MANAJEMEN KRISIS

“Alat Yang Paling Penting Untuk Mengatasi Krisis Adalah Kepercayaan Diri Dan Keyakinan Diri Untuk Memulihkan Krisis Dari Kuantitas Krisis Yang Ada.” – Djajendra

Pasti tidak ada perusahaan yang pernah mengharapkan harus berhadapan dengan krisis. Tetapi, krisis adalah peristiwa yang dapat hadir kapan saja untuk membuat kacau semua perencanaan yang ada.

Krisis adalah situasi yang telah mencapai titik yang sangat sulit atau berbahaya. Sehingga, harus ditangani dan dikelola melalui rencana yang tepat, agar krisis tersebut dapat dipulihkan kembali ke situasi normal.

Beberapa waktu yang lalu saya diundang oleh sebuah perusahaan yang sedang mengalami krisis sumber daya manusia. Sebagian besar karyawannya berhenti serentak dan pindah kerja ke tempat pesaing.

Kondisi ini menciptakan kepanikan yang luar biasa di internal perusahaan. Karena, para karyawan yang telah terlatih dan sangat berpengalaman selama puluhan tahun bersama perusahaan, telah membelot untuk bergabung dengan pesaing. Semua upaya dan usaha perusahaan untuk menangani krisis sumber daya manusia ini gagal. Dan hal ini, menyebabkan krisis pelayanan perusahaan kepada pelanggan.

Pimpinan perusahaan berteriak-teriak tentang etika dan loyalitas yang rendah dari para karyawan. Dan dalam hati, saya berpikir, bukankah seharusnya sejak dini perusahaan harus secara terus-menerus melatih loyalitas dan perilaku etis karyawan dalam pengabdiannya kepada perusahaan. Bila perusahaan terlalu berhitung untuk mengembangkan kualitas loyalitas, integritas, etika, dan kecerdasan emosional untuk mencintai perusahaan; maka janganlah heran bila perilaku membelot secara tiba-tiba akan dianggap biasa saja oleh para karyawan.

Akibat keluarnya sebagian besar karyawan dari perusahaan tersebut, maka perusahaan harus mengeluarkan biaya tak terduga yang sangat besar untuk menangani krisis sumber daya manusia. Apalagi, mencetak karyawan berkualitas tidaklah mudah dan tidaklah bisa dilakukan dalam satu atau dua tahun. Selain mahal biaya pelatihannya, dan juga perlu waktu untuk membiasakan karyawan baru beradaptasi dengan budaya perusahaan dan perilaku kerja di perusahaan.

Dalam jangka pendek perusahaan harus mengembangkan rencana manajemen krisis yang tepat sasaran, agar dapat mengatasi keadaan darurat di perusahaan. Paling tidak hal-hal seperti menjaga kualitas pelayanan, menjaga minimal kesalahan karyawan dalam operasional, menjaga kewajiban atas kualitas produk, serta menjaga agar tidak muncul kesalahpahaman dalam komunikasi  dengan stakeholder; merupakan hal-hal yang harus diprioritaskan dalam keadaan darurat bersama manajemen krisis yang baik.

Bila krisis telah terjadi, maka seharusnya pimpinan perusahaan tidak perlu panik dan mencari kambing hitam atas keadaan. Tapi, mulai bekerja dengan penuh ketenangan dalam kecerdasan emosional, untuk menemukan fakta-fakta kunci penyebab krisis yang sedang dihadapi. Lalu, membuat perencanaan recovery yang cerdas, serta bereaksi dengan urgensi untuk secepatnya keluar dari badai krisis.

Hal terpenting dalam menyelesaikan krisis adalah tidak membohongi diri sendiri, dengan membenarkan perilaku dan keputusan diri yang keliru. Saat krisis sudah menguras energi perusahaan, maka secepatnya buatlah keputusan cerdas, lalu investasikan waktu dan sumber daya untuk mengembangkan rencana manajemen krisis.

Pimpinan perusahaan bersama manajemen perusahaan harus memiliki keputusan dan jawaban yang tepat untuk mengatasi krisis. Lalu, bersikap jujur, berpegang pada fakta, dan tidak menambah persoalan krisis dengan menebak atau berspekulasi.

DJAJENDRA

Discover more from MOTIVASI DJAJENDRA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading