“Semua Orang Membutuhkan Cinta Sebagai Nilai Kehidupan Untuk Diberi Dan Untuk Diterima.” – Djajendra
Sifat dasar manusia adalah ingin dicintai dan ingin diperhatikan. Bila cinta dan perhatian tidak didapatkan, maka diri akan merasakan adanya ketidakpastian di dalam hidupnya.
Setiap orang pasti ingin menjadi bagian terpenting di tempat kerja, dan menjadi orang yang diterima dengan penuh kepercayaan oleh orang-orang lain.
Beberapa waktu yang lalu, saya menerima sebuah pernyataan dari seorang karyawan, yang merasa sudah tidak sanggup lagi menyerap omelan kebencian dari manajernya.
“Sepertinya sudah sangat rutin aku harus menerima kemarahan, kebencian, dan rasa malu oleh sikap atasan saya yang tak suka kepada cara kerjaku.” Kata karyawan itu.
Sejenak saya merenungkan dan membaca berulang-ulang untuk memahami persoalan dari karyawan tersebut.
Akhirnya, melalui energi empati, saya mencoba memahami kemarahan, kebencian, dan rasa malu yang harus diterima oleh karyawan tersebut secara rutin dari manajernya.
Saya dapat membayangkan sikap tidak baik dari manajer tersebut pasti akan membuat karyawan itu terluka, ketakutan, kesedihan, dan kehilangan rasa percaya diri. Dan saya percaya bahwa tidak satupun dari energi negatif yang dihasilkan melalui kata-kata berenergi negatif akan terasa nyaman dan enak di perasaan dan pikiran.
Harga diri yang terinjak oleh kekuasaan dan kesewenangan telah membuat karyawan itu merasa malu dengan dirinya di tempat kerja, perasaan malu itu telah melemahkan motivasi dirinya untuk menjadi lebih baik.
Seorang manajer boleh-boleh saja menegor karyawan yang kurang bertanggung jawab. Tapi, bila mempermalukan dan menyakiti perasaan karyawan secara rutin, maka manajer akan kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan bakat dan potensi hebat dari karyawan tersebut. Oleh karena itu, manajer yang hebat selalu berempati dan cerdas untuk merangkul hati para karyawannya buat menghasilkan kinerja terbaik.
Menciptakan situasi kehidupan kerja yang memalukan karyawan adalah perbuatan yang paling tidak cerdas. Keberadaan para karyawan di tempat kerja adalah untuk membantu perusahaan dan manajer, agar tujuan dan rencana kerja dapat terselesaikan sesuai harapan.
Bila karyawan sudah merasa terluka di tempat kerja, maka mereka akan bekerja dengan perasaan hampa sambil bersembunyi dibalik kebutuhan hidup. Mereka tidak akan pernah mau ikhlas apalagi tulus bekerja buat kemajuan perusahaan.
Karena karyawan adalah manusia, dan manusia tidak pernah sempurna. Jadi, tugas manajerlah sebagai pimpinan yang harus menyempurnakan semua kekurangan dan kelemahan dari karyawan, melalui cinta dan kepedulian, bukan melalui marah dan kebencian.
DJAJENDRA