SIKAP TIDAK SUKA DENGAN REKAN KERJA MERUGIKAN DIRI SENDIRI

DJAJENDRASIKAP TIDAK SUKA DENGAN REKAN KERJA MERUGIKAN DIRI SENDIRI

“Hubungan kerja yang tidak nyaman bukanlah untuk dikeluh-kesahkan, tapi untuk dipahami dengan empati dan toleransi, agar keluh-kesah Anda itu tidak menjadi energi negatif yang menurunkan kinerja dan kualitas kerja.” ~ Djajendra

Di tempat kerja selalu saja ada karyawan yang merasa frustasi dan mengalami stres, karena dirinya harus melayani dan bekerja dengan orang yang tidak disukai. Sikap tidak suka pasti akan meningkatkan energi negatif dan mengurangi produktivitas. Sikap tidak suka pasti akan membuang-buang waktu dan energi. Sikap tidak suka akan membuat diri sulit bekerja sama dengan sepenuh hati.

Dalam sebuah unit kerja atau tim, pimpinan pasti akan menempatkan beberapa orang untuk saling bekerja sama dalam menghasilkan output kerja. Seorang supervisor pasti akan dipasangkan dengan beberapa orang staf, sebab tidak mungkin dia dapat bekerja sendiri, tanpa dibantu dengan yang lain. Orang-orang yang dipasangkan tersebut pasti harus memiliki keahlian yang sangat penting untuk pencapaian kinerja dan kualitas.  Di sinilah diperlukan kecerdasan emosional untuk saling bekerja sama dan melengkapi satu sama lain, agar dapat dihasilkan kualitas atau output sesuai harapan.

Ketika seseorang bekerja dengan sikap tidak suka kepada kepribadian orang lain, maka dirinya akan terjebak dalam permainan emosi dan pikiran negatif. Akhirnya, emosi dan pikiran negatif tersebut akan menguras energi, dan membuat orang tersebut terperangkap dalam zona stres, yang berpotensi mengurangi produktivitas dan kontribusi dirinya kepada unit kerjanya.

Sikap positif akan meningkatkan hubungan kerja. Jiwa besar dalam kekuatan empati dan toleransi di tempat kerja, berpotensi menghasilkan sikap suka dan saling mendukung. Bila diri sudah mampu fokus pada pekerjaan secara objektif dan profesional, tanpa melibatkan diri ke dalam realitas kepribadian seseorang, maka pikiran jernih dan mental positif akan menjadi modal untuk menghasilkan kinerja, prestasi, dan kualitas kerja.

Kecerdasan emosi dari seorang pimpinan menjadi syarat penting untuk menciptakan keharmonisan di unit kerja. Bila seorang pimpinan, baik itu manajer ataupun supervisor, yang bertanggung jawab terhadap sebuah tim atau unit kerja, memiliki kecerdasan emosi, maka dirinya dapat menjadi pribadi yang memahami mengapa staf-stafnya berperilaku dengan cara yang mereka lakukan. Kemudian, sebagai pimpinan dirinya memiliki kekuasaan dan otoritas atas staf-stafnya. Hal ini akan membuat dirinya mudah untuk dapat menemukan waktu yang tepat, berbicara kepada masing-masing staf secara pribadi, mempertegas kebutuhan unit kerja, serta melakukan pembinaan untuk membantu staf, agar berubah perilaku dan memiliki tanggung jawab moral atas pekerjaan. Dalam hal ini, pimpinan juga harus cerdas memberikan pengaruh positif kepada staf dengan cara pencerahan dan kesadaran, agar setiap staf dapat memiliki perilaku kerja sesuai dengan kebutuhan unit kerja.

Sikap tidak suka selalu bersumber dari ketidakmampuan diri untuk menyukai perbedaan. Biasanya dalam pergaulan kerja, karyawan  yang bekerja berasal dari berbagai latar belakang dan nilai-nilai kehidupan yang berbeda. Saat seorang karyawan tidak cerdas emosi, perbedaan yang seharusnya merupakan hal yang normal, namun karena emosinya tidak cerdas, dia akan kehilangan akal sehat untuk bergaul dengan semua perbedaan dan keragaman. Di sinilah peran kepemimpinan sebagai pemersatu setiap perbedaan harus  menampilkan kearifan dan kebijaksanaan. Pemimpin pasti tahu bahwa semua orang sering kali hadir dengan memiliki nilai kerja dan kebiasaan yang berbeda, dan kadang-kadang bisa berbenturan, terutama ketika mereka yang berbeda itu harus saling melengkapi dalam sebuah sinergi dan kolaborasi kerja.

Sikap tidak suka dengan rekan kerja akan merugikan diri sendiri. Bila Anda selalu merasakan jengkel dengan perilaku rekan kerja, maka Anda harus interospeksi diri sendiri, lalu menemukan hal-hal positif daripada berusaha untuk menemukan sebanyak mungkin hal-hal yang menjengkelkan dari rekan kerja Anda. Saat Anda sudah terlatih dengan emosi cerdas, maka saat itu Anda tidak akan menciptakan persepsi negatif tentang rekan kerja Anda, dan Anda juga akan menjauh dari perasaan jengkel terhadap rekan kerja.

Budaya organisasi yang kuat selalu mampu menghadirkan lingkungan kerja yang membuat semua orang akrab bekerja dalam kolaborasi. Walaupun sikap suka dan tidak suka merupakan urusan pribadi, tapi di tempat kerja sikap suka dan tidak suka sangat mempengaruhi kinerja dan moral kerja. Setiap orang di dalam organisasi haruslah saling terhubungkan dalam perilaku yang saling memahami dan menghormati. Budaya organisasi dan kepemimpinan harus menjadi kekuatan yang mengelola setiap orang untuk saling berkontribusi dan melayani, dan juga saling memberikan umpan balik yang terukur dalam mencapai kinerja dan prestasi yang lebih baik.  

Hindarkan diri dari godaan untuk saling berbagi ketidaksukaan. Sebab, saat Anda dengan rekan-rekan menghabiskan waktu untuk membedah kelemahan kepribadian orang lain, maka saat itu gosip akan menurunkan moral kerja. Sangatlah bijak bila setiap orang dengan kesadaran diri sendiri mampu menjaga ucapan, emosi, dan pikiran yang tidak menghakimi atau menilai orang lain dengan cara berpikir masing-masing. Perlu diingat bahwa bergosip dapat merusak moral, dan sikap menghakimi kekurangan orang lain dapat mempengaruhi kebahagiaan diri sendiri. Semakin sering seseorang menceritakan kekurangan orang lain, maka semakin cepat dirinya akan dikuasai energi negatif, dan membuat dirinya tidak nyaman dan bahagia dengan realitas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com