ETOS KERJA: MEMULIAKAN DAN MENGHORMATI PEKERJAAN ANDA

“Etos kerja terbaik dihasilkan dari kualitas diri yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk pekerjaan yang ditekuni, tanpa syarat.”~Djajendra

Bekerja yang baik itu datang dari hati yang luhur untuk mencapai tujuan dan visi. Memuliakan pekerjaan dan menghormati apa yang sedang Anda kerjakan adalah jalan untuk mencapai hasil terbaik. Memandang dan menganggap pekerjaan Anda sebagai hadiah terbaik dari Tuhan, akan membuat Anda bekerja tanpa pamrih dengan sepenuh hati. Rasakan panggilan hati untuk melaksanakan pekerjaan Anda dengan totalitas dan penuh kualitas terbaik. Miliki tanggung jawab, disiplin, rasa cinta, dan kejujuran dalam setiap proses kerja. Jadilah diri sendiri yang totalitas untuk menerima dan melakukan pekerjaan Anda dengan penuh semangat.

Sangatlah tidak etis mengungkapkan ketidakmampuan Anda untuk melaksanakan pekerjaan dengan sepenuh hati. Dalam kondisi dan situasi tersulit pun, Anda harus percaya diri dan berani untuk melaksanakan pekerjaan Anda dengan tanpa pamrih. Resiko dan rintangan haruslah menjadi bagian dari tanggung jawab Anda untuk dilewati dengan solusi yang tepat. Integritas dan akuntabilitas haruslah menjadi senjata batin Anda saat pekerjaan mendapatkan tantangan. Fokuskan energi dan perhatian Anda hanya untuk melakukan apa yang diminta dari Anda pada momen itu. Anda tidak boleh bekerja dengan beban dan rasa khawatir dengan tindakan Anda. Kerjakan saja pekerjaan Anda sesuai aturan dan SOP dengan suasana hati yang selalu gembira dan penuh sukacita.

Hak seorang profesional adalah melakukan tugas dan mengambil tanggung jawab penuh atas pekerjaannya, serta tidak menuntut atau berharap pujian atas hasil tindakan. Dalam hal ini, hati yang ikhlas dan tanpa pamrih sangat diperlukan, agar Anda tidak menjadikan pekerjaan hanya untuk memuaskan egoisme Anda. Intinya, Anda tidak boleh terikat dengan ambisi, nafsu, dan egoisme dalam menjalankan pekerjaan Anda. Anda harus menjadi orang bebas yang selalu menggunakan energi kreatif untuk menemukan berbagai solusi terbaik, sehingga semua resiko dan rintangan dapat Anda atasi dengan cara kerja yang profesional.

Proses kerja selalu menghadapi begitu banyak perubahan dan ketidakpastian, disinilah Anda harus memiliki ketenangan dan kepercayaan diri untuk mengatasinya. Jangan pernah memiliki kebiasaan mengeluh atau melihat kekurangan dari situasi yang Anda hadapi. Miliki pola pikir positif dan optimis untuk bisa bekerja dengan sepenuh hati dalam setiap situasi yang penuh ketidakpastian. Miliki tekad dan niat yang kuat, untuk melakukan tugas Anda dengan sungguh-sungguh, dan tidak pernah berhenti sebelum mencapai hasil terbaik. Tidak pernah mengkhawatirkan tentang pilihan cara kerja Anda tersebut. Jangan pernah membiarkan pikiran Anda lari ke sana dan ke sini, tanpa arah yang jelas. Kendalikan pikiran dan disiplinkan pikiran untuk fokus pada momen sekarang, untuk bisa menghasilkan tindakan terbaik di momen sekarang, sehingga Anda bisa menghasilkan pekerjaan yang hebat dan berkualitas tinggi.

Satu-satunya kemampuan mutlak yang ada dalam kuasa Anda di tempat kerja, adalah kesediaan Anda untuk memberikan yang terbaik melalui etos kerja Anda. Jadi, di tempat kerja, jangan terlalu memikirkan tentang sikap dan perilaku orang lain, jangan terlalu banyak memikirkan tentang etos kerja orang lain. Anda hanya mempunyai satu pilihan, yaitu: memberikan yang terbaik dari dalam hati Anda untuk hasil kerja terbaik. Oleh karena itu, miliki pola pikir bahwa kehadiran Anda ke tempat kerja adalah untuk memberikan yang terbaik dari kualitas integritas dan akuntabilitas tertinggi. Anda tidak boleh memiliki pola pikir dan niat untuk meminta ataupun memiliki sesuatu dari pekerjaan Anda. Etos kerja terbaik dihasilkan dari niat dan pola pikir untuk memberi dan melayani tanpa pamrih. Bila Anda pamrih dan berharap sesuatu, dan yang Anda harapkan itu tidak didapatkan, maka Anda akan menjadi marah dan malas. Jelas, orang yang marah dan malas tidak pernah memiliki etos kerja terbaik, mereka hanya menjadi energi perusak di setiap proses kerja.

Orang-orang dengan etos kerja yang hebat tidak pernah bekerja untuk hadiah atau gaji sesuai harapan. Mereka bekerja karena sangat mencintai dan menyukai pekerjaan yang dilakukan. Mereka sangat fokus dan antusias untuk terlibat dengan sepenuh hati di setiap momen proses kerja. Mereka tidak memiliki mind set ‘worth it (worthed) dalam melakukan sesuatu. Artinya, mereka tidak pernah menganggap layak atau patut untuk menerima sesuatu yang lebih besar dari pekerjaan yang mereka lakukan. Jadi, etos kerja terbaik dihasilkan dari kualitas diri yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk pekerjaan yang ditekuni, tanpa syarat. Kalau mental worth it selalu memiliki syarat dari egoismenya. Intinya, etos kerja terbaik dihasilkan dari diri yang bebas dan mandiri untuk melakukan pekerjaan terbaik di setiap momen. Biasanya, orang-orang dengan etos kerja terbaik percaya pada filosofi tabur-tuai. Hal ini, membuat mereka fokus sepenuhnya untuk memberikan dan melayani dengan cara terbaik. Mereka percaya bahwa apa yang ditabur akan dituai, sehingga tidak pernah khawatir atau takut dengan masa depannya. Kabar baiknya, siapa pun yang memiliki etos kerja terbaik, pasti memiliki kehidupan materi dan spiritual yang sangat kaya.

Anda tidak perlu menunggu perintah dan menunggu motivasi dari orang lain untuk melakukan pekerjaan Anda dengan hebat. Anda tidak perlu membungkuk dan minta dikasihani untuk kesuksesan Anda. Ingat, tidak seorang pun yang bisa memberikan kesuksesan untuk Anda, hanya Anda sendirilah yang bisa memberikan kesuksesan untuk Anda melalui etos Anda yang hebat. Ukuran sukses Anda ada di dalam etos kerja Anda yang hebat, bukan karena pemberian dari orang lain. Orang lain hanya akan memberikan yang terbaik untuk Anda, kalau Anda memiliki etos kerja yang luar biasa. Oleh karena itu, bila Anda ingin karir dan prestasi Anda hebat, maka satu-satunya jalan adalah dengan memiliki etos kerja terbaik. Ketika pekerjaan Anda dihasilkan dari ketulusan dan usaha sepenuh hati, maka pekerjaan Anda akan berbicara sendiri melalui kualitas dan kehebatannya. Anda cukup berlatih terus-menerus untuk rendah hati dan melayani dengan sepenuh hati, pekerjaan Anda pasti mengundang pujian dan kekaguman orang lain.

Sumber etos kerja terbaik berasal dari jiwa spiritual. Kesadaran untuk memberikan yang terbaik dan menyerahkan imbalannya kepada kehendak Tuhan, adalah jalan untuk melakukan pekerjaan dengan tanpa beban dan dengan perasaan merdeka. Keyakinan bahwa rejeki bersumber dari Tuhan adalah fondasi untuk membangun etos kerja terbaik. Jadi, orang-orang dengan etos kerja terbaik tidak mengikatkan dirinya dalam batas imbalan, mereka bebas dan hanya menikmati pekerjaan dengan melupakan arti materi yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut. Rasa syukur dan terima kasih kepada kebaikan Tuhan selalu menjadi energi positif untuk bekerja dengan etos terbaik. Dengan doa dan rasa syukur, orang-orang beretos kerja terbaik selalu fokus untuk melakukan pekerjaan dengan kualitas terbaik, dan tidak terlalu peduli atau mengurusi apa yang diterima dari hasil terbaik itu. Niat mereka bekerja adalah melakukan yang terbaik melalui integritas dan akuntabilitas diri yang terpuji.

Orang-orang dengan etos kerja terbaik tidak menunggu pujian dan sanjungan dari manapun. Mereka bekerja karena panggilan hati dari kesadaran tertinggi untuk melakukan yang terbaik. Sanjungan ketika sukses, cacian ketika gagal, tidaklah menjadi bagian hidup dari orang-orang beretos kerja terbaik. Mereka mengoptimalkan semua potensi terbaik dari diri sendiri dan tidak pernah menampilkan perilaku imitasi. Mereka selalu tampil asli dan terus-menerus belajar untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan. Mereka memiliki iman yang begitu suci dan tunduk dalam rasa cinta kepada Tuhan, sehingga memiliki perilaku kerja yang konsisten di jalan spiritual. Orang-orang dengan etos kerja terbaik selalu menjaga hati dan kata-kata di dalam energi positif. Ucapan selalu positif, niat selalu baik, pikiran selalu positif, perilaku selalu optimis dan positif, kerja keras selalu mengikuti aturan dan etika, serta selalu menjaga hati agar ikhlas dan tulus dalam melakukan pekerjaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMPERHATIKAN SIFAT-SIFAT KARYAWAN YANG MEMBUAT BUDAYA PERUSAHAAN KUAT

“Sifat-sifat karyawan yang tidak diinginkan menciptakan budaya perusahaan yang tidak diinginkan. Jangan membiarkan budaya terjadi secara liar dari sifat-sifat yang tidak baik. Latihlah sifat-sifat karyawan yang mampu menguatkan budaya perusahaan yang diinginkan.”~Djajendra

Setiap karyawan harus membawa sifat-sifat yang dibutuhkan perusahaan untuk meraih kinerja terbaik. Sifat-sifat karyawan yang dibutuhkan perusahaan haruslah dirancang dan dikelola dengan baik oleh manajemen. Sifat-sifat karyawan yang dibutuhkan tersebut merupakan fondasi budaya yang diinginkan oleh perusahaan.

Manajemen yang kuat tidak akan membiarkan budaya terjadi oleh sifat-sifat karyawan yang tidak sesuai dengan strategi perusahaan. Sifat-sifat apa saja yang dibutuhkan untuk strategi pastilah dirancang dengan nilai-nilai yang diberikan narasi yang jelas, lalu dikelola secara sistematis untuk menjadi energi positif bagi budaya organisasi yang kuat.

Sifat-sifat karyawan yang membuat mereka terlibat secara total di setiap aspek bisnis dan aspek kerja, serta sifat-sifat karyawan yang menciptakan kebahagiaan dan keharmonisan di tempat kerja, adalah inti dari pembentukan budaya kerja yang kuat. Kegembiraan, kebahagiaan, ketenangan, keharmonisan, rasa syukur, kerja keras, antusiasme, tekun, rendah hati, optimisme, tanggung jawab, kejujuran, kesabaran, disiplin, dan fokus, adalah nilai-nilai yang mampu meningkatkan sifat-sifat positif untuk produktivitas kerja yang tinggi.

Budaya perusahaan yang kuat bekerja melalui sifat-sifat karyawan yang sesuai dengan misi, visi, nilai-nilai, dan strategi perusahaan. Jadi, pertama, top manajemen perusahaan harus memilih dan memutuskan siapa-siapa saja yang cocok untuk menjadi karyawan di perusahaan tersebut. Cocok artinya karyawan-karyawan tersebut sudah memiliki sifat-sifat untuk menggerakan misi, visi, nilai-nilai, dan strategi perusahaan. Bila karyawan belum memiliki sifat-sifat untuk menciptakan kinerja hebat di perusahaan, maka sudah menjadi tugas manajemen untuk mendidik dan melatih semua karyawan secara berkelanjutan agar sifat-sifat yang diinginkan tersebut dapat diberikan oleh karyawan. Jelas, hal ini, harus diawali dengan pembentukan nilai-nilai perilaku kerja yang diinginkan dan juga sistem yang sudah disesuaikan dengan nilai-nilai perilaku kerja.

Ketika perusahaan ingin mempekerjakan orang, pertama, harus selalu dimulai dengan sifat-sifat yang cocok dengan budaya yang diinginkan. Budaya selalu dimulai dari visi pemilik dan strategi pemimpin. Dalam setiap perekrutan, bukan kepintaran yang harus dijadikan pertimbangan utama, tetapi sifat-sifat yang sesuai dengan budaya yang diinginkan. Kepintaran dan kompetensi bisa dilatih dan ditingkatkan dengan mudah, tetapi melatih dan meningkatkan sifat-sifat yang sesuai dengan budaya yang diinginkan tidaklah mudah. Diperlukan kesadaran dan komitmen individu di dalam integritas yang tinggi untuk bisa menciptakan sifat-sifat yang sesuai dengan budaya yang diinginkan.

Sifat-sifat positif karyawan menciptakan energi besar pertumbuhan pada budaya perusahaan yang kuat. Budaya yang kuat menciptakan tempat kerja yang manusiawi untuk mendorong karyawan berkarya dan berkinerja tinggi. Sifat-sifat positif juga menciptakan sistem kerja yang dipercaya bersama, sehingga semua orang dengan gembira mampu berbagi sistem yang baik untuk mencapai kinerja tertinggi.

Setiap merekrut karyawan baru, maka harus dijaga jangan sampai mereka menyalahkan budaya yang diinginkan, lalu membanggakan budaya dari tempat kerjanya yang lama. Oleh karena itu, orientasi budaya merupakan sesuatu yang sangat penting. Setiap karyawan baru wajib menentukan sikap yang tepat dan benar sesuai budaya kuat yang perusahaan inginkan. Jadi, setiap karyawan baru wajib hadir dengan sifat-sifat untuk menguatkan budaya perusahaan yang diinginkan.

Selama proses wawancara, budaya haruslah menjadi hal terpenting. Pastikan calon karyawan memiliki sifat-sifat untuk memperkuat budaya yang diinginkan. Jadi, walaupun seorang kandidat memiliki kecerdasan, pengalaman, dan kompetensi yang hebat. Tetapi, bila sifat-sifat dia tidak sesuai dengan budaya kuat yang diinginkan oleh perusahaan, maka lebih baik tidak direkrut. Terimalah kandidat yang sesuai dengan budaya perusahaan yang Anda inginkan, dan latih mereka untuk berkinerja hebat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGUATKAN BUDAYA KERJA BERLANDASKAN CORE VALUES PERUSAHAAN

“Membangun nilai-nilai perusahaan menjadi budaya kerja membutuhkan niat, disiplin, energi positif, dan perilaku setiap hari sesuai nilai-nilai perusahaan.”~Djajendra

Nilai-nilai perusahaan atau biasa yang disebut dengan core values bertujuan untuk membentuk kebiasaan kerja yang baru. Sangat diyakini bahwa bila setiap orang di tempat kerja terbiasa bersikap dan bertindak berlandaskan core values, maka mereka telah turut serta membangun fondasi budaya perusahaan yang kuat. Memiliki budaya perusahaan yang kuat berarti telah menyiapkan strategi yang unggul untuk berkembang dengan kinerja terbaik. Kebiasaan kerja berlandaskan core values menciptakan kekuatan sumber daya manusia yang unggul dan yang siap memenangkan tujuan perusahaan.

Core values hanya bekerja saat karyawan terhubung secara emosional dan fisik dengan core values, lalu mampu memfokuskan perhatian pada setiap momen kerja dengan bantuan energi dari core values. Setiap keputusan dan pilihan di tempat kerja haruslah didapatkan dari energi core values. Core values harus benar-benar menjadi pengetahuan yang solid untuk melaksanakan proses kerja, termasuk dalam pencapaian hasil akhir. Intinya, core values adalah sebuah strategi yang menjadi kebutuhan dasar organisasi, untuk menjalankan operasional dan mendapatkan kinerja terbaik. Disiplin yang tinggi terhadap core values dapat mencegah godaan untuk bekerja di luar sistem dan nilai-nilai budaya yang kuat.

Core values harus sesering mungkin diinternalisasi dan dijadikan kebiasaan dalam perilaku kerja karyawan. Satu kali atau dua kali internalisasi tidak akan pernah cukup. Diperlukan program internalisasi yang terus-menerus di sepanjang waktu agar budaya kerja yang unggul betul-betul terintegrasi ke dalam kepribadian karyawan.

Peran manajemen perusahaan untuk menginternalisasi core values sangatlah penting. Dalam hal ini, core values harus didefinisikan dengan sangat jelas dan sederhana. Bahasa yang mudah dipahami dan kata-kata yang tidak terlalu panjang akan lebih mudah diserap. Menjelaskan core values harus menyentuh ke wilayah fisik dan wilayah rohani karyawan. Emosi dan pikiran harus terhubung ke wilayah rohani agar energi dari core values menyatu ke dalam kepribadian karyawan. Perusahaan harus mengartikulasikan core values dengan tepat agar benar-benar menjadi strategi yang dimengerti dan mampu dijalankan di wilayah eksekusi.

Core values harus betul-betul dijelaskan kepada setiap karyawan dengan bantuan berbagai alat dan cara. Perusahaan harus membuat deskripsi yang mudah dipahami oleh karyawan; perusahaan harus membuat gambar dan contoh dari etos kerja yang diinginkan berdasarkan core values; perusahaan harus membuat video pendek untuk menggambarkan perilaku yang diinginkan perusahaan dari core values tersebut; perusahaan harus membuat buku saku kecil buat setiap karyawan, untuk menjelaskan core values dalam bahasa tindakan yang sangat sederhana; perusahaan harus sesering mungkin mengundang motivator atau narasumber untuk menghidupkan core values ke dalam jiwa dan kepribadian karyawan; perusahaan harus memiliki program-program yang berkelanjutan, untuk membuat core values semakin mendalam pengaruhnya di dalam kekuatan kerja yang dimiliki perusahaan.

Organisasi yang terus-menerus belajar untuk menjadikan core values sebagai DNA organisasi. Artinya, core values menjadi energi genetika perusahaan yang dipergunakan untuk membentuk perusahaan yang kuat dan unggul. Dalam hal ini, manajemen perusahaan harus proaktif mendidik organisasi untuk menguasai core values secara sempurna. Ini semua adalah proses yang panjang, dan jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bila perusahaan dan sumber daya manusia tidak dididik terus-menerus, untuk menguasai core values sebagai perilaku kerja dan cara dalam pengambilan keputusan, maka core values hanya akan menjadi slogan tanpa bisa dijadikan budaya kerja. Jadi, tindakan yang serius dan terencana dari top manajemen, untuk mendidik karyawan dengan core values harus dilakukan dengan banyak cara. Cara-cara seperti: dialog, diskusi, role play, serta berbagai cara lainnya dapat dilakukan dengan disiplin tinggi  agar core values benar-benar terinternalisasi ke dalam jiwa dan kepribadian karyawan.

Core values harus dijadikan sebagai komponen terpenting dalam hal penilaian kinerja karyawan. Dalam hal ini, harus betul-betul dievaluasi apakah sikap dan perilaku karyawan sudah terbentuk dari core values. Jika sikap dan perilaku karyawan belum terbentuk dari core values, maka mereka belum menjadi bagian dari strategi perusahaan. Oleh karena itu, dalam setiap penilaian untuk promosi dan kenaikan gaji, syarat utamanya haruslah si karyawan sudah memiliki sikap dan perilaku sesuai core values. Mengabaikan core values berarti tidak serius untuk membentuk budaya organisasi yang kuat, dan cendrung akan melemahkan organisasi untuk mencapai kinerja dan prestasi terbaik.

Manusia itu dinamis dan suka tidak pasti. Pikiran manusia mudah terpengaruh oleh berbagai pendapat dan pengetahuan. Manusia itu tak terduga dan sangat kompleks persepsinya. Oleh karena itu, walaupun semua karyawan bersumber dari perbedaan dan keberagaman, tetapi semua orang harus disatukan ke dalam core values agar dapat menjadi kekuatan yang solid dalam menjalankan strategi perusahaan. Untuk itu, harus ada aturan yang tegas agar setiap orang dalam proses kerja betul-betul menjunjung tinggi core values. Setiap karyawan wajib menghormati core values dan hanya bertindak berdasarkan core values. Tidak boleh ada tindakan apapun di luar core values. Tidak seorang pun boleh mengubah nilai-nilai kerja sesuai maunya dia, semua orang harus patuh dan taat untuk menjalankan nilai-nilai perusahaan secara sungguh-sungguh, sesuai dengan deskripsi yang dibuat perusahaan.

Sifat core values adalah sebagai fondasi dan sekaligus sebagai tonggak budaya untuk melihat kekuatan budaya kerja. Apa pun situasi dan peristiwa yang dihadapi perusahaan, maka core values mampu menjadi kekuatan untuk melindungi perusahaan dan karyawan. Jadi, bila karyawan bersungguh-sungguh dan sepenuh hati bekerja berlandaskan core values, maka krisis dan kemerosotan bisnis tidak akan menjatuhkan perusahaan ke dalam kegagalan. Perusahaan tetap mampu memperkuat dirinya kembali dan mengatur langkah selanjutnya untuk mengatasi krisis yang dihadapi. Intinya, selama semua orang sangat disiplin menjalankan core values di perusahaan, maka bisnis akan selalu berkelanjutan walau berbagai kesulitan harus dilalui.

Core values harus hidup dan dihidupkan selalu agar mereka menjadi abadi dan konsisten di tempat kerja. Disiplin terhadap core values haruslah menjadi prioritas manajemen. Core values harus dihidupkan dalam realitas kerja, dihidupkan dalam praktek dan tindakan setiap hari. Penjelasan tentang core values dalam bahasa yang singkat dan mudah dimengerti haruslah didistribusikan kepada setiap karyawan dan pimpinan. Setiap orang harus memiliki makna tertulis dari core values perusahaan. Setiap orang harus diberi contoh tentang cara menggunakan core values dalam rutinitas kerja sehari-hari. Manajemen juga harus menyiapkan pemodelan perilaku secara visual atas core values agar core values dapat dipahami dan dijadikan landasan perilaku kerja.

Kemampuan perusahaan untuk membangun cerita melalui core values juga dapat menjadi cara yang efektif dalam proses internalisasi. Setiap nilai dari core values harus digambarkan melalui cerita yang heroik. Kisah-kisah karyawan yang mampu menjalankan setiap nilai dari core values dibuat film dan dijadikan cerita yang heroik. Hal ini juga akan menjadi motivasi dan pengaruh yang kuat untuk proses internalisasi core values. Kemampuan mendongengkan ataupun menceritakan kisah-kisah sukses karyawan bersama core values harus menjadi bagian yang penting dalam proses internalisasi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMAHAMI EMOSI ANDA UNTUK BISA BEKERJA SESUAI BUDAYA ORGANISASI

“Pahami emosi Anda, akui emosi Anda, cerdaskan emosi Anda, dan kendalikan semua emosi tidak baik agar Anda bisa hidup lebih sejahtera.”~Djajendra

Tidak ada seorang pun yang tidak berurusan dengan emosi. Emosi bisa menjadikan Anda bahagia dan juga tidak bahagia. Ketidakmampuan mengelola emosi menjadikan hidup Anda tidak terkendali.

Dalam kehidupan di tempat kerja, setiap orang harus bisa mengekspresikan emosi masing-masing sesuai dengan budaya organisasi. Setiap karyawan dan pimpinan harus bisa mengekspresikan emosi dengan bahasa yang baik sesuai nilai-nilai organisasi. Setiap orang harus mampu menggambarkan emosi positif yang akurat untuk pencapaian kinerja terbaik.

Setiap ucapan, perilaku, sikap, dan bahasa tubuh haruslah ditampilkan dengan emosi positif. Tidak boleh ada emosi yang berlebihan yang mengganggu kehidupan di tempat kerja. Emosi yang tenang dan yang tidak meledak-ledak adalah syarat terpenting untuk membangun budaya kerja yang kuat dan unggul.

Biasanya; kesal, kecewa, cemas, marah, takut, khawatir, dan stres adalah emosi-emosi yang mudah muncul di tempat kerja. Semua emosi-emosi ini muncul disebabkan oleh berbagai macam peristiwa dalam hubungan kerja yang kurang saling memahami. Perilaku kritis dalam interaksi di tempat kerja haruslah dalam kekuatan emosi positif. Dalam hal ini, setiap orang harus mampu mencerdaskan emosi masing-masing dengan latihan dan membiasakan perilaku emosional yang tidak merusak hubungan kerja.

Emosi-emosi negatif memang tidak bisa dihapus dari realitas di tempat kerja, tetapi membiarkan emosi-emosi negatif menguat menjadikan proses kerja rusak dan pastinya mengganggu pencapaian kinerja. Oleh karena itu, kesadaran untuk tidak membiarkan emosi negatif mengganggu pencapaian kinerja haruslah ditanamkan kepada setiap orang di tempat kerja.

Jika karyawan tidak dilatih dan disiapkan untuk bekerja dengan emosi cerdas, maka mereka setiap hari berpotensi terlibat dengan stres yang menjadikan proses kerja memburuk. Membangun budaya komunikasi dengan kosakata yang beremosi positif haruslah menjadi perhatian dan prioritas di tempat kerja. Budaya organisasi yang kuat dan unggul tidak akan tercipta bila kecerdasan emosional karyawan tidak dilatih. Emosi yang cerdas di tempat kerja mampu menanggapi semua permasalahan dengan jernih.

Pahami emosi Anda, akui emosi Anda, cerdaskan emosi Anda, dan kendalikan semua emosi tidak baik agar Anda bisa hidup lebih sejahtera. Emosi yang cerdas dan positif mampu memberikan kehidupan yang sehat fisik, sehat jiwa, dan sehat pikiran. Emosi yang baik membuat tubuh selalu merasa bugar dan kuat, jiwa selalu merasa damai dan tenang, pikiran selalu terkendali dalam kekuatan positif, sehingga hidup Anda setiap hari penuh nikmat untuk menjadikan segalanya sempurna.

Setiap hari, beberapa kali dalam sehari, lakukan afirmasi kata-kata positif. Ciptakan kalimat-kalimat positif untuk diucapkan berkali-kali. Perbanyak kosakata positif untuk menimbulkan emosi positif. Latihan untuk menciptakan kebiasaan dalam penggunaan kata-kata positif adalah cara terbaik untuk mencerdaskan emosi.

Jadilah antusias dan penuh percaya diri untuk hidup bersama kosakata positif. Miliki keyakinan yang kuat bahwa hanya kata-kata positif, yang terus-menerus diucapkan kepada diri sendiri dan orang lain, mampu menghadirkan emosi positif yang kuat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGGUNAKAN CORE VALUES KETIKA BEKERJA

“Keberadaan core values membuat karyawan tidak melihat sisi yang berlawanan. Sebaliknya, mampu menjaga hati dan pikiran yang sesuai dengan core values.”~Djajendra

Ketika core values perusahaan tidak terinternalisasi dengan baik, maka wilayah kerja mudah ditarik ke dalam permainan politik kantor, dan semua perhatian akan tercurahkan dalam politik kantor. Orang-orang di lingkungan kerja akan melihat sisi yang saling berlawanan dengan argumen masing-masing yang membuat konflik tumbuh subur. Kehidupan sosial di tempat kerja akan ramai dengan gosip dan pikiran setiap orang juga menjadi tidak jernih karena terisi argumen-argumen yang tidak sesuai dengan realitas kerja. Dampaknya, pemberdayaan jiwa dan kesadaran karyawan tidak akan searah dengan nilai-nilai perusahaan. Jelas, hal ini akan merusak strategi perusahaan untuk menciptakan proses dan hasil akhir terbaik.

Core values merupakan tuntunan untuk berperilaku dan pengambilan keputusan di tempat kerja. Apa pun perbedaan yang ada di tempat kerja, core values berfungsi menyatukan perbedaan dan menciptakan perilaku kerja yang sama berdasarkan kekuatan nilai-nilai perusahaan. Manusia sendiri membutuhkan perhatian, kasih sayang, pengakuan, kepedulian, dan perlindungan. Jadi, tugas kepemimpinan adalah memenuhi kebutuhan manusia perusahaan dan sekaligus memenuhi strategi perusahaan melalui internalisasi core values ke dalam jati diri manusia perusahaan. Hal ini berarti, core values harus terus-menerus diinternalisasi sampai menjadi budaya dan perilaku sehari-hari di alam bawah sadar.

Internalisasi core values haruslah memilih langkah untuk membangkitkan kesadaran tertinggi karyawan dalam menghadapi semua situasi yang menantang. Karyawan harus bangkit kesadarannya untuk melakukan perubahan di dalam diri. Karyawan harus dibukakan pikirannya untuk dapat melihat semua sisi yang berlawanan secara positif. Kesadaran tertinggi karyawan harus dibangkitkan agar tidak melawan antara satu sama lain hanya karena perbedaan persepsi, perbedaan keyakinan, atau pun menentukan benar dan salah sesuai pola pikir masing-masing. Kesadaran karyawan diperlukan agar masing-masing orang bisa menjaga hati dengan pikiran yang terbuka untuk menerima realitas di tempat kerja. Bila masing-masing orang ngotot dengan pola pikirnya tanpa fondasi core values perusahaan, maka keterpurukanlah yang akan terjadi di tempat kerja. Intinya, core values perusahaan adalah energi yang membawa setiap individu di tempat kerja, untuk fokus dalam core values dan bersama sebagai satu kekuatan kerja yang solid dan unggul.

Core values berfungsi sebagai pengikat dan penyatu energi kerja menjadi jauh lebih kuat dan lebih unggul untuk menghadapi perbedaan dan kekacauan. Core values adalah pilihan melalui kesadaran diri, bukan paksaan. Kalau dipaksakan mungkin saja bisa, tetapi bersifat sementara. Core values harus diterapkan sejak rekrutmen. Bila saat wawancara dan test masuk mindset calon karyawan tidak nyambung dengan core values perusahaan, maka lebih baik tidak merekrut calon karyawan tersebut. Carilah calon karyawan yang nantinya mudah menerima internalisasi core values perusahaan, hindari calon karyawan yang sulit menerima internalisasi core values perusahaan.

Di dalam diri setiap orang ada nilai-nilai baik dan nilai-nilai buruk yang hidup berdampingan. Ini adalah fakta. Sebaik apapun diri kita, nilai-nilai baik dan nilai-nilai buruk tetap menghuni pikiran kita. Bila kita tidak berhari-hati, maka nilai-nilai baik bisa dipengaruhi dan dilemahkan oleh nilai-nilai buruk. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran dan energi perhatian yang tinggi untuk mendukung diri sendiri agar bisa fokus pada nilai-nilai positif. Dalam hal ini, nilai-nilai positif tersebut di dalam wujud core values perusahaan. Kemampuan karyawan untuk memberikan perhatian penuh terhadap makna dari core values perusahaan, serta kemampuan untuk menjadikannya sebagai perilaku kerja dan alat pengambilan keputusan di tempat kerja, akan memberikan kekuatan yang hebat untuk mencapai masa depan dan menyelesaikan proses kerja dengan profesional.

Kita semua tahu bahwa core values adalah bagian dari strategi manajemen dalam membentuk keyakinan di tempat kerja, untuk menghasilkan proses kerja terbaik dan hasil akhir terbaik. Intinya, core values ini seperti sebuah keyakinan yang dipercayai mampu membentuk kekuatan sumber daya manusia yang unggul, untuk mencapai masa depan dan menyelesaikan proses bisnis dengan sempurna. Dengan demikian, core values selalu melekat dalam proses bisnis, ia mampu menyatukan orang-orang yang mengelola bisnis dan membentuk budaya yang mengantar manusia perusahaan untuk mencapai prestasi.

Core values adalah alat untuk pembentukan tim kerja yang hebat. Di mana, core values menyatukan pikiran dan perasaan setiap individu karyawan, untuk mengelola bisnis dan membentuk budaya kerja sama yang andal. Core values harus hidup di dalam diri setiap orang. Core values harus menjadi kebiasaan kerja yang dihasilkan dari alam bawah sadar setiap orang. Oleh karena itu, core values harus dilatih terus-menerus, ditanam ke dalam perilaku hingga mampu terlihat dalam setiap tindakan dan etos kerja karyawan.

Core values merupakan standar yang dipakai untuk membedakan cara terbaik dengan sesuatu yang kurang baik. Jadi, dalam operasional sehari-hari di tempat kerja, cara kerja terbaik adalah dengan memaknai core values secara benar dan menjadikannya perilaku di setiap proses kerja hingga pencapaian hasil akhir.

Setiap individu harus menanam sendiri core values ke dalam jati dirinya; meyakininya sebagai nilai-nilai terbaik untuk menghasilkan kinerja; dan membentuknya ke dalam sistem untuk dapat dijalankan secara operasional dalam rutinitas kerja. Komitmen dan niat suci dari setiap individu untuk menjadikan core values sebagai kekuatan bersama adalah penting.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

CORE VALUES PERUSAHAAN MENYATUKAN MANUSIA PERUSAHAAN DAN SEBAGAI DASAR UNTUK MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN YANG KUAT

motivasi-14022017

CORE VALUES PERUSAHAAN MENYATUKAN MANUSIA PERUSAHAAN DAN SEBAGAI DASAR UNTUK MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN YANG KUAT

“Core values perusahaan menciptakan budaya perusahaan yang kuat, dan budaya perusahaan yang kuat menciptakan tindakan yang fokus untuk mencapai kinerja terbaik.”~Djajendra

Perusahaan bernyawa dan hidup karena manusia. Tanpa manusia, perusahaan tidak ada. Manusia perusahaan mungkin bersumber dari berbagai macam latar belakang yang berbeda. Semua orang datang ke perusahaan dengan membawa berbagai nilai-nilai yang berbeda. Tidak ada seorang pun yang persis sama. Pola pikir yang berbeda, emosi yang berbeda, cara pandang yang berbeda, dan yang pastinya nilai-nilai kehidupan yang berbeda. Karena manusia perusahaan berbeda-beda, maka perusahaan harus menyatukan semua perbedaan tersebut di dalam sebuah budaya, yang secara sengaja dan khusus dibentuk untuk kepentingan pencapaian visi dan kinerja perusahaan.

Nilai-nilai inti perusahaan (corporate core values) adalah energi untuk menciptakan kepribadian dan perilaku kerja yang sesuai dengan misi dan visi perusahaan. Core values perusahaan menyatukan latar belakang manusia perusahaan yang berbeda-beda itu ke dalam satu budaya perusahaan yang sama. Bila semua manusia perusahaan sudah terintegrasi ke dalam satu budaya yang kuat berfondasikan dari setiap nilai-nilai inti perusahaan,  maka manusia perusahaan menjadi sumber kekuatan dan modal yang hebat, untuk mendorong terciptanya kinerja melalui inovasi dan kreatifitas.

Ketika core values berhasil diinternalisasi ke dalam jiwa, emosi, pikiran, dan perilaku kerja manusia perusahaan. Maka, proses kerja akan berlangsung dengan efektif dan produktif. Tidak ada lagi konflik dan keraguan di dalam proses kerja. Komunikasi dan kolaborasi akan berlangsung dengan sangat efektif dan tepat sasaran. Setiap orang mampu bekerja sama dan menunjukkan etos terbaik untuk mencapai kinerja. Semua orang bisa bersatupadu dalam satu visi dan satu persepsi untuk membuat keputusan dan tindakan yang tepat. Semua ini bisa terjadi karena nilai-nilai inti (core values) yang sudah tertanam di dalam pola pikir setiap manusia perusahaan, menjadikan mereka satu persepsi dan satu visi, dan sudah tidak ada ruang untuk konflik, sebab core values sudah menyatukan mereka menjadi satu kekuatan yang solid.

Core values merupakan jati diri perusahaan. Core values mendefinisikan tentang kepribadian perusahaan, yang mana ditampilkan melalui perilaku dan keterampilan kerja dari sumber daya manusianya. Core values inilah yang mengisi jiwa dan kepribadian pimpinan dan karyawan, sehingga mereka menjadi energi inti untuk menggerakan budaya perusahaan. Core values merupakan nilai-nilai fundamental, fondasi budaya, nilai-nilai abadi, nilai-nilai yang menciptakan karakter kerja, dan nilai-nilai yang wajib ditindaklanjuti di dalam semua aspek perilaku organisasi.

Core values harus dapat diimplementasikan di level eksekusi di semua tingkatan kerja. Kepemimpinan yang berbudaya dan profesional pasti bersikap dan bertindak melalui core values. Kepemimpinan sebagai sumber kekuasaan perusahaan wajib menjadi teladan di dalam implementasi nilai-nilai inti perusahaan (corporate core values). Bila pemimpin dengan jujur mampu menjalankan kepemimpinannya berdasarkan core values perusahaan. Maka, semua keputusan menjadi mudah diputuskan dan dijalankan, semua bakat dan potensi hebat menjadi mudah untuk dimanfaatkan bagi kemajuan perusahaan, semua potensi konflik dapat dihilangkan, serta proses kerja dapat dijalankan dengan efektif dan produktif.

Core values yang berhasil diintegrasikan ke dalam perilaku kerja, struktur, dan sistem perusahaan; menciptakan iklim kerja yang sesuai dengan misi dan visi perusahaan. Dalam hal ini, core values berfungsi untuk menggerakan manusia perusahaan dalam mencapai kinerja terbaik. Sepanjang proses kerja, core values berfungsi sebagai energi dalam menciptakan budaya perusahaan yang kuat dan solid. Intinya, core values sangat penting di dalam proses kerja untuk dapat mencapai kinerja terbaik. Bila karyawan dan pimpinan mengabaikan core values di dalam proses kerja, maka perusahaan sulit mendapatkan kinerja terbaik secara konsisten dan berkelanjutan.

Core values perusahaan haruslah ditentukan dengan cerdas untuk tujuan menggerakan manusia perusahaan agar mereka mudah mencapai visi dengan kinerja yang hebat. Jadi, dalam hal ini, perusahaan wajib mengidentifikasi realitas sumber daya manusia yang dimiliki, lalu mengkaji nilai-nilai inti yang paling tepat dan sesuai untuk dapat menggerakan sumber daya manusia bagi pencapaian misi, tujuan, target, visi, dan kinerja terbaik.

Setiap perilaku, tindakan, dan keputusan manajemen harus terorganisir di sekitar core values. Ini penting, agar tidak ada konflik di dalam kedinamisan bisnis perusahaan. Tindakan dan perilaku yang tidak konsisten dengan core values menyebabkan keraguan dan konflik. Oleh karena itu, manajemen yang profesional tidak akan mau berspekulasi dengan core values nya. Apa pun situasi dan peristiwanya, manajemen yang baik tetap bersikap berdasarkan core values perusahaan.

Internalisasi core values harus dilakukan sesering mungkin, tidak cukup kalau hanya dilakukan sekali. Secara rutin, perusahaan harus membuat program-program dengan tujuan penguatan budaya kerja dan peningkatan kualitas internalisasi core values. Hal ini dibutuhkan, agar manusia perusahaan bisa memiliki pemahaman yang sangat mendalam atas core values, sehingga mereka bisa menjadi energi positif dalam pembentukan budaya perusahaan yang kuat dan yang diinginkan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMAHAMI MISI ANDA DI TEMPAT KERJA

“Anda bekerja untuk memberikan pelayanan terhadap harapan, kebutuhan, dan keinginan orang lain. Miliki empati dan kasih sayang untuk memanfaatkan semua potensi baik Anda dalam memberikan pelayanan terbaik.”~Djajendra

Apakah Anda merasa memiliki misi di tempat kerja? Ya, pastinya misi Anda sudah tercantum di dalam tupoksi (Tugas, Pokok dan Fungsi) Anda. Di samping itu, Anda juga memiliki misi untuk menjadi kekuatan yang memperbaiki, meningkatkan, dan membantu proses kerja.

Misi Anda di tempat kerja adalah untuk terlibat dalam proses kerja dengan sepenuh hati dan totalitas melalui kolaborasi; membangun kekuatan unggul dan menghasilkan kinerja terbaik; serta menanam benih-benih penguat budaya yang menciptakan keunggulan dan daya saing yang hebat. Anda juga harus tampil dengan sikap yang sangat profesional, sambil memperhatikan dan mengawasi perilaku Anda sendiri. Perlihatkan dan tampilkan diri Anda yang profesional melalui pelayanan terbaik, sikap terbaik, ramah dan etis, rendah hati, percaya diri, serta mewujudkan semangat kerja yang hebat. Anda harus menyatukan frekuensi hati, pikiran, jiwa, dan tubuh Anda ke dalam frekuensi budaya unggul di tempat kerja.

Misi pribadi Anda adalah menjadikan pekerjaan Anda sebagai alat untuk memberi Anda arti dan tujuan, dan memiliki kesadaran bahwa hidup tak akan berarti tanpa bekerja dengan profesional. Oleh karena itu, jadilah sukarelawan yang ikhlas dan tulus untuk melayani pekerjaan Anda. Ketika Anda memposisikan diri sebagai sukarelawan di tempat kerja, maka kehidupan kerja akan menumbuhkan karir Anda. Anda akan tumbuh menguat dan tidak akan pernah terjebak dalam dilema. Anda mampu terus-menerus naik lebih cepat menuju puncak keberhasilan.

Ketika Anda bergabung untuk bekerja di sebuah perusahaan, maka Anda menjadi bagian integral dari misi perusahaan untuk mencapai visi dan kinerja terbaik. Artinya, Anda tidak bisa tampil terbatas sesuai maunya pikiran Anda. Anda telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dan terpadu untuk menjadi pelengkap yang utuh, menyatu, dan melebur dalam satu-kesatuan di internal organisasi perusahaan. Dalam hal ini, Anda menjadi kekuatan yang energik untuk mendorong semua program dan rencana kerja di perusahaan dalam mencapai keberhasilan yang sempurna.

Tingkatkan kualitas dan kompetensi diri Anda sebelum mencoba untuk membantu orang lain. Ingat! Hanya Anda yang paling berkualitaslah yang mampu menjadi energi positif untuk melancarkan proses kerja yang penuh kualitas. Bila Anda sendiri belum peduli terhadap kualitas diri Anda, atau malas untuk memperbaiki semua kekurangan diri Anda, maka Anda akan menjadi pribadi yang menghambat diri sendiri untuk mencapai misi Anda di tempat kerja.

Anda dipilih atau dipekerjakan oleh perusahaan untuk membantu meningkatkan kualitas proses kerja yang terbaik. Jadi, Anda tidak dipekerjakan untuk mengganggu atau menciptakan rasa tidak puas dengan pekerjaan Anda. Misi Anda yang lain di tempat kerja adalah meningkatkan kesadaran untuk menjadi sinar yang menerangi realitas gelap di tempat kerja, sehingga semua realitas kerja menjadi terang dan jelas untuk dikerjakan.

Sebagai pekerja yang profesional, misi Anda adalah untuk membantu dan memfasilitasi semua proses kerja dengan ikhlas. Anda harus tampil prima dan penuh percaya diri, untuk melancarkan setiap interaksi dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Anda harus menjauhkan diri dari ketakutan, keserakahan, iri hati, paranoia, kebencian, kebohongan, dan semua rasa yang bisa membuat kerusakan di tempat kerja. Intinya, Anda harus menjaga energi positif diri Anda dengan sebaik mungkin, sehingga Anda bisa tetap tampil baik dan penuh kasih kepada orang-orang di sekitar Anda di tempat kerja.

Pahami misi Anda di tempat kerja dan satukan hati Anda ke dalam misi tersebut. Fokuskan waktu dan tenaga untuk melakukan hal-hal terbaik di dalam misi Anda. Katakan kepada diri sendiri bahwa Anda berada di tempat kerja untuk melakukan tupoksi Anda dengan totalitas dan sepenuh hati, dan itulah alasan Anda berada di tempat kerja.

Anda adalah energi positif yang bertujuan untuk menciptakan kelimpahan, ketenangan, stabilitas, kemajuan, harmoni, kesetaraan, dan menyebarkan energi sukses untuk membangkitkan gairah kerja semua orang. Jadi, setiap hari pastikan Anda menampilkan diri yang bijak, bersyukur, dan optimis untuk melayani proses kerja. Semua sikap dan perilaku terbaik Anda menjadi energi positif yang membantu kelancaran proses kerja. Semua pikiran dan emosi baik Anda menjadi energi positif yang membantu kelancaran proses kerja.

Jadilah orang yang menyatu dalam budaya kerja. Jangan menjadi orang asing di tempat kerja. Anda harus beradaptasi di dalam visi perusahaan, bahasa perusahaan, etika perusahaan, perilaku perusahaan, misi perusahaan, dan nilai-nilai perusahaan. Ya, Anda harus menyatu dan merasa cocok dengan budaya yang disiapkan oleh perusahaan tempat Anda bekerja. Bila hati nurani Anda menolak dan merasa tidak menyatu dengan budaya perusahaan, maka Anda tidak akan pernah bisa bahagia dan penuh gairah di tempat kerja.

Ketika hati Anda menyatu dalam budaya perusahaan, maka Anda selalu merindukan tempat kerja. Rasa cinta Anda dengan lingkungan kerja dan semangat kerja Anda di dalam budaya yang Anda cintai akan menjadi kekuatan untuk melancarkan misi kerja Anda.

Tumbuhkan kesadaran di dalam diri bahwa Anda memiliki misi di tempat kerja. Ingatkan kepada diri sendiri bahwa alasan Anda berada di tempat kerja untuk melakukan pekerjaan Anda dengan cara terbaik. Alasan Anda di tempat kerja untuk menemukan solusi dan bukan berkeluh-kesah menyalahkan orang lain. Pastikan Anda menjadi orang yang profesional dengan pekerjaan Anda, dan selalu terjaga di semua situasi untuk memberikan pelayanan terbaik.

Sebagai pekerja yang profesioanal, Anda adalah energi positif untuk memberikan pelayanan kepada orang lain. Jadi, apapun tupoksi Anda di tempat kerja, Anda harus sadar bahwa Anda bekerja untuk memberikan pelayanan.  Anda bekerja untuk memberikan pelayanan terhadap harapan, kebutuhan, dan keinginan orang lain. Miliki empati dan kasih sayang untuk memanfaatkan semua potensi baik Anda dalam memberikan pelayanan terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGHAPUS BUDAYA SALING MENYALAHKAN DI TEMPAT KERJA

“Ketika satu jari menunjuk orang lain, empat jari yang lain menunjuk diri sendiri. Hidup bukanlah permainan salah-menyalahkan. Hidup adalah permainan untuk mengerti dan mengelola segala sesuatu dengan tanggung jawab.”~Djajendra

Ketika target tidak tercapai, orang lain yang disalahkan. Ketika tujuan tidak tercapai, orang lain yang disalahkan. Ketika hati tidak damai, orang lain yang disalahkan. Ketika pengeluaran besar dan kebutuhan tidak terpenuhi, orang lain yang disalahkan. Ketika karir tidak naik-naik, orang lain yang disalahkan. Ketika pimpinan menilai kinerjanya dengan rendah, orang lain yang disalahkan. Ya, apapun kejadian yang merugikan dirinya, orang lain yang disalahkan. Mental menyalahkan orang lain sangatlah berbahaya di tempat kerja.

Perilaku yang sering menyalahkan orang lain di tempat kerja adalah perilaku yang gagal untuk bertanggung jawab atas keberadaannya di tempat kerja. Orang-orang yang terbiasa menyalahkan orang lain hidupnya berpusat pada masalah demi masalah, mereka selalu menganggap dirinya sebagai korban, selalu mengasihani diri sendiri atas berbagai peristiwa yang menunjukkan ketidakmampuan untuk bertanggung jawab.

Orang dengan mentalitas dan perilaku yang selalu merasa sebagai korban, tidak akan pernah menghasilkan kinerja dan prestasi. Mereka terbiasa dan terlatih untuk menghindari tanggung jawab, serta sangat pintar untuk memainkan peran kemalangan atau ketidakadilan atas dirinya. Mereka selalu bersembunyi di dalam alasan demi alasan, sehingga tidak bisa diandalkan untuk menjadi energi positif dalam membangun keberhasilan organisasi.

Seorang karyawan dengan mentalitas korban dapat menimbulkan masalah nyata bagi kemajuan perusahaan. Oleh karena itu, tim manajemen yang baik pasti segera menangani penyakit salah-menyalahkan agar tidak merusak moral dan produktivitas di tempat kerja. Membiarkan kebiasaan salah-menyalahkan di tempat kerja, sama saja seperti menyetujui untuk kegagalan dalam pencapaian kinerja.

Berurusan dengan mentalitas korban memang tidak mudah. Persepsi dan keyakinan dirinya sebagai korban dari perlakukan tidak adil; korban dari intimidasi; korban dari diskriminasi; korban dari sistem; korban dari hubungan tidak baik; dan korban dari apapun yang dia inginkan. Jadi, perlu dipahami bahwa mental dan perilaku dia selalu mencurigai orang lain sebagai penyebab ketidakmampuan dirinya dalam mencapai prestasi. Jelas, orang-orang mentalitas korban haruslah segera diperbaiki, kalau tidak bisa diperbaiki lagi, segeralah keluarkan mereka dari struktur organisasi agar tidak merusak proses kerja.

Perusahaan yang berbudaya unggul selalu mampu menangani orang-orang bermental salah-menyalahkan. Penegakkan etika yang konsisten dan profesional dapat menghindari kerusakan moral kerja akibat salah-menyalahkan. Menyiapkan pedoman tata krama dan kode etik, lalu dijalankan dengan penuh disiplin dan tanggung jawab akan mengurangi budaya salah-menyalahkan di tempat kerja. Membiarkan budaya korban dan salah-menyalahkan di tempat kerja hanya akan merusak produktivitas, merusak hubungan kerja, dan merusak kepercayaan di dalam proses kerja. Dampaknya, semua orang selalu berada dalam konflik dan politik kantor, yang sibuk mengurusi sama-sama lain dan lupa untuk bekerja dengan efektif.

Profesionalisme dan budaya kerja yang kuat harus ditegaskan melalui standar perilaku kerja. Jadi, setiap karyawan di tempat kerja wajib memberikan pertanggung jawaban atas pekerjaan dan hubungan kerja. Tidak boleh ada alasan untuk pembenaran atas kelemahan dalam hubungan kerja. Setiap orang harus terlatih untuk mengendalikan situasi dan menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu, tanpa alasan.

Setiap karyawan dibangun dalam bangunan kerja tim yang solid. Perasaan syukur, terima kasih, dan rasa bersatu dengan yang lain harus dikuatkan agar perilaku menyalahkan hilang. Dan juga, pengembangan kepercayaan diri harus lebih dikuatkan agar apapun situasinya dapat dilalui dengan keberanian dan penuh tanggung jawab

Penguatan komunikasi dan hubungan yang etis di dalam budaya kerja harus selalu menjadi perhatian dan kepedulian setiap orang. Dalam hal ini, manajemen harus memiliki inisiatif untuk memberikan pelatihan dan motivasi yang terus-menerus agar setiap orang memiliki kesadaran untuk berkinerja, dan tidak menjadikan dirinya sebagai korban dalam proses kerja.

Manajemen tidak boleh membiarkan standar kerja dan standar perilaku terganggu oleh realitas apapun. Standar yang kuat akan membantu sistem dalam proses kerja. Jadi, tim manajemen harus selalu bertindak cepat untuk menyelamatkan standar kerja dan standar perilaku agar budaya salah-menyelahkan tidak berlanjut dalam konflik panjang yang berlarut-larut.

Setiap karyawan harus ikhlas dan tulus dalam menerima tanggung jawab, serta memiliki integritas yang tinggi untuk menyelesaikan semua tugas, tanpa menyalahkan satu sama lain. Di samping itu, semua karyawan harus dilatih dan dibiasakan untuk dapat mengontrol reaksi terhadap realitas yang sulit, serta menjadi kreatif untuk mengatasi masalah-masalah yang merusak hubungan kerja.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENINGKATKAN KEGEMBIRAAN BERSAMA PEKERJAAN ANDA

motivasi-28122016

“Bersenang-senanglah dengan pekerjaan Anda, nikmati pekerjaan Anda seperti Anda menikmati permainan yang paling Anda sukai.”~Djajendra

Anda tidak perlu diberdayakan oleh siapapun untuk menghasilkan kinerja. Anda yang sudah menemukan cinta dan kegembiraan terhadap pekerjaan Anda, memiliki kekuatan untuk menghasilkan kinerja terbaik.

Di tempat kerja, setiap hari Anda berada dalam proses kerja, Anda harus terlibat dan bekerja bersama-sama orang lain, Anda harus bertanggung jawab untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan menghasilkan kinerja terbaik. Disamping itu, Anda juga terlibat dalam merancang dan mengimplementasi semua rencana menuju masa depan. Intinya, Anda terlibat dalam banyak hal di tempat kerja, untuk bersama-sama dengan orang lain dalam memberikan kinerja dan prestasi bagi perusahaan Anda.

Bila di tempat kerja Anda tidak menikmati pekerjaan dan selalu sulit untuk bersenang-senang dengan pekerjaan yang Anda lakukan, maka hari-hari Anda di tempat kerja menjadi membosankan dan Anda pun sulit menciptakan prestasi terbaik. Padahal Anda adalah kekuatan yang diharapkan dan diimpikan oleh perusahaan Anda untuk menghasilkan kinerja terbaik. Anda dibayar untuk menghasilkan kinerja dan prestasi, Anda tidak dibayar untuk perasaan tidak puas Anda di tempat kerja.

Tumbuhkan kesadaran diri Anda untuk mencintai pekerjaan dan merasa gembira saat berada dalam proses kerja. Perasaan cinta dan kegembiraan Anda terhadap pekerjaan dan lingkungan kerja adalah kekuatan untuk menghasilkan kinerja terbaik. Pekerjaan yang Anda sukai dan yang Anda kerjakan dengan penuh kegembiraan menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik. Bersenang-senanglah dengan pekerjaan Anda, nikmati pekerjaan Anda seperti Anda menikmati permainan yang paling Anda sukai.

Menjadi bahagia dan penuh antusiasme bersama pekerjaan sangatlah penting untuk menjadikan Anda lebih produktif. Bila Anda suka dan selalu bahagia bersama pekerjaan Anda, maka Anda mampu menikmati setiap momen dari pekerjaan Anda dengan gembira. Kegembiraan dan kesenangan adalah kekuatan yang menjadikan Anda andal di tempat kerja. Jadi, kalau Anda gembira bersama pekerjaan yang Anda lakukan, maka Anda mendapatkan gaji, prestasi, kebahagiaan, kesenangan, kebanggaan. Sebaliknya, bila Anda tidak gembira dan tidak mencintai apa yang Anda kerjakan, maka Anda hanya mendapatkan gaji, dan selebihnya adalah perasaan bosan di tempat kerja.

Temukan motivasi untuk merasa gembira dan bahagia bersama pekerjaan Anda. Bekerjalah sepenuh hati untuk tugas hari ini, dan tampil lebih kreatif untuk menemukan solusi atas berbagai tantangan yang Anda hadapi. Jangan takut dengan tantangan dan rintangan, selesaikan semuanya sesuai prosedur dan sistem. Bila prosedur dan sistem belum ada untuk menyelesaikan masalah tersebut, lakukan perubahan atas prosedur dan sistem agar dapat menuntaskan solusi dengan tepat.

Manajemen harus mengelola setiap orang untuk mendapatkan kegembiraan dan kesenangan di tempat kerja. Dalam hal ini, perlu menciptakan budaya perusahaan yang kuat dan yang memberikan ruang untuk kebahagiaan karyawan. Tidak membiarkan perilaku karyawan yang sinis dan pesimis. Tidak membiarkan kondisi karyawan yang jenuh dan merasa kelelahan. Budaya yang kuat mampu menciptakan energi positif di lingkungan kerja, sehingga setiap karyawan merasa bahagia dan senang dengan realitas di tempat kerja.

Kembangkan budaya kerja yang membuat karyawan percaya diri dan yakin untuk tampil lebih kreatif bersama ide-ide terbaik. Dalam hal ini, pemimpin harus menanamkan kepercayaan dan keberanian dalam mental karyawan agar mereka tidak ragu dalam melakukan inovasi. Pemimpin harus selalu kreatif dan percaya diri untuk menciptakan lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa bahagia.

Rasa gembira saat melakukan pekerjaan adalah kekuatan yang paling hebat untuk menghasilkan kualitas dan produktivitas. Oleh karena itu, untuk mendapatkan karir yang hebat, Anda cukup menjadi orang yang menyukai pekerjaan, dan merasa pekerjaan Anda itu sangat menyenangkan. Tidak ada hal lain yang lebih memberdayakan diri untuk bekerja lebih hebat kecuali rasa senang dan rasa cinta kepada pekerjaan itu sendiri.

Kalau Anda tidak suka dengan pekerjaan Anda, maka Anda hanya mendapatkan gaji dan tidak mendapatkan kebahagiaan dari pekerjaan Anda. Jelas, Anda rugi karena tidak mampu merasakan kebahagiaan itu di tempat kerja. Padahal Anda berhak untuk hidup bahagia bersama pekerjaan Anda dan menikmati penghasilan yang lebih besar dari yang Anda hasilkan sekarang. Bila Anda bersyukur, berterima kasih, dan merasa bahagia dengan pekerjaan Anda; maka, setelah pulang ke rumah, Anda masih membawa energi bahagia dari tempat kerja untuk membahagiakan kehidupan Anda di rumah. Intinya, semua ini membutuhkan kesadaran dan rasa syukur terhadap pekerjaan dan kehidupan yang Anda miliki, agar Anda mampu untuk bekerja dengan gembira dan bahagia.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENINGKATKAN BUDAYA KERJA KERAS

motivasi-21122016

“Jangan hanya melamun dalam mimpi yang indah, sadarlah dari lamunan Anda, lalu mulailah bertindak dengan kerja keras yang penuh antusias dalam mencapai keberhasilan.”~Djajendra

Kerja keras adalah jalan untuk mencapai keberhasilan. Sifat malas tidak akan mengantar Anda untuk mencapai keberhasilan, hanya kerja keras yang mampu mengantar Anda untuk mencapai keberhasilan.

Biasakan diri Anda untuk selalu antusias dan penuh percaya diri dalam melakukan pekerjaan. Yakinkan diri untuk selalu produktif dan termotivasi untuk memberikan lebih dari seharusnya. Ketika Anda mencintai pekerjaan dan menyukai lingkungan kerja Anda, maka Anda akan termotivasi dan memiliki antusiasme yang tinggi untuk bekerja lebih keras.

Perusahaan yang baik selalu sadar untuk menyiapkan sebuah budaya organisasi yang mampu membangkitkan antusiasme dan gairah kerja karyawannya. Karena di tempat kerja, tidak mungkin berharap antusiasme muncul begitu saja tanpa menyiapkan budaya organisasi terbaik. Penyiapan tata kelola terbaik, pedoman tentang praktik terbaik, gaya kepemimpinan yang jelas dan tegas, lingkungan kerja yang profesional dan bersahabat, kompetensi dan kualitas yang diandalkan, serta perilaku kepemimpinan yang adil dan memperhatikan karyawan, akan menjadikan lingkungan kerja sebagai tempat yang subur untuk menumbuhkan antusiasme kerja karyawan.

Ketika karyawan sudah mampu menikmati apa yang mereka lakukan di tempat kerja, maka mereka pun menjadi kekuatan yang hebat untuk menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik. Antusiasme, motivasi yang tinggi, kepercayaan diri, dan keyakinan yang kuat akan mendorong karyawan untuk berkarya dan melayani organisasi dengan cara terbaik. Dalam hal ini, pihak manajemen dan kepemimpinan harus selalu sadar diri agar tidak mempraktekkan hal-hal buruk yang bisa mengurangi semangat kerja karyawan. Jadi, dari waktu ke waktu, manajemen dan kepemimpinan harus mampu merawat dan memperbaiki semua situasi dan realitas, yang berpotensi mengurangi budaya kerja keras di tempat kerja.

Budaya organisasi yang kuat menciptakan lingkungan kerja yang mendorong antusiasme dan kepercayaan diri karyawan untuk melayani dengan sepenuh hati. Manajemen dan kepemimpinan perusahaan harus mampu menginternalisasikan tujuan dan prinsip-prinsip organisasi, lalu menginternalisasi dan menyatukan semua karyawan ke dalam visi yang dapat membuat mereka antusias untuk bekerja keras. Visi perusahaan harus dapat berkomunikasi dengan etos kerja yang dimiliki karyawan. Semua karyawan harus merasa senang dan bangga dengan pekerjaannya, serta tergerak hatinya untuk memberikan pelayanan prima bagi proses kerja dan semua stakeholders.

Gaji dan kompensasi yang adil dan profesional dapat menjamin kebutuhan hidup karyawan. Dan yang paling penting, membangun pola pikir karyawan untuk hidup sederhana dan tidak menjalani kehidupan ekonomi yang melebihi dari penghasilan yang diterima. Bila cara berpikir dan gaya hidup tidak sederhana dan kurang bersyukur, maka karyawan akan hadir ke tempat kerja sambil membawa beban berat kehidupan sehari-hari, dan semua itu pasti merusak budaya kerja keras.

Budaya perusahaan yang memperlakukan semua orang secara adil, tegas, jelas, pasti, dan terukur, akan menciptakan rasa percaya karyawan kepada perusahaan. Dan, hal ini merupakan modal yang baik untuk mendorong karyawan agar mereka melakukan pekerjaan dengan kinerja dan prestasi terbaik. Dan juga, kolaborasi kerja akan semakin menguat melalui persahabatan dan hubungan kerja yang penuh kualitas.

Semangat kerja keras karyawan harus dirawat dengan kesadaran yang tinggi. Jelas, hal ini merupakan tanggung jawab dari manajemen perusahaan. Secara fisik, semua perlengkapan kerja dan ruang kerja harus diciptakan untuk membangkitkan semangat kerja. Secara batin, semua perilaku dan aturan kerja harus dapat menciptakan rasa cinta karyawan kepada perusahaan. Secara ekonomi, gaji dan kompensasi dapat diterima karyawan dengan rasa syukur dan terima kasih. Di samping itu, manajemen harus mampu mempraktekkan cara mengelola yang tidak pilih kasih dan selalu cerdas berkomunikasi dengan semua kepentingan di dalam organisasi.

Budaya kerja keras memerlukan dorongan kerja sama, komunikasi positif, keramahan dan persahabatan, penerimaan terhadap tantangan dan resiko, serta selalu bekerja sesuai aturan dan sistem yang disepakati bersama. Setiap perbedaan harus dapat diselesaikan dengan landasan kasih sayang, empati, dan toleransi, sehingga tidak menimbulkan konflik yang bisa menghambat antusiasme untuk bekerja lebih keras.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMBUDAYAKAN RASA SYUKUR DAN TERIMA KASIH DI TEMPAT KERJA

“Ketika setiap pagi Anda memancarkan rasa syukur dan terima kasih di tempat kerja, maka energi baik Anda itu akan menginspirasi orang-orang di sekitar Anda menjadi lebih bersemangat untuk meningkatkan kinerja.”~Djajendra

Memiliki pekerjaan adalah sebuah anugerah yang wajib disyukuri. Tidak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji bulanan yang tetap. Sangat banyak orang berharap dan berdoa untuk mendapatkan sebuah pekerjaan dengan gaji tetap. Tetapi, kita semua tahu bahwa jumlah pekerjaan di perusahaan dan di instansi pemerintah itu terbatas, orang-orang yang mencari pekerjaan jumlahnya sangat banyak sehingga diperlukan kompetisi yang ketat untuk bisa memiliki pekerjaan dengan gaji tetap. Intinya, tidak semua orang yang sudah sekolah tinggi-tinggi bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tetap. Jadi, apakah tidak seharusnya Anda bersyukur dan berterima kasih untuk pekerjaan dengan gaji tetap yang sudah Anda miliki sekarang?

Adalah sebuah kenyataan bahwa orang-orang sering kehilangan rasa syukur di tempat kerja. Padahal untuk mendapatkan pekerjaan tersebut mereka sudah mengikuti berbagai proses seleksi yang ketat, dan sudah memenangkan di langkah pertama. Sayangnya, di langkah-langkah selanjutnya, mereka seperti menjadi orang yang kalah dengan realitas kerja, menjadi orang yang tidak bahagia di tempat kerja. Menjadi seperti orang yang kehilangan akal sehat untuk unjuk kinerja, dan lebih sering unjuk rasa. Semua ini terjadi karena hilangnya rasa syukur dan terima kasih dengan pekerjaan yang sudah didapatkan dengan tidak mudah.

Ketidakmampuan untuk bersyukur dan berterima kasih dengan pekerjaan yang dimiliki membawa dampak buruk bagi budaya kerja. Memang tidak semua orang memiliki hati nurani yang positif untuk mensyukuri dan berterima kasih dengan kebaikan yang didapatkan dari pekerjaan tersebut. Perilaku buruk seperti keluh kesah dan hitung-hitungan untuk berkontribusi menjadi energi negatif bagi penguatan budaya kerja. Di sinilah diperlukan peran kepemimpinan untuk membudayakan rasa syukur dan terima kasih di dalam perilaku kerja setiap karyawan.

Ketika setiap pagi Anda memancarkan rasa syukur dan terima kasih di tempat kerja, maka energi baik Anda itu akan menginspirasi orang-orang di sekitar Anda menjadi lebih bersemangat untuk meningkatkan kinerja. Jelas, kondisi ini meningkatkan kehebatan budaya kerja dan sekaligus mempromosikan budaya kerja yang sehat di tempat kerja.

Ketika rasa syukur dan terima kasih hilang, maka semua kekuatan tidak baik pasti menguasai lingkungan kerja. Dampaknya, orang-orang memiliki kebiasaan bekerja dengan rasa takut, khawatir, hitung-hitungan, marah, kesal, merasa diperlakukan tidak adil, merasa gaji terlalu kecil, dan suka mengekspresikan perilaku tidak terpuji di lingkungan kerja. Jadi, hal ini menjadi perusak budaya kerja, dan perusahaan juga sulit meningkatkan kinerja bersama orang-orang yang tidak bersyukur dan berterima kasih.

Sangat banyak orang-orang yang berpendidikan tinggi bekerja tanpa gaji tetap, dan mereka tidak pernah berhenti mencari pekerjaan untuk mendapatkan gaji tetap. Kadang-kadang, mereka mau menerima pekerjaan bergaji tetap yang disiapkan untuk level pendidikan rendah. Bekerja dengan gaji tetap dan fasilitas yang memenuhi kebutuhan hidup haruslah disikapi dengan rasa syukur yang tinggi. Ingat, bahwa sangat banyak orang yang berharap dan berdoa untuk sebuah gaji tetap dan fasilitas terbaik, dan Anda yang sudah memilikinya jangan menyia-nyiakannya dengan perilaku yang tidak bersyukur dan tidak berterima kasih.

Budayakan dan biasakan kata terima kasih di tempat kerja. Ucapkan kata terima kasih dalam semua interaksi dan proses kerja kepada kolega, bawahan, atasan, pelanggan, dan semua stakeholder lainnya. Sering-seringlah mengucapkan kata terima kasih. Ucapan terima kasih dari hati yang tulus menguatkan energi baik di tempat kerja. Energi baik ini menjadi dasar untuk penguatan budaya kerja.

Budaya bersyukur dan berterima kasih di tempat kerja meningkatkan produktivitas dan kinerja. Orang-orang yang bersyukur selalu sadar dan termotivasi untuk bekerja tanpa hitung-hitungan dan selalu memberi lebih dari yang diharapkan. Rasa syukur meningkatkan suasana hati menjadi lebih positif. Rasa syukur dan terima kasih menjadikan hidup Anda selalu sehat secara fisik, mental, dan spiritual. Rasa syukur dan terima kasih adalah obat anti stres yang paling hebat, sehingga hidup Anda memiliki ketahanan mental yang lebih hebat dan kuat di tempat kerja.

Membudayakan rasa syukur dan terima kasih di tempat kerja berarti menghilangkan budaya negatif di tempat kerja. Artinya, emosi negatif, seperti: kebencian, iri hati, dengki, malas, dan kurang tanggung jawab akan lenyap oleh budaya rasa syukur.

Budaya rasa syukur di tempat kerja menularkan energi baik sehingga dalam kehidupan kerja sehari-hari terlihat saling menghargai, saling membantu, saling berterima kasih, saling bertanggung jawab, dan saling menginspirasi dengan keteladanan yang terpuji.

Membangun budaya rasa syukur dan terima kasih di tempat kerja harus dimulai dari semua pihak dengan kesadaran yang tinggi untuk mencapai kinerja terbaik. Para pemimpin di semua level dan para karyawan di semua level harus memberikan kontribusi untuk terwujudnya budaya rasa syukur di tempat kerja. Semua pihak di internal perusahaan harus dengan tulus dan sepenuh hati mengungkapkan rasa syukur dan rasa terima kasih di lingkungan kerja. Semua orang di tempat kerja harus mampu meningkatkan kepuasan kerja. Perilaku dan sikap yang bersyukur selalu memiliki kekuatan untuk menunjukkan penghargaan kepada yang lain. Perilaku dan sikap yang bersyukur selalu memiliki kekuatan untuk mencintai dan menghargai pekerjaan yang dimiliki dengan kerja keras.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGUBAH POLA PIKIR KARYAWAN UNTUK MEMPERKUAT BUDAYA KERJA

“Budaya kerja yang buruk seperti kapal yang retak, sehingga mudah tenggelam. Budaya kerja yang baik seperti kapal yang kuat menahan badai seganas apapun.”~Djajendra

Budaya kerja yang kuat membuat perusahaan lebih tangkas dan lebih berdaya saing tinggi. Dunia kerja adalah dunia yang sangat dinamis, perubahan yang tak terduga selalu harus dihadapi. Kompetisi yang keras dalam dunia yang serba cepat membuat setiap karyawan wajib memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan, tidak ada waktu untuk tidak produktif. Semua orang di dalam perusahaan wajib memiliki kesadaran untuk mengembangkan diri agar tidak tertinggal oleh perubahan.

Budaya kerja yang baik mampu melancarkan bisnis dan menguatkan budaya organisasi. Budaya kerja yang baik membuat karyawan mampu memanfaatkan sistem, teknologi, dan strategi untuk mencapai kinerja bisnis terbaik. Budaya kerja yang baik membangun kebiasaan positif untuk melindungi semua aset perusahaan dengan tanggung jawab dan integritas. Budaya kerja yang baik menguatkan daya tahan perusahaan untuk menghadapi bisnis yang dinamis. Budaya kerja yang baik meningkatkan semangat, optimisme, pola pikir positif, dan kreativitas di dalam rutinitas kerja sehari-hari.

Ketika perusahaan tidak mampu meningkatkan budaya kerja karyawan untuk beradaptasi dengan perubahan, maka perusahaan pasti kalah bersaing di dalam kompetisi bisnis. Keunggulan budaya kerja sangatlah menentukan kemenangan dalam bisnis. Ciri-ciri budaya kerja yang unggul adalah karyawan bekerja dengan mental pemenang; bekerja dengan etos dan integritas yang tinggi; bekerja dengan etika dan moralitas yang tinggi; bekerja untuk misi, tujuan, dan visi perusahaan; bekerja dengan hati dan tanggung jawab; bekerja dengan empati untuk keharmonisan lingkungan kerja; serta bekerja dengan kualitas dan kompetensi terbaik.

Sangat mudah untuk membangun sistem, teknologi, prosedur, dan tata kelola yang terbaik di semua bagian organisasi perusahaan. Tetapi, ketahanan bisnis sangat tergantung dari budaya kerja dan mental pemenang karyawan. Untuk membangun budaya kerja dan mental pemenang membutuhkan waktu, dan hal ini tidak sederhana. Diperlukan sebuah proses panjang untuk mengubah pola pikir dan persepsi karyawan dalam memahami realitas yang dihadapi perusahaan. Biasanya, diperlukan kesadaran yang luar biasa dari masing-masing individu karyawan untuk menumbuhkan kepribadian yang sesuai dengan kehendak budaya kerja.

Dunia bisnis dan dunia kerja adalah dunia yang tak terduga, apapun bisa terjadi. Sukses dan gagal selalu beriringan menuju visi. Tidak ada yang pasti, sehingga tak seorang pun yang boleh santai di zona nyaman kerja. Setiap karyawan dan pimpinan harus terbiasa dan terlatih untuk menghadapi tantangan baru. Mental pemenang dan emosi yang cerdas harus selalu disiapkan untuk menghadapi hal-hal terburuk, sehingga selalu mampu bekerja di segala situasi dan keadaan untuk mencapai yang terbaik.

Mengubah pola pikir karyawan untuk memperkuat budaya kerja. Karyawan harus dibangkitkan untuk memiliki kemampuan dan kepribadian yang tangguh dalam menghadapi perubahan. Tidak peduli sesulit apapun realitas yang dihadapi, setiap karyawan harus tetap gembira dan berenergi positif untuk mengatasi kesulitan. Dalam hal ini, peran kepemimpinan dan manajemen menjadi penting untuk membimbing dan memotivasi pola pikir positif karyawan. Jadi, saat masa-masa sulit mengganggu bisnis; maka, setiap karyawan harus tampil lebih tangguh, lebih gesit, lebih percaya diri, lebih ikhlas, lebih disiplin, lebih bekerja keras, dan lebih yakin untuk mencapai keberhasilan. Tidak boleh seorang pun yang mengkontribusikan energi pesimis ke dalam lingkungan kerja, setiap orang harus fokus dan disiplin untuk mengerjakan bagiannya masing-masing dengan mental pemenang.

Hanya orang-orang yang mudah beradaptasi yang bisa berlari kencang untuk menyatu dengan perkembangan baru. Bila tidak mampu beradaptasi dengan cepat, maka jangan berharap bisa memenangkan kompetisi bisnis. Jadi, orang-orang yang ngotot bekerja di zona nyaman dan marah kalau diajak bekerja di luar zona nyaman, adalah orang-orang yang sedang mempersiapkan perusahaan untuk gagal.

Perusahaan tidak mungkin tumbuh dan sukses di tangan orang-orang yang cinta zona nyaman. Membiarkan operasional perusahaan di tangan orang-orang yang sulit beradaptasi dengan perubahan, akan menjadikan budaya kerja lemah dan rapuh. Hal ini, akan menghadirkan resiko yang sangat besar, sehingga perusahaan sulit menghadapi realitas bisnis di masa depan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEBERHASILAN DIKARENAKAN TIDAK PERNAH BERHENTI BEKERJA KERAS, DISIPLIN, TEKUN, DAN OPTIMIS

“Kalau hari ini Anda gagal, masih ada hari esok untuk berhasil.”~Djajendra

Tidak selalu harus menang, kalah pun adalah kemenangan bagi mental pemenang. Kekalahan bagi mental pemenang adalah kemenangan untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik agar dapat meraih kemenangan yang lebih hebat.

Kalau hari ini Anda gagal, masih ada hari esok untuk berhasil. Mungkin kesempatan hari ini hilang, tapi Anda masih bisa menyiapkan segalanya untuk tampil di kesempatan yang lebih tinggi. Selama Anda bekerja dan hidup dengan semangat tinggi, Anda selalu mampu menciptakan banyak kesuksesan di sepanjang perjalanan hidup Anda.

Membangun karir kerja tidak terlepas dari keberhasilan dan kegagalan. Karir kerja berjalan dalam proses belajar, dan Anda harus terus-menerus belajar untuk beradaptasi dengan hal-hal tak terduga. Mungkin saja Anda merasa dianggap oleh pimpinan tidak berprestasi di tempat kerja, tetapi bila Anda ingin berhasil, Anda tidak boleh berhenti berusaha untuk menjadi yang terbaik. Tetaplah tampil penuh semangat walau Anda dipandang kurang berkinerja di tempat kerja. Jangan biarkan peristiwa yang paling suram di tempat kerja menjadikan Anda kalah dan tak berdaya selamanya. Fokuskan perhatian pada hal-hal positif, dan belajarlah dari pengalaman untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan Anda.

Pribadi pemenang tidak peduli dengan keadaan sulit, dia mampu bersikap menang di atas kesulitannya. Dia sadar bahwa keberhasilan dan kegagalan hanyalah warna dari perjalanan hidup. Dia sadar bahwa kegagalan pada hari ini bukan akhir, tetapi awal untuk kesuksesan di waktu yang lain. Bagi pribadi pemenang, kehidupan adalah perjalanan yang optimis di segala situasi dan kondisi. Dia selalu menyiapkan diri dengan disiplin yang tinggi untuk mengatasi tantangan melalui tanggung jawab dan integritas.

Jangan pernah berhenti untuk bekerja dengan cara yang lebih baik. Jangan pernah berhenti untuk mengasah keterampilan dan kemampuan Anda. Belajar dengan lebih rajin dan tambahkan keterampilan baru untuk meningkatkan kualitas Anda. Jadilah energi positif untuk menciptakan budaya kerja yang unggul. Miliki kemauan untuk berprestasi dan berkinerja tinggi. Miliki intuisi dan keterampilan dalam menerjemahkan segala situasi dan kondisi untuk menemukan sukses. Keberhasilan dan kegagalan adalah sesuatu yang biasa saja, dan Anda tidak perlu berlebihan menanggapi keduanya. Fokuskan semua energi dan waktu untuk menjadikan diri Anda lebih baik dan lebih produktif di sepanjang hidup.

Kunci keberhasilan adalah tidak pernah berhenti bekerja keras, tekun, disiplin, rajin, optimis, yakin, dan bermental pemenang. Keberhasilan ada di pikiran Anda. Keberhasilan ada dalam keyakinan Anda. Keberhasilan ada dalam tindakan Anda yang tidak pernah berhenti dan menyerah untuk mewujudkan sukses.

Mental pemenang melahirkan perilaku kerja yang selalu berjuang untuk menjadi yang terbaik. Walaupun sudah menjadi yang terbaik pada saat ini, mental pemenang tidak akan berhenti untuk menjadikan dirinya lebih baik lagi. Kebiasaan hidupnya tidak pernah berhenti untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan. Setiap hari belajar dengan rendah hati dan menyerap pengetahuan dari semua dimensi kehidupan kerja.

Keberhasilan tidaklah gratis, ada banyak hal yang harus diberikan untuk mendapatkan keberhasilan. Anda harus memberikan kerja keras, ketekunan, kerajinan, disiplin, dan juga mau belajar dengan ikhlas dari pelajaran yang diberikan oleh kegagalan. Anda juga harus sadar bahwa berjuang dan bekerja keras untuk sukses bukanlah cukup satu kali, tetapi Anda harus siap mental untuk berjuang dan bekerja keras berkali-kali, tanpa pernah berhenti dan menyerah di sepanjang hidup Anda.

Saat Anda memulai karir di tempat kerja, tidak mungkin semua hal berjalan dengan sempurna. Banyak hal-hal yang tak terduga dan yang tidak Anda inginkan dapat terjadi. Bila Anda bermental pemenang, maka Anda tidak pernah berkeluh-kesah untuk hal-hal yang merugikan Anda, juga tidak terlalu gembira untuk hal-hal yang menguntungkan Anda. Mental pemenang selalu tenang dan menerima segala sesuatu dengan rendah hati. Setiap kegagalan disikapi dengan tenang, lalu mencari solusi agar cepat pulih dari kegagalan, dan segera bangkit dengan optimis untuk mencoba lagi.

Keberhasilan membutuhkan sistem yang kuat untuk menjaga konsistensi tindakan di dalam proses yang tidak pasti. Sistem diperlukan karena dalam proses kadang ada situasi yang tidak bekerja dengan cara Anda. Mungkin Anda sudah berpikir dan menyusun rencana yang hebat, tetapi tantangan datang di luar dugaan Anda, dan kadang bisa juga tantangan itu di luar kendali Anda. Dalam hal ini, sistem akan menjaga standar dan proses yang normal, dan Anda tinggal menjadi lebih kreatif untuk mengatasi tantangan yang di luar dugaan itu dengan solusi terbaik. Menghadapi hal-hal tak terduga dan di luar kemampuan membutuhkan sikap tenang dan penuh percaya diri. Hal yang pasti, Anda harus mampu mengeksekusi dengan sistem Anda yang hebat itu, lalu dengan kreatif mampu menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BEKERJA DALAM SATU BUDAYA YANG SAMA UNTUK MENCEGAH KESALAHPAHAMAN DI TEMPAT KERJA

“Budaya perusahaan itu satu, tetapi orang-orang yang bekerja di dalam perusahaan suka membawa budaya pribadinya masing-masing ke dalam rutinitas kerja, sehingga budaya perusahaan menjadi tidak satu.”~Djajendra

Bekerja dalam satu budaya haruslah menjadi komitmen dan kewajiban dari setiap insan perusahaan. Bila setiap insan perusahaan memiliki cara berpikir yang tidak sejalan dengan misi perusahaan; nilai-nilai pribadi dan keyakinan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinan perusahaan; kepemimpinan diri sendiri yang tidak sesuai dengan kepemimpinan perusahaan; maka, konflik batin muncul dari akibat benturan antara budaya pribadi dengan budaya perusahaan. Dampaknya, budaya perusahaan tidak pernah kuat dan setiap saat dikecilkan oleh ego dari budaya pribadi masing-masing insan perusahaan.

Sudah menjadi kodrat dalam kehidupan bahwa setiap orang berbeda satu sama lain. Setiap orang yang datang ke kantor atau pabrik berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Perbedaan latar belakang budaya ini harus menyatu di dalam budaya perusahaan yang kuat. Bila budaya perusahaan tidak kuat dan tidak menjadi dominan di dalam rutinitas kerja, maka kondisi ini menciptakan kesalahpahaman dalam hubungan kerja. Akibatnya, kolaborasi dan koordinasi menjadi lemah, serta produktivitas tidak bisa menjadi optimal. Sebab, insan perusahaan hidup dalam lingkungan kerja yang saling tersinggung dan sulit memahami satu sama lain.

Manajemen dan kepemimpinan yang kuat selalu bekerja dalam satu budaya yang sama dan mencegah kesalahpahaman di tempat kerja. Dalam hal ini, nilai-nilai dan keyakinan perusahaan dikuatkan dan diinternalisasi ke dalam diri setiap insan perusahaan agar mereka menyatu dalam satu budaya kerja yang kuat. Setiap perbedaan dikelola dan diambil keunggulan untuk memperkuat organisasi dan bisnis perusahaan. Setiap insan perusahaan dilengkapi dengan kompetensi yang profesional dan dikelola menjadi lebih berguna bagi daya saing perusahaan. Kepemimpinan dan manajemen yang kuat bekerja menggunakan budaya organisasi yang kuat, sehingga mampu mencegah semua potensi resiko yang bersumber dari budaya negatif yang terbawa oleh karyawan.

Ketika manajemen dan kepemimpinan perusahaan sudah mampu mengelola dan bekerja berdasarkan budaya organisasi yang kuat, maka operasional budaya kerja tidak akan terpengaruh oleh perbedaan budaya perusahaan. Semua budaya pribadi karyawan tidak akan mampu mempengaruhi kekuatan budaya perusahaan yang formal. Setiap orang di dalam perusahaan mampu berkomunikasi dan berinteraksi berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan perusahaan. Nilai-nilai dan keyakinan pribadi karyawan disatukan oleh nilai-nilai dan keyakinan perusahaan, sehingga keharmonisan kerja terwujud dengan baik. Setiap orang yang berbeda budaya dan latar belakang mampu disatukan oleh budaya perusahaan yang kuat, sehingga mereka bisa menjadi tim yang solid di dalam rutinitas kerja.

Budaya perusahaan yang kuat terbentuk dari nilai-nilai dan keyakinan yang kuat, aturan dan kebijakan yang tegas, etika dan kepatuhan pada hukum, perilaku kerja yang adil dan menghormati karir setiap orang, kepemimpinan yang berani dan tegas, kompetensi dan kualitas karyawan yang tinggi, bisnis yang tumbuh terus-menerus, serta terpenuhinya kebutuhan ekonomi dan spiritual karyawan.

Dalam budaya yang kuat manajemen perusahaan membangun hubungan kerja berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan perusahaan dengan tegas. Dalam hal ini, tidak ada kompromi terhadap nilai-nilai dan keyakinan perusahaan. Setiap orang, suka tidak suka, wajib untuk mematuhi dan mengikuti nilai-nilai dan keyakinan perusahaan. Tidak boleh menduakan hati terhadap nilai-nilai dan keyakinan perusahaan. Semua ini tidak berhenti sebatas keyakinan dan nilai-nilai secara normatif, tetapi harus ditunjukkan melalui tindakan yang tegas dan nyata di lapangan. Jadi, manajemen wajib memberikan prosedur dan instruksi yang jelas dan pasti agar nilai-nilai dan keyakinan perusahaan bisa digunakan oleh setiap insan perusahaan di dalam proses kerja.

Budaya yang kuat memberi ruang bagi kreativitas dalam menghadapi bisnis yang dinamis. Karena situasi dan kebutuhan bisa berubah setiap waktu, maka budaya harus terbuka dan menjadi lebih fleksibel untuk mengalir dalam perubahan. Dalam hal ini, budaya harus mampu memahami dan melayani kebutuhan setiap insan perusahaan dalam menghadapi kedinamisan organisasi dan bisnis.

Dalam budaya organisasi yang kuat setiap individu adalah aset perusahaan. Oleh karena itu, setiap insan perusahaan wajib dirawat dan diperhatikan dengan empati. Memberikan penghargaan yang tepat untuk kinerja masing-masing individu. Memberikan kompetensi agar setiap individu terbiasa bekerja dengan menggunakan inisiatif yang tepat. Membangunkan jiwa spiritual, mental pemenang, dan daya tahan fisik yang kuat agar mereka menjadi kekuatan nyata di dalam organisasi. Memberikan rasa percaya diri untuk menjadi kreatif, inovatif, dan membiasakan diri selalu rendah hati untuk bisa belajar dari kesalahan dan kekurangan yang ada.

Membiasakan individu bekerja dalam kelompok dan menjadi kekuatan kerja sama di dalam tim. Semua insan perusahaan bekerja untuk satu visi, satu budaya, dan satu tujuan perusahaan. Jadi, semua orang adalah satu untuk perusahaan. Loyalitas dalam kolaborasi dan kerja sama di dalam proses kerja menjadi sangat penting. Kehebatan dan keunggulan individu hanya bermanfaat bagi kemajuan perusahaan bila mampu membantu orang lain di dalam perusahaan. Intinya, kehidupan di tempat kerja adalah kehidupan yang menyatu dan melebur dengan orang lain untuk mencapai misi, visi, dan tujuan perusahaan.

Berpikir positif dan mengelola emosi positif adalah cara untuk memperkuat budaya organisasi. Insan perusahaan yang cerdas emosional mampu menjaga suasana hati yang baik di setiap situasi dan keadaan di tempat kerja. Jadi, apapun realitas di tempat kerja, setiap insan perusahaan mampu mengendalikan emosi dan pikiran dengan bijak. Tidak akan ada unjuk emosi negatif, semua orang akan bekerja dalam kesadaran untuk memperkuat komunikasi dan interaksi. Intinya, budaya perusahaan yang kuat terbentuk dari kedewasaan emosi, sikap, pikiran, dan jiwa yang bijak dari setiap insan perusahaan.

Bekerja dalam satu budaya yang sama membutuhkan perilaku kerja yang saling hormat dan tidak menantang keputusan dari otoritas yang lebih tinggi. Otoritas tertinggi berada pada kepemimpinan tertinggi. Dalam hal ini, kepemimpinan tertinggi harus bekerja dengan integritas  agar dipercaya atas keputusan yang diambil, serta menjadi kekuatan untuk mencegah kesalahpahaman.

Setiap individu di tempat kerja berkaitan dengan individu yang lain, setiap divisi di tempat kerja berkaitan dengan divisi yang lain, setiap departemen di tempat kerja berkaitan dengan departemen yang lain, setiap insan perusahaan berkaitan dengan lingkungan kerja. Jadi, tidak boleh ada ego individu, ego kelompok, ego fungsi, ego peran, dan ego kepentingan. Setiap orang harus menjadi sel yang memperkuat budaya organisasi, bukan sel yang merusak atau merongrong kekuatan budaya organisasi. Setiap insan perusahaan harus mampu mengendalikan ego dan nafsu yang berpotensi merusak lingkungan kerja yang positif. Setiap insan perusahaan harus mampu menjadi budaya perusahaan yang kuat dan mengatur semangat kerja untuk mencapai kinerja terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PERAN INTERNAL AUDITOR DALAM WHISTLEBLOWING SYSTEM

“Whistleblowing system membutuhkan karakter kerja auditor yang selalu bersikap rendah hati, optimis, profesional, percaya diri, empati yang tinggi, fleksible, intuisi yang hebat, jujur dan bertanggung jawab, menyenangkan, tenang dan tidak suka marah, tegas dan tidak ragu, selalu bekerja dengan perasaan positif, dan tidak menghakimi atau menilai orang lain.”~Djajendra

Whistleblowing system sebagai alat untuk pencegahan terhadap praktik tata kelola perusahaan yang buruk. Whistleblowing system mampu menguatkan sistem manajemen resiko dan membantu melindungi reputasi perusahaan. Intinya, whistleblowing system sangat diperlukan untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang terbaik dan pengelolaan resiko yang berkualitas.

Perusahaan yang kuat dan sehat menjadikan whistleblowing system sebagai komponen penting dalam budaya perusahaan. Dalam hal ini, fungsi internal audit diperkuat dengan kualitas dan kompetensi, baik hard skill maupun soft skill, untuk dapat menjadi kekuatan yang andal dan hebat dalam menjalankan whistleblowing system. Internal audit yang berkualitas mampu menunjukkan kemampuan dan kecerdasan dalam mendeteksi, mencegah, juga melakukan penyelidikan atas informasi dan laporan yang di terima dari para whistleblower. Semua kegiatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik; semua kegiatan yang dianggap ilegal, tidak etis, melanggar prosedur, dan berbahaya bagi perusahaan; haruslah ditindaklanjuti dengan tegas dan penuh percaya diri dalam sikap rendah hati oleh setiap insan internal auditor.

Ketika menjalankan peran dalam whistleblowing system, auditor wajib menguasai dan terbiasa dengan soft skills, khususnya untuk mengelola emosi dan pikiran diri sendiri dan kemampuan untuk membaca emosi dan pikiran orang lain. Whistleblowing system membutuhkan karakter kerja auditor yang selalu bersikap rendah hati, optimis, profesional, percaya diri, empati yang tinggi, fleksible, intuisi yang hebat, jujur dan bertanggung jawab, menyenangkan, tenang dan tidak suka marah, tegas dan tidak ragu, selalu bekerja dengan perasaan positif, dan tidak menghakimi atau menilai orang lain.

Auditor harus terbiasa untuk merasa baik dan kuat saat menjalankan fungsi dan perannya di dalam whistleblowing system. Auditor yang berkualitas bekerja melalui prosedur dan audit program yang dirancang secara profesional. Auditor yang berkualitas tidak bekerja untuk menilai dan menghakimi pribadi seseorang, tetapi bekerja untuk menilai dan memastikan setiap proses kerja di dalam organisasi sudah sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang terbaik.

Menjalankan whistleblowing system tidaklah sederhana, diperlukan komitmen dan kekuatan mental yang hebat. Hal ini disebabkan, dalam realitas dunia kerja, selalu ada orang baik dan orang tidak baik, selalu ada yang jujur dan yang tidak jujur. Tidaklah mungkin auditor bisa menghilangkan yang tidak jujur dari tempat kerja. Jadi, hanya melalui sistem dan tata kelola yang penuh integritas, ketidakjujuran dapat diminimalkan. Oleh karena itu, auditor haruslah cerdas emosional dan bermental hebat dalam mengatur diri sendiri, mengelola hubungan dengan orang lain, mencapai keberhasilan atas pekerjaan yang ditangani, serta selalu menjalankan integritas dengan sepenuh hati.

Kekuatan auditor ada dalam kertas kerja yang dikerjakan dengan prinsip-prinsip audit yang profesional dan masuk akal. Auditor harus hebat dalam menangani kritik dan penolakan tanpa menyalahkan siapapun dengan alasan apapun. Auditor tidak boleh bereaksi berdasarkan emosional atau persepsi; auditor hanya boleh bekerja sesuai fakta, data, dan kebenaran. Jadi, apapun informasi yang didapatkan oleh auditor dari para whistleblower, auditor tidak boleh langsung menilai dan menyimpulkan sesuatu atas informasi tersebut. Auditor wajib menjadi sangat profesional untuk menemukan data, fakta, dan kebenaran atas informasi yang diterima dari para whistleblower.

Manajemen perusahaan secara konsisten wajib membangun dan menguatkan karakter kerja, kebiasaan, perilaku, sikap, etos, mental tangguh, dan daya tahan emosi dari para auditor agar dapat menjalankan whistleblowing system dengan profesional. Auditor bertanggung jawab untuk memastikan prosedur whistleblowing system berjalan efektif; memastikan dan menjamin kerahasiaan dari orang yang menyampikan informasi; bekerja untuk menghindari konflik kepentingan, dan juga penyalahgunaan whistleblowing system untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan misi whistleblowing system.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BUDAYA KERJA PRODUKTIF

“Orang-orang produktif selalu berkinerja tinggi, dan menikmati kemakmuran yang melimpah ruah di sepanjang hidup.”~Djajendra

Perusahaan yang kuat dan sehat dihasilkan dari orang-orang yang sangat produktif. Bila karyawan tidak produktif, maka mereka adalah biaya tersembunyi yang membuat produk perusahaan tidak kompetitif.

Di masa depan, setiap perusahaan yang mampu meningkatkan produktivitas akan menjadi pemenang. Kualitas yang baik dan harga yang murah adalah harapan dari pelanggan. Kemampuan manajemen untuk menjaga produktivitas di lingkungan kerjanya akan membawa keberuntungan bagi stakeholders. Kehilangan produktivitas berarti berpotensi kehilangan bisnis karena kalah bersaing di pasar yang sangat kompetitif.

Produktivitas yang tinggi ditentukan oleh etos dan kondisi kepribadian karyawan. Bila karyawan bekerja dalam kondisi stres, tertekan, dan tidak bahagia; maka, dapat dipastikan produktivitas mereka menjadi sangat rendah. Diperlukan suasana hati yang penuh rasa syukur, perilaku yang fokus pada pekerjaan, pikiran positif, hubungan kolaborasi kerja yang kuat antara karyawan, dan etos kerja yang profesional, untuk menghasilkan perusahaan yang produktif.

Pimpinan dan manajemen perusahaan haruslah membangun budaya kerja yang mampu meningkatkan produktivitas secara terus-menerus. Budaya kerja yang rajin, berani, optimis, gembira, mencintai pekerjaan, disiplin, dan keterlibatan setiap orang dari hati yang tulus, akan menciptakan produktivitas yang tinggi. Di samping itu, pimpinan dan manajemen harus selalu hadir dan membangun hubungan positif dengan semua karyawan. Menjaga harga diri karyawan, menjaga perasaan aman karyawan, memberikan dukungan penuh kepada karyawan, menghormati kemampuan dan keandalan karyawan, memenuhi kebutuhan dan harapan karyawan, dan menciptakan budaya bahagia di lingkungan kerja, adalah cara untuk merangkul karyawan dan menjadikan mereka sebagai energi produktif bagi bisnis perusahaan.

Membangun etos kerja yang profesional dan melatih karyawan untuk memiliki kebiasaan-kebiasaan produktif dalam pekerjaan sehari-hari. Manusia yang produktif tercipta dari kesadaran untuk menumbuhkan kinerja secara terus-menerus. Karyawan yang sadar dan hati nuraninya termotivasi untuk terlibat dalam kerja keras yang produktif, adalah awal bagi peningkatan kinerja bisnis. Etos kerja yang hadir dan tidak pernah absen; etos kerja yang selalu berhati-hati dan menghindari dari kecelakaan kerja; etos yang belajar dari kesalahan dan kekurangan, tanpa mengeluh ataupun merasa ada yang kurang; etos yang suka berkolaborasi dan berkoordinasi; etos yang bekerja untuk pertumbuhan dan prestasi; etos yang bersikap positif dan optimis; etos untuk menikmati proses kerja dengan hati yang senang, adalah kekuatan yang menjadikan setiap karyawan produktif di tempat kerja.

Peningkatan produktivitas membutuhkan loyalitas yang tinggi. Karyawan dengan loyalitas yang tinggi akan bekerja sepenuh hati, dan tanpa hitung-hitungan. Loyalitas dapat menekan biaya operasional perusahaan. Loyalitas dapat menekan stres di tempat kerja. Loyalitas membuat karyawan bekerja sukarela dalam kolaborasi dan proses kerja. Loyalitas menjadikan karyawan mengabdi dengan tulus dan ikhlas untuk kemajuan perusahaan. Loyalitas menghilangkan produktivitas rendah dan mendorong antusiasme karyawan untuk berkinerja tinggi.

Tubuh yang bugar dan sehat, serta pikiran positif adalah fondasi untuk produktivitas tinggi. Pimpinan dan manajemen tidak boleh lalai dalam menciptakan program-program kebugaran di tempat kerja. Bila karyawan sakit-sakitan, maka mereka pasti sering absen, dan hal ini akan menurunkan produktivitas kerja. Oleh karena itu, membangun budaya kerja dengan aktivitas olah raga dan pola makan sehat adalah sangat penting. Dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang hebat untuk bekerja secara produktif. Intinya, walaupun seseorang sangat cerdas dan pintar luar biasa, tetapi bila tubuhnya tidak sehat dan bugar, maka dia akan sering absen dan produktivitasnya rendah. Artinya, dia akan menjadi biaya tersembunyi yang menggrogoti kinerja perusahaan.

Budaya kerja yang positif akan membangun kesejahteraan dalam semua dimensi kehidupan karyawan. Budaya kerja yang positif dimulai dari dukungan sumber daya manusia yang sehat fisik dan jiwa; didukung oleh sumber daya manusia yang bahagia berkolaborasi di dalam sistem dan proses kerja; didukung oleh sumber daya manusia yang suka berjuang dan tak pernah meneyrah untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya; didukung oleh sumber daya manusia yang selalu rendah hati dan melayani satu sama lain dengan tulus dan ikhlas; didukung oleh sumber daya manusia bermental optimis dan belajar dari kesalahan, tanpa menyalahkan orang lain; didukung oleh sumber daya manusia yang selalu termotivasi untuk membantu rekan kerja, bawahan, dan atasan dengan sepenuh hati; didukung oleh sumber daya manusia yang bekerja dengan integritas dan akuntabilitas yang tinggi; didukung oleh sumber daya manusia yang memperlakukan satu sama lain dengan hormat, rasa terima kasih, kepercayaan, integritas, dan cinta.

Budaya kerja yang produktif dibangun dari hubungan sosial di tempat kerja yang kompak dan solid. Setiap karyawan harus hadir sebagai energi positif, sebagai sumber kebaikan bagi kemajuan organisasi. Pikiran negatif, hati yang tidak bersih, emosi negatif, fisik yang tidak bugar dan tidak tenang, adalah pemicu stres di tempat kerja. Kondisi ini akan menciptakan lingkungan kerja dengan prasangka buruk, dan hubungan sosial di tempat kerja akan semakin memburuk. Jelas, semua kondisi negatif yang dihasilkan dari pribadi karyawan selalu memberikan dampak buruk dalam mencapai kinerja terbaik. Hal ini juga, akan membuat kehidupan kerja yang tidak bahagia dan pasti juga tidak produktif.

Budaya kerja produktif membutuhkan daya tahan kolektif yang unggul. Masalah, persoalan, kesulitan, tantangan, resiko, dan cobaan berat, adalah bagian dari proses menuju kesuksesan. Oleh karena itu, setiap karyawan harus menyiapkan mental pemenang yang tangguh dan siap menghadapi segala ketidakpastian di tempat kerja. Mindset haruslah menghindari pikiran dan emosi negatif saat situasi sulit hadir dan mengacaukan lingkungan kerja. Mental tangguh harus ditunjukkan oleh setiap karyawan agar perusahaan selalu terjaga dan terawat untuk peningkatan. Semua perjalanan yang sulit dan tidak pasti jangan melemahkan semangat, tetapi harus menjadi titik awal untuk kebangkitan dalam mencapai keberhasilan.

Setiap karyawan harus memiliki komitmen dan ikhlas mengorbankan diri demi kemajuan perusahaan. Kepentingan perusahaan haruslah diutamakan daripada kepentingan pribadi. Jangan bekerja dengan pikiran sempit yang hanya terfokus pada kepentingan kebutuhan dan harapan diri sendiri. Keberadaan sebuah perusahaan adalah untuk melayani banyak orang, miliki komitmen dan kesetiaan untuk melayani semua pelayanan yang sudah dijanjikan perusahaan kepada stakeholders.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMIMPIN DAN BUDAYA KERJA KERAS

MOTIVASI 29042016

“Pemimpin adalah teladan untuk budaya kerja keras. Bila pemimpinnya banyak alasan, tidak berani mengambil resiko, dan malas bekerja keras; maka, dia adalah pemimpin yang sedang melemahkan budaya kerja keras.”~Djajendra

Dalam budaya kerja keras, kualitas pemimpin menentukan apakah budaya kerja keras itu tumbuh atau tidak berkembang. Bila pemimpin sadar bahwa seorang pemimpin ditakdirkan untuk bekerja lebih keras seumur hidup; lebih mencurahkan perhatian dan perilaku produktif; lebih berani menerobos resiko dan memenangkan situasi; lebih siap untuk menderita; dan lebih siap untuk menaklukkan setiap rintangan dan hambatan dengan integritas yang tinggi. Maka, pemimpin tersebut menjadi energi untuk menumbuhkan budaya kerja keras.

Ketika pemimpin bekerja keras, dia akan melakukannya bersamaan dengan pemberdayaan individu dalam kerja keras. Energi dan semangat kerja keras pemimpin ditularkan kepada setiap individu yang bekerja dibawah koordinasinya. Sebagai pemimpin, dia menghormati kehebatan individu, sehingga setiap karyawan dimotivasi dan dikuatkan kompetensinya agar siap berkontribusi dalam kerja keras.

Budaya kerja keras adalah budaya yang berkoordinasi, berkomunikasi, dan berkolaborasi secara profesional. Ide dan pendapat harus mengalir dan terkoordinasi secara baik, hal ini diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat. Setiap karyawan dan pemimpin adalah satu kekuatan yang tak terpisahkan. Setiap orang di dalam struktur organisasi adalah satu tubuh dengan satu visi yang jelas, untuk mengeksekusi rencana dan target. Dengan kata lain, semua orang di dalam organisasi bersikap dan bertindak di dalam koordinasi yang dipimpin dengan semangat gotong royong dalam menghasilkan yang terbaik.

Setiap individu di tempat kerja adalah kekuatan yang bisa mengungguli apapun yang ditargetkan. Prinsip-prinsip budaya kerja keras harus ditanamkan ke dalam mind set, dan dimotivasi agar menjadi perilaku kerja yang andal. Karyawan dan pemimpin harus bersama-sama dalam satu persepsi, keyakinan, visi, misi, nilai-nilai, dan budaya kerja keras. Tidak boleh ada yang melemahkan budaya kerja keras, semua orang harus berkomitmen dalam menjaga budaya kerja keras yang efektif dan produktif.

Dalam budaya kerja keras dibutuhkan kontribusi intelektual dan perilaku produktif dari individu. Selanjutnya, dari keunggulan individu dibangun sebuah budaya kerja keras yang kolektif; budaya kerja keras yang kolektif harus terlihat dalam kolaborasi kerja. Pendekatan individu sangat penting agar setiap orang merasakan sentuhan pemimpin dan merasa diperhatikan oleh manajemen. Jadi, walau di tempat kerja harus digunakan pendekatan kolektif atau team work, tetapi pendekatan individu akan menguatkan budaya kerja keras. Artinya, kombinasi yang baik dari pendekatan individu dan pendekatan kolektif dapat meningkatkan kinerja setiap orang.

Etos kerja yang tak kenal lelah; etos kerja yang tak pernah menyerah; etos kerja yang ikhlas berkorban untuk mendorong kinerja; etos kerja yang kaya integritas; etos kerja yang penuh disiplin dan semangat; etos kerja yang mengejar prestasi dan kinerja; etos kerja yang kreatif dan inovatif; etos kerja yang berjuang untuk menjaga prestasi terbaik; etos kerja yang rendah hati dan terus-menerus meningkatkan kompetensi; etos kerja yang memperbaiki kelemahan dan meningkatkan kekuatan, adalah bagian dari budaya kerja keras. Intinya, budaya kerja keras harus dilengkapi etos kerja yang membuat budaya kerja keras tersebut unggul dan bersaing di pasar dunia yang bebas.

Dalam budaya kerja keras, setiap karyawan harus unggul dengan kompetensi inti. Ini adalah dasar untuk menghasilkan kualitas kerja terbaik. Setelah kompetensi inti sudah berkualitas tinggi, selanjutnya setiap individu secara berkelanjutan dimotivasi untuk pengembangan kualitas soft skill diberbagai aspek dan dimensi individu. Nantinya, soft skill inilah yang menjadi inti dari budaya kerja keras tersebut.

Soft skill sangat menentukan budaya kerja keras. Sebab, budaya kerja keras tidak akan ada bila soft skill karyawan dan pimpinan lemah atau kurang. Jadi, untuk menciptakan budaya kerja keras dalam harmoni, loyalitas, integritas, dan akuntabilitas. Maka, perusahaan harus menyiapkan anggaran untuk penguatan soft skill karyawan secara berkelanjutan dan terus-menerus di sepanjang zaman. Siapapun yang meremehkan tentang pentingnya soft skill diberbagai dimensi individu akan kecewa dengan kinerja individunya.

Pemimpin harus mengkoordinasikan budaya kerja keras. Pemimpin harus menjadi teladan yang menghormati setiap potensi individu, untuk dimaksimalkan menjadi energi kolektif organisasi. Pemimpin harus menetapkan kebijakan yang menginternalisasikan nilai-nilai untuk mendukung budaya kerja keras. Pemimpin tidak boleh hanya menuntut, berharap, dan menunggu karyawan untuk bekerja keras. Tetapi, membangun budaya kerja keras dan menciptakan gaya manajemen yang berorientasi pada budaya kerja keras.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

NILAI-NILAI BUDAYA KERJA TIDAK HANYA DITULISKAN, TETAPI HARUS DIHIDUPKAN MENJADI PERILAKU

MOTIVASI BUDAYA KERJA 05032016

“Bila nilai-nilai budaya kerja tidak menjadi mindset ataupun perilaku sehari-hari, maka mereka hanya akan menjadi kata-kata kosong yang tidak bermakna dalam proses kerja.”~Djajendra

Walaupun keberadaan Enron telah berakhir, tetapi Enron meninggalkan sejarah pengetahuan yang sangat penting tentang implementasi dan internalisasi nilai-nilai inti perusahaan. Core values Enron terdiri dari Integrity, Communication, Respect, dan Excellence. Semua nilai-nilai Enron ini dipajang dan sangat dibanggakan. Tetapi, ketika Enron jatuh bangrut karena skandal rekayasa keuangan dan kebohongan terhadap semua pemangku kepentingan, maka pertanyaan muncul tentang makna dari core values Enron. Jelas, dari skandal yang terjadi, kita dapat melihat bahwa nilai-nilai inti Enron tidak membentuk perilaku kerja sehari-hari. Nilai-nilai inti tersebut hanya menjadi pajangan dan penghias budaya organisasi.

Dari peristiwa Enron, kita belajar bahwa dalam praktik ada nilai-nilai lain yang lebih dominan daripada nilai-nilai inti yang dipajang tersebut. Budaya nyata Enron bertentangan dengan budaya yang mereka nyantumkan atau sampaikan kepada publik. Jadi, semua nilai-nilai inti Enron menjadi kata-kata kosong tanpa makna dalam proses kerja mereka.

Sesungguhnya, bukan hanya Enron yang berperilaku dengan budaya ganda.Sangat banyak perusahaan dan organisasi yang lain juga demikian, hanya saja tidak terekspos dan tidak digali secara mendalam seperti orang menggali tentang Enron. Dari pembelajaran penulis, sangat banyak juga perusahaan-perusahaan yang berperilaku lebih buruk dari Enron, tetapi tidak tergali dan terekspos ke ruang publik.

Pelajaran terbesar dari peristiwa kejatuhan Enron adalah bahwa ketika nilai-nilai inti perusahaan dikalahkan oleh budaya kepentingan sesaat yang mengabaikan integritas, maka terciptalah perilaku yang tidak etis. Peristiwa kejatuhan Enron membuat para stakeholders penting menjadi korban dan mereka sangat terluka. Peristiwa Enron merupakan kegagalan moralitas kerja, artinya kegagalan dalam mengimplementasikan dan menginternalisasikan nilai integritas.

Nilai-nilai budaya kerja merupakan pendorong utama dalam pembentukan perilaku kerja karyawan dan pimpinan. Juga, merupakan cara untuk membentuk budaya organisasi yang kuat dari sisi perilaku dan kebiasaan kerja. Jadi, sangatlah penting memiliki keseriusan dan niat baik untuk menjadikan nilai-nilai inti perusahaan sebagai perilaku yang dominan di tempat kerja. Bila tidak ada upaya yang keras untuk mentransformasikan nilai-nilai budaya kerja menjadi budaya organisasi dan perilaku kerja yang dominan, maka nilai-nilai lain di luar nilai-nilai inti organisasi akan mendominasi kehidupan budaya kerja Anda.

Setiap nilai memiliki tujuan, terlepas dari apakah bertujuan baik ataupun tidak baik. Disinilah harus ditimbulkan kesadaran untuk selalu mengevaluasi fakta-fakta di lapangan, dan juga kejadian-kejadian dalam proses kerja yang bertentangan dengan nilai-nilai inti perusahaan. Budaya kerja terlihat melalui peristiwa sehari-hari di tempat kerja. Bila pimpinan dan karyawan selalu berbuat salah. Itu artinya, ada yang tidak beres dengan budaya kerja, dan harus segera diambil tindakan untuk membereskannya. Membereskan berarti bukan sekedar memecat atau mengganti orang yang berbuat salah, tetapi mengevaluasi kembali atas budaya kerja. Melihat kembali budaya apa yang dominan, nilai-nilai apa yang membuat budaya dominan itu eksis dan kuat. Bila nilai-nilai yang tidak dikehendaki menguasai budaya organisasi, maka nilai-nilai tersebutlah yang harus dihilangkan dari perilaku kerja sehari-hari.

Tidak pernah ada sebuah perusahaan yang sempurna budayanya. Manusia selalu bisa membawa sikap dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai inti perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan upaya dan pembelajaran yang terus-menerus agar budaya perusahaan yang diinginkan dapat dijaga dan dirawat dengan baik. Harus selalu diberikan pencerahan dan motivasi kepada karyawan dan pimpinan agar mereka menghargai dan menghormati nilai-nilai inti perusahaan. Dan juga, agar mereka menjadi energi positif untuk mewujudkan lingkungan kerja yang berbudaya positif dan kuat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGKOORDINASI DAN TERKONEKSI SECARA SOLID UNTUK BISA MENGEKSEKUSI RENCANA MENJADI TINDAKAN YANG TEPAT

VISI 29022016“Visi adalah harapan. Visi adalah masa depan. Tanpa visi yang jelas sulit melangkah menuju masa depan.”~Djajendra

Dengan mengkomunikasikan visi, pemimpin menempatkan dirinya untuk bekerja sesuai arah, serta mampu menghubungkan karyawan dengan tujuan perusahaan yang lebih besar. Pemimpin menyediakan nilai-nilai yang tepat bagi karyawan untuk menjadi perilaku kerja yang menguatkan budaya kerja. Pemimpin menyediakan misi yang jelas agar setiap karyawan mampu bertindak dan membantu rutinitas yang ditargetkan. Nilai-nilai budaya kerja yang tepat mampu menciptakan perilaku kerja yang menggeser fokus dari ketakutan akan kegagalan menjadi fokus pada keyakinan untuk mencapai kemenangan. Pada saat nilai-nilai budaya kerja menyatu dengan suara hati, maka setiap karyawan mampu saling bekerja bersama dalam misi mereka. Mereka dengan mudah saling terkoneksi, dan pemimpin dapat melakukan koordinasi secara tepat.

Cara menggunakan visi, nilai-nilai, dan misi hanya efektif pada saat koordinasi dan koneksi dijalankan secara tepat dan produktif. Hal inilah yang bisa menciptakan budaya eksekusi yang kuat dan produktif. Hubungan antar manusia dalam ikatan nilai-nilai budaya kerja menciptakan keunggulan kompetitif dalam proses. Proses kerja yang berkualitas dihasilkan dari budaya koneksi yang meningkatkan kolaborasi bersama, serta semua bagian kerja harus mampu memperlihatkan keunggulan melalui fungsi dan perannya masing-masing.

Pemimpin bekerja dengan menciptakan budaya yang menghubungkan satu sama lain di dalam visi bersama. Visi bersama dikomunikasikan, serta dimotivasi kepada semua karyawan agar mereka terinspirasi untuk bekerja sepenuh hati dalam mencapai tujuan. Setiap karyawan dalam budaya koneksi dan koordinasi mampu bekerja dengan lebih produktif karena mereka bisa terhubung satu sama lain dengan mudah. Tidak ada penghalang. Tidak ada penghambat. Dalam hal ini, seluruh kepemimpinan di dalam perusahaan, di semua level kepemimpinan, harus tegas dan peduli untuk berkoordinasi dan terkoneksi dari hati ke hati agar tindakan yang tepat dapat segera dilakukan, untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Koordinasi dan koneksi dari hati ke hati mempererat hubungan kerja, yang pada akhirnya meningkatkan kinerja masing-masing individu. Hubungan kerja antar pribadi yang positif meningkatkan kualitas empati dan toleransi. Semua orang dalam hubungan kerja yang sehat merasakan bahagia, tenang, sehat, dan bisa fokus pada pencapaian prestasi terbaik. Persatuan dan koordinasi yang tepat adalah kunci untuk mencapai kesuksesan di dalam organisasi.

Visi membutuhkan persatuan dan koordinasi yang solid dan tepat, hanya dengan persahabatan kerja yang solid dapat mencapai kinerja terbaik. Oleh karena itu, seseorang sebelum bergabung dengan perusahaan, dia harus bisa meyakinkan dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang tunduk dan bekerja sesuai dengan nilai-nilai budaya kerja. Hubungan antar pribadi yang positif adalah salah satu bagian terpenting dalam membangun budaya organisasi yang kuat. Hubungan yang terkoneksi dengan sempurna dapat meningkatkan keterlibatan karyawan, meningkatkan suasana kerja yang harmonis dan penuh semangat, meningkatkan kinerja, meningkatkan produktivitas, meningkatkan inovasi, serta meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan setiap individu.

Koordinasi kepemimpinan tidak hanya menyatukan orang secara fisik, tetapi juga mampu mengartikulasikan visi yang jelas berdasarkan fondasi nilai-nilai inti organisasi, sehingga karyawan dapat menggunakan nilai-nilai inti perusahaan sebagai fondasi perilaku dan karakter kerja sehari-hari. Di samping itu, pernyataan misi juga harus sederhana dan jelas sehingga mudah dipahami dan dapat ditindaklanjutkan dengan aksi yang tepat.

Visi adalah harapan. Visi adalah masa depan. Tanpa visi yang jelas sulit melangkah menuju masa depan. Tugas pemimpin adalah menjelaskan visi dan memotivasi karyawan agar tidak mengabaikan misi, serta mengajari karyawan untuk menjadikan nilai-nilai budaya kerja sebagai perilaku sejati di tempat kerja. Dan, untuk semua ini, membutuhkan koordinasi dan koneksi yang solid dan utuh dari hati ke hati.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

REVOLUSI MENTAL MENJADI BAGIAN INTI DARI PERUBAHAN BUDAYA ORGANISASI

REVOLUSI MENTAL DJAJENDRA 2016

“Sebuah perubahan menuju kemajuan membutuhkan pengorbanan. Dan, karena dalam perubahan tersebut ada korban, maka disebutlah revolusi. Karena yang dikorbankan adalah emosi, pikiran, perilaku, dan jiwa. Maka, disebutlah revolusi mental.”~Djajendra

Revolusi mental adalah perubahan tanpa kompromi dan dipaksa untuk berubah. Biasanya, revolusi mental menjadi bagian inti dari perubahan budaya organisasi. Budaya terbentuk dari kebiasaan, perilaku, rutinitas, dan pola pikir kolektif. Ketika budaya lama dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan masa depan organisasi, maka budaya lama dipaksa untuk berubah. Pada saat budaya lama dipaksa berubah, selalu ada perlawanan yang keras dari kebiasaan dan pola pikir kolektif yang merasa nyaman dengan budaya lama. Perlawanan keras inilah yang membutuhkan revolusi mental agar perlawanan tersebut bisa dikalahkan dengan cepat.

Dalam dunia korporasi, revolusi mental adalah sesuatu yang biasa terjadi. Ketika pimpinan ingin merubah budaya kerja, biasanya, terpaksa harus melalui sebuah revolusi mental. Ketika pemilik baru ingin merubah budaya perusahaan sesuai nilai-nilai yang diyakininya, maka revolusi mental tidak terelakan lagi. Karena kata revolusi mengandung makna yang keras, maka biasanya digunakan kata perubahan atau pun transformasi. Padahal, dalam praktiknya, revolusilah yang terjadi, sehingga banyak orang yang tidak sejalan dengan manajemen baru atau pimpinan baru selalu disingkirkan dengan berbagai cara dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Di Singapore, sejak awal memimpin, Lee Kuan Yew melakukan revolusi mental dengan membangun budaya baru yang taat aturan, disiplin, dan bertanggung jawab. Lee Kuan Yew mengatur perilaku dan kebiasaan warga negaranya, dan bila melanggar dikenakan denda ataupun hukuman yang tegas dan cukup besar. Hari ini, kita bisa melihat Singapore sebagai negara maju dan bersih dalam banyak aspek kehidupan.

Banyak perusahaan-perusahaan besar tumbuh melalui revolusi mental. Membangun budaya baru selalu melalui revolusi mental. Berbagai tindakan korporasi yang bertujuan menciptakan tata kelola bisnis yang terbaik, harus dilalui melalui revolusi mental. Bukan pekerjaan mudah untuk menjadi lebih baik, harus ada pengorbanan yang besar. Intinya, sebuah perubahan menuju kemajuan membutuhkan pengorbanan. Dan, karena ada korban dalam perubahan tersebut, maka disebutlah revolusi. Karena yang dikorbankan adalah emosi, pikiran, perilaku, dan jiwa. Maka, disebutlah revolusi mental.

Revolusi mental dimulai dari slogan-slogan perubahan yang secara terus-menerus dikobarkan dan disemangatkan kepada pegawai. Diikuti doktrin dan internalisasi nilai-nilai untuk ditanam dalam pikiran bawah sadar. Program doktrin dan internalisasi harus terus-menerus dan berkelanjutan. Evaluasi dan perbaikan harus terus-menerus dilakukan sampai budaya baru terinternalisasi menjadi perilaku, karakter, etos, sikap, kebiasaan, persepsi, dan akal sehat.

Revolusi diperlukan karena kebanyakan orang tidak suka dengan perubahan, mereka cendrung melawan dan tidak membantu perubahan. Sedangkan perubahan adalah inti dari kemajuan menuju masa depan yang lebih baik. Revolusi mental membutuhkan ketegasan yang luar biasa konsisten dari pemimpin. Pada saat melakukan revolusi mental, perlawanan hidup-mati akan muncul dari orang-orang yang merasa sebagai korban perubahan. Di sinilah, ujian terbesar bagi kepemimpinan revolusi tersebut, apakah tetap tegas dan tangguh mengatasi perlawanan tersebut, atau menyerah oleh keadaan. Pemimpin revolusi mental sejati adalah pemenang dalam membangun budaya baru yang kuat dan produktif.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

JANGAN BIARKAN BUDAYA DOMINAN TIDAK MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN YANG KUAT

BUDAYA DOMINAN 16022016JANGAN BIARKAN BUDAYA DOMINAN TIDAK MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN YANG KUAT

“Budaya dominan dalam perusahaan adalah tentang kekuatan yang berkuasa dan berpengaruh secara informal.”~Djajendra

Beberapa orang berkumpul budaya terbentuk. Budaya terbentuk dari keyakinan dan kepercayaan yang ditunjukkan dalam sikap, perilaku, kebiasaan, gaya, ambisi, dan rutinitas. Nilai-nilai pribadi dari orang yang paling kuat dan dominan dapat menjadi fondasi untuk terbentuknya sebuah budaya.

Perusahaan yang dijalankan secara profesional dengan tata kelola yang terbaik selalu berambisi memiliki budaya organisasi yang kuat. Mereka pun mengembangkan nilai-nilai perusahaan yang sesuai dengan strategi dan visi. Nilai-nilai diformalkan dengan pernyataan misi, visi, dan slogan untuk tujuan menyatukan semua insan perusahaan dalam satu persepsi. Selama nilai-nilai bukan sebagai slogan hampa, tetapi sebagai perilaku yang menjalankan proses kerja dan proses bisnis, maka nilai-nilai tersebut akan menjadi dasar bagi pembentukan budaya organisasi yang kuat.

Budaya organisasi yang kuat mengungkapkan nilai-nilai inti organisasi sebagai kenyataan yang dipatuhi, diyakini, dan diterima di seluruh organisasi secara luas bersama-sama. Sedangkan budaya dominan mengungkapkan nilai-nilai inti yang dimiliki oleh mayoritas anggota organisasi berdasarkan pengalaman, pengaruh, kekuasaan, kekuatan, situasi, dan masa lalu.

Dalam realitas, banyak perusahaan dan instansi merasa tak berdaya melawan budaya dominan. Walaupun nilai-nilai inti sudah diinternalisasikan dalam organisasi, untuk menjadi perilaku dan pola pikir yang nyata di tempat kerja, tetapi budaya dominan masih lebih kuat pengaruhnya. Budaya dominan adalah tentang kekuatan yang berkuasa dan berpengaruh secara informal.

Pembentukan budaya organisasi yang kuat haruslah dengan menghitung kekuatan budaya dominan. Strategi dan cara mengkomunikasikan nilai-nilai perusahaan secara tepat diperlukan untuk melemahkan budaya dominan. Bila budaya dominan dibiarkan atau diabaikan, maka dia akan menjadi tembok yang menghalangi pembentukan budaya kuat.

Membiarkan budaya dominan saat proses pembentukan budaya kuat akan menciptakan konflik batin di internal organisasi. Orang-orang merasa terpaksa untuk mengadopsi nilai-nilai inti. Orang-orang merasa tidak yakin dengan nilai-nilai inti perusahaan. Mereka masih berpikir bahwa akar dari budaya yang benar adalah budaya dominan tersebut, sehingga keyakinan yang sudah sekian lama hidup di dalam diri mereka, menjadi tidak mudah diganti dengan yang nilai-nilai inti perusahaan.

Budaya dominan harus dibukakan pikirannya agar memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan budaya kuat. Dalam hal ini, diperlukan membangkitkan kesadaran untuk berubah dan melatih mereka agar terbiasa di luar zona nyaman. Jadi, budaya dominan adalah kekuatan luar biasa yang diperlihatkan oleh zona nyaman. Biasanya, mayoritas pegawai inti yang berkuasa suka terjebak dalam budaya dominan. Saat pemilik perusahaan atau dewan direksi memiliki program pengembangan budaya kuat, yang ditugaskan pastilah pegawai inti tersebut, sedangkan mereka sendiri sedang terjebak mindsetnya dalam nyamannya budaya dominan. Hal inilah yang selalu menjadi faktor kegagalan untuk pembentukan budaya perusahaan yang kuat.

Kesadaran, jiwa besar, moralitas, etika, dan kemauan untuk berubah adalah faktor terpenting dalam membangun budaya perusahaan yang kuat. Semakin sadar dan mau berubah sesuai nilai-nilai inti perusahaan, semakin terbentuk fondasi yang kuat untuk budaya organisasi yang kuat. Nilai-nilai berfungsi untuk menguatkan langkah pencapaian strategi, dan juga memberikan makna kerja dalam organisasi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

NILAI-NILAI PERUSAHAAN MENGGAMBARKAN BUDAYA YANG DIINGINKAN

CORPORATE CULTURE 12022016

“Nilai-nilai yang terinternalisasi memberikan perilaku yang keluar dari hati nurani, untuk menciptakan budaya kerja sesuai perintah nilai-nilai.”~Djajendra

Nilai-nilai perusahaan membentuk jiwa dan karakter untuk diberdayakan dan dikembangkan dalam budaya yang kuat. Menanam nilai dimulai dari diri sendiri, lalu ditransformasikan dalam organisasi untuk membentuk budaya. Saat nilai-nilai berubah menjadi budaya kerja, akan tumbuh kesadaran untuk bekerja dengan sepenuh hati dan berkontribusi lebih besar. Pilihan nilai-nilai perusahaan harus bersumber dari keyakinan, filosofi, moralitas, dan etika.  Nilai-nilai yang sudah terpilih menjadi core values  difungsikan untuk menguatkan strategi bisnis. Ketika nilai-nilai sudah berfungsi dalam menggerakkan karyawan untuk mencapai strategi yang ditetapkan, maka budaya perusahaan yang kuat terbentuk.

Masalah utama yang dihadapi banyak perusahaan adalah tidak terpikirkan untuk menginternalisasikan nilai-nilai perusahaan ke dalam jiwa dan karakter karyawannya. Bila nilai-nilai perusahaan sebatas slogan dan pengisi profile perusahaan, tanpa pernah diinternalisasikan, maka nilai-nilai tersebut tidak akan berfungsi dan bermakna apa-apa. Nilai-nilai akan menjadi budaya kalau sudah diinternalisasikan dan menjadi nyata dalam organisasi.

Keberadaan nilai-nilai inti perusahaan mendorong karyawan dan pimpinan untuk menjalankan perusahaan dan bisnis secara profesional. Intinya, nilai-nilai mendorong orang-orang untuk berbisnis dan bekerja sesuai nilai-nilai, bukan mendorong bisnis. Jadi, internalisasi nilai-nilai harus menghasilkan sikap dan perilaku kerja seperti yang dimaksudkan oleh nilai-nilai tersebut.

Nilai sebagai budaya yang diinginkan dimulai dari rasa tanggung jawab pemilik perusahaan, manajemen, dan karyawan untuk bekerja dalam budaya kuat. Rasa tanggung jawab untuk membangun budaya perusahaan yang kuat dan positif haruslah diperlihatkan dengan sikap, perilaku, karakter, dan kebiasaan kerja. Diperlukan kekuatan moralitas, integritas, dan etika dalam memaknai nilai-nilai perusahaan. Jadi, apapun nilai yang dipilih perusahaan sebagai nilai-nilai intinya, maka seluruh nilai pilihan tersebut wajib mengandung makna moralitas, integritas, dan etika sehingga dapat diuraikan tentang apa yang boleh oleh nilai tersebut, dan apa yang tidak boleh. Disamping itu, nilai-nilai harus bisa menggambarkan tentang pembentukan masa depan yang lebih baik. Setiap individu di perusahaan harus mampu meningkatkan semangat kolaborasi, membangun kehidupan nyata bersama nilai-nilai tersebut, menjadi bertanggung jawab dan selalu berkomitmen untuk berperilaku seperti yang dikehendaki oleh nilai-nilai inti perusahaan.

Nilai-nilai perusahaan layaknya sebuah kendaraan yang siap mengantar setiap orang menuju tujuan. Nilai-nilai harus mampu mengkomunikasikan visi, sehingga setiap orang di dalam perusahaan dengan mudah bergerak menuju visi. Nilai-nilai harus mampu memproyeksikan ke masa depan, dan menggambarkan bagaimana setiap orang dapat bergerak menuju masa depan dengan kreatif dan produktif.

Nilai-nilai memberikan perilaku yang keluar dari hati nurani untuk menciptakan budaya kerja sesuai perintah nilai-nilai tersebut. Selain perilaku, nilai-nilai juga memberikan panduan untuk menciptakan etos kerja.

Budaya organisasi yang kuat menghasilkan tata kelola terbaik yang sederhana, efisien, efektif, murah, bebas stres, bahagia, dan berkembang. Nilai-nilai yang sudah terinternalisasi akan membentuk budaya yang kuat, lalu memberdayakan setiap individu di tempat kerja untuk bergerak selangkah demi selangkah menuju masa depan yang kaya kinerja.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

INTERNALISASI NILAI-NILAI ORGANISASI DAN MAKNA BEKERJA

CORE VALUES 07022016“Jangan biarkan nilai-nilai organisasi tidur dan diam, bangunkan mereka dan transformasikan menjadi etos kerja.”~Djajendra

Membangun budaya kerja yang kuat harus melalui fondasi pedoman nilai-nilai budaya organisasi yang selaras dengan strategi organisasi. Nilai-nilai organisasi memberi arti dan kesadaran yang tinggi terhadap pekerjaan dan tanggung jawab. Nilai-nilai organisasi menjadi bagian dari jiwa dan pikiran kreatif yang menciptakan pola kerja produktif. Nilai-nilai organisasi dirancang untuk menjadi perilaku, sikap, karakter, kebiasaan, dan cara bertindak di tempat kerja. Nilai-nilai organisasi merupakan alat untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas di semua aspek pekerjaan. Nilai-nilai organisasi harus selalu dibicarakan dan dikaji secara ilmiah untuk menghasilkan perilaku kerja sesuai kebutuhan strategi organisasi.

Budaya kerja yang kuat menghasilkan sikap dan perilaku yang tepat untuk mengeksekusi pekerjaan sesuai strategi. Nilai-nilai sebagai pilar utama budaya kerja menghasilkan sifat dan kebiasaan produktif, baik dalam kelompok maupun individu, untuk menuntaskan pekerjaan sehari-hari dengan kinerja tinggi. Nilai-nilai organisasi merupakan fondasi untuk mengembangkan sumber daya manusia menjadi andal, proses kerja yang efektif dan produktif, dan pencapaian hasil kerja yang lebih baik.

Nilai-nilai organisasi sangat berfungsi untuk melemahkan budaya di luar budaya organisasi (sub culture) dan menguatkan budaya organisasi. Sumber daya manusia organisasi selalu berasal dari berbagai latar belakang atau beragam budaya, hanya nilai-nilai organisasi yang dapat menyatukan dan menghubungkan mereka di tempat kerja. Mengingat sub culture yang kuat bisa melemahkan budaya organisasi, maka diperlukan proses internalisasi nilai-nilai organisasi secara terus-menerus dan berkelanjutan. Diperlukan disiplin dan tanggung jawab untuk memaknai dan menjalankan nilai-nilai organisasi secara benar dan tepat.

Nilai-nilai organisasi membangun kesadaran bersama untuk memiliki sifat, perilaku, peran, pelayanan, komunikasi, dan kontribusi kepada organisasi dan stakeholder dalam satu persepsi dan satu keyakinan. Organisasi yang memiliki budaya kerja kuat akan mencapai kinerja terbaik. Hal ini dikarenakan, para insan organisasi memiliki etos kerja yang tepat dan memahami pekerjaan mereka dari hati. Mereka juga secara otomatis memiliki tanggung jawab moral atas apa yang harus dikerjakan di tempat kerja, serta bagaimana cara menyelesaikan pekerjaan dengan berkualitas dan rendah risiko.

Nilai-nilai dipilih untuk tujuan menciptakan karakter kerja dan perilaku kerja yang tepat dalam mencapai visi organisasi. Dalam proses internalisasi, nilai-nilai organisasi ditanam ke dalam mindset melalui pembentukan keyakinan, sehingga setiap orang di tempat kerja dapat meyakini kebenaran dari nilai-nilai organisasi, yang dijadikan perilaku sehari-hari di tempat kerja.

Internalisasi nilai-nilai organisasi menciptakan makna bekerja. Kalau setiap pekerja sudah memahami apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan di setiap proses kerja, maka mereka akan menjadi energi positif untuk penguatan budaya organisasi.

Proses internalisasi harus menempatkan nilai-nilai organisasi sebagai pedoman perilaku di tempat kerja. Pedoman perilaku ini harus dapat menggerakan hati nurani setiap individu di tempat kerja untuk hadir ke kantor secara jiwa, fisik, dan pikiran. Lalu, menjadi pribadi yang memberi makna bekerja sesuai nilai-nilai organisasi di setiap proses kerja. Nilai-nilai organisasi harus dijadikan kekuatan untuk memfokuskan energi, potensi, kemampuan, dan keandalan dalam mencapai kinerja tertinggi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGINTERNALISASI CORE VALUES PERUSAHAAN MENJADI PERILAKU DAN KARAKTER KERJA

CORE VALUES 02022016

“Core values bersumber dari kata-kata sederhana untuk mengungkapkan perilaku kerja yang selaras dengan strategi organisasi, dan sebagai alat terbaik untuk mengelola orang.”~Djajendra

Core values atau nilai-nilai inti perusahaan dimaksud untuk membentuk perilaku dan karakter kerja yang selaras dengan strategi perusahaan. Core values yang terinternalisasi dengan baik akan menjadi pilar utama dalam pembentukan budaya organisasi yang kuat. Ketika core values sudah menjadi pilar utama budaya organisasi, maka dia akan mempersatukan cara kerja insan perusahaan, untuk secara solid merealisasikan tujuan dan visi perusahaan.

Core values perusahaan mendefinisikan budaya perusahaan untuk digunakan oleh semua pegawai dalam pencapaian kinerja terbaik secara konsisten. Core values harus diimplementasikan ke dalam tata kelola agar bisa menjadi bahasa tindakan. Bila core values sudah dipahami oleh pegawai dalam bahasa tindakan, maka tinggal menciptakan perilaku kerja berdasarkan core values tersebut. Penciptaan perilaku kerja berdasarkan core values haruslah melalui proses penanaman core values ke dalam mental, jiwa, emosi, dan pikiran. Diperlukan doktrin yang kuat agar core values diterima oleh akal sehat. Bila secara akal sehat core values sudah masuk ke dalam hati nurani, dan sudah terpola di dalam pikiran bahwa sadar, maka core values perusahaan akan bertransformasi menjadi perilaku kerja. Kondisi ini menciptakan budaya kerja yang sesuai dengan core values perusahaan.

Internalisasi core values perusahaan bertujuan untuk membangun budaya positif yang kuat. Core values pastinya sudah dipilih dan diperhitungkan dengan sebaik mungkin, untuk mendorong strategi perusahaan agar mudah dieksekusi dengan perilaku dan tindakan sesuai core values. Core values adalah bagian dari strategi untuk memberdayakan dan mengoptimalkan potensi pegawai. Perusahaan harus mampu merubah core values dari bahasa slogan menjadi bahasa perilaku. Dalam hal ini, moralitas dan etika menjadi fondasi untuk memaknai core values. Bila moralitas dan etika sudah kuat, maka integritas pribadi akan tumbuh untuk menjalankan core values dengan sepenuh hati. Akhirnya, core values mampu mendorong pegawai untuk memiliki etos kerja sesuai nilai-nilai tersebut.

Internalisasi core values bermaksud membangun hubungan emosional antara pegawai dengan setiap nilai inti. Pegawai yang mampu memahami core values pada tingkat yang mendalam, secara emosional, akan mendapatkan pencerahan, dan pada akhirnya mempromosikan budaya kerja sesuai nilai-nilai organisasi. Dalam proses internalisasi perlu dibangun kesadaran bahwa pelanggaran terhadap nilai-nilai organisasi merupakan tindakan tidak disiplin.

Core values sangat diperlukan sebagai panduan berpikir dan bersikap tentang masa depan perusahaan. Ketaatan dan kepatuhan terhadap core values memudahkan pegawai untuk menjadi produktif pada hari ini, dan untuk melangkah dengan penuh percaya diri menuju rencana jangka panjang. Bila core values sudah terinternalisasi ke dalam diri pegawai dan sudah terimplementasi di dalam mekanisme kerja organisasi, maka terciptalah budaya kerja yang lebih positif di tempat kerja. Suasana kerja akan menunjukkan loyalitas yang tinggi, hubungan sosial yang lebih positif, masing-masing pihak akan menunjukkan empati di setiap proses kerja, saling membantu dan berkolaborasi dengan baik, dan dari waktu ke waktu produktivitas akan meningkat. Intinya, core values yang terinternalisasi dengan baik akan menciptakan budaya kerja yang positif dan yang lebih produktif.

Core values merupakan alat terbaik untuk mengelola orang. Manajemen yang mempekerjakan pegawai yang taat dan tercerahkan oleh core values selalu memanen kinerja terbaik. Apalagi, bila manajemen mampu mengelola mereka dengan baik, mereka akan semakin setia bersama perusahaan dan menunjukkan dedikasi yang tinggi. Selain itu, core values yang terinternalisasi dapat berfungsi sebagai sistem untuk membuat pegawai patuh pada aturan, serta terjaga dari perbuatan tidak etis.

Perlu secara terus-menerus dan berkelanjutan membahas dan menafsirkan core values perusahaan dengan semua tingkatan pegawai. Semakin tercerahkan dan terinternalisasi core values sebagai ideologi dan sistem keyakinan di dalam perusahaan, semakin solid dan andal para pegawai dalam mensukseskan strategi dan visi perusahaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PENYEBAB RUSAKNYA BUDAYA PERUSAHAAN

CORPORATE CULTURE 31012016“Ketika semakin banyak orang lebih mengkhawatirkan dirinya daripada perusahaannya, maka budaya perusahaan semakin hari semakin tak berdaya untuk menjaga keunggulan.”~Djajendra

Sikap tidak peduli dan masa bodoh dengan keadaan tidak baik di dalam perusahaan menjadi penyebab utama rusaknya budaya perusahaan. Kebanyakan pegawai tidak ingin terlibat dalam urusan orang lain, mereka sering sekali berpura-pura tidak tahu, atau berpura-pura tidak melihat kejadian-kejadian yang merugikan perusahaan. Mereka takut dibenci ataupun dimusuhi oleh para perusak budaya perusahaan.

Mungkin saja secara normatif perusahaan sudah membangun sistem dan tata kelola yang terbaik untuk memperkuat budaya perusahaan, tetapi perilaku dan sikap negatif dapat merusak budaya perusahaan. Perilaku dan sikap negatif ini bisa datang dari para eksekutif puncak ataupun dari pegawai dilevel tengah dan bawah. Intinya, sumber kerusakan budaya perusahaan bisa muncul dari mana saja; bisa dari atas, bawah, ataupun tengah. Apalagi bila semua orang membisu dan tidak peduli dengan realitas buruk di tempat kerja, serta membiarkan hal-hal buruk sebagai sebuah kenyataan yang harus diterima, maka kerusakan budaya perusahaan tak terhentikan lagi, akan semakin rusak dan melemahkan perusahaan.

Dalam budaya organisasi yang kuat, orang-orang berani mengatakan kebenaran dan berani menunjukkan yang salah. Sebaliknya, dalam budaya organisasi yang lemah, orang-orang takut berbicara, takut berdebat, takut menyinggung perasaan orang lain, selalu merasa tidak enak untuk melaporkan orang-orang yang merusak budaya perusahaan, serta selalu ragu-ragu dan bersikap tidak mau ikut campur dalam urusan dan perilaku orang lain.

Pada umumnya, orang takut untuk berbicara tentang siapa yang merusak dan apa yang rusak di dalam perusahaan. Bila atasan menjadi sumber perusak budaya, maka pegawai akan menganggap ini hanya pekerjaan dan bukan perusahaannya, sehingga dia lebih memilih menjadi bagian dari atasannya daripada menjadi tulang punggung penguatan budaya perusahaan. Sebab, dia sadar bahwa bila memberitahu atasan tentang kekeliruan atasannya, dia pasti dipecat atau disingkirkan oleh atasannya. Jadi, karena takut dipecat dan disingkirkan, dia pun diam saja dan tidak peduli dengan rusaknya budaya perusahaan.

Diperlukan jiwa besar dari para eksekutif perusahaan, untuk membiarkan orang lain memberitahukan kepada mereka tentang sikap dan perilaku mereka, yang berpotensi merusak budaya perusahaan. Bila para eksekutif tidak memiliki jiwa besar dan tidak berniat menguatkan budaya perusahaan, maka mereka akan menjadi orang-orang yang paling menakutkan, sehingga kebenaran tidak akan pernah muncul untuk memperbaiki kerusakan budaya perusahaan.

Ketika orang-orang di tempat kerja memposisikan dirinya sebagai pekerja, dan tidak merasa memiliki perusahaan, maka tanggung jawab untuk mengambil tindakan penguatan budaya perusahaan akan hilang. Mereka menjadi pribadi yang tidak bisa mengatakan kebenaran, dan bekerja hanya untuk tujuan memenuhi kebutuhan keuangan bulanan mereka, bukan untuk pencapaian kinerja terbaik.

Dalam budaya perusahaan yang lemah semua orang merasa takut di dalam keterbatasan. Sikap proaktif hilang. Keberanian hilang. Rasa takut selalu menguat dan menghilangkan kepercayaan diri. Tidak ada orang yang berani mengambil kendali, semuanya hanya berani saling melihat, tanpa memiliki sikap yang jelas dan tegas. Semua pegawai lebih suka menjaga diam dan tenang di zona nyaman masing-masing. Mereka hanya berpikir tiap bulan dapat duit untuk memberi makan keluarga dan dirinya. Mereka tidak berpikir tentang masa depan dan keberlanjutan perusahaan. Mereka mencari jalan aman dan tidak mau terlibat dalam menyalahkan atau menghakimi siapapun, mereka takut dibenci dan dimusuhi.

Sikap jinak dan patuh terhadap proses pelemahan budaya perusahaan menjadi penyebab utama runtuhnya sebuah perusahaan. Ketika semakin banyak orang lebih mengkhawatirkan dirinya daripada perusahaannya, maka budaya perusahaan semakin hari semakin tak berdaya untuk menjaga keunggulan perusahaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BUDAYA ORGANISASI MENJADI SUMBER KEUNGGULAN KOMPETITIF

MOTIVATOR DJAJENDRA 01122015

Sudahkah perusahaan Anda berinvestasi untuk membangun budaya organisasi yang kuat dan unggul? Sudahkah manajemen Anda menghidupkan nilai-nilai perusahaan (corporate values) menjadi perilaku kerja yang andal? Semoga saja sudah.

Budaya perusahaan yang kuat meningkatkan pendapatan dan menciptakan efisiensi. Budaya perusahaan yang kuat merupakan sumber keunggulan kompetitif yang abadi dan andal. Budaya perusahaan yang kuat menciptakan perilaku kerja yang jujur, terbuka, dan bertanggung jawab.

Salah satu ciri budaya kuat adalah soliditas bersama yang kuat dalam mencapai kinerja tinggi. Dalam budaya kuat, setiap orang memiliki kemampuan untuk bekerja dan menghasilkan kualitas terbaik. Etos kerja selalu terhubung melalui visi, strategi, taktik, perilaku, dan keputusan. Setiap orang memiliki perilaku kerja yang kuat berdasarkan standar dan nilai-nilai perusahaan. Setiap orang mampu berkolaborasi dan bergerak bersama dalam irama budaya yang kuat untuk mengeksekusi target. Setiap orang memiliki kesadaran dan sikap rendah hati, untuk meningkatkan ataupun memperbaruhi kompetensi dalam menghadapi realitas dan keadaan di lapangan.

Budaya kuat menghasilkan karakter individu yang bertanggung jawab, jujur, berenergi dalam menuntaskan tugas, loyal, cerdas, kreatif, berintegritas, dan selalu bahagia bersama apa yang sedang dilakukan di tempat kerja.

Fokus pada perubahan dan prioritas yang paling diinginkan oleh manajemen. Lingkungan kerja dalam budaya perusahaan yang kuat mampu melakukan perubahan pada hal-hal yang paling penting, dan juga mampu mencapai keadaan seperti yang diinginkan. Fondasi perilaku dan karakter kerja berdasarkan pada integritas pribadi yang sangat konsisten, sehingga tanggung jawab dan kejujuran untuk membantu tujuan perusahaan dapat dipercaya.

Budaya organisasi yang kuat menjadi sumber keunggulan kompetitif. Kondisi ini terjadi karena setiap orang di dalam budaya kuat mampu menjaga kebersamaan dalam setiap langkah. Mereka bersatu saat menyepakati arah bersama. Mereka membangun fondasi untuk menumbuhkan kejujuran, tanggung jawab, keterbukaan, dan kerja keras bersama. Mereka mampu menumbuhkan dirinya sendiri dan juga menumbuhkan orang lain. Mereka mampu mengatasi keadaan menjadi lebih baik. Mereka mampu meningkatkan dan menghindari pelemahan di aspek kerja manapun. Mereka mampu bekerja sepenuh hati dan menyatu ke dalam visi bisnis. Mereka selalu sadar dan merasa bertanggung jawab untuk memiliki sikap, perilaku, dan kebiasaan untuk membantu perusahaan mencapai tujuan. Perilaku kerja mereka secara otomatis membantu perusahaan untuk membangun budaya kuat.

Untuk pelatihan hubungi www.djajendra-motivator.com

ETOS KERJA DALAM BUDAYA PERUSAHAAN YANG KUAT

“Etos adalah kemampuan seseorang dengan keahliannya yang memiliki kredibilitas dan reputasi andal, sehingga dia mendapatkan kepercayaan penuh dari banyak orang.”~Djajendra

Etos (Ethos) merupakan sebuah kata yang dikenalkan oleh seorang filsuf Yunani kuno bernama Aristoteles. Kata Etos bermakna kepada penampilan karakter diri yang selaras dengan etika, kredibilitas, kepercayaan, keunikan, kewenangan, pengalaman, wawasan, pengetahuan, kemampuan, keandalan, integritas, akuntabilitas,  serta sikap dan perilaku yang dipercaya sepenuhnya oleh orang lain. Intinya, seseorang yang memiliki etos dianggap terpercaya dan mampu melakukan pekerjaannya dengan andal dan berkualitas.

Biasanya, di tempat kerja, etos menggambarkan kemampuan seseorang bersama profesi, pekerjaan, dan keahliannya. Sebagai contoh: seorang customer service dipercaya mampu melayani dan membantu pelanggan dengan penuh kualitas. Dalam hal ini, customer service dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, kemampuan, dan kepribadian yang dapat dipercaya dan diyakini untuk melayani beragam karakter dan kebutuhan orang lain dengan sempurna.

Etos tidak tergantung kepada tingginya pendidikan seseorang, atau banyaknya gelar akademis yang dimiliki seseorang. Etos adalah tentang kemampuan bertindak, mengeksekusi, melakukan, menghasilkan yang terbaik, dan kerja lapangan yang penuh kualitas. Etos adalah tentang karakter diri yang hebat, andal, berkualitas, produktif, berkinerja, dan selalu bergembira dengan pekerjaannya di wilayah tindakan.

Dalam budaya organisasi yang kuat; etos dihasilkan dari konsep budaya yang dilembagakan oleh perusahaan melalui nilai-nilai, keyakinan, tata kelola, moral, sistem, prosedur, aturan, kepemimpinan, visi, misi, kemampuan, pengalaman, standar, pengetahuan, dan perilaku kerja. Hasil akhirnya, etos muncul sebagai gaya kerja, kebiasaan kerja, pola kerja, karakter kerja, motivasi kerja. Di mana, etos menjadi seperti sebuah kepribadian kerja perusahaan yang diwakili oleh setiap insan perusahaan dengan sepenuh hati. Jadi, etos menghasilkan gambaran ataupun model karyawan yang diimpikan oleh perusahaan untuk membantu rutinitas dan mewujudkan visi.

Karyawan dengan etos kerja profesional berarti sedang menyajikan dirinya sendiri kepada stakeholders sebagai pribadi kredibel, dapat dipercaya, jujur, bertanggung jawab, andal, etis, produktif, berkinerja dan berkualitas. Perlu diingat bahwa seseorang yang memiliki etos kerja profesional berarti dia adalah sumber yang dapat dipercaya. Etos adalah kesempurnaan kredibilitas yang dirasakan oleh stakeholders. Etos adalah tentang kesempurnaan kredibilitas dalam menjalankan etika bisnis dan kode etik kerja perusahaan.

Mengutip kata-kata Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pudjiastuti dari sebuah koran nasional,”Cari pekerjaan yang Anda suka, berkarier dengan gembira. Kalau Anda gembira, tenaga Anda besar. Kalau tenaga dan energi Anda besar, niat mengubah juga besar. Kegembiraan adalah energi. Energi adalah keberhasilan.” Kata-kata dari Ibu menteri asal Pangandaraan, Jawa Barat ini, merupakan sebuah ekspresi tentang cara membangun etos pribadi yang andal dan profesional. Intinya, kalau Anda gembira dengan pekerjaan Anda, dan Anda ahli dibidang Anda, maka Anda memiliki energi yang luar biasa untuk menghasilkan kinerja melampaui target.

Etos kerja dalam budaya perusahaan yang kuat menciptakan roh kerja untuk mengasilkan kinerja yang luar biasa. Dari pengalaman dan pengamatan penulis, dalam budaya perusahaan yang kuat, setiap insan perusahaan memiliki derajat komitmen kerja yang sangat tinggi. Mereka membangun rasa saling percaya yang sangat tinggi, meningkatkan kualitas moral kerja, serta jiwa yang ikhlas berkorban demi pencapaian visi dan tujuan perusahaan.

Faktor-faktor yang memperkuat etos karyawan dalam budaya perusahaan yang kuat adalah moral, komitmen tanpa pamrih, setia tanpa pamrih, keberanian, keikhlasan, disiplin, integritas, kepemimpinan diri sendiri yang unggul, menghormati orang lain, bertanggung jawab penuh, menjaga kualitas kerja dengan mematuhi standar operasional kerja, belajar dari pengalaman, rendah hati, mengembangkan kualitas diri dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan, hormat dan mematuhi nilai dan standar kerja dari perusahaan, patuh pada struktur dan rantai komandonya, berjiwa kesatria, bermental baja, dan selalu bekerja dalam kesadaran tertinggi.

Etos kerja tidaklah dapat dibangun dalam semalam, tetapi merupakan pekerjaan bersama seumur hidup. Kesadaran dan kecerdasan bersama di internal perusahaan memudahkan pembentukan etos kerja yang andal, dan sekaligus budaya perusahaan yang kuat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com