsep kerja tim tidak terbatas di internal perusahaan, juga meluas ke wilayah pemangku kepentingan. Biasanya, pemimpin yang sukses memiliki struktur untuk merangkul semua kekuatan di dalam dan di luar organisasi sebagai sebuah tim kerja pendukung yang bergerak cepat, lincah, dan penuh disiplin.  Dalam hal ini, seluruh pihak dari wilayah stakeholders, seperti: karyawan, pemilik, pemasok, pelanggan, bank, agen, distributor, konsultan, dan semua stakeholders yang lainnya, dimasukkan ke dalam tim pendukung. Selanjutnya, tim pendukung ini dibuatkan sistem agar dapat terhubung secara efektif dan produktif.  Jadi, bila potensi internal dan eksternal dapat terhubung dengan berkualitas dan produktif, maka perusahaan pasti menghasilkan kinerja terbaik, dan selalu unggul dalam kompetisi pasar.

Pola kerja tim pastinya akan menggusur pola kerja birokrasi hierarkis tradisional. Seperti kita ketahui, dalam pola kerja birokrasi tradisional, semua karyawan wajib menunggu perintah dari atasan untuk bisa bertindak, dan semua pihak harus patuh pada  hierarki perusahaan. Jelas, hal ini akan memperlambat gerak organisasi untuk bersaing di pasar, dan juga perusahaan tidak akan mendapatkan keuntungan dari kekayaan potensi kreatif sumber daya manusianya. Dalam struktur kerja birokrasi tradisional, karyawan hanya akan bekerja untuk menyenangkan bosnya. Di sini, mindset karyawan terfokus pada upaya untuk melayani dan menyenangkan bos. Sebab, dipikiran mereka, bila bos senang, maka pekerjaan mereka sukses, dan kinerja mereka sudah hebat. Intinya, dalam manajemen hierarki, karyawan akan berjuang untuk menyenangkan bosnya, dan tidak terlalu peduli dengan pelanggan, rekan kerja, bawahan, ataupun pemangku kepentingan lain yang tidak mempengaruhi kinerjanya.

Dunia bisnis sedang berubah. Sejak abad ke tujuh belas gaya manajemen hierarki merupakan sesuatu yang dianggap paling benar. Struktur organisasi yang terkendali ketat dari puncak organisasi sudah menjadi kebiasaan kerja ratusan tahun, sehingga bila hierarki dihilangkan semua orang akan merasa seperti kehilangan tempat berlindung.  Sampai hari ini, masih sangat banyak perusahaan yang menjalankan manajemennya dengan birokrasi hierarkis tradisional, hanya perusahaan-perusahaan multinasional yang sudah bergerak lincah dan gesit bersama tim kerja yang kreatif dan kaya visi.

Perusahaan-perusahaan multinasional yang progresif dan inovatif  sangat tegas dan jelas mengoperasionalkan konsep kerja tim. Mereka sangat berkomitmen untuk membangun dan memelihara tim kerja yang kaya visi, kreatif, berkualitas, dinamis, penuh disiplin, dan selalu terdorong untuk menjadi yang terbaik di kompetisi bisnis.  Mereka mampu mendatarkan hierarki perusahaan, sehingga walaupun struktur formal masih terlihat seperti struktur tradisional, tetapi dalam pola kerja, mereka sudah sangat kolaboratif dan terkoordinasi di dalam keharmonisan tim.

Perusahaan-perusahaan dengan manajemen modern menempatkan karyawan sebagai aset terpenting. Supaya aset ini bisa tumbuh dan berkembang, dibuatlah sebuah zona nilai dalam organisasi. Karyawan dan nilai-nilai perusahaan dileburkan menjadi energi penggerak sistem, proses, prosedur, dan rutinitas organisasi.  Walaupun manusia sulit untuk selalu konsisten, tetapi nilai pastilah selalu konsisten. Jadi, peleburan karyawan dan nilai-nilai menjadi sebuah energi, bertujuan untuk menghasilkan sikap dan perilaku kerja yang konsisten, dan juga bertujuan memberikan warna unik pada karakter kerja perusahaan.

Organisasi tim lebih tangkas dibandingkan organisasi hierarkis. Organisasi tim hidup dalam zona nilai; dalam wilayah budaya organisasi yang kuat;  dalam tim kerja puncak yang selalu solid bersama nilai-nilai, prinsip, dan perilaku yang tegas untuk koordinasi tim.

Dalam zona nilai, setiap anggota tim; secara rutin membahas dan mendiskusikan tentang cara mengoperasionalkan nilai-nilai, prinsip, norma, dan karakter kerja untuk menghasilkan kinerja terbaik mereka. Dalam hal ini, mereka sebagai tim yang solid sangat sadar untuk menjadikan nilai-nilai sebagai pondasi kerja tim. Semua orang membahas dan menyepakati untuk bekerja berdasarkan nilai-nilai, seperti: integritas, kualitas, etika, akuntabilitas, keterbukaan, tepat waktu, profesionalisme, disiplin, kepatuhan, kolaborasi, koordinasi, menyelesaikan tugas, dan nilai-nilai yang lainnya.

Dalam kehidupan bisnis yang sangat inovatif  diperlukan manajemen kerja tim. Semua orang di dalam perusahaan harus bergerak sebagai sebuah tim kerja yang solid. Semua orang harus menjadi aset perusahaan untuk menghasilkan inovasi produk dan layanan agar dapat memenangkan pasar yang sangat kompetitif.  

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMBANGUN VISI KERJA KARYAWAN UNTUK MENGHASILKAN MAHAKARYA

DJAJENDRA“Michelangelo, seorang seniman besar di sepanjang sejarah, sudah mampu melihat wujud mahakaryanya dari potongan marmer yang belum dipahat olehnya. Jadi, saat ia menatap sebuah balok marmer, ia sudah melihat hasil akhirnya. Kemudian, ia fokus sepenuh hati pada hasil akhir tersebut, dan bekerja keras untuk mewujudkannya.”~Djajendra

Apakah di kantor Anda semua orang sudah memiliki visi kerja? Tanpa visi kerja yang jelas, orang-orang akan sibuk dalam rutinitas, tetapi tidak memiliki penglihatan untuk menghasilkan mahakarya seperti yang dikehendaki.

Visi kerja yang dilengkapi dengan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, disiplin, fisik tubuh yang bugar, mental positif, gairah kerja dalam ketekunan yang luar biasa, dan motivasi yang selalu menyala, akan menjadi kekuatan unggul untuk menciptakan hasil akhir yang mahakarya.

Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, diperlukan keunggulan dan kemampuan yang lebih luar biasa, untuk dapat memenangkan kompetisi bisnis. Setiap orang di tempat kerja sudah seharusnya bekerja dengan visi kerja yang jelas dan terang; setiap orang harus mampu memfokuskan seluruh perhatian, waktu, energi, dan sumber daya, untuk menghasilkan mahakarya terbaik. Setiap orang di tempat kerja harus mampu memimpin dirinya sendiri, membuat setiap langkah dan tindakannya terfokus dengan visi kerja, untuk menghasilkan mahakarya terbaik.

Perusahaan yang berkualitas selalu mampu menciptakan lingkungan kerja, yang membuat setiap orang di dalamnya memiliki kesadaran untuk memimpin diri sendiri dengan visi kerja yang terang. Dalam hal ini, bila para karyawan sudah mulai bekerja dengan visi kerja yang terang, mereka akan memiliki energi motivasi yang luar biasa mendorong mereka, dengan gairah dan antusiasme untuk menghasilkan mahakarya terbaik. Mereka akan menjadi pribadi yang tidak mengenal kata gagal ataupun menyerah, mereka sangat ulet dan memiliki semangat kerja yang tidak terhentikan oleh hal apapun. Visi kerja mereka akan memberikan kekuatan intuisi, yang menguatkan mental dan kemampuan mereka, dalam semangat mewujudkan hasil akhir dari apa-apa yang sedang dilakukan dengan sempurna.

Ketika karyawan bekerja dengan visi kerja yang terang, mereka dengan mudah mampu menemukan tujuan yang harus dicapai. Jadi, apapun rintangan dan risiko yang harus dihadapi, visi kerja mereka selalu menemukan jalan keluar, sehingga mereka mampu kembali untuk fokus pada apa yang seharusnya dikerjakan. Visi kerja yang terang itu menjadikan mereka mampu melihat hasil akhir yang harus dihasilkan, sehingga tidak ada hal yang membuat mereka kehilangan akal untuk mewujudkannya.

Visi kerja membuat para karyawan mampu berkolaborasi dengan lebih produktif, efektif, kreatif, dan efisien. Dalam hal ini, karyawan mampu beradaptasi dengan berbagai skenario di dalam organisasi, termasuk dengan berbagai perubahan cepat oleh realitas yang sedang dihadapi. Dan juga, para karyawan menjadi sangat terampil untuk terhubung secara lintas fungsional, serta mampu berkoordinasi untuk berkolaborasi dengan semua pihak, tanpa kehilangan fokus pada tanggung jawab inti dari masing-masing pihak.

Visi kerja yang terang adalah alat paling ampuh untuk menciptakan lingkungan kerja yang unggul, dan juga budaya organisasi yang kuat. Saat setiap orang di tempat kerja perhatiannya dikendalikan oleh visi kerja, mereka akan menjadi sangat tekun dan disiplin dengan etos kerja, sehingga mereka mampu menjadi energi positif yang merawat dan memelihara semua nilai-nilai kerja. Mereka juga mampu bersikap dan bertindak di dalam gambaran besar visi perusahaan, dan menjadikan visi kerja mereka sebagai komponen untuk melengkapi visi besar perusahaan.

Visi kerja yang terang harus juga diikuti dengan komitmen untuk memberikan kontribusi dan pelayanan yang lebih, tanpa hitung-hitungan. Dan semua ini, hanya bisa diberikan oleh para karyawan yang memiliki kesadaran untuk menjaga kondisi fisik, pikiran, dan emosi yang selalu prima. Jadi, para karyawan tidaklah boleh mengabaikan hal-hal, seperti: tidur yang cukup, makan yang teratur, olah raga teratur; termasuk, meningkatkan terus kemampuan untuk menjaga kebugaran tubuh, kejernihan pikiran, dan ketenangan suasana hati. Artinya, bila tubuh tidak bugar atau sehat, pikiran tidak jernih, dan suasana hati tidak baik; maka visi kerja pun akan memudar. Oleh karena itu, bila ingin menciptakan mahakarya, maka sangatlah penting untuk menjaga kondisi jiwa, raga, dan tubuh yang selalu sehat dan kuat.

Perusahaan wajib membiasakan setiap individu untuk bersikap sesuai dengan visi kerja. Sebab, visi kerja itu sendiri adalah alat yang menghasilkan kekuatan positif dan kekuatan unik individu. Bila visi kerja individu dikoordinasi dengan baik, maka dia akan saling melengkapi dari masing-masing fungsi dan peran kerja, sehingga semuanya secara tidak sadar sedang berkolaborasi dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk menghasilkan kinerja terbaik.

Visi kerja akan memberikan kontribusi untuk kesuksesan pencapaian kinerja organisasi. Dan juga, menjadikan setiap individu di tempat kerja berprestasi, serta menghasilkan kinerja yang sangat produktif.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEHILANGAN KEPERCAYAAN BERARTI KEHILANGAN PELUANG DAN MASA DEPAN

DJAJENDRA 2013“Bisnis adalah kepercayaan, kurangnya kepercayaan akan menimbulkan krisis kredibilitas, termasuk penurunan reputasi.”~ Djajendra

Hal yang paling ditakutkan dari kata kepercayaan (trust) adalah menjadikannya sebagai pajangan, tetapi tidak pernah dilatih dan diinternalisasikan agar digunakan setiap orang di sepanjang waktu kerja mereka di kantor.

Kepercayaan adalah kemampuan setiap orang untuk mengalirkan potensi dan kompetensi dengan kekuatan etika dan integritas. Dan juga, kemampuan setiap orang untuk berkolaborasi; saling bergantung pada sistem dan prosedur kerja; berkontribusi untuk menghasilkan organisasi yang efektif dan produktif; serta menghasilkan jasa, produk, dan hasil akhir yang berkualitas terpercaya.

Perusahaan dengan kepercayaan yang tinggi dan solid di internal akan memiliki keharmonisan kerja, peningkatan kinerja yang terus-menerus, produktivitas yang tinggi, konflik yang rendah, serta kadar tekanan dan stres yang lebih rendah. Sebab, kepercayaan akan menyatukan setiap hati di dalam kolaborasi empati dan toleransi, sehingga tanggung jawab bersama di dalam energi kolaborasi akan menjadikan perusahaan sebagai tempat yang nyaman dan aman.

Kehilangan kepercayaan adalah kerugian besar. Bila perusahaan tidak mampu menjaga kepercayaan yang diberikan oleh pemangku kepentingan; maka perusahaan akan kehilangan peluang, reputasi, kredibilitas, penjualan, dan masa depan.

Banyak sekali perusahaan-perusahaan jatuh oleh kepercayaan yang hilang. Kepercayaan adalah harta yang sangat penting. Menjaga dan merawat kepercayaan dengan integritas, transparansi, akuntabilitas, dan perilaku etis, akan menjadikan perusahaan lebih dipercaya.

Arthur Anderson, kantor akuntan publik, yang masuk ke dalam lima besar terbaik dunia, harus kehilangan kepercayaan, dan pada akhirnya hilang untuk selamanya. Kelalaian kantor akuntan Arthur Anderson untuk menjaga etika dan integritas dalam menjalankan audit terhadap Enron Corporation, berakibat pada izin kantor akuntan publiknya dicabut oleh pengadilan di Amerika Serikat.

Reputasi dan kredibilitas yang sudah cukup lama dibangun oleh kantor akuntan publik Arthur Anderson, ternyata terhapus oleh peristiwa Enron, yang membuat mereka kehilangan kepercayaan untuk selamanya.

Bisnis adalah kepercayaan, kurangnya kepercayaan akan menimbulkan krisis kredibilitas, termasuk penurunan reputasi. Selama bisnis dijalankan dengan integritas dan perilaku yang etis, maka kepercayaan stakeholders kepada bisnis tersebut akan terus meningkat.

Sering sekali sebuah perusahaan tumbang oleh hilangnya kepercayaan dari pelanggan. Apalagi pada perusahaan-perusahaan yang penjualannya bergantung pada kontrak dari pelanggan, maka saat pelanggan kehilangan kepercayaan, saat itu juga perusahaan tersebut bisa langsung tidak mampu beroperasional.

Sekali kepercayaan hilang, maka membangun kembali kepercayaan bukanlah persoalan mudah, membutuhkan pembuktiaan integritas dan perilaku etis yang konsisten di sepanjang waktu. Dan juga, membutuhkan biaya yang sangat besar agar kepercayaan dapat dipulihkan kembali.

Kepemimpinan perusahaan harus mengambil tanggung jawab, untuk meningkatkan gairah setiap orang di dalam perusahaan agar ikhlas menjalankan kode etik dan etika bisnis perusahaan, dengan sepenuh hati dari integritas pribadi yang konsisten.

Jadi, bila pemimpin aktif memberikan pencerahan dan memperkaya setiap orang untuk hidup dalam kebenaran etika dan integritas, maka reputasi dan kredibilitas perusahaan akan semakin memperkuat kepercayaan stakeholders kepada perusahaan.

Kepercayaan haruslah dibangun dari internal perusahaan, yaitu dengan cara menciptakan lingkungan kerja yang menjauhkan orang-orang di dalam perusahaan terhadap hal-hal negatif, seperti: malas, frustrasi, kecewa, bingung, stres, apatis, marah, bosan, dan kehilangan harapan. Jadi, semua perilaku negatif tersebut adalah musuh utama dari kepercayaan. Dan, kepemimpinan perusahaan harus rajin menghapus semua perilaku negatif tersebut dari lingkungan perusahaannya.

Membangun kepercayaan adalah tugas utama kepemimpinan perusahaan. Setiap pemimpin wajib menciptakan harapan, lalu menjaga harapan tersebut dengan tata kelola yang etis dan penuh integritas.

Pemimpin harus membuat semua orang di dalam perusahaan merasa kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Selanjutnya, secara rutin menguatkan orang-orang di dalam perusahaan agar saling percaya, serta melayani stakeholders dengan kekuatan etika dan integritas, sehingga rasa percaya stakeholders kepada perusahaan menjadi semakin meningkat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN DITENTUKAN OLEH DUKUNGAN DARI KERJA SAMA TIM YANG UNGGUL

DSC_0616“Tanpa kekuatan sumber daya manusia yang bekerja sama, maka kepemimpinan akan sulit mencapai kinerja terbaik.” ~ Djajendra

Pemimpin dengan visi besar wajib mendapatkan bantuan dan dukungan dari tim kerja yang solid. Untuk itu, pemimpin harus sering-sering berbicara dan mengulang kata-kata yang memotivasi setiap orang agar secara ikhlas, sukarela, maupun terpaksa, membentuk kebiasaan kerja dalam kerja sama. Tanpa kekuatan sumber daya manusia yang bekerja sama, maka kepemimpinan akan sulit mencapai kinerja terbaik.

Kepemimpinan yang cerdas sangat memahami bahwa perilaku, hubungan, dan sikap individu berpotensi untuk tidak konsisten dalam kerja sama; sehingga dibutuhkan nilai-nilai yang tegas dan konsisten untuk mengharuskan semua perilaku, hubungan, dan sikap individu patuh pada nilai-nilai organisasi agar dapat membangun lingkungan kerja sama tim yang produktif.

Nilai-nilai memiliki kekuatan untuk menyatukan kualitas orang-orang agar dapat bekerja sama dalam kolaborasi dan sinergi yang terfokus pada tujuan. Dan, pengaruh dari energi nilai-nilai kerja tersebut, haruslah menyebabkan ratusan bahkan ribuan orang di dalam organisasi, dapat saling melayani dan saling berkontribusi untuk pencapaian tujuan.

Kecerdasan dan kesabaran kepemimpinan untuk membangun tim kerja berlandaskan nilai-nilai dan budaya organisasi yang konsisten dan kuat, akan memudahkan para karyawan untuk menciptakan kolaborasi dan sinergi tingkat tinggi, untuk memudahkan pencapaian tujuan dan visi kepemimpinan.

Kerja sama tim terbaik tercipta dari kompetensi, kualitas, produktivitas, efektivitas, kolaborasi, komunikasi, tanggung jwab, peran yang otentik dari masing-masing individu, pengaturan tata kelola yang sehat, pemahaman bersama atas peta perjalanan menuju tujuan, ekspektasi kinerja, serta cara kepemimpinan memimpin timnya di dalam kekuatan integritas, transparansi, dan akuntabilitas.

Pemimpin harus kreatif dalam menciptakan peran masing-masing individu di dalam tim. Dan juga, harus terjun ke lapangan untuk membangun kesatuan visi tim, serta memahami dinamika kelompok di dalam tim. Dalam hal ini, pemimpin harus bersikap tegas, jelas, menyelaraskan  dinamika tim ke dalam harapan organisasi, dan memfokuskan setiap perhatian hanya untuk menuju tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan untuk tim.

Kepemimpinan yang bijak selalu akan sadar bahwa kekuatan yang mereka miliki berasal dari para manajer dan karyawan yang terus menerus berkontribusi dan melayani kepemimpinan tersebut. Karena sadar akan hal ini, maka kepemimpinan selalu akan bekerja lebih keras untuk membangun tim yang kuat, bagus, solid, dan efektif.

Organisasi dengan struktur yang efektif dan produktif; hirarki kepemimpinan yang mudah mencair dan mengalir ke semua tingkatan di dalam struktur organisasi; tata kelola organisasi yang menciptakan pemahaman yang jelas atas peran masing-masing; sikap dan perilaku kerja individu di dalam tanggung jawab dan harapan; garis dan arah yang jelas di dalam setiap langkah kerja; komunikasi yang terbuka di dalam kontribusi dan melayani; keputusan kepemimpinan yang jelas dan konsisten; serta kesetaraan dan keharmonisan kerja di dalam budaya organisasi yang dinamis, akan menjadi kunci keberhasilan kepemimpinan untuk memberdayakan tim menjadi lebih unggul.

Budaya organisasi harus lebih menghormati “Kami” daripada “Aku”. Sebab, dalam budaya kolaborasi dan sinergi “Kami” akan menyatukan semua individu untuk menumbuhkan diri di dalam semangat kerja sama, sedangkan “Aku” berpotensi menjadikan individu saling berkompetisi untuk menonjolkan keunggulan pribadi.

Membangun sebuah tim adalah menemukan sebuah kombinasi yang unggul untuk pencapaian kinerja tertinggi. Dalam hal ini, setiap individu di dalam organisasi harus sadar diri bahwa mereka adalah bagian dari yang lain. Kesuksesan individu adalah kesuksesan yang dihasilkan dari pekerjaan organisasi, tim, dan kepemimpinan. 

Pekerjaan terpenting kepemimpinan adalah mendapatkan sebuah tim kerja dengan kombinasi kompetensi dan kualitas yang beragam. Termasuk, karakter dan kepribadian yang beragam agar dapat menciptakan dinamika kelompok yang lebih hidup di dalam kreativitas. Juga, menjadikan tim yang beragam ini solid dan kolaboratif  dalam setiap proses kerja.

Tim kerja adalah kekuatan dinamis dan kreatif yang dimiliki kepemimpinan. Sebagai salah satu sumber daya kepemimpinan yang paling penting, maka kepemimpinan harus selalu menjaga energi positif tim.

Berbagai dinamika berpotensi menjadikan tim lebih solid ataupun tidak solid, dan tugas kepemimpinanlah untuk memperkuat soliditas tim. Tanpa tim kerja yang solid dan berkolaborasi secara sempurna, maka kepemimpinan menjadi tidak produktif.

Pemimpin harus selalu menjaga keselarasan tim pada tujuan, serta membuat keputusan yang mampu mengubah kecepatan atau memperlambatnya, untuk kebaikan strategi dan taktik kepemimpinan di dalam pencapaian terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ENERGI KOORDINASI KEPEMIMPINAN UNTUK MENYATUKAN SEMUA KEPENTINGAN KE DALAM VISI ORGANISASI

DJAJENDRA PROFILE“Bila sudah memiliki visi bersama, tetapi pola pikir dan suasana hati tidak konsisten pada visi bersama, maka diperlukan energi koordinasi untuk menyatukan dan menyemangati semua pihak agar fokus pada visi bersama.” ~ Djajendra

Koordinasi berfungsi untuk menyatukan dan mempertemukan semua kegiatan organisasi ke dalam visi. Setelahnya, mengarahkan setiap fungsi untuk berkolaborasi dalam konsistensi budaya kerja yang kuat.

Koordinasi kepemimpinan yang kuat bersumber dari budaya organisasi yang kuat, yang mampu menyebabkan kesatuan tindakan dan bergerak ke arah yang tepat.

Kepemimpinan haruslah menjadi energi yang menciptakan kehidupan organisasi, yang terkoordinasi dalam tata kelola yang etis, serta mendapatkan respon positif dari integritas pribadi setiap individu.

Setiap hubungan kerja haruslah terkoordinasi secara kuat di bawah kendali sistem dan tata kelola. Lalu, kepemimpinan menjadi energi, untuk melakukan interaksi dan komunikasi dengan sesering mungkin, tepat waktu, akurat, dengan data yang benar, dengan pemecahan masalah, dan tidak hadir untuk mencari kesalahan, tetapi untuk menemukan solusi yang tepat buat kemajuan organisasi.

Setiap fungsi dan peran di dalam organisasi sifatnya saling tergantung. Demikian juga dengan pekerjaannya, yang saling tergantung, kadang agak tak terlihat, dan selalu berubah oleh suasana hati individu.  Disinilah koordinasi itu berfungsi untuk menjaga konsistensi pola kerja agar selalu menyatu dalam sifat saling tergantung.

Organisasi tanpa koordinasi akan kacau dan tidak terkendali, serta berpotensi menjadikan organisasi kehilangan moral kerja. Pemimpin yang memiliki hak penuh untuk menguasai dan menjalankan setiap sumber daya organisasi, haruslah membangun kekuatan kepemimpinan yang konsisten dengan memfungsikan koordinasi di semua level organisasi.

Koordinasi kepemimpinan haruslah menjadi energi pendorong untuk terciptanya budaya kolaborasi yang kuat di tempat kerja. Pemimpin harus sadar bahwa kepentingan individu, kelompok, departemen atau divisi oleh dorongan ego, dapat menciptakan konflik permanen yang menurunkan kinerja dan moral kerja.

Sebagai pemimpin yang memiliki kekuasaan dan wewenang penuh atas organisasi, sudah merupakan tanggung jawabnya untuk menjaga soliditas kerja, dengan cara mempertemukan dan memberdayakan setiap fungsi dan potensi organisasi agar dapat mencapai tujuan dengan kinerja terbaik.

Koordinasi merupakan bagian dari kegiatan kelompok, tim, ataupun kolaborasi dari cara kerja struktur organisasi. Jadi, untuk pekerjaan yang sifatnya individu, yang tidak terhubung dengan kegiatan pihak lain, maka koordinasi tidak diperlukan. Sekali lagi, koordinasi hanya diperlukan untuk memfasilitasi semua fungsi manajemen agar berkolaborasi dan berkomunikasi untuk pencapaian kinerja.

Pemimpin wajib untuk menciptakan energi koordinasi agar dapat menyatukan semua kepentingan ke dalam visi organisasi. Walau koordinasi merupakan prinsip dan fungsi manajemen, tetapi pemimpin haruslah menghadirkannya untuk memperkuat semua fungsi manajemen dalam kolaborasi dan soliditas kerja sama.

Semua fungsi manajemen wajib terkendali dalam koordinasi. Tanpa koordinasi, organisasi akan kehilangan arah, dan kepemimpinan akan kehilangan kehormatan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMBANGUN TEMPAT KERJA YANG DAPAT DIPERCAYA OLEH KARYAWAN

“Salah satu fungsi manajemen bukanlah untuk melanggar janji dan komitmen kepada karyawan, tetapi untuk membangun nilai-nilai kerja yang membuat karyawan ikhlas untuk mengabdi kepada perusahaan.” ~ Djajendra

Karyawan merupakan salah satu aset utama dari bisnis dan organisasi. Bila manajemen gagal membangun rasa percaya karyawan kepada perusahaan, maka karyawan akan menjadi beban yang menghambat kemajuan bisnis.

Manajemen yang baik selalu tahu bahwa loyalitas dan kepercayaan karyawan kepada perusahaan, akan memudahkan pencapaian kinerja dan misi perusahaan.

Lingkungan kerja dengan energi transparansi, akuntabilitas, dan keaslian, akan membangun hubungan kerja yang saling percaya. Di mana, komitmen, motivasi, kreativitas, integritas, dan loyalitas akan menjadi energi yang mendorong pencapaian kinerja dan prestasi.

Bila manajemen memperlakukan karyawan dengan sepenuh hati sebagai mitra kerja yang dihormati, maka karyawan juga akan memperlakukan perusahaan dan pelanggan dengan sepenuh hati dan totalitas.

Nilai-nilai apa yang perusahaan tanamkan ke dalam mindset karyawan, nilai-nilai itulah yang akan dikontribusikan oleh karyawan dalam perilaku kerja sehari-hari.

Pimpinan yang jujur, serta tim manajemen yang peduli kepada karir dan masa depan karyawan, akan menjadikan karyawan semakin mencintai perusahaannya.

Loyalitas tidaklah dapat dibeli, tetapi didapatkan dari rasa hormat.

Perusahaan akan mendapatkan loyalitas dari karyawannya, bila perusahaan cerdas mengaliri mindset karyawan dengan ide-ide yang bersumber dari energi transparansi, akuntabilitas, integritas, dan keaslian karakter manajemen.

Setelah perusahaan menjadi tempat yang paling dipercaya oleh karyawan, maka ide-ide brilian yang kreatif akan mengalir untuk memperkuat perusahaan.

Karyawan akan menjadi aset perusahaan yang sesungguhnya, saat rasa percaya karyawan kepada perusahaan dan tim manajemen mencapai puncaknya.

Tempat kerja atau lingkungan kerja yang profesional didasarkan pada sikap yang saling menghormati antara manajemen dan karyawan, sikap yang saling menjaga kepercayaan dan niat baik, sikap dan perilaku kerja yang patuh pada etika, serta sikap dan perilaku kerja yang cerdas berkomunikasi secara  jelas dan konsisten.

Lingkungan kerja yang sehat adalah yang menghormati umpan balik, dan memiliki perilaku kerja yang proaktif, untuk mengambil tindakan yang tepat agar dapat menjaga perusahaan pada arah visi yang benar.

Energi transparansi akan meniadakan semua agenda tersembunyi, dan menjadikan perusahaan sebagai ruang kerja yang terang menderang. Energi akuntabilitas akan membangun rasa tanggung jawab dan juga sikap untuk mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah dilakukan. Energi keaslian jati diri akan membangun perusahaan dengan integritas dan kesetiaan yang tinggi. Aliran ketiga energi tersebut di lingkungan kerja akan menjadikan tempat kerja dipercaya setiap karyawan dan pimpinan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KOLABORASI MERINGANKAN BEBAN BESAR

“Kolaborator tidak mengenal musuh dan teman, mereka hanya mengenal kepentingannya. Dan akan bekerja sama dengan pihak manapun, dengan siapapun agar mendapatkan kekuatan yang lebih besar, untuk memenangkan tujuan kelompoknya, yang bila dikerjakan sendiri tidak mungkin bisa berhasil.” ~ Djajendra

Kolaborasi adalah perbuatan kerja sama dengan siapapun yang didasarkan oleh kepentingan bersama. Kolaborasi dapat terjadi dengan musuh, dengan orang-orang yang berbeda ideologi, dan dengan siapa saja selama kepentingannya itu sama.

Kolaborasi bisa berada di dalam kekuatan baik ataupun kekuatan tidak baik. Ketika kekuatan tidak baik berkolaborasi dalam wujud berkomplot, bersekutu, berangkulan, bermitra, dan saling bekerja sama untuk niat tidak baik mereka; maka, kekuatan tidak baik tersebut akan menjadi solid untuk memenangkan niat dan tujuan mereka.

Demikian juga dengan kekuatan baik. Bila kekuatan baik berkolaborasi untuk mewujudkan niat dan tujuan baik mereka, maka kekuatan baik ini akan menjadi solid untuk memenangkan niat dan tujuan mereka.

Karena dasar kolaborasi adalah kepentingan dan bukan bersumber dari keyakinan, ideologi, maupun visi yang berkelanjutan; maka, kolaborasi sering sekali sifatnya jangka pendek, dan saat kepentingannya tercapai, semua kolaborator akan kembali ke sifat aslinya, yaitu hidup demi kepentingannya sendiri dan bukan kepentingan kolektif dari semua kolaborator.

Ketika para kolaborator mencapai kepentingannya, maka setiap kolaborator akan berusaha untuk memaksimalkan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan situasi kolaborasi keseluruhan. Dan biasanya, tidak akan ada pencapaian pada visi yang digambarkan, karena saat kemenangan didapatkan, mulai saat itu sifat asli dari para kolaborator akan muncul, untuk memaksimalkan keuntungan dan kepentingan kelompok masing-masing.

Kolaborator sering sekali terjebak dalam perangkap oligarki. Dalam bisnis dan politik hal ini sudah biasa terjadi. Beberapa perusahaan yang berkolaborasi untuk menguasai sebuah bisnis, akan membatasi ataupun mematikan kemunculan pebisnis baru dibidang yang mereka kuasai. Intinya, para kolaborator itu ingin menguasai dan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak atas semua kepentingan mereka.

Demikian juga dalam politik, beberapa partai politik akan berkolaborasi untuk memenangkan pemilu, lalu menjalankan kekuasaan ataupun pemerintahan secara bersama-sama. Dalam praktik kolaborasi yang oligarki, biasanya hanya akan menguntungkan para kolaborator. Dan juga, para kolaborator itupun masing-masing akan berkonflik di internal mereka, karena sifat asli mereka hanyalah untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing.

Kolaborasi bukanlah hal yang mudah untuk diterapkan di internal organisasi. Sebab, sebuah organisasi terbentuk oleh fungsi, peran, struktur, sistem, prosedur, budaya, tata kelola, dan kepemimpinan yang sifatnya permanen. Sedangkan kolaborasi sifatnya mencapai sebuah kepentingan atau sasaran dalam jangka waktu tertentu. Jadi, kolaborasi hanyalah sesuai untuk diterapkan terhadap tim yang ditugaskan untuk mencapai sebuah target atau goal dalam jangka waktu tertentu.

Penerapan kolaborasi di dalam tim kerja membutuhkan fondasi kepercayaan dan pengaruh. Kepercayaan dan pengaruh haruslah ditanamkan oleh pimpinan tim kepada setiap anggotanya agar mereka mau menjadi kolaborator yang efektif, untuk mencapai sebuah target atau goal yang dipercayakan kepada tim mereka. Dan harus diingat bahwa kolaborasi di tim kerja bukanlah murni kolaborasi. Sebab, setiap anggota tim sebagai kolaborator masih bisa dikendalikan oleh perusahaan melalui visi, misi, dan nilai-nilai kerja yang mengikat mereka dalam loyalitas. Karyawan atau anggota tim yang menjalankan peran kolaborator masih tergantung kepada gaji, perintah, kebijakan, budaya, tata kelola, dan prosedur perusahaan. Jadi, mereka tidak mungkin berperilaku seperti para kolaborator dalam kolaborasi murni.

Kolaborasi murni pada umumnya terjadi antar negara oleh sebuah kepentingan bersama, antar partai politik juga oleh kepentingan bersama, dan antar perusahaan untuk mengamankan kepentingan bisnis mereka secara keseluruhan. Dalam hal ini, kesetiaan peserta kolaborator tidaklah dapat dijamin. Potensi pengkhianatan terhadap kolaborasi tetaplah besar. Sebab, mereka berkolaborasi bukan untuk mewujudkan visi atau mimpi bersama, tetapi untuk memenangkan kepentingan masing-masing dengan memanfaatkan energi besar dari kekuatan kolaborasi tersebut.

Kolaborasi bertujuan untuk meringankan beban besar. Tetapi, karena energi kolaborasi ada di dalam kepentingan, maka energi ini pada akhirnya hanya akan memanfaatkan kekuatan besar, untuk mewujudkan kepentingan kelompok, tanpa peduli kepada kepentingan yang lebih luas.

Kolaborator selalu akan berhadapan dengan situasi yang lebih kompleks setelah mencapai kemenangan atas perjuangan mereka. Setelah mereka sukses meraih kemenangan dari kolaborasi mereka, selanjutnya mereka akan masuk ke dalam dunia nyata sehari-hari. Di sini, mereka akan berhadapan dengan realitas bahwa mereka bersumber dari perbedaan-perbedaan yang sangat tajam. Perbedaan-perbedaan itu bisa saja dari ideologi yang sangat jauh, pola pikir, ataupun karena sebelumnya sudah menjadi musuh klasik. Jadi, setelah menang, para kolaborator bisa lebih dramatis lagi perjuangannya untuk mewujudkan kepentingan masing-masing.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

LINGKUNGAN KERJA YANG POSITIF MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA

PEMDA KABUPATEN BELITUNG 2013

“Setiap orang suka dengan pujian, dan tidak suka dengan kritikan. Saat Anda harus memberikan tanggapan kepada seseorang, pastikan Anda merespon dengan positif. Bila ingin mengkritik, gunakan kata-kata positif dan jangan merendahkan dirinya.” ~ Djajendra

Lingkungan kerja yang positif akan membangun hubungan yang kuat dengan rekan kerja, bawahan, pimpinan, pelanggan, serta dengan semua pemangku kepentingan yang lainnya.

Perilaku kerja dengan tata kelola yang konsisten berdasarkan nilai-nilai organisasi yang kuat, akan memiliki dampak positif, untuk meningkatkan disiplin dan motivasi kerja setiap orang di dalam organisasi. Keberhasilan atau kegagalan di tempat kerja sangat ditentukan oleh soliditas di lingkungan kerja. Semakin antusias dan disiplin orang-orang melayani pekerjaan masing-masing, semakin kuat hubungan kerja yang akan terjalin di lingkungan kerja tersebut.

Setiap fungsi dan peran di tempat kerja tidaklah boleh saling menjauh, tetapi harus saling mengisi dengan berkomunikasi secara aktif, untuk mengumpulkan masukan sebelum mengambil keputusan. Perilaku kerja dalam kebebasan kreatif; dalam kemampuan untuk menahan diri; serta dalam kecerdasan untuk menghadapi tantangan dan risiko, akan menjadi modal yang kuat untuk menjaga lingkungan kerja selalu solid dan positif.

Setiap orang di tempat kerja harus mempersiapkan sebuah kebiasaan kerja yang fokus pada hal-hal penting dan prioritas. Sikap fokus pada prioritas ini akan membantu orang-orang untuk berkontribusi dan melayani tujuan dengan tepat sasaran. Membiasakan pola kerja dengan sebuah checklist, akan memudahkan dan membantu dalam menyelesaikan prioritas pekerjaan. Pimpinan harus selalu memperjelas harapan dan memastikan bahwa disiplin dan motivasi kerja yang tinggi selalu bersama perilaku kerja, dan tidak pernah bergeser ke arah negatif oleh alasan apapun.

Budaya kerja yang memberikan tanggapan positif  dengan toleransi untuk kemajuan bersama. Setiap orang di tempat kerja, apakah itu manajer, direksi, staf, dan semua pemangku kepentingan lainnya wajib untuk saling memberikan tanggapan positif.  Kesadaran masing-masing pihak untuk menyadiri kesalahan atau kegagalan yang disebabkan oleh dirinya atau unit kerjanya, akan membuat organisasi tumbuh sehat dan kuat.

Sikap saling salah menyalahkan hanya akan memperburuk hubungan kerja, dan pada akhirnya akan membahayakan keutuhan organisasi. Karena, konflik dari hubungan buruk tersebut dapat membuat setiap orang gagal merespon risiko dengan pengetahuan dan akal sehat.

Hubungan kerja yang saling memberikan informasi yang berguna, serta saling menjalankan manajemen risiko mulai dari pekerjaan masing-masing, akan menjadikan hubungan kerja tersebut lebih bertanggung jawab. Sikap rendah hati dalam kecerdasan emosional akan menempatkan setiap orang selalu bekerja dalam suasana hati yang bahagia. Sehingga, setiap kesalahan atau kelalaian akan dengan cepat dapat diperbaiki.

Lingkungan kerja yang positif dihasilkan dari energi kolaboratif  dan disiplin. Bila semua karyawan dan pimpinan dapat membangun hubungan yang harmonis, dan dapat bekerja dengan dukungan energi kolaboratif  tanpa pamrih, termasuk mendapatkan rasa hormat atas semua energi positif  yang mereka kontribusikan kepada organisasi; maka, lingkungan kerja tersebut akan menjadi sangat produktif, efektif, kreatif, efisien, dan penuh energi bahagia.

Pemimpin yang berkualitas pasti akan membantu setiap orang di tempat kerja untuk mendapatkan pola pikir yang benar. Mulai dengan bahasa komunikasi yang sopan dengan tatakrama yang etis, serta melakukan pengembangan kepribadian karyawan dengan konsisten dan berkelanjutan. Termasuk, mempersiapkan karyawan dengan pola berpikir yang dilengkapi kecerdasan emosional, untuk dapat mengatasi semua potensi konflik, akibat dari perbedaan persepsi yang ditimbulkan oleh perbedaan dari fungsi dan peran kerja masing-masing pihak.

Orang-orang yang bekerja dengan perasaan senang dan bahagia selalu berkontribusi lebih. Karyawan dan pimpinan yang bahagia dengan lingkungan kerja pasti bekerja lebih kreatif, menghasilkan hasil yang lebih berkualitas dan juga menjadi lebih produktif. Perasaan bahagia akan membuat hati ikhlas untuk bekerja ekstra, dan ikhlas untuk berbagi pengetahuan dengan yang lain.

Sikap positif dalam motivasi dan disiplin kerja yang tinggi akan menular; untuk menciptakan suatu lingkungan kerja yang kuat, unggul, terarah, dan melibatkan semua pihak dalam kolaborasi dan soliditas kerja yang produktif. Pimpinan dan tim manajemen harus mampu menjadi teladan yang memfokuskan semua energi organisasi ke arah positif. Lalu, mampu menjadi kekuatan yang membuat setiap individu di dalam organisasi bekerja menuju kebahagiaan, kesenangan, keterlibatan, dan masing-masing dapat memaknai pekerjaan dengan optimis.

Lingkungan kerja yang positif pasti membuat setiap orang menikmati hubungan kerja dan lingkungan tempat mereka bekerja. Setiap orang pasti mampu tertawa, bahagia, sehat, damai, dan merasakan energi positif di sekitar kehidupan kerja mereka. Dan hal ini, pasti akan memotivasi jiwa dan sikap ikhlas dari masing-masing hati, untuk mengisi peran kerja, yang sesuai dengan kompetensi dan keahlian masing-masing dengan antusias dan penuh optimistis.

Lingkungan kerja yang positif selalu dibangun dan dikembangkan dengan pengaruh positif dari kepemimpinan, budaya organisasi, dan manajemen. Sifat manusia tidak suka dipaksa atau didorong dengan ambisi, tetapi lebih suka dipengaruhi dan diyakinkan tentang manfaat dari terciptanya lingkungan kerja yang positif dan kuat. Jadi, ketika Anda memutuskan untuk membangun lingkungan kerja yang positif dan kuat, pastikan Anda sebagai pemimpin mampu menularkan pengaruh yang kuat, untuk mengajak setiap orang berkontribusi  dalam penguatan lingkungan kerja yang positif dan produktif.

Setiap penularan atau pengaruh akan merangsang terciptanya perubahan. Dalam perubahan orang-orang membutuhkan panduan dan bimbingan untuk mengubah perilaku, serta bimbingan untuk dapat beradaptasi dengan hal-hal baru dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif.

Pemimpin yang berkualitas selalu akan mendengarkan semua kebutuhan yang diperlukan selama masa adaptasi. Jadi, dia tidak akan sekedar berpidato berapi-api, lalu menyerahkan perubahan itu kepada masing-masing individu atau kelompok. Tetapi, dia akan terlibat di setiap momen untuk memahami, membantu, mendengarkan, belajar, menahan diri, dan menawarkan perbaikan-perbaikan yang cepat dan tepat sasaran. Dan, dia akan bekerja dengan totalitas untuk mewujudkan lingkungan kerja yang positif, serta selalu mengawal setiap kondisi dan situasi, agar para karyawannya mampu bekerja dengan disiplin dan motivasi yang tinggi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMIMPIN BERTINDAK SEPERTI SEORANG PELATIH SEPAK BOLA

PEMIMPIN BERTINDAK SEPERTI SEORANG PELATIH SEPAK BOLA

“Jika Anda bekerja di sebuah tim lintas fungsional, Anda harus selalu berkontribusi melalui sikap rendah hati untuk kesuksesan bersama, tanpa berpikir bahwa fungsi pekerjaan Anda lebih istimewa dari yang lain.” – Djajendra

Organisasi masa depan akan menuntut setiap karyawan dan pimpinan untuk dapat bekerja sama atau pun berkolaborasi secara lintas fungsional. Keunggulan masing-masing unit kerja atau individu harus menjadi satu peran dalam multi fungsi pekerjaan.

Bekerja efektif dengan fungsi lain akan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dapat dijawab oleh setiap orang untuk membuat organisasi menjadi lebih fleksible. Hal ini, sama seperti praktik tim sepak bola yang mewajibkan semua pemain untuk siap dimainkan di posisi mana pun. Seorang pemain belakang harus mampu menjadi penyerang, seorang penyerang juga harus siap dimainkan di posisi sesuai strategi pelatih. Artinya, setiap orang di dalam tim harus bisa memainkan fungsi dan peran apa saja sesuai kebutuhan strategi tim untuk mencapai kemenangan.

Mungkin Anda sudah sering terlibat dalam sebuah tim lintas fungsional di tempat kerja Anda. Biasanya, tim lintas fungsional terdiri dari orang-orang dari berbagai fungsi atau departemen dalam suatu organisasi, yang dibentuk untuk tujuan menyelesaikan sebuah proyek atau pun untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dalam tim lintas fungsional, setiap orang harus memiliki keahlian untuk memecahkan masalah, atau untuk mengeksplorasi solusi potensial buat berkontribusi terhadap proyek atau misi yang ditetapkan.

Di masa depan, cara kerja tim lintas fungsional akan menjadi sebuah keharusan dalam rutinitas kerja seharian. Pemimpin akan memainkan peran pelatih seperti di dalam tim sepak bola saat ini. Di mana, semua sumber daya manusia harus dapat digunakan sesuai kebutuhan strategi organisasi dan strategi bisnis. Oleh karena itu, setiap individu di dalam organisasi wajib memiliki multi keterampilan dan wawasan yang luas tentang pekerjaan di tempat kerja. Termasuk, memiliki keterampilan negosiasi yang baik, serta memiliki kecerdasan emosional yang berkualitas untuk berkomunikasi secara efektif dengan para stakeholder kunci.

Kepemimpinan dan karyawan dengan keahlian yang berbeda harus duduk bersama-sama untuk menciptakan karya besar sesuai misi organisasi. Kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan solusi terbaik harus menjadi perilaku kerja bersama. Efisiensi, efektivitas, dan produktivitas harus menjadi hal yang diutamakan dalam semua perilaku kerja lintas fungsional.

Bekerja dalam tim lintas fungsional tidak hanya membutuhkan keahlian teknis dari setiap orang, tapi juga keahlian untuk membangun integritas pribadi, agar dapat mengendalikan kepribadian diri, serta mampu melebur dan menyatu dalam satu kekuatan besar untuk satu tujuan bersama yang utuh dan solid.

Setiap orang dalam cara kerja tim lintas fungsional harus dapat menjadi lebih bertoleransi terhadap fungsi kerja lain. Tidak boleh dipelihara pikiran dan perasaan yang meremahkan fungsi pekerjan orang lain. Bila sudah menjadi satu tim, maka semua jenis fungsi pekerjaan harus berada dalam satu kesatuan bersama, tidak boleh ada yang menganggap fungsi pekerjaannya lebih tinggi dari yang lain. Bila ada pihak yang menganggap fungsi pekerjaannya lebih bergengsi dan lebih penting, maka kerja sama dalam tim lintas fungsional akan menjadi tidak efektif.

Kerja sama secara lintas fungsional adalah cara kerja yang sedang berkembang saat ini. Kekuatan kolaborasi mulai dari pengetahuan, keterampilan, pelayanan, dan kepribadian, akan menjadi hal yang sangat menentukan keberhasilan dari kerja sama tersebut. Setiap individu harus menyiapkan kepribadian yang penuh integritas untuk memberikan energi positif terhadap jaringan kerja sama tersebut. Tidak boleh ada konflik ataupun persaingan untuk kemenangan ego pribadi atau kelompok, yang ada hanyalah sikap untuk saling menjaga hubungan kerja dengan antusias, serta semua orang bertindak dengan efektif terhadap tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Peran pemimpin menjadi sangat menentukan dalam merekatkan hubungan kerja antar fungsi. Di sini, pemimpin bertindak seperti seorang pelatih, yang setiap hari dengan antusias memberikan motivasi kepada setiap individu untuk menghasilkan ide-ide terbaik, sumber daya, kualitas, dan hasil akhir yang berkinerja tinggi.

Setiap individu harus mematuhi instruksi dan perintah pimpinan, dan mampu membawa diri sepenuhnya kepada setiap interaksi. Termasuk, cerdas memberikan sinyal ketertarikan dalam setiap kolaborasi untuk terlibat dan menanggapi setiap aliran ide-ide.

Pemimpin wajib melakukan apa yang dikatakan, dan menjaga integritas diri, agar sebagai panutan dalam kolaborasi tetap dihormati dan dipercaya oleh setiap individu. Sebagai pemimpin yang dipercaya, maka setiap masukan dari anggota tim, harus diterima dengan terbuka, lalu disampaikan secara terbuka kepada semua orang dalam tim. Peran pemimpin adalah membangun keyakinan dan kepercayaan diri setiap orang, untuk menghasilkan ide dan sumber daya buat membantu peningkatan kinerja organisasi.

Djajendra

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

 

JANGAN SALING MENYALAHKAN DALAM KERJA KELOMPOK

Jangan Saling Menyalahkan Dalam Kerja Kelompok

“Berkelompok untuk mengerjakan sebuah tujuan berarti harus meninggalkan penonjolan sifat dan perilaku individu, dan digantikan dengan sifat dan perilaku untuk memperkuat kerja kelompok dalam mencapai tujuan bersama dengan berkualitas.” ~ Djajendra

Setiap individu dalam kelompok harus berkontribusi melalui kompetensi masing-masing; dengan cara menyatukan visi, persepsi, logika berpikir, keyakinan, perilaku, niat, emosi, dan kepentingan dalam satu entitas tunggal sebagai satu kesatuan yang solid. Tidak boleh ada individu yang menjadi lebih dominan dengan perilaku individualnya dalam kerja kelompok, karena sifat dan perilaku individual yang terlalu menonjol akan melemahkan kekuatan kelompok.

Dalam kelompok, setiap individu tidak hanya harus memiliki tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, tapi juga harus memiliki kesadaran bahwa sebuah kesalahan kecil dari individu dapat mengakibatkan kesalahan besar dalam kelompok. Oleh karena itu, tidak boleh ada perdebatan tentang siapa yang harus disalahkan atas kegagalan kerjasama di dalam kelompok. Bila terjadi kegagalan, maka setiap individu tidak boleh saling menyalahkan, tapi harus saling interospeksi melalui kesadaran diri untuk kembali ke tujuan utama dari misi berkumpul dalam kelompok.

Setiap individu yang terhimpun dalam kelompok harus diperlakukan sebagai kelompok tunggal dengan pengalaman, persepsi, keyakinan, niat, dan logika berpikir yang kolektif. Pikiran kelompok harus menjadi lebih dominan dibandingkan pikiran individu sebagai anggota kelompok. Interaksi antara individu tidak saja melalui perilaku pribadi dan etos kerja, tapi juga melalui perasaan dan pikiran yang mampu bersatupadu untuk kepentingan tujuan bersama, atribut, nilai, kebanggaan, serta perasaan senasib dalam empati dan toleransi yang saling mengikat hati untuk menjadi lebih solid.

Ketika pikiran dan perilaku kelompok mulai menyatu ke dalam hati nurani masing-masing individu anggota kelompok, maka kerja sama yang ada akan mencerminkan realitas pikiran kelompok. Semakin bersatupadu cara berpikir kelompok, semakin pikiran dan perasaan akan menyatukan kekuatan dan potensi masing-masing individu untuk menjadi sangat kuat dalam sebuah tim yang kokoh dan solid.

Setiap individu harus bertanggung jawab penuh untuk mengalokasikan kualitas kerja dalam meningkatkan mutu kelompok dan individu. Bertanggung jawab penuh berarti bertanggung jawab secara moral, kualitas, tindakan kolektif, tindakan individu, kontribusi yang sifatnya kolaboratif, serta bertanggung jawab untuk berpikir dan bertindak secara kolektif melalui keunggulan individu dalam sifat dan perilaku rendah hati.

Setiap individu harus diberikan pencerahan secara berkelanjutan melalui deskripsi yang jelas tentang tata kelola dan tata cara kerja kelompok, baik untuk perilaku maupun mindset. Tujuannya, untuk membuat masing-masing individu anggota kelompok mampu memiliki perasaan empati dalam melancarkan misi dan tujuan tim.

Setiap individu anggota kelompok harus memiliki kualitas sebagai penyeimbang yang dapat terhubungkan dengan setiap anggota kelompok. Pikiran dan perasaan yang terpisah oleh kepentingan ego diri akan mempengaruhi tanggung jawab moral individu untuk berkontribusi dalam ketunggalan kelompok.

Kerja kelompok adalah pekerjaan yang senantiasa harus menyeimbangkan antara energi individu dan energi kelompok. Bila ke dua energi ini dapat dirawat dalam keharmonisan hubungan kerja yang konsisten, maka setiap individu anggota kelompok akan dengan ikhlas menghubungkan pikiran dan perilaku berkualitas untuk kebaikan kelompok.

Ketika pikiran dan perasaan menjadi solid dalam kerja sama tim yang penuh empati, toleransi, dan kontribusi dalam pelayanan; maka pikiran dan perasaan individu akan menghindari terjadinya konflik di dalam kelompok. Setiap individu akan selalu bekerja dalam kesadaran untuk saling membantu dalam mewujudkan komitmen tim, dan bukan saling menyabotase kepentingan tim dengan memperbesar ego kepentingan pribadi.

Menyiapkan seperangkat standar kerja yang memberikan arah dan panduan untuk kualitas kerja kelompok, akan menjadikan setiap individu selalu memegang tanggung jawab kelompok dalam menghasilkan karya dan prestasi.

Djajendra

PERSAINGAN ANTAR PEKERJA DI DALAM PERUSAHAAN

Persaingan antar pekerja di dalam perusahaan

“Tidak ada seorang individu yang bisa melakukannya sendiri dengan sempurna, dia harus berada dalam energi kolaborasi, agar semua yang dilakukan itu dapat menghasilkan kinerja terbaik.” ~ Djajendra

Di tempat kerja, kehadiran setiap orang dimaksudkan untuk memberikan kontribusi dengan kompetensi berkualitas dalam peningkatan kinerja. Berkontribusi dalam semangat kolaborasi adalah sebuah sarana, bukan tujuan. Tujuan akhir tetaplah untuk menghasilkan kinerja terbaik buat keuntungan perusahaan, pemilik saham, pelanggan, karyawan, dan stakeholder lainnya.

Kompetisi yang sehat di dalam perusahaan dipercaya dapat menghasilkan sesuatu yang positif buat perusahaan dan perkembangan karir pekerja. Sejatinya, kompetisi dan persaingan akan menghasilkan kualitas individu yang lebih baik. Tetapi, dibanyak kasus, setelah mulai bersaing dan berkompetisi satu sama lain, ada orang yang kadang-kadang mulai kehilangan akal untuk berkompetisi secara sehat. Pada akhirnya, hal ini menjadi sesuatu yang merugikan perusahaan dalam membangun kolaborasi kerja. Padahal, kolaborasi dalam perusahaan adalah sesuatu yang wajib untuk meningkatkan kualitas dari proses kerja, termasuk untuk meningkatkan kinerja dan prestasi.

Sebelum perusahaan membiarkan semangat kompetisi dan persaingan antar pekerja dalam perusahaan, maka setiap pekerja harus mendapatkan pencerahan untuk memiliki kesadaran dalam berkompetisi. Setiap pekerja harus sadar bahwa keberadaan mereka di perusahaan adalah, untuk berkontribusi menjadikan perusahaan paling kompetitif di semua aspek kerja dan pelayanan. Berkompetisi bukan berarti menonjolkan kehebatan masing-masing diri, dan melupakan prioritas untuk saling bekerja sama dalam budaya kolaborasi yang saling melengkapi.

Bukanlah sebuah rahasia bahwa dalam perusahaan sering muncul kelompok-kelompok yang saling bersaing dalam skala konflik. Semua ini berawal dari kompetisi dan persaingan yang tidak dikelola dengan baik oleh manajemen. Ketika para pekerja yang berkonflik ini secara terus-menerus meningkatkan intensitas konfliknya, maka  perilaku mereka menjadi sesuatu yang menghambat kemajuan perusahaan.

Prestasi sering dihargai di tempat kerja, dan orang-orang dengan tingkat ambisius yang sangat tinggi untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan di perusahaan, akan bersikap dan berpikir bahwa prestasi terbaik didapatkan dengan mengalahkan orang lain. Sebaiknya, prestasi terbaik didapatkan dari kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, agar dapat mencapai pertumbuhan pribadi yang meningkatkan kualitas dan kompetensi diri di tempat kerja. Prestasi yang didapatkan dari mengalahkan orang lain melalui cara-cara yang tidak sehat, biasanya akan menjadi sesuatu yang tidak membawa manfaat positif buat perusahaan. Kepentingan kelompok adalah sesuatu yang bisa membuat seseorang yang tidak berkualitas mendapatkan prestasi dan promosi ke jenjang yang lebih tinggi.

Persaingan dan kompetisi yang memperebutkan jabatan atau pekerjaan dengan cara-cara tidak etis, merupakan awal dari kegagalan manajemen untuk menjalankan tata kelola yang sehat, tegas, efektif, produktif, dan bebas dari energi perusak organisasi. Persaingan dan kompetisi tidak sehat selalu menyebabkan tekanan, dan mengundang risiko ke dalam perusahaan. Hal ini berpotensi mengundang risiko yang tidak diinginkan untuk masuk dan melemahkan daya tahan perusahaan.

Setiap orang di dalam perusahaan haruslah disadarkan untuk tidak terjebak dalam situasi persaingan tidak sehat. Sekali persaingan tidak sehat terbentuk dan menjadi budaya kerja, maka setiap orang di dalam perusahaan sedang dibentuk untuk gagal. Persaingan tidak sehat hanya akan melukai satu sama lain, dan hampir mustahil bagi orang-orang untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Karena, setiap orang akan sibuk saling menyalahkan dan saling tidak percaya, sehingga semua sumber daya yang tersedia tidak akan mendapatkan cukup perhatian untuk dikelola dengan efektif.

Kompetisi haruslah menjadi tantangan yang tepat untuk orang yang tepat. Dalam lingkungan kerja yang profesional, kompetisi menyoroti potensi dan kemampuan para pekerja terbaik untuk membantu perusahaan, dan meningkatkan kinerja perusahaan melalui budaya kolaborasi yang efektif. Jadi, perusahaan tidak akan membiarkan konflik dan persaingan tidak sehat berkembang di dalam diri siapa pun. Setiap pekerja akan diberikan pencerahan bahwa persaingan bukanlah sesuatu yang akan memajukkan karir individu, tapi kolaborasi yang efektiflah yang akan menjadikan setiap individu terlihat berkinerja bersama kontribusinya.

Kompetisi di tempat kerja bukanlah dimaksudkan untuk menjadi pribadi yang lebih agresif, dan kurang produktif  karena adanya konflik dari kompetisi. Kompetisi di tempat kerja dimaksudkan agar setiap individu dapat berkontribusi dengan maksimal melalui kualitas dan potensi diri untuk menghasilkan kinerja terbaik. Bila persaingan dan kompetisi antar karyawan tidak menghasilkan kinerja yang baik, maka setiap karyawan pasti akan gagal untuk mewujudkan target dan visi bersama.

Tidak ada seorang individu yang bisa melakukannya sendiri dengan sempurna, dia harus berada dalam energi kolaborasi, agar semua yang dilakukan itu dapat menghasilkan kinerja terbaik. Persaingan tidak sehat pastilah reaksi negatif terhadap kesuksesan orang lain. Jadi, tidaklah berguna buat perusahaan dengan membiarkan persaingan tidak sehat menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari. Bila perusahaan sudah terlanjur diisi dengan orang-orang yang bersaing atau berkompetisi dengan cara-cara tidak sehat, maka tidak ada pilihan, kecuali melakukan perbaikan mental dan emosional secara total dan berkelanjutan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BEKERJA DALAM TIM HARUS DENGAN VISI YANG SAMA

BEKERJA DALAM TIM HARUS DENGAN VISI YANG SAMA

Video pelatihan djajendra: http://www.youtube.com/user/MrDjajendra

“Seseorang Menjadi Pintar Karena Dia Bisa Meyakinkan Diri, Untuk Menemukan Jawaban Atas Berbagai Ketidaknyamanan Dalam Hidup. Seseorang Menjadi Tidak Pintar Karena Dia Hanya Mampu Menemukan Berbagai Alasan Pembenaran, Untuk Tidak Melakukan Apa-Apa, Atau Untuk Tidak Menemukan Jawaban Atas Ketidaknyamanan Dalam Hidup. Ketika Seseorang Membenarkan Status Quo Sebagai Cara Aman Dalam Mempertahankan Hidup, Maka Orang Tersebut Selalu Hidup Dalam Ketidakpuasan. Padahal, Hidup Adalah Kreatif Dan Manusia Adalah Kreatif. Bila Seseorang Tidak Mendorong Dirinya Menjadi Lebih Kreatif, Maka Dia Akan Menunggu Sangat Lama Dalam Ketidaknyamanaan Realitas. Orang Pintar Selalu Belajar Dan Berupaya Terus, Agar Dapat Bergerak Di Luar Zona Kenyamanan; Sedangkan Orang Tidak Pintar, Selalu Ngotot Dan Memiliki Banyak Alasan, Agar Dia Tetap Bersembunyi Di Dalam Tembok Zona Kenyamanan.” ~ Djajendra

Bekerja dalam tim berarti bekerja dalam visi yang sama. Setiap orang di dalam tim harus dapat memimpin diri sendiri dengan efektif, lalu mampu memotivasi diri sendiri dan orang-orang lain di dalam tim, untuk tetap berada dengan visi yang sama.

Visi yang sama harus menjadi dasar untuk setiap tindakan pencapaian kegiatan tim. Visi yang sama harus dibuat jelas aturan mainnya, agar orang-orang di dalam tim sadar untuk tetap berada pada jalur kelompok yang harus mereka ambil. Termasuk, selalu berada dalam arah yang sama, untuk saling membantu dan berkontribusi dalam ikatan saling percaya satu sama lain.

Setiap orang dalam tim harus mengedepankan kompromi sesuai visi, dan melaksanakan visi dengan sepenuh hati dalam tanggung jawab yang tidak mudah goyah oleh tantangan apa pun. Sekali visi diputuskan, maka setiap orang harus merasa tahu tentang tujuan masa depan yang harus mereka capai.

Setiap individu mampu menjadi mandiri dalam kekuatan kelompok. Artinya, setelah visi dijadikan dasar dalam kerja sama kelompok, maka setiap individu secara mandiri harus bisa mengartikulasikan visi dengan baik, melalui tugas, tanggung jawab, peran, dan fungsi masing-masing di dalam tim. Tidak ada lagi individu yang membuang-buang waktu dengan mencari dukungan ataupun bimbingan, tapi semuanya mampu bergerak harmonis, dalam tim yang solid dan unggul.

Ketika visi sudah terserap dan tersosialisasi dengan baik di dalam tim, maka tim secara otomatis akan mampu mengelola berbagai keragaman yang tersebar di dalam tim. Tim yang datang bersama-sama di seluruh unit yang berbeda akan melakukan pekerjaan sesuai visi, dan visi yang dipahami akan menjadi basis untuk membangun kepercayaan sebagai dasar kerja sama tim yang baik.

Anggota tim yang menguasai visi pastilah cerdas berbicara dan mendengarkan, karena visinya sudah sama, dan buatnya Komunikasi adalah kunci. Dia pasti cerdas mengajukan pertanyaan, mengakui kesalahan, mengangkat isu-isu, dan menawarkan ide-ide. Dia pasti memahami pengetahuan rekan kerjanya. Dia pasti memiliki keahlian, ide, dan keprihatinan.

Setelah visi menjadi sama, maka tidaklah akan sulit untuk mengintegrasikan sudut pandang yang berbeda. Tidaklah akan sulit untuk mensintesis informasi dan ide-ide secara kelompok. Dan tidaklah akan sulit untuk mengidentifikasi dan menggabungkan tantangan, peluang, dan solusi sehingga semuanya menjadi masuk akal untuk tim.

Visi yang sama akan membangun tim dalam lingkungan yang pasti, setiap orang dalam tim akan memahami langkah demi langkah yang harus mereka lakukan dalam waktu dan budget yang disepakati. Mereka akan saling mendiskusikan setiap kemajuan dalam satu visi yang sama, dan terfokus kepada upaya untuk mencapai tujuan tim.

Visi yang sama akan menyatukan ide-ide besar untuk diarahkan ke dalam proses inovasi. Visi yang sama akan membuat tim solid dalam mengeksekusi inovasi yang berdaya jual tinggi.

Visi yang sama akan menempatkan para spesialis untuk berkontribusi buat keberhasilan tim. Dan para spesialis akan berkolaborasi dalam tim bersama nilai-nilai tim untuk menghasilkan karya terbaik.

Visi yang sama akan menjaga integritas antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan oleh para anggota tim. Ini akan membuktikan keaslian dari potensi spesialisasi masing-masing anggota tim. Selanjutnya, para anggota tim akan selalu menjadi konsisten dengan visi tim. Dan dari hari ke hari, dari anggota tim ke anggota tim, dari situasi ke situasi, dari perbedaan ke perbedaan, dan dari kerja keras ke kerja keras; setiap anggota tim selalu solid dalam satu visi yang tidak akan meragukan nurani mereka masing-masing.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KOLABORASI MENINGKATKAN EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS ORGANISASI

KOLABORASI MENINGKATKAN EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS ORGANISASI

Video pelatihan djajendra: http://www.youtube.com/user/MrDjajendra

“Tidak Boleh Ada Pihak Yang Menganggap Dirinya Paling Benar Dan Paling Pintar. Sebab, Bila Ada Yang Menganggap Paling Benar Atau Paling Pintar, Maka Keharmonisan Dalam Kolaboratif Akan Hilang, Dan Digantikan Konflik Yang Sulit Dipadamkan.” ~ Djajendra

Kolaborasi adalah praktek kerja dimana individu bekerja sama, untuk tujuan yang sama, untuk mencapai manfaat bisnis dengan maksud mencapai efisiensi dan efektifitas. Banyak organisasi memanfaatkan kolaborasi untuk meningkatkan kerjasama dan mengurangi jumlah ruang, waktu, orang, sumber daya, dan biaya.

Syarat utama dalam kolaborasi adalah kesadaran untuk meyakini bahwa setiap orang dalam kolaborasi adalah bagian dari entitas yang bekerja bersama untuk satu tujuan organisasi. Di sini, setiap individu yang terlibat dalam kolaborasi harus memiliki motivasi diri yang kuat, dan mendorong diri masing-masing untuk terlibat dalam ritme kerja kolaboratif, serta selalu proaktif dalam konsensus pemecahan masalah.

Iklim dan ritme kolaboratif membutuhkan karakter kerja individu yang selalu siap berpartisipasi dalam kolaborasi, dan mengharapkan orang lain untuk berpartisipasi. Dan setiap individu harus cerdas bernegosiasi, saling berkontribusi dalam kerja sama, untuk menemukan titik tengah dari solusi yang diinginkan. Hubungan timbal balik yang adil dan terbuka merupakan dasar untuk menghasilkan iklim kolaboratif yang efektif dan efisien untuk kepentingan organisasi.

Setiap kepentingan dalam kolaborasi harus terlibat secara proaktif, tidak boleh hanya menunggu dan melihat hal-hal terjadi tanpa partisipasi, serta memotivasi diri sendiri untuk berpikir dan mempertimbangkan alternatif terbaik, agar dapat memberikan kontribusi sesuai harapan.

Kolaborasi merupakan kemampuan untuk eksis dalam realitas kebersamaan. Realitas kebersamaan akan sukses bila setiap orang didasarkan pada nilai-nilai diri sendiri. Dan tidak boleh ada pihak yang menganggap dirinya paling benar dan paling pintar. Sebab, bila Ada yang menganggap paling benar atau paling pintar, maka keharmonisan dalam kolaboratif akan hilang, dan digantikan konflik yang sulit dipadamkan. Oleh karena itu, dalam rangka membangun kepercayaan dengan orang lain, Anda harus tahu nilai-nilai Anda sendiri, keyakinan, dan motivasi Anda untuk berada dalam iklim kolaboratif yang harmonis.

Keragaman dan perbedaan adalah sesuatu yang abadi dalam kehidupan. Oleh karena itu, dalam iklim kolaboratif tidak boleh ada niat atau upaya untuk menyeragamkan keragaman. Jadilah pembelajar untuk menghargai dan mengelola kelompok yang beragam. Perbedaan adalah aset penting untuk proses kolaboratif yang efektif. Bila terjadi konflik oleh perbedaan, maka tampillah untuk resolusi konflik yang konstruktif. Dalam lingkungan kolaboratif, konflik dipandang sebagai kesempatan untuk memperdalam pemahaman dan kesepakatan. Oleh karena itu, gunakan kekuatan Anda untuk menciptakan win-win situasi. Pembagian kekuasaan dan pengakuan atas dasar kekuatan diri sendiri adalah bagian dari kolaborasi yang efektif.

Kolaborasi yang efektif terwujud dari berbagai proses pendewasaan atas komunikasi, kerjasama, ketulusan, keikhlasan, dan fleksibilitas. Mengakui bahwa kolaborasi adalah sebuah perjalanan. Keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk kolaborasi yang efektif membutuhkan waktu dan praktek. Resolusi konflik, keunggulan komunikasi, penyelidikan apresiatif, dan pengetahuan tentang proses kelompok dalam keterampilan belajar di sepanjang proses kolaboratif. Menghargai kerja sama yang dapat terjadi secara spontan. Jadi, kolaborasi adalah suatu kondisi yang secara otomatis akan saling berkontribusi secara spontan jika faktor-faktor  seperti komunikasi, kerjasama, ketulusan, keikhlasan, fleksibilitas, resolusi konflik, penghormatan terhadap perbedaan dan keragaman telah benar – benar sempurna pada tempatnya.

Kolaborasi bukanlah sebuah peristiwa tunggal yang terhenti di satu titik persoalan. Tetapi, kolaborasi merupakan sebuah proses belajar dari keberhasilan dan kegagalan kolaboratif itu sendiri. Dan mendorong setiap orang untuk menjadi bagian dari tim eksklusif, yang bisa menjadi yang terbaik, dalam kreatifitas dan inovasi kerja. Jadilah reflektif. Bersedia untuk mencari umpan balik dan mengakui kesalahan untuk perbaikan terus menerus.

Kolaborasi adalah salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan di tempat kerja saat ini, dan ada kebutuhan bagi semua pemangku kepentingan untuk belajar keterampilan ini. Kolaborasi bukanlah obat mujarab, jadi pahami kapan harus menerapkan kolaborasi dan kapan tidak dibutuhkan kolaborasi untuk sebuah tindakan atau keputusan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com