INTEGRITAS BERSUMBER DARI KESADARAN JIWA SEJATI

“Seseorang memiliki integritas ketika ia memiliki iman penuh dan menyerah sepenuhnya kepada Tuhan, ia bebas dari kekhawatiran dan kesulitan. Ia menjalani kehidupan yang penuh sukacita di jalan kehendak Tuhan.”~Djajendra

Integritas adalah kekayaan tertinggi untuk merasakan kehidupan yang damai, tenang, bahagia, dan penuh sukacita. Sumber integritas adalah dari jiwa sejati yang asli; bukan dari pikiran, keinginan, memori, emosi, kecerdasan, egois, dan akal sehat. Dimulai dari niat yang timbul dari kesadaran diri sejati, kemudian dilanjutkan dengan perjuangan dan kerja keras untuk menjadi pribadi yang sepenuhnya menerima kehidupan di jalan yang etis dan penuh rasa syukur.

Integritas pribadi seseorang tidak pernah menilai, menghakimi, atau pun menciptakan kebenaran menurut versinya. Integritas artinya secara totalitas menerima kehidupan apa pun yang diberikan Tuhan dengan jujur dan penuh rasa syukur, tanpa membandingkan atau mencari keadilan dari pihak lain. Pribadi dengan integritas selalu menikmati kehidupan dari pertumbuhan sifat dan perilaku terpuji yang bersumber dari dalam diri. Jiwa sejatinya mampu mengendalikan pikiran, emosi, kecerdasan, dan memori yang buruk. Fokus hidup hanya dari kesadaran yang menciptakan ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, dan kegembiraan.

Pribadi dengan integritas yang baik sangat taat aturan, hukum, peraturan, kebijakan, dan selalu menghormati hak-hak orang lain dengan sepenuh hati. Tidak pernah ada niat untuk mengambil sesuatu keuntungan dari yang bukan haknya. Pribadi dengan integritas yang tinggi sangat yakin bahwa rejeki, jabatan, kekuasaan, dan kehidupan yang dimiliki semuanya berasal dari Tuhan. Baginya rejeki dalam bentuk ketenangan hidup, kedamaian hidup, kegembiraan hidup, kesehatan, dan sukacita adalah kekayaan yang melebihi kekayaan apa pun. Jadi, dia tidak akan mengorbankan diri hanya untuk mendapatkan sesuatu di jalan usaha yang tidak terpuji. Rasa syukur dan terima kasih dengan kehidupan yang Tuhan hadiahkan kepada dia sudah dirasakan lebih dari cukup.

Integritas membuat seseorang memiliki iman yang tak tergoyahkan, serta tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang menguntungkan keuangan pribadinya, tetapi menghilangkan ketenangan dan kedamaian hidupnya. Integritas membuatnya secara kreatif membangun bakat dan potensi diri untuk meraih prestasi. Semua kesuksesan didapatkan dari pertumbuhan potensi dan bakat yang dia miliki.  

Ketika hasil yang diinginkan tidak terjadi, orang dengan integritas lebih suka puasa prestasi daripada melakukan hal-hal tidak etis untuk prestasi. Jadi, ketika mereka gagal dalam kerja keras dan perjuangannya, mereka yakin bahwa hal terbaik yang sedang terjadi untuk mereka. Oleh karena itu, mereka akan lebih mengoptimalkan upaya dan kerja keras melalui cara-cara yang lebih kreatif untuk hasil terbaik.

Keinginan orang integritas tidak terlalu banyak, mereka hanya ingin tumbuh dari dalam diri sendiri untuk memberikan prestasi kepada dunia. Mereka lebih fokus pada upaya inovatif dan menciptakan hal-hal bermanfaat bagi kemajuan. Kegagalan dan keberhasilan tidak membuat mereka putus asa atau pun tinggi hati. Orang-orang dengan integritas memiliki kondisi iman yang berkualitas tinggi, sehingga selalu rendah hati untuk menjalani kehidupan dengan sukacita total.

Mau mengundang Djajendra untuk Narasumber?

Email: admin@djajendra-motivator.com

MENEMUKAN MAKNA ETIKA

“Setiap momen membuang semua perilaku tidak etis dari kepribadian kita, mengubah semua perilaku tidak etis menjadi perilaku etis dan membawa hidup kita ke jalan kemakmuran.”~Djajendra

Etika tidak sebatas tentang benar dan salah, tetapi merupakan sikap dan kepribadian untuk menghormati jalinan kehidupan yang jujur dan saling bertanggung jawab. Etika dimaksudkan agar semua akar keserakahan, egoisme, kebohongan, niat buruk, perilaku buruk dapat dihilangkan dari kepribadian dan sikap kita. Segala upaya yang mengganggu kejujuran, tanggung jawab, dan niat baik bisa disebut sebagai perbuatan tidak etis. Segala upaya yang merusak tatanan kehidupan sosial untuk menuju kemakmuran dan kesejahteraan di sebut perbuatan tidak etis. Etika mengarahkan setiap orang di jalan keberuntungan menuju kemakmuran, tanpa keserakahan dan egoisme, serta menyingkirkan semua tipu daya dari kehidupan sosial dan pribadi.

Prinsip etika adalah terwujudnya keteraturan dan keseimbangan dalam kehidupan yang dinamis, tidak menjadi kaku, tidak terjebak dalam kepentingan sempit, dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Ini adalah tentang menjadi manusia yang sadar bahwa dirinya hidup di alam semesta yang teratur yang mengalami perubahan tanpa menjadi kacau. Oleh karena itu, kita memiliki kesadaran untuk merawat kehidupan sosial, alam semesta, dan diri sendiri dengan perbuatan baik. Kita tidak mau melakukan kerusakan atau menghilangkan keseimbangan dalam diri kita sendiri; dalam kehidupan sosial kita; termasuk merawat sikap etis kita terhadap alam semesta yang merupakan rumah kita bersama.

Etika memberikan energi baik untuk membangun kesopanan dalam kehidupan sosial. Etika menciptakan kepribadian positif yang memiliki energi harmoni dalam tindakan di ruang sosial. Etika menciptakan kepribadian positif yang secara konsisten mengucapkan kebenaran dan kebaikan; menjadi energi positif untuk keadilan, ketertiban, kedamaian, dan keindahan dalam kehidupan bersama. Sikap dan perilaku berpusat pada etika, hati nurani sangat aktif membangun jiwa yang positif untuk secara konsisten menjalankan etika di semua bagian kehidupan. Pikiran, emosi, dan ego disatukan dalam jiwa yang positif untuk melakukan tindakan yang etis dan benar.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Dalam hal ini, etika harus dipahami sebagai ‘tindakan benar’ yang berdasarkan bahwa setiap individu; siapa pun dia; berhak untuk hidup makmur, sejahtera, bahagia, adil, gembira, sukacita, merasakan cinta dan kepedulian, serta mendapatkan kedamaian dalam kehidupan sosial. Etika adalah musuh utama dari diskriminasi, ketidakadilan, egoisme, keserakahan, dan monopoli kebenaran.

Etika menempatkan kejujuran, integritas, tanggung jawab, sopan-santun, dan niat baik sebagai tempat memulai semua tindakan kita. Dalam hal ini, tindakan etis dari setiap individu disatukan untuk membangun energi positif yang kuat, sehingga mampu menciptakan jalan keberuntungan bagi siapa pun, untuk menikmati kemakmuran dan kesejahteraan. Etika bertujuan untuk mengaktifkan proses kebaikan di antara para penghuni bumi, sehingga setiap orang mampu merasakan keindahan dan mengalami kemakmuran yang berlimpah dari bumi kita yang kaya raya ini. Selain itu, etika memberikan ketenangan pikiran yang luar biasa, sehingga kesadaran untuk menegakkan integritas dalam jalinan kehidupan bersama muncul dari hati nurani. Hati nurani yang kuat dengan etika mampu melakukan hal-hal terbaik untuk kehidupan yang sejahtera, serta merawat kemakmuran bagi setiap individu dalam ruang kehidupan yang damai dan indah.

Untuk mengundang Djajendra hubungi: 0812 1318 8899/ email: admin@djajendra-motivator.com

MENYUKAI PEKERJAAN YANG TIDAK ANDA SUKAI

“Daripada stres dan tidak bahagia dengan rutinitas pekerjaan, Anda harus melakukan sesuatu yang Anda sukai terhadap pekerjaan yang tidak Anda sukai.”~Djajendra

Pekerjaan yang Anda lakukan membutuhkan cinta dan perhatian yang tulus. Jika Anda merasa terpaksa harus bekerja hanya untuk mendapatkan uang dan sama sekali tidak menyukai pekerjaan itu, maka sulit bagi Anda untuk mendapatkan prestasi dan kegembiraan. Tanpa ada cinta dan kesenangan pada pekerjaan, sangat sulit berharap kinerja terbaik. Biasanya, pilihan atau keputusan terhadap pekerjaan yang tidak disukai adalah berhenti dan mencari pekerjaan baru. Sangat beruntung bagi kita jika dalam waktu singkat mampu mendapatkan pekerjaan baru yang disukai. Persoalannya, menemukan pekerjaan yang disukai bukanlah sesuatu yang mudah, lowongan pekerjaan yang terbatas dengan peminat yang banyak menjadikan orang ragu untuk meninggalkan pekerjaan yang dimiliki sekarang. Daripada Anda stres dan tidak bahagia dengan rutinitas pekerjaan, sebaiknya Anda melakukan sesuatu yang Anda sukai terhadap pekerjaan yang tidak Anda sukai. Mulailah belajar mencintai pekerjaan yang dimiliki saat ini. Kendalikan pikiran yang tidak menyukai pekerjaan, kemudian arahkan pikiran untuk peduli dan memberi perhatian dalam upaya menghasilkan kinerja dan prestasi yang hebat.

Jika semua usaha untuk menyukai pekerjaan yang tidak mampu disukai itu gagal, maka fokus untuk menenangkan diri dan jangan berkeluh-kesah. Sekarang, kerjakan saja pekerjaan yang tidak Anda sukai itu dengan sabar dan semampu diri Anda. Ingat, Anda membutuhkan uang, dan pekerjaan yang tidak Anda sukai sedang memberikan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda. Di luar jam kerja, Anda masih dapat melakukan hal-hal yang Anda sukai dan cintai. Temukan sebuah pekerjaan yang memicu kegembiraan dan gairah hidup Anda walau pekerjaan itu tidak menghasilkan uang sama sekali. Anda harus kreatif untuk menambahkan sesuatu ke dalam rutinitas hidup Anda, sehingga kegiatan tersebut membuat Anda bersemangat dan merasa gembira untuk melakukannya setiap hari. Semangat dan kegembiraan yang Anda dapatkan dari rutinitas kerja di luar jam kantor, akan menjadi energi positif untuk mengurangi perasaan negatif terhadap pekerjaan yang tidak Anda sukai di tempat kerja. Pada akhirnya, semangat dan kegembiraan yang setiap hari Anda dapatkan di luar jam kerja tersebut, mampu mempengaruhi Anda untuk memberikan etos terbaik bagi pekerjaan yang tidak Anda sukai. Jadi, di luar pekerjaan yang tidak Anda sukai, Anda harus melakukan hal-hal kreatif yang Anda sukai, sehingga Anda mampu mengisi diri dengan energi positif. Energi positif ini akan memberi Anda kegembiraan, dan kegembiraan Anda ini membantu Anda untuk melakukan pekerjaan rutin yang fokus pada kinerja.

Menumbuhkan nilai-nilai, kebajikan, dan moral dari ke kedalaman jiwa Anda. Satukan suara hati dengan pikiran positif dan membulatkan tekad Anda, untuk membuat Anda bersyukur terhadap pekerjaan dan lingkungan kerja Anda, dan terima pekerjaan yang tidak Anda sukai dengan mengembangkan sikap sabar dan tabah. Katakan setiap hari kepada diri sendiri bahwa Anda memiliki kewajiban untuk memberikan kualitas dan kinerja terbaik bagi pekerjaan Anda. Katakan kepada diri sendiri bahwa Anda sudah menerima gaji dan fasilitas, sekarang Anda harus melatih diri sendiri untuk bisa mencintai pekerjaan yang telah memberi Anda penghasilan. Menemukan alasan kenapa tidak menyukai pekerjaan yang sudah memberi Anda uang dan karir. Katakan kepada diri sendiri untuk menyadari tujuan nyata dari pekerjaan Anda. Katakan kepada diri sendiri bahwa pekerjaan Anda membutuhkan kinerja, prestasi, dan kehebatan agar mampu memberikan kontribusi positif bagi orang lain di lingkungan kerja.  Pahami diri sendiri bahwa Anda memiliki talenta melalui pekerjaan Anda untuk diungkapkan dengan kualitas dan prestasi. Karena itu, jangan memberikan perhatian pada rasa tidak suka, karena semua kekuatan Anda untuk mencapai kinerja akan hilang. Mungkin Anda sangat sulit untuk menyukai pekerjaan Anda, tetapi Anda tidak boleh membiarkan rasa tidak suka menguasai hidup Anda.

Anda harus kreatif dan penuh gairah untuk menangani pekerjaan yang tidak Anda sukai. Anda harus menyelamatkan diri Anda sendiri dari energi negatif yang membuat Anda memiliki rasa tidak suka. Jadilah pribadi yang mengalir bebas ke mana-mana dengan energi kreatif bersama pekerjaan Anda, menjadi pribadi yang sangat adaptif, menyempurnakan etos, dan membentuk wadah yang tepat untuk berkarya dan berprestasi. Biarkan diri sejati Anda bebas untuk mewujudkan impian Anda dengan penuh semangat, jangan lagi memberikan beban energi negatif kepada mental Anda dalam bentuk rasa tidak suka kepada pekerjaan yang memberi Anda gaji dan karir. Gairah dan motivasi adalah kekuatan tindakan. Hidupkan kehidupan kerja Anda dengan tindakan yang menguatkan tujuan dan bekerja dalam kekuatan motivasi yang hebat. Tujuan yang kuat dan jelas membuat Anda tidak pernah lelah dan bosan untuk mencapai tujuan tersebut. Fokus pada semua kekuatan baik di dalam diri dan membangun keseimbangan semua hal dalam diri Anda, sehingga Anda mampu melewati tantangan dan kesulitan dengan sabar. Penerimaan dan pengakuan jiwa terhadap pekerjaan yang tidak disukai adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan kebebasan dari cengkeraman energi negatif. Nilai-nilai positif tidak hanya menjadi sesuatu yang dipahami dan dimengerti, tetapi satu-satunya pilihan terbaik untuk memberi Anda kegembiraan terhadap pekerjaan yang tidak Anda sukai.

Untuk mengundang Djajendra hubungi: 0812 1318 8899/ email: admin@djajendra-motivator.com

PENGABDIAN ADALAH JALAN UNTUK MERASAKAN SUKSES

“Kesuksesan dihasilkan ketika hati dan pikiran berada pada apa yang dikerjakan dengan sepenuh hati.”~Djajendra

Ketika pekerjaan datang ke dalam hidup kita, maka kita harus sadar bahwa inilah saatnya untuk memberikan pengabdian dan totalitas kepadanya. Pengabdian tidak memiliki ego dan hanya memiliki rasa cinta yang tulus. Hati dan pikiran kita harus betul-betul fokus pada apa yang kita lakukan. Pengabdian dan totalitas kita menghasilkan kualitas untuk meraih kesuksesan.

Pengabdian membutuhkan rasa cinta dan merasa memiliki kemampuan yang hebat untuk melakukan dengan penuh semangat. Ada gairah dan ketertarikan yang tinggi untuk menghasilkan prestasi terbaik. Setiap hari memiliki motivasi dan ketekunan untuk mencapai kesuksesan. Tidak pernah merasa bosan dengan apa yang dikerjakan. Setiap saat merasa terpanggil untuk memberikan kontribusi yang tinggi dalam upaya mencapai kinerja terbaik.

Pengabdian tidak pernah melakukan upaya setengah hati, selalu totalitas dengan potensi penuh. Selalu ada kesadaran untuk meningkatkan kemampuan dan menambah pengetahuan baru. Sangat disiplin dalam menyiapkan potensi untuk melakukan pekerjaan dengan cara yang benar. Memiliki disiplin yang tinggi untuk memberikan perhatian yang tinggi pada apa yang kita lakukan, pada apa yang ingin kita capai segera. Ketekunan dan upaya yang terus-menerus selalu menjadi pilihan dalam pengabdian.

Pengabdian tidak pernah menyerah dengan kesulitan yang harus dihadapi. Perjalanan menuju sukses tidak terlalu sederhana. Kadang kita mendapatkan apa yang kita inginkan; kadang mungkin kita gagal total; kadang kita mendapatkan kurang dari target. Perjalanan menuju sukses selalu tidak pasti dan tidak pernah ada jaminan untuk sukses. Tetapi, pengabdian memiliki kekuatan yang luar biasa untuk membantu kita mencapai kesuksesan yang kita inginkan.  

Pengabdian tidak pernah tinggi hati ketika menang dan tidak pernah frustrasi ketika gagal. Ketika sukses, pengabdian memiliki kerendahan hati dan selalu memiliki motivasi untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas diri. Ketika mengalami kegagalan; pengabdian memiliki ketabahan, kesabaran, ketenangan, keyakinan untuk menang, dan kepercayaan diri untuk melakukan kembali dengan cara yang lebih baik. Pengabdian tidak pernah berhenti untuk mencapai kesuksesan walaupun kegagalan selalu menghalangi perjalanan menuju sukses.

Pengabdian tidak pernah bersaing dengan siapa pun, karena ketika kita mulai bersaing, kita sudah tidak fokus pada tugas, tetapi fokus pada orang. Jelas, hal ini tidak akan memberikan keuntungan kepada pengabdian kita terhadap apa yang kita lakukan. Pengabdian kita sudah menunjukkan bahwa kita lebih unggul dan mampu melakukan dengan lebih baik. Jadi, untuk apa kita harus bersaing. Kita harus yakin dan percaya diri bahwa kita hebat dalam tugas kita sendiri. Kita selalu belajar dan bertindak sesuai bakat. Jika kita mencoba bersaing, kita mungkin kehilangan fokus pada bakat dan kemampuan hebat yang kita miliki.

Ego kita tidak terlalu penting, abaikan ego dan nafsu. Pengabdian tidak mungkin ada jika ego dan nafsu masih menguasai ambisi kita. Ketika pengabdian menjadi jalan hidup, maka kekuatan potensi kita menjadi semakin membesar dan berkualitas. Kinerja dan prestasi kita akan mengalami transformasi yang hebat menuju puncaknya. Pengabdian kita membangun pondasi kehidupan yang membawa karir kita ke puncak kesuksesan tertinggi. Pengabdian adalah kualitas terpenting untuk kesuksesan di bidang apa pun.

Untuk mengundang Djajendra hubungi: 0812 1318 8899/ email: admin@djajendra-motivator.com

MENGATASI PERILAKU BURUK DI TEMPAT KERJA DENGAN BUDAYA SOPAN SANTUN

“Harus ada upaya dan kerja keras dari dalam diri Anda untuk membangun budaya sopan santun di tempat kerja, tanpa berharap atau menggantungkan perilaku Anda pada perilaku orang lain.”~Djajendra

Ketika Anda berbicara dengan nada suara yang cendrung tinggi, bersikap kurang sopan, memperlihatkan sikap egois yang sangat tinggi, tidak peduli dengan hubungan kerja antar bagian; maka, Anda telah menciptakan luka dihati banyak orang. Mereka yang terluka oleh sikap buruk Anda tidak mungkin melupakan keburukan Anda. Selain Anda telah melukai banyak orang, Anda juga sudah menciptakan kerugian dalam perusahaan, karena orang-orang yang terluka biasanya menjadi kurang produktif. Mereka yang terluka merasa memiliki banyak hambatan dalam hubungan kerja, sehingga akhirnya masa bodoh dengan kinerja dan prestasi.

Proses kerja membutuhkan sikap sopan santun yang selalu menghormati dan menghargai setiap orang di tempat kerja. Sikap yang sopan santun dengan kualitas dan kompetensi diri yang baik akan memberikan dampak yang luar biasa untuk pencapaian terbaik. Jika Anda menginginkan kinerja dan prestasi terbaik, termasuk mencapai target-target dengan mudah, maka sikap yang saling menghormati dan saling menjaga kebaikan haruslah diutamakan.

Setiap orang yang merasa memiliki kekuatan dan dukungan, atau pun merasa paling senior, haruslah menjadi contoh yang baik untuk mempromosikan budaya sopan santun di tempat kerja. Kekuatan, kekuasaan, dan senioritas Anda sangat dibutuhkan untuk mengkontribusikan hal-hal positif dalam pekerjaan. Anda harus memperlihatkan kepada semua orang tentang budaya kerja yang kompak, disiplin, rendah hati, peduli, saling tolong-menolong, dan selalu proaktif untuk menjaga hubungan kerja antar bagian dalam kinerja terbaik.

Hilangkan energi buruk dari dalam diri dengan cara mulai melihat sisi baik setiap orang; mulai membuka hati untuk berkomunikasi dengan cara yang sopan; mulai memperlihatkan perilaku etis; mulai melihat hal-hal yang positif di semua aspek kerja; mau terlibat dalam perubahan dan mudah beradaptasi dengan perubahan; menjadi pribadi positif yang sadar akan energi negatif di dalam diri sendiri. Jadi, ada upaya dan kerja keras dari dalam diri Anda untuk membangun budaya sopan santun di tempat kerja, tanpa berharap atau menggantungkan perilaku Anda pada perilaku orang lain.

Ketika kepribadian positif tumbuh dari dalam diri, maka terbentuk kekuatan yang hebat di dalam diri. Kekuatan hebat ini menjadikan diri sendiri yang asli dengan integritas yang kuat. Dampaknya, Anda benar-benar mampu menampilkan kepribadian yang tenang, sabar, tidak mudah termakan gosip, hoaks, fitnah, atau semua energi buruk dari luar diri sudah tidak mampu merusak kedamaian dan ketenangan hidup Anda. Anda menjadi pribadi yang mudah mengalir dalam hubungan dan komunikasi, serta selalu tampil dengan gembira dan bugar.

Ketika energi positif Anda sudah kuat dari dalam diri, maka Anda mampu mengendalikan emosional dan pikiran-pikiran yang tidak diperlukan dalam sebuah hubungan. Emosional yang baik dengan pikiran yang tenang mampu membangun hubungan yang baik dengan pelanggan, supplier, dan semua stekaholders yang lainnya. Sikap positif Anda akan meningkatkan reputasi perusahaan di persepsi stekaholders. Pikiran yang tenang dan emosi positif Anda mampu memilih dengan cerdas untuk bereaksi terhadap berbagai karakter orang. Reaksi dan tindakan Anda tidak akan melukai perasaan orang lain. Anda senantiasa mampu menjaga hubungan dan komunikasi dengan sopan santun yang produktif.

Setiap pelayanan dalam perusahaan haruslah ditangani dengan cepat, semuanya harus dilayani dengan sikap baik dan penuh sopan santun. Tidak boleh bersikap semena-mena kepada pelanggan, supplier, dan stakeholders yang lain. Layani pelanggan dengan kualitas terbaik, layani dan bayar tagihan supplier tepat waktu dengan sikap sopan. Jangan pernah berbicara dalam sikap yang ketus dan kata-kata yang membuat supplier sakit hati. Jika Anda kehilangan supplier, maka perusahaan juga akan kewalahan di masa depan. Intinya, semua sikap dan perilaku yang tidak baik akan menciptakan biaya tinggi dalam operasional bisnis.  

Perubahan adalah sesuatu yang pasti. Mungkin Anda berpikir bahwa sesuatu hal yang baru atau perubahan yang sedang diterapkan sebagai sebuah omong kosong, tetapi perubahan pasti terjadi. Jika Anda ikhlas untuk memberikan energi positif dalam proses perubahan, maka kebaikan dan keindahan akan Anda rasakan dari hasil perubahan tersebut. Jika Anda berpikir bahwa budaya sopan santun tidak mungkin diterapkan dalam perusahaan Anda, maka Anda sendiri yang memutuskan untuk menderita dalam kehidupan kerja yang penuh energi negatif. Jika Anda menolak memilih untuk membangun budaya sopan santun, maka Anda akan merasakan semacam emosi negatif yang bersumber dari pikiran Anda yang kacau dan sulit dikendalikan. Tanpa budaya sopan santun; energi negatif dari dalam diri Anda akan menciptakan kemarahan, kesedihan, kebosanan, kepahitan, dan menjadikan Anda kurang produktif di tempat kerja.

Saling menghargai, saling mendengarkan, dan saling membantu haruslah menjadi karakter kerja sehari-hari. Hal ini juga akan menghambat emosi negatif masuk ke dalam hari kerja Anda. Jika emosi negatif masuk ke hari kerja Anda, maka energi negatif akan menciptakan stres, serta menghabiskan waktu dan kecerdasan Anda untuk sesuatu yang kurang produktif dan tidak positif.  Kebahagian dalam pekerjaan datang dari memilih pikiran dan emosi, Anda mungkin harus berhadapan dengan berbagai peristiwa yang kurang menyenangkan hati Anda. Tetapi jika Anda memilih pikiran positif, emosi positif, dan sikap baik untuk menghadapi peristiwa tersebut; maka, kebahagiaan dan kedamaian Anda di tempat kerja tidak akan hilang.

Untuk mengundang Djajendra hubungi: 0812 1318 8899/ email: admin@djajendra-motivator.com

MENJALANKAN LOYALITAS DENGAN PERILAKU ETIS

“Kepemimpinan yang baik menuntut ikatan kesetiaan dari kekuatan etis dan integritas, bukan sekedar setia dan mengabaikan kebaikan demi melayani kesetiaan itu.”~Djajendra

Kadang-kadang loyalitas membuat orang tidak mampu melihat apa yang baik dan apa yang tidak baik. Ikatan kesetiaan dan perasaan berutang budi jika tidak tunduk pada perilaku etis, maka realitas ini akan menyebabkan timbulnya berbagai persoalan pelanggaran etika. Loyalitas tanpa tunduk pada nilai-nilai etika akan menciptakan kerusakan pada organisasi. Kepemimpinan yang baik akan menuntut ikatan kesetiaan dari kekuatan etis dan integritas, bukan sekedar setia dan mengabaikan segala kebaikan demi melayani kesetiaan itu. Loyalitas akan menjadi sebuah kebaikan jika loyalitas tersebut tercipta dari budaya yang etis dan kaya integritas. Loyalitas yang etis mampu menjadi energi positif yang hebat untuk mendukung tata kelola organisasi yang kuat dan sehat.

Loyalitas seseorang dapat dimanfaatkan untuk menjalankan sebuah rencana yang baik maupun sebuah rencana yang tidak baik. Jadi, tidak selamanya loyalitas berada dalam barisan energi positif. Jika niat dan rencana tidak baik, maka loyalitas akan berada dalam barisan energi negatif. Loyalitas itu sendiri adalah pengabdian tanpa syarat, yang sudah tidak mampu membedakan apa pun, kecuali menyerahkan diri secara total untuk melayani ikatan kesetiaan tersebut. Di dalam persepsinya, ikatan kesetiaan tersebut adalah sebuah ikatan suci dan kebaikan yang tidak boleh diperdebatkan di dalam hati. Suara hati, pemikiran, dan perasaan terikat dalam kesetiaan yang buta terhadap kebenaran sejati. Kondisi ini telah menciptakan banyak skandal yang merugikan organisasi dan stakeholders. Ketika loyalitas tidak mampu membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik, maka kerugian dan kerusakan menjadi hasil akhir yang akan disesali kemudian.

Loyalitas yang baik dihasilkan dari kesadaran untuk menjalankan nilai-nilai etis di tempat kerja. Ikatan kesetiaan harus mampu mengabaikan perilaku dan niat buruk. Kesetiaan hanya diberikan kepada nilai-nilai positif dan tata kelola organisasi yang bersih dan sehat. Para pengikut yang setia harus berani mengabaikan pemimpinnya yang tidak jujur. Kesetiaan ditumbuhkan untuk memperkuat integritas, akuntabilitas, perilaku etis, tindakan etis, keputusan etis, dan tidak menoleransi semua perilaku atau tindakan yang berlawanan dengan integritas. Loyalitas di tempat kerja harus berdasarkan prinsip-prinsip yang mencakup integritas, etis, transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan sepenuh hati.

Ketika kesetiaan berada dalam kekuasaan energi negatif, maka ia akan menjadi kekuatan yang siap melawan semua aturan dan kebijakan positif. Keserakahan, keegoisan, kepentingan sempit, dan ketidakjujuran akan menjadi bagian dari karakter dan kepribadian. Dalam kondisi ini, ikatan kesetiaan akan membuat konspirasi dan kolaborasi untuk keuntungan diri sendiri dan kelompok. Mereka sudah tidak pernah peduli untuk melayani kepentingan semua stakeholders dengan adil dan jujur. Mental dan perilakunya hanya bekerja untuk menguntungkan kepentingan mereka. Loyalitas seperti ini kadang menjadi sangat solid dan membudaya di dalam organisasi, sehingga sangat sulit untuk mengharapkan perilaku etis dan integritas. Kekuasaan dan manajemen yang baik pun sulit untuk diwujudkan. Ikatan kesetiaan dalam kekuasaan energi negatif membuat individu-individu yang tetap loyal dalam energi positif, akan tersingkir dan menjadi bagian dari orang-orang yang terkoyak dalam organisasi. Kekuatan loyalitas energi negatif kadang menjadi sangat kuat, sehingga tidak ada yang mampu mengungkapkannya. Realitas ini secara perlahan-lahan akan menjadikan organisasi tidak mampu menjalankan fungsi dan tujuan dengan baik. Visi, misi, dan nilai-nilai hanya akan jadi pajangan di sepanjang kehidupan organisasi tersebut. Kekuatan loyalitas energi negatif mampu menjaga kerahasiaan mereka dengan baik, sehingga tidak mudah ditemukan bukti untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Untuk mengundang MOTIVATOR hubungi: 0812 1318 8899/ email: training@djajendra-motivator.com

PERILAKU TIDAK ETIS MERUSAK KEDAMAIAN HIDUP KITA

“Perilaku etis kita yang konsisten di dalam integritas yang kuat akan membuat hidup kita tenang, damai, bahagia, dan menikmati hidup dengan sukacita.”~Djajendra

Perilaku tidak etis adalah energi negatif yang sudah menyusup ke dalam diri kita. Energi negatif ini menjadi ancaman bagi masa depan kita. Ketika kita menikmati perilaku tidak etis dan menjadikannya sebagai cara hidup kita, maka kita sedang memelihara hal-hal tidak baik di dalam hidup kita. Kesadaran untuk melindungi diri dari perilaku tidak etis harus ditingkatkan secara terus-menerus. Jangan pernah membiarkan perilaku tidak etis menyelinap ke dalam diri kita; mereka akan menyebabkan kita menjadi tidak sadar diri, membohongi diri sendiri, egois, serakah, dan selalu bangga dengan perbuatan tidak jujur.

Kuatkan nilai-nilai positif di dalam diri untuk menyingkirkan perilaku tidak etis. Memang tidak mudah dan sering sekali banyak orang gagal dalam menyingkirkan perilaku tidak etis. Integritas dalam tindakan dan pemikiran dapat membantu kita untuk menyingkirkan perilaku tidak etis. Setiap hari afirmasikan nilai-nilai etis agar menjadi energi positif di dalam diri kita. Jika nilai-nilai etis sudah mampu menjadi bagian dari perasaan, pemikiran, dan suara hati kita; maka, kesadaran kita mampu membantu mengusir semua energi tidak baik tersebut dari hidup kita.

Perilaku etis kita yang konsisten di dalam integritas yang kuat akan membuat hidup kita tenang, damai, bahagia, dan menikmati hidup dengan sukacita. Keinginan untuk mengakali orang lain akan digantikan dengan keinginan untuk membantu orang lain. Keinginan untuk korupsi akan digantikan dengan keinginan untuk mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Perilaku etis akan menjadikan kita selalu berkontribusi dengan ikhlas dan kerendahan hati. Kita tidak akan lagi mementingkan diri sendiri, tetapi selalu bekerja menghormati kepentingan semua stakeholders secara adil.

Perilaku etis menjadikan kita selalu memancarkan kebaikan dan kejujuran dalam setiap proses kerja. Kita menjadi aset organisasi yang andal dan dibutuhkan. Kita menjadi sahabat dan teman kerja yang dipercaya oleh rekan-rekan kerja kita. Kita menjadi atasan yang didengar dan diteladani oleh semua bawahan kita. Kita menjadi bawahan yang dipercaya dan diandalkan oleh atasan kita. Perilaku etis tidak hanya membuat kita mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian, tetapi juga menjadikan kita selalu beruntung dalam setiap situasi dan peristiwa di tempat kerja.

Kendalikan diri dari energi negatif yang dihasilkan oleh perilaku tidak etis. Setiap saat terangi diri dengan cahaya dari nilai-nilai positif. Rasakan nilai-nilai positif di dalam diri menjadikan kita tenang dan tidak terganggu oleh pikiran atau niat tidak baik dari orang-orang di sekitar. Latih sikap dan perilaku untuk selalu di dalam energi positif. Tingkatkan keyakinan bahwa perilaku etis dapat menemukan keamanan bagi masa depan kita. Yakinkan diri sendiri dan tanamkan kepercayaan di dalam mental bahwa perilaku etis memberi kita kesempatan, untuk memiliki kehidupan yang damai dan menjauhkan kita dari kekhawatiran.

Untuk mengundang MOTIVATOR hubungi: 0812 1318 8899/ email: training@djajendra-motivator.com

INTEGRITAS TANPA MORALITAS BERBAHAYA

“Tindakan yang menunjukkan integritas dari keyakinan yang mengabaikan kemanusiaan dan moralitas menjadikan dirinya sebagai pribadi berkarakter buruk.”~Djajendra

Integritas adalah tindakan yang konsisten terhadap keyakinan yang dianggap paling benar. Jika keyakinan yang dianggap paling benar ini bertentangan dengan moralitas dan kemanusiaan, maka tindakannya menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan orang lain. Integritas wajib dilengkapi dengan etika, moralitas, dan kemanusiaan. Seseorang yang merasa sudah sangat benar dalam membela keyakinan dan mampu membuktikan kebenaran yang dia yakini, maka integritas mendorong dirinya untuk bertindak dengan sungguh-sungguh. Dia tidak akan pernah merasa bersalah dengan tindakannya, selalu merasa tindakannya itu sesuai dengan tujuan dan perjuangan. Dia merasa tindakannya itu membela apa yang dia yakini. Jadi, sampai kapan pun tidak akan pernah ada penyesalan terhadap tindakannya tersebut, walau hal tersebut bertentangan dengan kemanusiaan dan kebenaran universal.

Integritas memunculkan keberanian dari keyakinan dan digunakan sebagai alat untuk melayani suatu tujuan. Oleh karena itu, semua organisasi sangat mendorong setiap individunya untuk memiliki integritas dalam melayani tujuan. Nilai-nilai dari keyakinan menjadi energi yang menciptakan karakter untuk bertindak. Biasanya, nilai-nilai organisasi menjadi keyakinan bersama untuk mencapai tujuan, di sinilah diperlukan integritas pribadi yang hebat untuk melayani tujuan organisasi. Jika dalam keyakinan organisasi tersebut miskin moralitas, etika, dan kemanusiaan; maka, tindakan dari para individu akan menghasilkan karakter buruk. Intinya, tindakan seseorang bisa saja menunjukkan integritas yang hebat, tetapi keyakinan yang mengabaikan kemanusiaan dan moralitas akan menjadikan dirinya sebagai pribadi berkarakter buruk.

Ketika sebuah organisasi ingin integritas menjadi sarana untuk melayani tujuan; maka harus dipastikan moralitas, kemanusiaan, dan etika sudah menjadi karakter dari masing-masing pribadi. Semua orang harus sudah memahami cara memilih antara benar dan salah. Semua orang harus sudah memahami bahwa kehidupan ini berlangsung dalam keragaman dan perbedaan. Semua orang harus sadar untuk berkompetisi dengan cara-cara positif dan jujur. Ketika integritas sudah dilengkapi dengan kemanusiaan, moralitas, dan etika; maka setiap pribadi mampu memiliki karakter positif untuk melayani tujuan organisasi. Tidak boleh ada perasaan paling benar dan orang lain salah. Integritas tanpa toleransi kepada pihak lain yang berbeda menjadi berbahaya bagi kehidupan sosial. Jika seseorang menganggap keyakinannya yang paling benar dan memiliki integritas untuk bertindak, maka tindakannya tersebut berpotensi menjadi ancaman bagi yang berbeda dengan dirinya.

Integritas sangat diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Seseorang dengan integritas mampu menjadi diri sendiri dan bertindak dengan jujur untuk mencapai hasil terbaik dari tujuan. Integritas membuat seseorang termotivasi untuk bertindak secara konsisten dalam mencapai visi. Integritas menjadikan seseorang sadar untuk menjadi diri sendiri yang jujur terhadap prinsip dan tindakannya. Apa pun situasinya, integritas menjadikan pribadinya konsisten dalam bertindak sesuai dengan prinsip untuk menuju tujuan. Ucapan, pemikiran, dan tindakan dari seseorang dengan integritas dapat dipercaya. Dia jujur dengan tindakannya. Dia berani bertindak dan menerima resiko dari tindakannya. Dia selalu membuat keputusan sesuai keyakinan dan nilai-nilai hidupnya. Intinya, integritas adalah alat yang sangat diperlukan untuk mencapai suatu tujuan atau visi dengan baik. Sebab, setiap orang yang memiliki integritas mampu tampil secara konsisten dengan semua potensi hebatnya, untuk membantu organisasi mencapai tujuan dan mewujudkan visi.

Integritas seperti pisau yang dapat digunakan untuk kebaikan dan juga untuk ketidakbaikan. Oleh karena itu, moralitas dan kemanusiaan haruslah melekat di dalam diri setiap pribadi sebelum integritas menjadi bagian dari pribadi mereka. Integritas juga harus ditumbuhkan dari wawasan dan pengetahuan yang luas, tidak boleh dari sebuah keyakinan atau kebenaran yang sempit. Integritas harus mampu beradaptasi dengan ruang dan waktu yang selalu dalam perubahan. Integritas tidak boleh dari persepsi yang mengutamakan kepentingan buruk, tetapi haruslah berdasarkan kemanusiaan dan keadilan sosial. Integritas tidak boleh dikembangkan dari rasa takut, benci, dendam, marah, dan kecewa; tetapi, harus dikembangkan dari rasa cinta, kepedulian, perhatian, pertumbuhan, dan kemanusiaan. Integritas adalah sebuah alat yang hebat untuk mencapai tujuan, dan jangan sampai alat yang hebat ini disalahgunakan untuk kepentingan yang merugikan kehidupan orang banyak.

Untuk mengundang MOTIVATOR hubungi: 0812 1318 8899/ email: training@djajendra-motivator.com

MENJALANKAN NILAI-NILAI PERUSAHAAN

“Nilai-nilai perusahaan memberikan kemampuan kepada setiap karyawan untuk memiliki energi menuju tujuan.”~Djajendra

Setiap perusahaan memiliki nilai-nilai, visi, dan misi untuk dipahami oleh setiap karyawan. Nilai-nilai dimaksudkan agar karyawan memiliki perilaku kerja seperti yang diinginkan oleh nilai-nilai tersebut. Visi dimaksudkan agar karyawan fokus bekerja menuju ke masa depan perusahaan. Misi dimaksud agar karyawan memiliki kecerdasan, energi, dan integritas untuk melakukan tugas dan tanggung jawab yang diberikan dengan sepenuh hati pada momen sekarang. Memahami nilai-nilai, visi, dan misi perusahaan membantu setiap individu untuk menciptakan budaya kerja yang etis. Tidak akan ada lagi benturan nilai-nilai, karena setiap orang sudah sadar untuk mengutamakan nilai-nilai perusahaan sebagai inti dari profesionalisme kerja mereka. Selanjutnya, perilaku keja yang etis akan muncul dari kesadaran masing-masing karyawan, sehingga sistem dan budaya kerja mampu digerakkan melalui perilaku kerja berdasarkan nilai-nilai perusahaan.

Sebelum menjalankan nilai-nilai perusahaan, karyawan terlebih dahulu harus mengenal diri sendiri dengan baik. Kenali dulu siapa saya? Apa pemikiran saya? Apa etos saya? Setelah mengenal diri sendiri dengan baik, selanjutnya internalisasikan nilai-nilai perusahaan ke dalam diri, kemudian dijadikan kebiasaan dan perilaku sehari-hari di lingkungan kerja. Menjalankan nilai-nilai perusahaan adalah bagian terpenting untuk bisa menyatu dalam kerja sama di dalam organisasi. Nilai-nilai akan menyatukan setiap orang untuk bekerja secara profesional. Nilai-nilai menciptakan perilaku dan kebiasaan untuk membangun budaya kerja yang kuat dan konsisten. Nilai-nilai memberikan kemampuan kepada setiap karyawan untuk memiliki energi menuju tujuan; memiliki pemikiran kehidupan kerja yang harmonis; dan kemampuan pengambilan keputusan yang baik.

Implementasi nilai-nilai perusahaan dalam kegiatan sehari-hari sebaiknya disatukan dalam kesadaran untuk menjalankan etika yang baik di lingkungan perusahaan. Etika menyadarkan setiap orang untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, atau mana yang boleh atau mana yang tidak boleh. Perilaku etis yang digerakkan oleh energi nilai-nilai perusahaan mampu menciptakan budaya kerja, yang saling percaya dan saling bekerja sama untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Realitas ini akan menciptakan budaya kerja yang beretika. Perusahaan yang beretika mampu bersikap terbuka untuk merangkul setiap kepentingan di dalam kebenaran kerja. Hal ini juga mampu membangun kesadaran dan ketulusan  di hati setiap individu untuk membantu perusahaan dalam setiap situasi.

Nilai-nilai, visi, dan misi harus ditumbuhkan dari kesadaran dan menjadikannya sebagai keyakinan di ruang kerja. Jika sudah menjadi keyakinan di dalam rutinitas kerja, maka setiap orang mengerti apa tugas mereka, seperti apa cara kerja mereka, dan ke arah mana mereka harus bergerak untuk bisa mencapai tujuan. Realitas ini menciptakan budaya kerja yang lincah, proaktif, energik, dan cepat mengambil keputusan. Ini juga menjadikan rutinitas kerja setiap hari mampu mencapai target dan menghasilkan kinerja terbaik.

Nilai-nilai perusahaan haruslah menjadi fondasi untuk membentuk model perilaku kerja. Karena nilai-nilai ini dipahami oleh setiap individu, maka perilaku kerja setiap orang bisa berada dalam level energi yang sama, sehingga setiap orang mau saling menghargai dan saling membantu untuk pencapaian target kerja. Hal ini juga berlaku terhadap orang-orang yang memiliki karakter yang berlawanan. Walaupun karakternya berlawanan, tetapi nilai-nilai yang disadari secara bersama mampu menghindarkan konflik di internal perusahaan.

Menjalankan nilai-nilai perusahaan membutuhkan kesadaran dan ketulusan hati yang tinggi. Apalagi di tempat kerja setiap orang sudah sangat dewasa dan karakternya sudah terbentuk. Jelas, hal ini menjadi tantangan yang tidak mudah. Tanpa memiliki kesadaran dan ketulusan hati dari setiap individu untuk menjalankan nilai-nilai perusahaan dengan sepenuh hati, maka menjadi tidak mudah untuk diimplementasikan nilai-nilai perusahaan. Realitas ini semakin menyulitkan perusahaan untuk membangun organisasi dan budaya kerja yang etis. Oleh karena itu, kesadaran dan ketulusan hati untuk menjadi etis dan mengkontribusikan moral positif di lingkungan kerja menjadi sesuatu yang prioritas.

Untuk mengundang MOTIVATOR hubungi: 0812 1318 8899/ email: training@djajendra-motivator.com

ETIKA DAN ETIKET TIDAK BOLEH DIPISAHKAN DALAM SETIAP HUBUNGAN BISNIS

“Etiket menjadikan Anda pribadi yang sopan dan penuh energi baik; etika menjadikan Anda taat dan teliti menjalankan aturan, prosedur, dan rencana dengan profesional.”~Djajendra

Etika dan etiket adalah fondasi dalam perilaku bisnis. Hubungan bisnis yang sehat dan profesional hanya terwujud jika etika dan etiket dijalankan dengan sepenuh hati secara bersamaan. Pelanggaran terhadap etika berkonsekuensi hukum. Biasanya, seseorang yang ketahuan melanggar etika di perusahaan berpotensi dipecat atau pun harus menjalani proses hukum. Jadi, pelanggaran etika ini sangat serius dan berdampak merugikan perusahaan, juga merugikan banyak pihak secara materi. Melanggar etiket dianggap tidak memiliki perilaku yang baik. Pribadi yang tidak memiliki etiket dianggap tidak mampu berkomunikasi, tidak memiliki empati, tidak memiliki toleransi, kasar, pemarah, egois, jorok, tidak berpakaian secara baik, bahasa tubuh yang buruk, sifat dan perilaku yang tidak tenang, dan sangat banyak hal-hal lain yang sifatnya kepribadian. Intinya, etika dan etiket haruslah menjadi satu paket dalam satu visi berbisnis yang baik. Keduanya sangat penting untuk dijalankan agar pelayanan bisnis menjadi lebih sempurna.

Etika diatur dalam sebuah panduan dan kode etik untuk dipatuhi oleh semua pihak di dalam perusahaan. Hal-hal seperti: menjaga informasi rahasia perusahaan; menjaga rahasia pelanggan; menjaga komitmen, tidak menerima suap, tidak menawarkan suap, mengatakan yang sebenarnya; tidak melecehkan; dan banyak hal-hal lain yang biasanya diatur dalam panduan etika bisnis. Etiket sendiri adalah tentang tata-krama atau sopan-santun saat berhubungan dengan stakeholder. Etiket di perusahaan sebaiknya dibuat dalam sebuah panduan agar setiap orang memahaminya dan sadar untuk menjalankannya dengan profesional. Hal-hal seperti: cara berpakaian; cara berkomunikasi, mendengarkan, berbicara, senyum, pilihan kata-kata, bahasa tubuh yang baik, dan sorot mata; tidak mengunyah sesuatu saat berbicara; tidak memainkan telepon atau hp saat berinteraksi dengan rekan kerja atau klien; selalu tampil bersih dan bugar; mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru; menghormati budaya orang lain; menghargai pemikiran dan pendapat orang lain; dan selalu menghormati realitas orang lain.

Jika etika dan etiket dijalankan sebagai bagian dari budaya kerja, maka semua proses kerja akan membawa ke arah yang lebih produktif dan kinerja tinggi. Tidak ada seorang pun yang sempurna. Manusia adalah tempatnya salah. Tetapi, dengan mematuhi peraturan etika dan etiket dengan serius dan rendah hati, maka ketidaksempurnaan tersebut bisa diatasi. Implementasi etika dan etiket yang konsisten di tempat kerja meningkatkan kualitas kerja di setiap bagian organisasi. Dampaknya, integritas dan tanggung jawab menjadi semakin menguat di dalam hubungan kerja dengan pihak mana pun. Semua interaksi kerja akan berproses di dalam perilaku etis dan sikap sopan-santun. Yang pasti, setiap orang suka bekerja untuk sebuah perusahaan yang sangat memperhatikan etika dan etiket. Hal ini akan menjadikan perusahaan berbudaya kuat dan selalu hebat saat menghadapi berbagai situasi dan ketidakpastian.

Pelanggan pasti lebih mencintai perusahaan yang melayani mereka dengan etika dan etiket yang baik. Kombinasi etika dan etiket menjadikan semua urusan bisnis berjalan di atas aturan dan sopan-santun. Tidak akan ada pelanggaran dan manipulasi dalam setiap hubungan bisnis dengan stakeholder. Setiap proses bisnis tunduk pada aturan, perjanjian, dan komitmen; serta pelayanan tunduk kepada sifat dan perilaku yang hormat, melayani, rendah hati, dan menghargai orang lain.

Etiket bisnis menciptakan lingkungan kerja yang bersih, peduli, saling menghargai, dan saling menjaga penampilan diri yang profesional. Etika bisnis menjadikan setiap orang tidak lagi janji berlebihan, tetapi sulit memenuhi janjinya. Komitmen yang diucapkan selalu dipertanggungjawabkan dengan baik. Setiap orang sadar untuk secara teliti menjalankan peraturan dan mengelola resiko dalam setiap pekerjaan.

Untuk seminar/pelatihan hubungi: 0812 1318 8899/ email: training@djajendra-motivator.com

PRINSIP UTAMA DALAM BEKERJA ADALAH MEMILIKI ETIKA

“Manusia berintegritas tinggi bersumber dari etika.”~Djajendra

Etika sangat diperlukan untuk kehidupan kerja yang produktif dan untuk memberikan kepuasan kerja bagi semua orang. Etika berfungsi untuk mengharmoniskan setiap hubungan antara manusia dan menghindarkan titik konflik antara manusia. Etika menjadikan hubungan kerja dalam perilaku jujur, bertanggung jawab, bersikap baik, murah hati, saling menolong, tidak melanggar hukum, produktif, adil, dan penuh kasih sayang. Etika adalah prinsip dasar dalam semua aturan, peraturan, prosedur, kebijakan, dan kepemimpinan di tempat kerja. Batin karyawan yang tersentuh energi etika mampu menjalankan fungsi dan perannya di tempat kerja dengan adil, jujur, tulus, sepenuh hati, setia, dan fokus untuk menciptakan kinerja terbaik.

Manusia dengan integritas yang tinggi bersumber dari etika. Ketika manusia mengabaikan etika, maka dia menjadi energi perusak kesejahteraan dan keharmonisan bagi semua orang. Sebaliknya, ketika manusia patuh dan taat menjalankan etika, maka semua orang menjadi bagian yang menyenangkan kehidupan, sehingga kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dapat dirasakan bersama. Manusia yang etis adalah bagian penting dari etika kerja. Manusia yang etis mampu bekerja dengan etos terbaik dan menjadi kekuatan utama dalam pembentukan budaya kerja yang unggul.

Etika diperlukan dalam bentuk perilaku di setiap aspek kerja. Perilaku etis menciptakan keunggulan dan prestasi yang dapat dipertahankan untuk selamanya, sedangkan perilaku tidak etis menciptakan kerapuhan dan prestasi yang tidak dapat dipertahankan untuk selamanya. Jadi, praktik tidak etis sangatlah tidak menguntungkan bagi siapapun dalam jangka panjang. Mungkin saja, dalam jangka pendek, praktik atau perilaku tidak etis memberikan keuntungan bagi Anda. Tetapi, dalam jangka panjang, perilaku tidak etis tersebut akan menjadi sesuatu yang buruk dan menghancurkan semua yang sudah Anda bangun. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran yang terus-menerus untuk bisa melatih dan membiasakan diri sendiri agar taat dan patuh dengan etika. Jiwa, fisik, pikiran, dan emosi harus bersatupadu dalam satu komitmen yang kuat untuk menjalankan etika dengan sebenar-benarnya.

Semua nilai-nilai kehidupan kerja sebagai dasar pembentukan budaya kerja haruslah bersumber dari manusia etika. Etika haruslah dihasilkan dari kesadaran batin terdalam. Pertumbuhan kepribadian dan karakter kerja yang hebat haruslah bersumber dari etika. Etika harus dirawat dan ditingkatkan secara terus-menerus di tempat kerja. Menanamkan kesadaran kepada setiap insan perusahaan bahwa etika adalah sumber kebahagiaan, sumber kepuasan kerja, sumber keharmonisan, dan sumber pencapaian kinerja terbaik, haruslah menjadi bagian dari tugas utama manajemen.

Ketika etika menjadi budaya dan perilaku kerja yang kuat, maka saat itu karyawan mampu menjalankan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah. Pekerjaan menjadi ibadah untuk mendapatkan rezeki. Pekerjaan menjadi ibadah untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hidup. Kesadaran bahwa pekerjaan adalah ibadah untuk mendapatkan rezeki menjadi pendorong bagi karyawan untuk bekerja dengan sepenuh hati dan penuh kualitas. Kepemimpinan dan manajemen perusahaan harus sepenuh hati dan totalitas dalam menciptakan budaya etis di tempat kerja. Tidak bisa hanya berharap dari kesadaran karyawan untuk memiliki perilaku etis. Manajemen haruslah mampu membangun sistem, lingkungan kerja, budaya, dan karakter kerja yang berdasarkan dari etika. Memberdayakan setiap insan perusahaan dalam energi etika mampu meningkatkan integritas dan akuntabilitas dalam budaya kerja.

Gaya hidup etis di tempat kerja mampu menurunkan stres dan memberdayakan potensi untuk pencapaian lebih tinggi. Hal ini juga akan mendorong karyawan untuk tidak sekedar mencari nafkah dari pekerjaannya, tetapi menjadikan pekerjaanya sebagai alat untuk kebahagiaan dan pertumbuhan potensi diri. Kita tahu, di semua profesi pasti dibuat kode etik, yang bertujuan untuk memberdayakan potensi terbaik di jalan integritas dan etos terbaik. Jadi, fungsi etika tidak sebatas untuk memahami apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, lebih dari itu, etika berfungsi untuk menciptakan kualitas pribadi yang hebat, untuk bisa menjalankan pekerjaan berkinerja tinggi di jalur integritas.

“Etika menciptakan jalur integritas yang membuat setiap orang termotivasi untuk bekerja dengan jujur dan penuh tanggung jawab.”~Djajendra

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGABAIKAN ETIKA MENYEBABKAN ORANG LAIN TERLUKA DAN MERUGI

“Perilaku etis adalah jalan lurus dan kelurusan hati nurani untuk melakukan pekerjaan sesuai nilai-nilai organisasi, kode etik, kode moral, dan tata kelola yang terbaik.”~Djajendra

Seseorang yang beretika memiliki perbuatan baik untuk menghasilkan kesejahteraan dalam hidupnya. Etika adalah tuntunan untuk melakukan perbuatan mulia. Etika diwujudkan melalui pemikiran, perbuatan, ucapan, dan tindakan yang membawa kehidupan ke jalan kebenaran. Seseorang yang bertindak tanpa etika merupakan energi untuk perbuatan salah. Di mana, perbuatan salah ini akan berakumulasi untuk menciptakan kesalahan ke berbagai urusan lainnya. Kesadaran bahwa perilaku tidak etis dapat menyebabkan kerusakan dan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain, haruslah menjadi pemahaman bersama di tempat kerja.

Nilai-nilai organisasi, etika, dan moralitas, tidaklah dapat dipisah-pisahkan, semuanya saling terkait erat dan tak terpisahkan. Nilai-nilai organisasi memiliki kekuatan untuk membentuk perilaku kerja sesuai budaya yang diinginkan oleh perusahaan. Etika di tempat kerja bersumber dari kode etik atau prinsip yang menjadi dasar untuk menentukan apa yang benar dan apa yang tidak benar. Etika sendiri bertujuan untuk menjaga kualitas integritas kerja, sehingga saat karyawan menghadapi situasi sulit dan penuh dilema, mereka tetap berperilaku sesuai kode etik yang diberikan perusahaan. Moralitas atau nilai-nilai moral dimaksudkan agar setiap individu karyawan mampu menemukan jati dirinya yang asli, sehingga mengenal diri sendiri secara baik untuk bisa memberikan kontribusi etis bagi perusahaan. Intinya, nilai-nilai organisasi, etika, dan moralitas adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam membentuk budaya kerja dan budaya organisasi yang kuat.

Etika membantu karyawan untuk mengikuti kode etik dengan pengabdian yang tulus di semua proses kerja. Ini juga mempersiapkan pola pikir untuk menerima apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang di sepanjang proses kerja hingga mencapai kinerja terbaik. Ini juga mengubah pemikiran, ucapan, perilaku, dan tindakan yang membentuk kebiasaan etis di lingkungan kerja, sehingga menjadi bagian yang penting untuk mengekspresikan budaya organisasi yang kuat. Perilaku etis adalah fondasi dari budaya kerja. Perilaku etis adalah jalan lurus dan kelurusan hati nurani untuk melakukan pekerjaan sesuai nilai-nilai organisasi. Perilaku etis berarti menyelaraskan pemikiran dan perbuatan sesuai dengan standar etika di perusahaan. Perilaku etis berarti bekerja tanpa syarat untuk mempraktikkan tata kelola perusahaan yang terbaik.

Penampilan dari orang-orang beretika terlihat dari pemikirannya yang sesuai dengan nilai-nilai perusahaan, selalu bijaksana, selalu menjaga kebenaran dari tata kelola, mengendalikan emosi, rendah hati, berani, adil, bersyukur, puas dengan perusahaan, menjaga ucapan yang benar, menjaga tindakan yang benar, bekerja keras dengan disiplin dan sangat tekun, mencari penghidupan di tempat kerja di jalan yang benar dan etis. Jadi, orang-orang beretika tidak pernah mau berurusan dengan nilai-nilai yang berkaitan dengan perilaku negatif. Mereka selalu bertindak sesuai adab, sopan santun, kelakuan yang baik, tata krama yang luhur, dan kebenaran yang ditentukan di tempat kerja. Jadi, mereka tidak akan melanggar semua ketentuan dan kebijakan yang sudah disepakati secara bersama di tempat kerja mereka.

Internalisasi nilai-nilai organisasi, etika, dan moralitas mampu menciptakan langkah-langkah yang efektif untuk menuju pertumbuhan pribadi yang hebat dan pembentukan karakter kerja yang diandalkan. Saat semuanya terinternalisasi dengan baik, saat itu terbentuk kesadaran untuk bertanggung jawab atas semua tindakan dan membuang egoisme untuk menumbuhkan kolaborasi agar bisa mencapai kinerja tertinggi. Setiap karyawan wajib hadir untuk memberikan kontribusi bagi penguatan etika di tempat kerja. Setiap karyawan wajib memimpin dirinya sendiri untuk kehidupan kerja yang etis. Kehidupan kerja yang tidak etis menciptakan kesalahan yang menjadi penyebab utama rasa takut di tempat kerja. Orang-orang yang lalai menjalankan etika di sepanjang proses kerjanya, hidupnya selalu ketakutan dan kehilangan ketenangan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENJALANKAN MORALITAS DI TEMPAT KERJA

“Moralitas di tempat kerja menyelamatkan tata kelola perusahaan dari kerusakan yang dibuat oleh perilaku tidak etis insan perusahaan.”~Djajendra

Moralitas dihasilkan dari karakter etis yang memberikan contoh atau perilaku yang baik di depan orang lain. Moralitas adalah bagian penting dari hubungan sosial. Moralitas bersumber dari kualitas diri yang kuat integritasnya, tanggung jawabnya, penghormatannya, dan selalu rendah hati dalam kehidupan sosial.

Di dalam perusahaan, biasanya dibuat standar moral atau kode moral dalam bentuk kode etik atau biasa di sebuat code of conduct. Kode etik ini tertulis secara formal dan terkait dengan berbagai aturan, standar, sistem, termasuk dengan etika bisnis. Kode etik atau kode moral dimaksud untuk menerangi proses kerja agar semua orang di tempat kerja mengetahui apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Kode moral seperti obor yang menerangi jiwa dan jalan hidup di tempat kerja. Kode moral melindungi setiap karyawan agar tidak terjebak dalam keinginan egois pribadi ataupun kelompok. Kode moral menerangi jalan untuk menuju visi dengan kekuatan integritas yang kuat.

Setiap karyawan membutuhkan kode moral sebagai pengetahuan untuk mengendalikan diri terhadap hal-hal yang dilarang di tempat kerja. Moralitas di tempat kerja berstandar dari kode etik. Tanpa pengabdian dengan integritas, karyawan tidak akan memiliki kekuatan batin untuk menjalankan kode etik dengan ketaatan yang sempurna.

Moralitas individu sangat menentukan implementasi kode etik di perusahaan. Dalam hal ini, walaupun perusahaan sudah menginternalisasikan nilai-nilai moral kepada setiap karyawan, tetapi karakter asli karyawan tersebut menentukan moralitas di tempat kerja. Intinya, kesadaran dan integritas pribadi terhadap moralitas merupakan kunci sukses dalam menjalankan kode etik dan etika bisnis di tempat kerja.

Kode etik atau etika terlihat melalui moralitas. Moralitas itu sendiri berwujud sifat, sikap, dan perilaku. Moralitas seorang karyawan di tempat kerja berasal dari nilai-nilai etika yang sudah dia simpan di alam bawah sadarnya. Jadi, moralitas ini bersifat otomatis yang ditampilkan melalui sifat, sikap, dan perilaku sehari-hari di tempat kerja. Etika seseorang terlihat dari moralitasnya. Karyawan yang etis pasti memperlihatkan moralitas yang tinggi di tempat kerja. Sebaliknya, karyawan yang tidak etis pasti memperlihatkan moralitas yang rendah di tempat kerja.

Moralitas sangat diperlukan dalam hubungan kerja, dan biasanya menjadi bagian dari budaya organisasi. Kualitas moralitas di tempat kerja dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan pengetahuan. Diperlukan pelatihan yang berkelanjutan agar moralitas yang kuat terbentuk dan membudaya di tempat kerja. Moralitas, kesadaran diri, disiplin diri, dan manajemen diri sangat diperlukan oleh setiap karyawan saat melayani pekerjaan di tempat kerja.

Moralitas adalah kunci sukses untuk terjadinya kerja sama, komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi di tempat kerja. Jelas, setiap orang di tempat kerja harus bisa berbagi fungsi dan peran agar pekerjaan besar menjadi lebih ringan. Saat moralitas tinggi, setiap karyawan dapat dengan bahagia dan gembira saling membantu agar tujuan dan pelayanan dapat terwujud sesuai harapan.

Nilai moral yang bersifat pribadi harus menyesuaikan diri dengan nilai moral yang dibuat oleh perusahaan. Jadi, nilai-nilai moral yang diutamakan dalam perusahaan haruslah menjadi sesuatu yang wajar bagi setiap karyawan. Bila karyawan diam-diam lebih mengutamakan nilai-nilai moral dari apa yang mereka yakini di luar keyakinan perusahaan, maka akan terjadi konflik yang berdampak pada hilangnya tujuan moralitas yang diharapkan oleh perusahaan.

Nilai-nilai perusahaan dan kode etik perusahaan bertujuan untuk tidak mengembangkan sudut pandang tentang apa yang benar dan apa yang salah dari persepsi masing-masing orang. Jadi, moralitas di tempat kerja tidak bersumber dari sudut pandang seseorang, tetapi bersumber dari kode etik dan aturan kerja yang dimiliki oleh perusahaan. Walaupun sifat moralitas itu relatif atau tidak mutlak, karena bisa bersumber sesuai keyakinan dan tradisi masing-masing kelompok. Tetapi, di tempat kerja, sumber moralitas haruslah satu, yaitu: dari kode etik tertulis yang ditetapkan oleh manajemen. Dan, ini harus menjadi kesepakatan dari setiap karyawan sejak mereka pertama kali masuk ke dalam perusahaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENJALANKAN USAHA DENGAN INTEGRITAS

“Integritas memiliki makna yang sangat holistik untuk membuat sikap dan perilaku seseorang menjadi terpercaya.”~Djajendra

Ketika raksasa bisnis Enron jatuh, banyak orang mengatakan bahwa kejatuhan Enron disebabkan mereka tidak memiliki integritas. Perilaku kerja yang tidak taat aturan dan etika menjadikan Enron sebagai korban.

Apa itu integritas? Menjalankan usaha yang baik memerlukan ketaatan dan kepatuhan pada aturan, etika, SOP, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Kejujuran sikap, kejujuran hati, kejujuran perilaku, kejujuran pikiran, kejujuran niat, kejujuran emosi, dan kejujuran tindakan merupakan satu kesatuan yang harus melebur dalam etos kerja setiap individu. Ucapan, perbuatan, dan pikiran haruslah sama walau dilihat atau tidak dilihat oleh siapapun. Jadi, integritas adalah sebuah kata atau nilai yang mendeskripsikan sebuah realitas perilaku yang bersumber dari kejujuran, tanggung jawab, kemampuan, kualitas, dan niat suci. Intinya, integritas itu memiliki makna yang sangat holistik untuk membuat sikap dan perilaku seseorang menjadi terpercaya.

Untuk menjalankan usaha berlandaskan integritas memerlukan kesadaran dan niat yang suci. Biasanya, perusahaan melengkapi tata kelola terbaiknya dengan berbagai pedoman dan aturan untuk mengikat dan mengawasi perilaku kerja setiap orang. Selanjutnya, dibangun sistem pengawasan dan sistem untuk peningkatan kualitas kepribadian secara terus-menerus. Intinya, setiap karyawan dan pimpinan wajib memahami garis terang yang membedakan perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima oleh integritas.

Perusahaan yang menjalankan bisnis dengan budaya integritas memperoleh banyak manfaat untuk menjaga pertumbuhan dan pencapaian kinerja terbaik. Di samping itu, perusahaan mampu meningkatkan reputasi dan kredibilitas di persepsi stakeholders, sehingga menjadi sangat dipercaya dan diandalkan oleh stakeholders. Kondisi ini memudahkan perusahaan untuk mendapatkan sumber daya terbaik dalam menumbuhkan dan mengembangkan usaha.

Budaya integritas dalam bisnis secara otomatis memperkuat manajemen resiko dan integrasi etos kerja terbaik ke dalam perilaku kerja karyawan. Hal ini akan mendorong setiap insan perusahaan untuk membangun bisnis dengan integritas, dan berkomitmen untuk melihat visi perusahaan melalui integritas. Intinya, setiap insan perusahaan akan bekerja dengan niat dan fokus untuk menjaga pertumbuhan dengan perilaku kerja berlandaskan integritas.

Integritas dalam bisnis menjadi kekuatan untuk memperkuat modal usaha; memperkuat tim kerja yang efektif dan produktif; meningkatkan keuntungan usaha; meningkatkan pertumbuhan; meningkatkan fokus sesuai keahlian masing-masing fungsi dan peran; menguatkan daya tahan dalam menghadapi tantangan; mendorong masa depan dengan pertumbuhan dan kinerja; serta membangun kepercayaan diri setiap orang untuk melihat visi dengan optimis.

Ketika integritas sudah menjadi perilaku kerja, maka setiap orang di tempat kerja sudah mampu menyempitkan fokus mereka ke daerah-daerah kunci di mana mereka bekerja dengan unik untuk bisa memberikan nilai tertinggi kepada perusahaan dan pelanggan.

Perilaku integritas secara langsung memperkuat implementasi etika dan etiket di tempat kerja. Hal ini, akan menciptakan budaya kerja yang secara fundamental mempromosikan prinsip-prinsip untuk secara terus-menerus memperbaiki dan meningkatkan semua aspek di lingkungan tempat kerja. Kejujuran dan tanggung jawab menjadi fondasi untuk memotivasi orang-orang berbakat dengan landasan etika.

Budaya integritas di tempat kerja menyatukan semua fungsi dan peran melalui kemampuan komunikasi positif. Intinya, setiap orang memiliki kesadaran dan niat suci untuk kolaboratif dan melayani satu sama lain. Semua orang merasa bertanggung jawab dan bekerja dari diri sejati yang paling jujur, untuk memenuhi harapan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Inovasi yang terus-menerus akan menjadi budaya untuk menjawab tantangan bisnis di masa depan. Setiap orang secara sadar dengan intuisi yang tajam mampu menjaga komitmen untuk praktik bisnis yang etis.

Budaya integritas memunculkan mindset bahwa perusahaan adalah manusia, dan bisnis adalah manusia. Kesadaran bahwa perilaku dan sikap manusialah yang menentukan kemajuan dari usaha tersebut. Oleh karena itu, setiap orang di tempat kerja wajib membangun standar kerja yang lebih tinggi, kolaborasi yang lebih solid di internal organisasi, dan komunikasi yang lebih menyatukan perbedaan. Intinya, perilaku integritas membuat semua orang bangkit dan sadar untuk mengambil tanggung jawab dari hati yang paling tulus dan ikhlas agar dapat bekerja untuk pertumbuhan, bekerja membangun kinerja, menguatkan kekompakan dan sinergi lintas fungsi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KEPEMIMPINAN DENGAN STANDAR ETIKA YANG TINGGI

“Pengabaian etika bisnis menimbulkan proses bisnis berbiaya tinggi, dan juga potensi resiko hukum atas ketidakjujuran.”~Djajendra

Kepemimpinan perusahaan adalah kekuasaan dan tanggung jawab di tempat kerja. Agar kekuasaan dan tanggung jawab ini dapat dijalankan dengan cara-cara yang benar dan baik, serta kemampuan untuk menghindari cara-cara tidak benar dan tidak baik; maka, para pemimpin di perusahaan memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya kerja yang etis. Membangun standar etika yang tinggi, model perilaku yang tepat, integritas dan akuntabilitas yang konsisten.

Dalam proses bisnis, sangat banyak peristiwa yang memungkinkan terjadinya pengabaian etika. Sering sekali, kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok bisa memicu perbuatan yang mengabaikan etika. Sebagai contoh: seorang staf dari bagian pembelian menerima komisi dari penjual, dan komisi tersebut masuk ke kantong pribadi. Contoh yang lain, seorang staf dari bagian pembayaran meminta komisi agar pembayaran bisa dipercepat. Dan, sangat banyak wilayah dalam proses bisnis yang berpotensi mengabaikan etika.

Pertanyaannya, apa yang akan terjadi kalau etika bisnis selalu diabaikan? Jawabannya jelas, pengabaian etika bisnis menimbulkan proses bisnis berbiaya tinggi, dan juga potensi resiko hukum atas ketidakjujuran.

Proses bisnis yang efektif dan efisien membutuhkan kepemimpinan yang tegas dan berani menjalankan etika bisnis dengan standar yang tinggi. Tanpa implementasi etika bisnis dan kode etik perilaku di tempat kerja, maka tata kelola perusahaan yang terbaik sulit diwujudkan. Tanpa internalisasi etika bisnis dan kode etik perilaku ke dalam mental dan perilaku pegawai, maka proses bisnis berpotensi berbiaya tinggi. Kepemimpinan yang etis berani mengambil tindakan dan menunjukkan kepada semua stakeholder bahwa organisasinya mematuhi isu-isu etis. Keberanian dan kepastian pemimpin untuk menjalankan nilai-nilai etika, akan meningkatkan kualitas budaya organisasi etis di tempat kerja.

Kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi tidak hanya membuat tata kelola bisnis yang terbaik, panduan etika bisnis, panduan kode etik perilaku, prosedur kerja yang profesional, aturan, peraturan, dan kebijakan yang mempromosikan etika sebagai fondasi budaya perusahaan. Mereka juga merupakan kepemimpinan yang membentuk perilaku dan karakter kerja dengan nilai-nilai inti perusahaan. Nilai-nilai inti (core values) perusahaan merupakan jati diri dan identitas unik dari perusahaan. Oleh karena itu, kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi merasa bertanggung jawab untuk mengatur perilaku karyawan agar selalu selaras dengan nilai-nilai inti perusahaan. Bila ada karyawan yang perilaku kerjanya tidak selaras dengan nilai-nilai inti perusahaan, maka dia akan menjadi kekuatan negatif yang merusak implementasi dan internalisasi etika bisnis.

Kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi wajib menjadi contoh dan memberikan keteladanan melalui sikap dan perilaku etis. Intinya, kepemimpinan etis memberitahu kepada semua stakeholder tentang cara menjalankan etika bisnis dan kode etik perilaku melalui kepribadian dan karakter kerjanya.

Nilai-nilai inti pribadi dan nilai-nilai inti perusahaan harus menyatu. Misalnya, nilai-nilai inti pribadi tidak mempercayai transparansi, sedangkan nilai-nilai inti perusahaan mempercayai transparansi. Kondisi ini akan membuat nilai-nilai inti pribadi bertentangan dengan nilai-nilai inti perusahaan. Akibatnya, karyawan tidak mungkin bisa bekerja dengan sepenuh hati bersama perusahaan. Padahal, setiap orang di tempat kerja harus mampu menjadi kekuatan dari budaya organisasi yang unik dan sesuai dengan napas perusahaan.

Untuk mendapatkan nilai-nilai inti pribadi karyawan yang selaras dengan nilai-nilai inti perusahaan dimulai dari perekrutan dan pelatihan. Dalam proses perekrutan jangan terjebak dengan tingginya nilai akademik calon karyawan, tetapi berikan perhatian pada nilai-nilai inti pribadi calon karyawan. Tingginya nilai akademik calon karyawan tidak menjamin bahwa dia akan menjadi kekuatan positif bagi budaya kerja yang etis. Jadi, begitu seseorang diterima sebagai pegawai, sudah tidak ada lagi urusannya dengan nilai-nilai akademik, urusannya sekarang adalah kemampuannya untuk bekerja bersama budaya etis di perusahaan.

Penguatan budaya etis di setiap aspek di dalam organisasi menjadikan perusahaan kuat dan mampu beradaptasi di setiap situasi yang tidak pasti. Benar dan salah bukanlah dihasilkan dari persepsi, tetapi dari standar etika dan sistem yang dapat dipercaya.

Pemimpin etis harus memiliki mental yang etis agar dapat melakukan tindakan yang benar, pada waktu yang tepat, untuk alasan yang tepat. Etika harus menjadi dasar pemikiran dan tindakan dalam melakukan apa saja di tempat kerja. Pemimpin dan karyawan harus hidup dalam satu jiwa dan satu napas bersama prinsip-prinsip kerja yang jujur, bertanggung jawab, adil, melayani, menepati janji, menghormati orang lain, mematuhi aturan-aturan, dan berkepastian hukum.

Kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi mampu mengenali dan mengelola dilema etika secara profesional. Dilema etika berarti dihadapkan dengan pilihan sulit untuk menjalankan etika secara benar. Seperti dipahami oleh banyak pemimpin perusahaan bahwa di tempat kerja sangat banyak kepentingan, apalagi bila kepentingan itu datang dari orang-orang yang lebih tinggi kekuasaannya dari para pemimpin di perusahaan. Dalam hal ini, dilema etika sudah tidak dapat lagi disembunyikan dengan cara apapun. Di sinilah diperlukan untuk mendengarkan suara hati yang sudah terbentuk sejak lama dari integritas pribadi yang tinggi. Artinya, saat dilema etika begitu sulit, dengarkan suara hati nurani Anda, lalu berpikirlah secara rasional dengan akal sehat sebelum mengambil keputusan atas dilema etika yang Anda hadapi. Itulah cara menjalankan standar etika kepemimpinan walau Anda sedang menghadapi dilema etika yang sulit.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PENYIMPANGAN DALAM ETIKA KERJA MELEMAHKAN BUDAYA ORGANISASI

“Budaya organisasi yang kuat tercipta dari perilaku etis karyawan dan pimpinan yang konsisten.”~Djajendra

Untuk menjaga konsistensi perilaku etis di tempat kerja memerlukan implementasi dan internalisasi kode etik, etika bisnis, nilai-nilai organisasi, dan berbagai kebijakan untuk peningkatan kualitas integritas, serta kemampuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang holistik dan membahagiakan setiap orang.

Penyimpangan dalam etika kerja akan membuat suasana kerja terganggu. Perusahaan tanpa etika merusak perilaku kerja dan menciptakan suasana kerja yang buruk.

Etika kerja diperlukan untuk menjaga rutinitas dan aktivitas sehari-hari di tempat kerja berjalan dengan perilaku positif. Karyawan dengan perilaku etis memiliki kepribadian dengan standar moral yang tinggi, sehingga mereka dapat menjaga diri untuk tidak melakukan penyimpangan di tempat kerja.

Penyimpangan dalam etika kerja menguatkan konflik kepentingan dan penyalahgunaan aset perusahaan.Dan, perlu disadari bahwa moralitas pekerja yang rendah menyulitkan perusahaan untuk menjaga tidak terjadinya penyimpangan. Jadi, bila di tempat kerja masih terjadi penyimpangan dalam etika kerja dan etika bisnis, maka ini artinya internalisasi nilai-nilai moral yang baik dan penegakkan aturan haruslah ditingkatkan.

Etika tidak hanya untuk diucapkan dan ditulis dalam bentuk kode etik. Lebih dari itu, etika merupakan perilaku wajib untuk dapat memiliki budaya perusahaan yang kuat dan unggul. Bila karyawan tidak memiliki perilaku etis, maka mereka tanpa merasa bersalah atau berdosa akan melanggar semua aturan, dan penyimpangan dianggap benar oleh mereka.

Perilaku tanpa etika: mudah berbohong, sering absen dengan berbagai alasan, selalu mencari keuntungan dari hubungan kerja, membuat keputusan tanpa memetakan resiko, tidak menganggap kode etik dan etika bisnis, serta berperilaku sesuka hati tanpa memikirkan aturan dan kebijakan.

Bekerja tanpa etika menjadikan mental buruk dan etos kerja tidak produktif. Hal ini merugikan perusahaan. Selain itu, lingkungan kerja menjadi tidak bahagia karena perilaku yang tidak adil, tingginya diskriminasi, saling bermusuhan, bergosip, perilaku menghakimi, menilai, dan menyudutkan rekan kerja. Semua kondisi ini menciptakan lingkungan kerja sehari-hari yang tidak produktif dan tidak mendatangkan rasa memiliki perusahaan oleh karyawan.

Sekecil apapun penyimpangan dalam etika kerja dan etika bisnis pasti melemahkan budaya organisasi. Dalam budaya yang lemah karyawan tidak mampu bekerja optimal, sebagian energi terkuras untuk melayani hal-hal negatif yang diakibatkan oleh penyimpangan etika.

Penyimpangan etika di tempat kerja mengurangi kualitas kerja untuk semua karyawan. Jelas, hal ini mengakibatkan turunnya kualitas pelayanan, dan memburuknya hubungan pelanggan dengan perusahaan. Kondisi ini pasti menurunkan kinerja bisnis dan berdampak serius pada penurunan citra perusahaan.

Menguasai etika tidaklah bisa secara otomatis. Sering sekali, atau pada umumnya, perusahaan membuat kode etik dan panduan etika bisnis, lalu disosialisasikan dalam waktu singkat, dan memaksa karyawan untuk mematuhinya. Dalam realitas, cara ini selalu gagal. Perlu diingat bahwa implementasi etika bertujuan untuk mengubah perilaku karyawan. Mengubah perilaku membutuhkan disiplin yang tinggi untuk berlatih perilaku etis, yang sesuai dengan kode etik dan panduan etika bisnis. Dalam hal ini, perusahaan harus sadar untuk melatih semua karyawan secara rutin, dan melatihnya berulang-ulang agar perilaku etis terbiasa bagi karyawan.

Tidak ada cara instan dalam menciptakan perilaku etis, dan tidak bisa menyerahkan perilaku etis kepada kesadaran karyawan. Perusahaan wajib membuat kebijakan dan aturan untuk menyadarkan karyawan agar berperilaku etis di tempat kerja. Lalu, menegakkan aturan dan menghukum yang tidak etis.

Budaya organisasi yang kuat dikembangkan melalui perilaku etis karyawan. Semua ini bisa dimulai dari lingkungan kerja. Misalnya, karyawan bertanggung jawab menjaga kebersihan ruang kerja, menjaga kebersihan toilet dan tersedianya kertas toilet, menjaga dapur dan kantin kantor yang bersih dan piring-piringnya tersusun dengan baik. Walaupun mungkin sudah ada petugas khusus yang mengerjakan pekerjaan kebersihan lingkungan kantor, tetapi perilaku etis karyawan haruslah peduli, serta memiliki tanggung jawab untuk berbudaya bersih dan sehat di tempat kerja.

Perilaku tidak etis, seperti: mengaku sakit, tapi sebenarnya pergi jalan-jalan;  jatuh cinta dengan rekan kerja, padahal sudah punya isteri atau suami; berperilaku buruk di acara atau kegiatan kekeluargaan dengan rekan kerja dan atasan; ikut campur dalam urusan pekerjaan orang lain; meminta komisi atau keuntungan kepada pihak ketiga dari pelayanan yang diberikan; tidak bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat perlengkapan kantor; menghabiskan sebagian jam kerja untuk berselancar di sosial media; berperilaku boros dan tidak bertanggung jawab saat menggunakan fasilitas kantor; meja kerja tidak bersih dan banyak makanan ringan; senang mendengarkan gosip dan mengulanginya untuk rekan kerja yang lain; tidak peduli dengan komplain pelanggan; tidak memiliki empati terhadap rekan kerja, bawahan, atasan, dan pelanggan; tidak peduli dengan standar kerja; mengabaikan kualitas di setiap proses kerja; tidak disiplin; dan malas berkontribusi untuk kemajuan perusahaan. Semua perilaku tidak etis ini pasti melemahkan budaya organisasi. Jadi, kalau mau memiliki budaya organisasi yang kuat, maka tingkatkan kualitas perilaku etis di tempat kerja.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETIKA BERGAUL DI TEMPAT KERJA

motivasi-26092016

“Tempat kerja adalah tempat bergaul bagi perilaku produktif untuk menghasilkan kinerja terbaik.”~Djajendra

Ketika karyawan sudah terbiasa menjalankan etika bergaul di tempat kerja secara profesional; maka, hubungan kerja yang sehat, kuat, etis, produktif, dan menyenangkan, akan tercipta untuk membahagiakan semua stakeholders.

Hubungan kerja tidaklah selalu mudah. Pikiran dan kepentingan yang berbeda bisa menjadi rintangan dalam merawat hubungan kerja yang positif dan profesional. Oleh karena itu, setiap orang di tempat kerja harus memiliki tanggung jawab moral yang tinggi untuk menegakkan etika di semua aspek kerja. Dalam hal ini, sangat diperlukan hubungan kerja yang etis untuk mendorong pergaulan yang etis di tempat kerja. Ketika etika bergaul terimplementasi dengan baik di tempat kerja, maka setiap karyawan akan sadar untuk memiliki tanggung jawab dalam membentuk tempat kerja yang etis bagi semua pemangku kepentingan.

Etika bergaul di tempat kerja bersumber dari kemampuan karyawan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam hal ini, karyawan memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk berperilaku sesuai kode etik dan etika bisnis perusahaan. Walaupun kode etik dan etika bisnis sifatnya normatif dan teori, tetapi bila karyawan sadar untuk menjadikannya sebagai perilaku, maka mereka akan terus-menerus berlatih dan membiasakan semua yang normatif tersebut menjadi perilaku nyata di tempat kerja.

Pergaulan etis membutuhkan dasar komunikasi yang bersumber dari pikiran dan emosi positif. Intinya, walaupun karyawan sudah menguasai cara berkomunikasi yang baik, tetapi tanpa kekuatan etika dan moralitas di dalam kepribadian dan karakter kerjanya, maka komunikasi yang baik tersebut tidak akan mampu menyentuh hati dan logika orang lain.

Berkomunikasi di tempat kerja berarti karyawan memahami kebutuhan proses kerja, serta mampu mengekspresikan etos kerja untuk melayani kebutuhan proses kerja dengan profesional. Komunikasi kerja yang etis dengan perilaku etis dapat melancarkan proses kerja di dalam integritas dan akuntabilitas yang tinggi.

Etika bergaul di tempat kerja dapat terimplementasi dan terinternalisasi dengan baik, bila pimpinan dan manajemen perusahaan mampu mengembangkan sistem dan budaya organisasi, untuk mengelola hubungan antar karyawan dengan perilaku yang etis. Jelas, dalam hal ini, perusahaan harus mengeksplorasi nilai-nilai terbaik yang diinginkan di dalam budaya organisasi. Nilai-nilai terbaik inilah yang nantinya akan menjadi perilaku, sikap, etos, dan karakter kerja karyawan. Di awali dari nilai-nilai pilihan, lalu nilai-nilai tersebut dijadikan sebagai standar perilaku kerja yang secara otomatis membangun perilaku organisasi dalam wujud budaya.

Etika pergaulan di tempat kerja haruslah menjadi budaya pergaulan di tempat kerja. Jadi, setiap karyawan harus sadar bahwa keberadaan mereka di tempat kerja adalah untuk memberikan kontribusi dan pelayanan yang etis dan produktif. Mereka berada di tempat kerja untuk bekerja dengan segala kemampuan bagi terciptanya kinerja terbaik. Oleh karena itu, tidak boleh ada perilaku yang merintangi atau menghalangi terciptanya kinerja yang produktif di tempat kerja.

Etika bergaul yang etis dengan integritas dan akuntabilitas dapat menciptakan energi positif di lingkungan perusahaan. Hal ini, menjadi kekuatan untuk memperbaiki masalah hubungan tidak harmonis antara karyawan. Bila perilaku etis sudah benar-benar terinternalisasi di dalam perilaku kerja karyawan, maka sangat mudah bagi manajemen untuk memperbaiki perilaku yang tidak pantas, serta mempromosikan tempat kerja yang terstruktur dalam budaya kuat dan produktif.

Pergaulan yang etis di tempat kerja menawarkan kenyamanan, kesenangan, kebahagiaan, kesehatan mental, dan kondisi kerja yang positif bagi setiap karyawan.

Etika pergaulan mendorong terciptanya perilaku berdasarkan nilai-nilai moralitas positif. Kondisi ini menjadikan tempat kerja berbudaya adil, terbuka, bertanggung jawab, tidak ada permusuhan, tidak ada diskriminasi, tidak ada pilih kasih, tidak ada pelecehan, tidak ada konflik kepentingan, tidak ada kebohongan, tidak ada perilaku dan tindakan yang merugikan stakeholders. Jadi, semua karyawan selalu merasa bahagia di tempat kerja sehingga benar-benar bisa fokus bekerja untuk menghasilkan kinerja terbaik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETIKA DAN ETOS SALING TERKAIT, TIDAK TERPISAHKAN

MOTIVASI 09072016

“Etos tanpa etika menjadikan karyawan tidak punya integritas.”~Djajendra

Etika membuat karyawan patuh pada hukum dan aspek moralitas; etos membuat karyawan patuh pada nilai-nilai perusahaan, aturan perusahaan, budaya perusahaan, etika, dan praktik kerja dari hati yang ikhlas untuk melayani.

Etos kerja adalah tentang daya tarik dari karakter pekerja. Dalam pekerjaan apapun, etos menjadi perilaku yang terlihat dan dinilai secara kasatmata. Orang yang rajin, tekun, ulet, disiplin, kerja keras, berkemauan tinggi, tepat waktu, produktif, kreatif, bekerja dengan hati, melayani dengan hati, dan mengalir dalam kolaborasi, adalah contoh dari etos yang kuat.

Etos berbeda dengan etika, walau keduanya saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Etos yang baik dilandasi oleh etika yang baik, keduanya membentuk karakter kerja yang terpercaya dan andal. Kalau etos adalah tentang daya tarik dari karakter pekerja, seperti: cara kerja, penampilan, atau gaya kerja; sebaliknya, etika adalah tentang moralitas kerja, disini yang dilihat adalah kemampuan untuk menjalankan kebaikan dan menghindari semua yang tidak baik, menjalankan kebenaran dan menghindari semua yang tidak benar, tujuannya untuk membentuk integritas.

Menguasai etos yang baik berarti menguasai etika yang sempurna. Etos tanpa etika menjadikan karyawan tidak punya integritas. Perilaku kerja yang cerdas, rajin, disiplin, pintar, cepat, produktif haruslah disertai etika yang hebat agar perilaku kerja tersebut mampu bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan semua yang dilakukan dengan sempurna.

Etos yang baik mampu menjadi tradisi kerja yang mulia dan membanggakan. Etos mengekspresikan tanggung jawab pribadi dan kelompok melalui karakter kerja yang membanggakan organisasi. Etos yang baik fokus pada pelayanan, keamanan, dan kepuasaan pelanggan. Etos yang baik menjadi energi positif yang melayani perusahaan dan pelanggan dengan rendah hati. Etos yang baik tidak akan menghambat kebutuhan pelanggan, tetapi berfungsi sempurna untuk melayani pelanggan dan stakeholder lainnya. Etos yang baik mempercepat pengambilan keputusan. Semua isu, satu per satu, dituntaskan dengan baik, lalu dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.

Penyatuan karakter kerja oleh etos dan etika akan menciptakan akuntabilitas yang tinggi, serta menciptakan sumber daya manusia yang dapat diandalkan dalam memenangkan kompetisi pasar yang ketat. Jadi, etika dan etos saling terkait, tidak terpisahkan. Oleh karena itu, kepemimpinan perusahaan harus mampu memimpin etos dan etika, lalu diberdayakan untuk menguatkan budaya kerja. Etos dan etika yang kuat menjauhkan perusahaan dari masalah, krisis, penundaan, atau menyelamatkan semua peluang terbaik yang dimiliki perusahaan.

Etos dan etika diperlukan untuk meningkatkan reputasi dan melaksanakan solusi yang dipilih. Etos dan etika yang dijalankan dengan baik mampu mendobrak hambatan dan membangun kepercayaan di internal perusahaan.

“Bila Anda optimis dan bekerja lebih keras di masa sulit, maka masa sulit itu akan menjadi fondasi untuk keberhasilan Anda yang melebih sebelumnya.”~Djajendra

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

CODE OF CONDUCT

code of conduct 30032016

“Di tempat kerja, ada dua hal yang harus dihormati oleh setiap karyawan.Pertama: kepatuhan, dan yang kedua: komitmen. Kepatuhan berarti tunduk pada sistem, prosedur, kebijakan, aturan, dan struktur organisasi. Komitmen berarti melakukan janji dan menepati semua ucapan dengan integritas yang tinggi.”~Djajendra

Kode etik perilaku atau biasa yang disebut dengan code of conduct  adalah payung etika di tempat kerja. Code of conduct mengatur apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh setiap orang di tempat kerja. Tujuannya sederhana, yaitu agar sistem dan struktur bergerak dengan perilaku kerja yang etis dan tepat. Tanpa code of conduct akan terjadi kebingungan untuk memastikan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang benar dan apa yang tidak benar, sehingga proses kerja berpotensi di dalam konflik dan ketidakpastian.

Pertempuran antara baik dan tidak baik selalu ada. Kehadiran code of conduct dimaksudkan untuk membangun kehidupan kerja yang etis dan saling bertanggung jawab atas perilakunya masing-masing. Ini juga dimaksudkan untuk membangun kehidupan yang melancarkan proses kerja dengan etos yang baik. Code of conduct secara tegas membela yang baik dan menguatkan yang baik agar selalu menang melawan yang tidak baik. Code of conduct membuat karyawan dan pimpinan  percaya bahwa dengan kekuatan etis, tanggung jawab dapat dipertanggung jawabkan secara terhormat.

Moral adalah bagian terpenting dari code of conduct. Secara alami setiap orang memiliki karunia moral untuk memiliki perilaku etis, dan mereka punya hati nurani untuk membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dengan memberikan code of conduct kepada setiap orang di tempat kerja, maka kehidupan kerja akan menghasilkan perilaku yang terhormat dan etis. Perilaku etis bekerja dan melayani untuk kejujuran, kebenaran, keadilan, kesetaraan, kebahagiaan, dan tanggung jawab.

Code of conduct harus diimbangi dengan internalisasi nilai-nilai inti (core values) perusahaan. Core values bertujuan membentuk fondasi etos kerja untuk mendukung tujuan dan strategi perusahaan. Sedangkan, code of conduct memberikan kekuatan untuk menangkis perilaku-perilaku tidak baik atau tidak etis. Bila core values dan code of conduct dapat dijalankan menjadi perilaku kerja setiap individu di tempat kerja, maka proses kerja akan bergerak tanpa resiko, dan hal ini menguntungkan semua pihak di tempat kerja.

Ketika code of conduct dan core values menjadi fondasi budaya organisasi, maka ini menjadi landasan untuk menjalankan kepatuhan organisasi. Tingkat kepatuhan dan ketaatan terhadap tata kelola dan etika akan menguat. Dalam hal ini, kepatuhan dan komitmen dapat berjalan harmonis, sehingga setiap individu dapat memberikan kinerja yang produktif dan yang terbaik. Kepatuhan berarti melakukan perintah organisasi dengan penuh tanggung jawab; komitmen berarti memenuhi janji dan melakukan yang dikatakan dengan benar. Jadi, di tempat kerja, ada dua hal yang harus dihormati oleh setiap karyawan dan pimpinan. Pertama: kepatuhan, dan yang kedua: komitmen. Kepatuhan berarti tunduk pada sistem, prosedur, kebijakan, aturan, dan struktur organisasi. Komitmen berarti melakukan janji dan menepati semua ucapan dengan integritas yang tinggi.

Code of conduct tidak hanya sebatas menjadi kepatuhan, tetapi juga menjadi komitmen yang bersumber dari kesadaran moralitas. Intinya, menjalankan code of conduct harus dari komitmen yang tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Kode perilaku merupakan dasar untuk menjadikan karyawan dan pimpinan sebagai aset berharga organisasi. Oleh karena itu, code of conduct tidak dibuat sebagai dokumen untuk memenuhi persyaratan good governance, tetapi harus menjadi investasi perusahaan untuk membangun sumber daya manusia yang berharga dan bernilai tinggi. Pada saat code of conduct betul-betul terimplementasi menjadi perilaku kerja, hal ini menunjukkan tingginya kualitas dan komitmen di tempat kerja untuk bekerja dengan cara-cara etis dalam mencapai kinerja terbaik.

Dalam dunia nyata di tempat kerja, perilaku negatif yang sulit berubah(hardcore) atau ekstrem adalah sebuah tantangan. Sesungguhnya, semua orang diberkahi dengan pikiran baik dan etis agar mereka mampu menghadapi tantangan dari perilaku negatif yang sulit berubah. Nyatanya, perilaku ekstrem yang melihat semua aturan etis sebagai sesuatu yang merugikan dirinya juga muncul di tempat kerja. Jadi, tidak semua orang bisa berhubungan dengan code of conduct, ada juga yang secara mental sulit beradaptasi dan cendrung menjadi energi perusak.

Code of conduct mengarahkan perilaku kerja menjadi terukur dan etis, sehingga resiko dapat dihindari. Dalam hal ini, orang-orang yang patuh pada code of conduct mampu menghindari masalah, serta mampu bekerja sesuai tujuan dan aturan yang ada.

Keberadaan code of conduct untuk menghasilkan perilaku etis, sehingga perilaku etis dapat secara otomatis mengubah yang tidak baik menjadi baik. Kondisi ini mengubah kehidupan kerja melalui hubungan antar pribadi yang saling menjaga etika dan kehormatan masing-masing. Setiap orang menjadi kuat di dalam integritas, dan berani menghadapi tanggung jawab dengan penuh semangat. Jadi, pemimpin dan karyawan mengubah kehidupan kerja melalui hubungan antar pribadi yang saling menjaga etika. Mereka menjadi kuat secara fisik dan mental, dan berani menghadapi ketakutan atas berbagai dilema etika yang membuat mereka berada pada posisi sulit. Perilaku etis bekerja dengan contoh yang baik, dan memiliki mentalitas di dalam kekuatan integritas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

SEBUAH KETIDAKJUJURAN AKAN MENCIPTAKAN KETIDAKJUJURAN BERIKUTNYA

NILAI INTEGRITAS 14032016

“Integritas adalah tentang menegakkan kebenaran dan kejujuran, bukan tentang keadilan ataupun rasa kasihan”.~Djajendra

Tanpa integritas kejujuran tidak mungkin ada; tanpa integritas ketidakjujuran demi ketidakjujuran akan merusak kehidupan. Memiliki integritas berarti mengetahui cara yang benar, tepat, etis, dan jujur dalam bersikap dan bertindak. Intinya, dengan integritas Anda dapat menjalankan pekerjaan dan kehidupan yang produktif untuk mencapai kinerja terbaik

Integritas merupakan sebuah nilai yang menjamin dan memastikan semua nilai-nilai yang lain dijalankan dengan niat baik dan pikiran positif. Jadi, apapun situasi dan realitas yang dihadapi, pikiran positif tetap memimpin dengan tingkat kejujuran yang sempurna dan benar. Oleh karena itu, tidak mungkin ketidakjujuran berani hadir dalam nilai integritas. Sebab, nilai integritas berfungsi untuk meniadakan semua yang tidak baik, dan mendatangkan semua yang baik.

Pribadi dengan integritas selalu berperilaku etis dan hanya mengatakan kebenaran walau kebenaran yang dia katakan itu merugikan dirinya sendiri. Dia berprinsip lebih baik jujur daripada membohongi orang lain. Bagi pribadi dengan integritas tidak ada kata kompromi pada situasi yang mengabaikan integritas. Dia tetap menjaga pikiran positifnya untuk jujur dan menjalankan apa yang benar. Apapun konsekuensi yang harus dihadapi demi sebuah kebenaran, dia tetap menjalankan kebenaran dengan sepenuh hati dan ikhlas pada hasil akhirnya.

Integritas merupakan sebuah nilai yang menciptakan perilaku untuk dipercaya.  Integritas adalah nilai yang membuat seseorang tetap jujur dan berani dalam setiap situasi dan kondisi. Ini adalah tentang karakter yang menjalankan moralitas secara sempurna. Ini adalah karakter yang tidak mau berkompromi dalam menjalankan kejujuran dan kebenaran. Integritas membuat seseorang konsisten dengan kejujurannya. Dia tidak akan membangun apapun di atas kebohongan dan kecurangan, dia hanya melakukan hal-hal benar dengan cara yang paling benar.

Seseorang yang berintegritas tidak akan mengobral janji, dia sangat berhati-hati memberikan janji, dan tidak mau memberikan janji yang tidak dapat dia penuhi. Komitmennya untuk menjadi orang yang benar dan jujur di semua bagian kehidupannya, adalah realitas tentang kebenaran dirinya. Dia hidup jujur dan benar di dalam realitas, dan selalu menjaga pikiran untuk tetap jujur dalam menghadapi realitas apapun.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BENTURAN ANTARA ETIKA DAN ETIKET MENCIPTAKAN DILEMA

“Saat Anda tegas menegakkan etika, etiket sulit berfungsi.”~Djajendra

Memiliki kemampuan untuk menjaga etika dan etiket secara bersama-sama tidaklah mudah. Dalam realitas bisnis, etika selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit. Sering sekali muncul dilema etika yang bersumber dari kepentingan. Ketika dilema etika muncul, maka persoalan juga bisa muncul di etiket.

Contoh, untuk memperlancar proses bisnis, A menjaga hubungan baik dengan B. B adalah orang yang berpengaruh dalam membuat keputusan kepada siapa proyek diberikan. B selalu memprioritaskan A untuk mengerjakan proyek-proyeknya. A merasa B sangat membantu dan banyak menolong. Rasa terima kasih dan sopan-santun A kepada B ditunjukkan dengan cara memberikan hadiah dan fasilitas. Dalam hal ini, A ingat bahwa dia harus memiliki etiket agar hubungannya dengan B baik selalu. A pun berusaha memaksimalkan kenyamanan pribadi B dan hubungan yang saling menghargai. Ya, memang, memiliki etiket berarti harus mampu berperilaku tahu diri, menyamankan hati orang yang membantu, serta merawat hubungan bisnis yang saling menghargai.

Etiket bersumber dari konsensus sosial dan budaya tentang perilaku dan penampilan yang sopan-santun. Etiket bisa berubah dari waktu ke waktu sesuai kemajuan peradaban. Etiket terlihat melalui kepantasan perilaku, sikap, dan penampilan. Etiket adalah tentang memaksimalkan kenyamanan pribadi dan hubungan sosial yang saling menghargai. Seseorang yang beretiket berarti memiliki keterampilan sosial dan keterampilan diri yang tahu diri dan sopan-santun. Etiket tidak hanya mengatur perilaku dan sikap mulai dari gaya pribadi, bahasa tubuh, cara berpakaian, perilaku di meja makan, cara menyapa, dan banyak lagi yang berkaitan dengan sopan-santun. Tetapi, etiket juga mengatur bagaimana cara berterima kasih kepada orang-orang yang sudah membantu dan memperlancar kehidupan kita.

Jadi, A memikirkan tentang perasaan B yang sudah membantunya, sehingga hati nuraninya berkata bahwa sangatlah wajar bila dia memberikan sesuatu buat B. Benar memang bahwa etiket bukanlah tentang prinsip-prinsip moral, etiket adalah tentang prinsip-prinsip menjaga hubungan baik dengan tata krama yang tinggi. Etiket berarti menghormati, menghargai, dan selalu berbaik hati kepada orang lain. Apalagi bila orang yang membantu kita, maka haruslah tahu diri dan tahu terima kasih. Ini biasanya yang ada dipikiran dunia nyata kehidupan, dan sangat berbeda dengan dunia pikiran normatif.

Lain etiket, lain lagi etika. Etika sifatnya normatif dan dipaksakan menjadi terapan di dunia bisnis. Etika berisi tentang penilaian moral dan kriteria apa yang benar dan apa yang tidak benar. Etika diperusahaan dipandu dengan pedoman etika bisnis dan kode perilaku yang etis. Etika adalah alat untuk menjaga tata kelola perusahaan yang baik, yaitu: tata kelola bisnis yang mengedepankan isu-isu moral.

Dalam dunia nyata, etika menjadi beban etiket. Etika diatur secara normatif dan melihat segala sesuatu dari sisi benar dan salah. Tidak boleh ada banyak warna dalam etika. Hanya boleh hitam atau putih, benar atau salah. Etika tidak memiliki kemampuan untuk merespon situasi yang berubah dan berbeda dari sikap manusia. Sebagai contoh, dalam bisnis yang banyak saingan, terjadi kompetisi memperebutkan pelanggan. Biasanya, orang yang mengendalikan pelanggan sangat menentukan kepada siapa dia akan memberikan bisnis tersebut. Di sini, pihak yang paling pintar mengambil hati dan menyenangkan hati pengendali pelanggan berpotensi mendapatkan bisnis. Artinya, hubungan baik dan sopan-santun menjadi lebih penting daripada aturan-aturan moral yang diatur secara normatif dalam etika bisnis.

Dalam konsep hubungan baik, perilaku yang melayani dan menghormati selalu menjadi lebih bekerja daripada perilaku etis yang terikat pada norma-norma moralitas. Intinya, dunia bisnis adalah dunia etiket, dan etika tetap dijadikan sebagai hal-hal normatif yang sering sekali malas diterapkan menjadi perilaku.

Perlu konsensus sosial yang penuh integritas untuk membuat etika dan etiket hidup berdampingan dan saling mengisi. Bila etika dan etiket saling mengisi menjadi etos di tempat kerja. Maka, kebiasaan, karakter, perilaku, watak, adat, budaya, dan sikap akan menjadi kekuatan untuk praktik tata kelola perusahaan yang terbaik (good corporate governance).

Benturan antara etika dan etiket selalu menciptakan dilema, yang membuat hati ragu dan takut bertindak. Dunia bisnis bukanlah dunia moralitas. Dunia bisnis adalah dunia hubungan baik. Dunia bisnis adalah dunia yang harus pintar etiket agar mudah mendapatkan bisnis.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

COMPLIANCE OFFICER MENJAGA MANAJEMEN TIDAK BERBUAT KESALAHAN

COMPLIANCE OFFICER DJAJENDRACOMPLIANCE OFFICER MENJAGA MANAJEMEN TIDAK BERBUAT KESALAHAN

“Compliance Officer bekerja untuk memulihkan kesalahan dan tidak boleh menuduh kesalahan kepada pihak manapun.”~Djajendra

Compliance Officer diprogram untuk menjaga keberlangsungan tata kelola yang baik. Dia tidak boleh berpersepsi ataupun berasumsi. Dia harus fokus bekerja untuk menjaga kepatuhan, ketaatan, dan kepatutan dalam pemenuhan keinginan aturan.

Tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) dibangun dari kepatuhan terhadap etika, aturan, undang-undang, kebijakan, dan sistem. Semua ini dimulai dari komitmen top manajemen untuk mematuhi dan mentaati etika, dan semua aturan yang wajib dijalankan dengan sepenuh hati. Untuk bisa menjalankan komitmen top manajemen diperlukan sebuah unit kerja yang membantu top manajemen dalam menjalankan fungsi compliance secara profesional. Fungsi compliance dijalankan oleh para pegawai yang disebut sebagai Compliance Officer, yaitu petugas  yang memastikan bahwa semua orang di dalam perusahaan sudah taat dan patuh dalam menjalankan tata kelola yang baik. Compliance Officer bertugas memenuhi keinginan top manajemen agar tata kelola yang baik terimplementasi dengan sempurna. Mengingat sangat beragam karakter dan perilaku dari orang-orang yang bekerja di sebuah perusahaan, maka independesi dan fairnes dari seorang Compliance Officer menjadi penting. Compliance Officer tidak boleh memberikan respon atas persepsi atau asumsinya; dia hanya boleh memberikan respon atas dasar aturan, etika, dan undang-undang. Sifat dari keberadaan Compliance Officer adalah mandiri dan profesional, tidak boleh berdiri di atas kepentingan pihak manapun, hanya berdiri di atas kepentingan tata kelola yang baik sesuai kebijakan perusahaan.

Compliance Officer harus berani memutuskan dengan tegas demi menjaga etika dan aturan yang benar. Tidak boleh ragu. Tidak boleh setengah hati. Berperilaku rendah hati dan menjaga komunikasi dengan semua pihak di internal perusahaan. Berpenampilan dengan gaya kerja yang sopan, tenang, sabar, menjaga emosi, berpikir positif, berjiwa besar, dan bekerja sesuai aturan. Dia juga harus terlatih untuk mendengarkan suara hati baiknya, serta mampu menolak suara hati yang takut untuk menegakkan kepatuhan dan ketaatan. Harus berani mengambil risiko dan bertanggung jawab atas pekerjaan compliance, serta memahami semua konsekuensi sebagai pelaksana compliance di perusahaan.

Compliance Officer bekerja untuk memulihkan kesalahan dan tidak boleh menuduh kesalahan kepada pihak manapun. Pada dasarnya orang tidak suka mengakui kesalahan ataupun tidak suka menerima penilaian tentang kekurangan dan kesalahannya. Di sinilah Compliance Officer harus dapat memahami tentang orang lain. Pengetahuan tentang orang lain menjadi sangat penting bagi pekerjaan compliance. Bila Compliance Officer tidak mampu memahami orang lain dengan empati yang tinggi, maka keberadaannya berpotensi tidak disukai oleh banyak orang di perusahaan. Sebaliknya, bila dia memiliki empati untuk membantu memulihkan dan menyadarkan orang ke arah tata kelola yang baik, maka keberadaannya berpotensi mendapatkan dukungan.

Pekerjaan compliance tidak boleh menyebabkan kepanikan, semua tindakan dan perilaku dilakukan dengan tertib sesuai prosedur. Pekerjaan compliance adalah memastikan kepatuhan dan perbaikan atas hal-hal yang keliru. Fokusnya adalah hari ini patuh dan taat, serta mempengaruhi peningkatan kinerja jangka panjang perusahaan. Untuk itu semua, petugas compliance harus menguatkan kredibilitas dan reputasinya dengan integritas yang tinggi, sehingga dia dipercaya dan didengarkan oleh semua orang di dalam perusahaan.

Seburuk apapun realitas kepatuhan manajemen atas tata kelola yang baik, Compliance Officer harus bersikap tenang dan tidak menyebarkan rasa tidak puasnya. Lebih baik mengambil langkah mundur, jangan menyerang dengan argumentasi. Pahami konsekuensi dari ketidakpatuhan tersebut, dan berikan kesadaran melalui kalkulasi manajemen risiko. Berkomunikasilah untuk mengambil hati manajemen, dan yakinkan manajemen tentang kerugian yang bakal dihadapi mereka saat keadaan memburuk.

Tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) membutuhkan orang-orang berjiwa besar yang mau mengakui kesalahan dan sadar untuk memperbaikinya. Tidak malu meminta bantuan orang lain untuk memandu memperbaikinya. Sikap yang menunjukkan integritas dan kekuatan untuk memperbaiki akan mempercepat pemulihan.

MOTIVASI 17 JAN 2016

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETIKA BISNIS MEMBUTUHKAN AKUNTABILITAS DAN HATI NURANI YANG JUJUR

ETIKA BISNIS 14 JAN 2016“Etika bisnis dalam prakteknya membutuhkan akuntabilitas dan hati nurani yang jujur.”~Djajendra

Etika bisnis mengatur proses bisnis agar tidak melanggar aturan, moral, dan kejujuran untuk bisa mendapatkan keuntungan. Intinya, siapapun boleh mencari keuntungan asal keuntungan didapatkan melalui kejujuran dan tanggung jawab. Bisnis yang etis lebih dipercaya oleh pemangku kepentingan, sehingga berpotensi tumbuh dengan kinerja terbaik. Praktik bisnis membutuhkan hati nurani yang bersih dan tanggung jawab agar perilaku bisnis yang etis dapat terwujud.

Bila moralitas dan etika hilang dari bisnis, hal-hal buruk pasti muncul untuk menghilangkan kejujuran dan tanggung jawab. Apalagi saat integritas berada di jalan buntu dan tujuan bisnis untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, maka di saat inilah kekuatan moral harus muncul secara kuat untuk menjaga Anda agar tidak tergelincir dalam perilaku tidak etis. Bisnis yang sehat membutuhkan manajemen risiko yang diperhitungkan secara baik untuk dapat menciptakan bisnis yang etis.

Meskipun diakui bahwa etika bisnis adalah bagian terpenting dari tata kelola perusahaan yang baik, tetapi etika bisnis selalu dalam dilema, sehingga menjadi perilaku sehari-hari tidaklah mudah. Tidak jarang dilema etika suka mengganggu integritas, sehingga kepentingan bisa mengalahkan integritas.

Etika bisnis dalam prakteknya membutuhkan akuntabilitas dan hati nurani. Akuntabilitas bersumber dari integritas. Akuntabilitas bermuara dari tanggung jawab yang ikhlas dan tulus. Ketika perusahaan dikendalikan dan dikelola oleh orang-orang yang bertanggung jawab, maka perusahaan dengan mudah dapat memenuhi etika bisnis yang telah disepakati. Sebaliknya, ketika perusahaan dikendalikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mereka selalu mencoba mengakali etika bisnis untuk mendapatkan jalan pintas dalam setiap proses bisnis.

Praktek etika bisnis yang baik selalu berani mengambil tanggung jawab dan memiliki respon yang cepat untuk menemukan solusi atas setiap dilema. Tidak pernah menyalahkan orang lain atau membuat alasan atas sesuatu yang salah. Bersikap profesional dan menerima konsekuensi atas kejadian dari pilihan dan tindakan yang dibuat.

Hanya orang-orang yang terbiasa menjadi akuntabel yang bisa menjalankan etika bisnis. Dalam hal ini, peran dan tanggung jawab harus digunakan secara tepat dan benar. Jangan terjebak dalam wilayah kerja orang lain. Jadilah jujur dengan diri sendiri dan orang lain; jadilah jujur untuk menjalankan tata kelola yang baik; jadilah jujur ketika Anda salah, lalu mau memperbaiki dan membiasakan perilaku etis di setiap proses bisnis.

Kompetensi dan integritas harus bersatupadu dalam tanggung jawab dan hati nurani yang bersih. Anda tidak hanya cukup membuktikan kualitas kompetensi di tempat kerja, tetapi juga harus membuktikan kualitas integritas yang tinggi. Dengan integritas yang tinggi Anda terhindar dari ketidakjujuran, sehingga terhindar risiko jeratan hukum akibat perilaku tidak etis. Kuatkan etika dan nilai-nilai perusahaan ke dalam perilaku kerja, lalu yakinlah bahwa reputasi profesional Anda akan terus meningkat untuk menjamin arah positif dari karir Anda.

Ketika Anda ingin secara jujur menjalankan etika bisnis, Anda harus jujur dengan karakter Anda. Dalam hal ini, karakter Anda harus dibentuk kembali dengan cara menganalisa isi pikiran inti Anda, niat dan perilaku Anda. Pastikan hal-hal tidak baik, seperti: keserakahan, iri hati, dan emosi negatif lainnya mampu terhapus dari karakter Anda.

Ingat, potensi ketidakjujuran tidak hanya bersumber dari dalam diri, tetapi juga dari luar diri Anda. Saat Anda sudah mampu melatih diri sendiri untuk berperilaku etis, Anda juga harus sadar bahwa setiap hari orang-orang dengan perilaku tidak etis berpotensi di sekitar Anda. Jadi, miliki ketenangan dan kesabaran dalam setiap interaksi, hadapi setiap situasi dengan sikap profesional. Hal terpenting, jangan pernah melanggar aturan, dan setiap tindakan harus sesuai dengan aturan yang benar.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETIKA PERLU KETELADANAN DARI PEMIMPIN

MOTIVATOR DJAJENDRA 23122015ETIKA PERLU KETELADANAN DARI PEMIMPIN

“Orang yang tidak etis memiliki akal negatif untuk mengakali aturan dan mengakali etika itu sendiri.”~Djajendra

Etika adalah tentang perilaku yang sadar tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik. Seseorang yang beretika selalu menghormati apa yang baik, dan ikhlas berkorban demi menegakkan etika. Sedangkan seseorang yang tidak beretika selalu mencoba berbagai akal untuk membenarkan yang tidak benar.

Dalam kehidupan di tempat kerja diperlukan keteladanan dari para pemimpin untuk menegakkan etika. Bila pemimpin mengabaikan etika, maka para pengikutnya akan menganggap etika sebagai sesuatu yang normatif, dan bukan sebagai perilaku yang wajib. Bila perilaku etis sudah tidak ada di tempat kerja, maka berbagai akal negatif akan menggerogoti perusahaan.

Menjalankan etika menghindarkan perusahaan dari berbagai masalah yang merugikan dan yang menurunkan reputasi. Etika meningkatkan keharmonisan di lingkungan kerja. Etika mengubah potensi masalah menjadi tantangan dengan berbagai solusi kreatif yang etis.

Pemimpin wajib menjadi teladan untuk mempraktikkan etika dengan penuh integritas. Pemimpinlah yang mampu menumbuhkan perilaku etis dan mengembangkan budaya etika di dalam perusahaan. Oleh karena itu, pemimpin tidak cukup berbicara tentang etika, tetapi harus menjadi pemberi contoh perilaku etis. Pemimpin juga harus mampu memiliki perilaku moral di atas standar. Perilaku moral yang lebih baik dibandingkan pengikut-pengikutnya.

Salah dan benar atau baik dan tidak baik sering sekali tergantung pada persepsi. Ketika kesalahan terjadi, maka kesalahan tersebut harus segera disadari dan diperbaiki. Fungsi etika selain menegakkan yang benar, juga memperbaiki yang salah. Tidak semua pelanggaran etika dilakukan dengan sengaja. Kadang-kadang kesalahan yang tak terelakkan atau tak terduga dapat terjadi. Dalam hal ini, perlu penanganan secara bijak dan adil. Setiap pelanggaran etika haruslah diambil tindakan yang tegas, adil, dan bijak.

Perilaku etis di tempat kerja harus menjadi standar etos organisasi. Praktik-praktik terbaik sesuai good corporate governance haruslah menjadikan etika sebagai fondasi perilaku organisasi. Tata kelola perusahaan yang baik dihasilkan dari praktik bisnis yang etis. Tata kelola perusahaan yang baik dihasilkan dari perilaku kerja yang etis. Tata kelola perusahaan yang baik dihasilkan dari struktur dan proses kerja yang etis.

Etika menghasilkan orang-orang yang penuh integritas di dalam lingkungan kerja yang profesional. Ketika perilaku etis menjalankan semua peran dan fungsi di tempat kerja, maka kesetiaan setiap orang untuk berjuang bersama-sama dalam upaya menghasilkan kinerja terbaik, akan semakin menguat.

Budaya etis memperkuat tata kelola yang baik dan juga mengurangi potensi risiko perusahaan. Budaya etis menjadikan perusahaan semakin sehat dan kuat. Orang-orang di dalam budaya etis memiliki empati dan kepedulian terhadap kemajuan dan pencapaian kinerja perusahaan. Dalam budaya etis, benar adalah benar dan salah adalah salah. Tidak ada wilayah abu-abu, tidak ada dilema.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

INTEGRITAS DAPAT DILIHAT MELALUI KARAKTER DAN KEPRIBADIAN SESEORANG

MOTIVATOR DJAJENDRA 2015“Integritas adalah perilaku dan sikap yang jujur dalam menjalankan tanggung jawab dan mempertanggung jawabkan tanggung jawab dengan sangat jujur.”~Djajendra

Integritas dikaitkan dengan kejujuran dan tanggung jawab. Kejujuran dan tanggung jawab dalam integritas biasanya terekspresi melalui sikap, perilaku, kebiasaan, etos, karakter, gaya hidup, etika, etiket, dan moral. Orang-orang yang berintegritas tinggi konsisten hidupnya di dalam nilai-nilai positif tertinggi. Orang-orang berintegritas tinggi selaras hidupnya antara pikiran, ucapan, hati nurani, dan tindakan.

Orang-orang yang serakah, culas, banyak bohong, suka berpura-pura, adalah orang-orang yang tidak memiliki fondasi untuk mempraktikkan integritas di dalam hidupnya. Orang-orang yang sering stres dan bersikap negatif adalah contoh nyata dari tiadanya integritas di dalam dirinya. Orang-orang yang selalu merugikan teman, negara, keluarga, perusahaan, dan orang lain adalah contoh nyata dari tiadanya integritas. Orang-orang yang selalu bersikap dan berperilaku serakah terhadap uang, adalah contoh dari tiadanya integritas. Orang-orang yang suka mengecilkan atau mengabaikan komitmen kepada orang lain, adalah contoh dari tiadanya integritas. Integritas adalah sebuah nilai yang sangat mudah terlihat dari karakter dan kepribadian seseorang.

Kehidupan integritas memerlukan mental yang ikhlas dalam meningkatkan standar kejujuran diri sendiri. Diperlukan komitmen untuk menjalani kehidupan integritas. Diperlukan keinginan, niat suci, dan keyakinan yang sangat kuat untuk menjalani kehidupan integritas. Diperlukan kesadaran dan pengetahuan untuk terus-menerus meningkatkan standar dan kualitas diri sendiri. Dan, terus-menerus, seumur hidup menyempurnakan kualitas kejujuran, tanggung jawab, serta keyakinan bahwa integritas adalah sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan buat diri sendiri dan orang lain. Diperlukan konsistensi diri terhadap nilai-nilai positif dan kebajikan tertinggi. Dan semua ini, hanya bisa terjadi ketika Anda bertindak untuk merubah mental Anda menjadi lebih berintegritas, merubah sifat, karakter, kepribadian, dan penampilan diri yang memperlihatkan integritas secara utuh.

Kualitas integritas terlihat dari karakter dan kepribadian sehari-hari, dapat terlihat dari apa yang dilakukan sehari-hari. Intinya, integritas terlihat melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Contoh: Anda berkomitmen untuk memiliki tubuh yang bugar, sehat, dan berotot. Untuk bisa mewujudkannya, Anda harus memiliki integritas yang konsisten. Bila Anda sudah memiliki integritas, Anda akan menjadi pribadi yang sangat jujur kepada diri sendiri dan sangat bertanggung jawab untuk mewujudkan komitmen Anda. Kejujuran dan tanggung jawab Anda akan mendorong Anda menjadi sangat disiplin dan rajin untuk berolahraga, diet sehat, tidur yang cukup, berpikir positif, serta menjalani gaya hidup yang sehat dan holistik. Dan, tidak ada rintangan apapun yang bisa menghentikan Anda untuk memiliki tubuh yang bugar, sehat, dan berotot. Anda akan bereaksi dan menanggapi semua kesulitan dan hambatan dengan keyakinan untuk tetap mewujudkan komitmen Anda. Integritas adalah fondasi yang menguatkan rasa tanggung jawab dan kejujuran dari nilai-nilai kehidupan yang lainnya.

Integritas meningkatkan keteguhan terhadap implementasi kejujuran dan tanggung jawab; meningkatkan pengabdian kepada kejujuran dan tanggung jawab yang lebih besar; meningkatkan kemampuan untuk menjaga ucapan dan perbuatan dalam satu energi positif; dan menjadikan diri sebagai orang yang dapat dipercaya untuk menjalankan kejujuran dan tanggung jawab besar.

Ketika karakter Anda sudah berdasarkan integritas, maka karakter Anda tersebut selalu fokus untuk mendisiplinkan diri Anda dalam nilai-nilai positif. Biasanya, Anda yang berkarakter integritas menjadi sangat tekun, rajin, ulet, disiplin, berani, berjuang, tidak pernah menyerah, jujur, bertanggung jawab, dan berjiwa kesatria dalam mempertanggung jawabkan semua perbuatan dan tindakan tanpa takut. Integritas adalah fondasi yang sangat kokoh dan tangguh untuk menghasilkan karakter dan kepribadian yang sangat jujur dan bertanggung jawab.

Anda yang berkarakter integritas mampu menghasilkan pekerjaan berkualitas tinggi, prestasi luar biasa, dan kinerja yang selalu melampaui target. Anda yang benar-benar jujur dengan diri sendiri akan berusaha untuk melakukan pekerjaan dan tanggung jawab dengan sangat baik pada situasi apapun. Contoh karyawan yang berkarakter integritas di tempat kerja: hadir ke kantor lebih awal, bekerja lebih keras dan cerdas, berkonsentrasi pada setiap detail, sikap dan perilaku berdasarkan nilai-nilai inti perusahaan, jujur dan bertanggung jawab terhadap apapun yang diamanatkan kepadanya, sangat rajin untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh pekerjaannya.

Orang-orang berkarakter integritas menjalani hidup dari dalam ke luar. Intinya, menjadi sangat jujur untuk menjalani kehidupan dari hati nurani, dan tidak berbohong kepada nilai-nilai kehidupan yang menjadi fondasi dari karakter diri. Integritas merupakan sebuah nilai yang sangat mahal dan sangat jarang bisa dimiliki. Tidak semua orang mampu memiliki integritas di dalam karakter dan kepribadiannya. Sangatlah mudah untuk bisa memiliki banyak uang, kekayaan materi yang melimpah ruah, dan kemewahan hidup yang luar biasa. Tetapi, sangatlah tidak mudah untuk memiliki integritas yang konsisten di dalam karakter, kepribadian, sikap, dan perilaku diri. Integritas adalah sebuah nilai yang sangat suci. Jadi, ketika karakter seseorang berfondasikan integritas yang kuat, maka jiwa dan perilakunya menjadi sangat suci dan bertanggung jawab di dalam kejujuran yang penuh reputasi.

“Jika kejujuran tidak ada, itu harus diciptakan karena merupakan cara yang paling pasti untuk menjadi kaya.”~ Earl Nightingale

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETIKA BISNIS MENCIPTAKAN PERILAKU BISNIS YANG JUJUR, BERTANGGUNG JAWAB DAN BERINTEGRITAS TINGGI

ETIKA BISNIS - MOTIVATOR DJAJENDRA 2015

“Etika bisnis baru bisa diwujudkan bila sudah menjadi perilaku, kebiasaan, sikap, dan etos. Selama sebatas dokumen, etika bisnis belum eksis.”~Djajendra

Tanpa etika bisnis para stakeholders berpotensi menciptakan kecurangan dan merugikan pihak-pihak yang terlibat dalam bisnis tersebut. Etika bisnis membantu perusahaan untuk mengembangkan nilai-nilai positif dari budaya etis. Budaya etis menciptakan tempat kerja yang aman, profesional, berisiko kecil, dipercaya, dan memiliki reputasi yang baik. Budaya etis melatih dan menyiapkan karyawan dan pimpinan untuk memecahkan semua dilema etika dengan sukacita.

Biasanya, ketika sebuah kejadian tidak etis menimpa perusahaan barulah orang-orang mulai berbicara tentang pentingnya etika bisnis. Secara mental, pada umumnya, dokumen tertulis etika bisnis dianggap sebagai bukti bahwa perusahaan sudah mengimplementasikan etika bisnis. Dan, dianggap sudah ada fungsi pengawasan untuk mengawasi kepatuhan insan perusahaan terhadap etika bisnis. Perlu dipahami bahwa etika bisnis tidaklah sesederhana itu, etika bisnis tidak cukup diwujudkan melalui sistem dan tata kelola. Etika bisnis baru bisa diwujudkan bila sudah menjadi perilaku, kebiasaan, sikap, dan etos.

Ketika etika bisnis dari dokumen tidak dijadikan hidup dalam perilaku, kebiasaan, sikap, dan etos; maka, budaya etis tidak bisa diwujudkan oleh perusahaan. Tanpa budaya etis, perusahaan akan mengalami hal-hal negatif, seperti: penipuan, penyalahgunaan wewenang, pemborosan, dilema etika tanpa solusi, kehilangan pelanggan atau klien, kehilangan karyawan terbaik, kehilangan reputasi, serta perusahaan sulit memecahkan persoalan-persolanan bisnis yang terkait dengan profesionalisme dan etika.

Dalam budaya etis orang-orang saling menghormati, saling berkontribusi, saling meningkatkan reputasi perusahaan. Budaya etis adalah kekuatan yang menciptakan perusahaan yang kuat dan tangguh oleh para insan perusahaan yang mampu menciptakan dirinya sendiri untuk berperilaku etis. Sebaliknya, dalam budaya tidak etis orang-orang akan saling melecehkan; menonton rekan kerjanya yang kesulitan; menonton ketidakberdayaan perusahaan dalam menghadapi dilema etika; membiarkan perusahaan dalam kesulitan keuangan; tidak memiliki empati dan toleransi untuk membangun kekuatan saat perusahaan sedang susah payah; membiarkan reputasi perusahaan hancur dan mati. Budaya tidak etis adalah bom waktu yang bisa menghancurkan perusahaan dari berbagai aspek organisasi dan bisnis.

Budaya etis selalu dalam tantangan dan cobaan. Sebab, Setiap orang memiliki subculture atau budaya selain budaya perusahaan, misalnya: budaya yang bersumber dari rumah, keluarga, tradisi, agama, lingkungan, kepercayaan, pengetahuan, sekolah, dan orientasi hidup seseorang. Bila subculture tidak selaras atau tidak senafas dengan budaya etis perusahaan, maka pelanggaran etika berpotensi melemahkan budaya etis perusahaan. Kesalahan etis harus selalu diawasi dan dimonitor sejak dini, lebih baik mencegah daripada membiarkannya tumbuh dan merusak.

Sifat bisnis adalah global dan universal. Oleh karena itu, nilai-nilai dan keyakinan dalam etika bisnis haruslah bersifat global dan universal. Tidak boleh ada pemahaman etika bisnis yang sifatnya eksklusif, mengkhususkan, ataupun dibuat terpisah dari yang lainnya dengan alasan perbedaan keyakinan. Keyakinan bisnis hanya satu yaitu mencari keuntungan melalui jalan integritas dan akuntabilitas. Jadi, dokumen etika bisnis yang dibuat oleh perusahaan harus berstandar global dan berpraktis secara universal, sehingga semua orang dari belahan dunia manapun dapat menerima dan memahaminya.

Dokumen etika bisnis harus dijelaskan dan diuraikan secara rinci untuk tujuan membentuk perilaku etis. Intinya, penjelasan dan uraian yang rinci ini haruslah menjelaskan tentang bagaimana cara para insan perusahaan memainkan peran dan fungsinya dalam budaya etis; bagaimana cara mereka membentuk sikap dan perilaku etis; bagaimana cara manajemen, dewan direksi, dewan komisaris, dan pemegang saham memperlihatkan kemampuan untuk menjalankan budaya etis; bagaimana cara membentuk karakter dan kepribadian yang kuat untuk penguatan budaya etis; bagaimana cara menghadapi dilema etika yang pasti selalu muncul dari para stakeholders di luar perusahaan.

Para stakeholders dari luar perusahaan adalah orang-orang yang tidak ada dalam perusahaan, tetapi membawa kepentingannya dan kepentingan organisasinya. Mereka-mereka inilah sumber dilema etika yang paling rumit dan sulit. Tidak mungkin bagi perusahaan untuk mengendalikan mereka, apalagi bila mereka memiliki kekuasaan dan kewenangan dalam menentukan keberlangsungan operasional perusahaan. Di sinilah diperlukan kecerdasan untuk menghadapi oknum-oknum yang hadir atas nama institusi atau lembaga, tetapi beretika rendah. Lembaga atau institusi yang mereka wakili mungkin sangat etis dan berbudaya etis, tetapi oknum bisa saja terkontaminasi oleh subculture yang buruk, sehingga mereka berperilaku tidak etis. Oleh karena itu, perusahaan harus menghadapi oknum-oknum beretika rendah ini dengan bijak, sambil memperhatikan konsekuensi dari setiap pilihan dan keputusan, yang pasti harus selalu sadar bahwa akan ada konsekuensi atas tindakan dan pilihan yang dibuat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ETIKA BISNIS MENUNTUT PERILAKU JUJUR DAN PENUH TANGGUNG JAWAB

“Bisnis seperti air dimanapun dia mampu menyusup dan menciptakan kolamnya.”~Djajendra

Apa yang baik dan tidak baik sudah diatur dalam etika. Sekarang, diperlukan perilaku jujur dan penuh tanggung jawab agar etika dapat dijadikan budaya kerja.

Kehidupan profesional yang baik dilandasi dengan etika. Kemampuan untuk menjalankan etika dan nilai-nilai positif dengan sempurna, menguatkan integritas pribadi untuk menangani berbagai situasi dan realitas yang kurang integritas.

Bisnis seperti air, dimanapun dia mampu menyusup dan menciptakan kolamnya. Bisnis pasti hadir di semua bidang kehidupan. Tidak ada bidang kehidupan yang tidak dikuasai energi bisnis. Oleh karena itu, semua pihak atau stakeholder harus mampu berlatih untuk memecahkan berbagai dilema etika di dalam kehidupan nyatanya.

Tidak membiarkan etika menciptakan ruang hitam-putihnya adalah sebuah kecerdasan. Kejujuran dan tanggung jawab haruslah bergerak di ruang kecerdasan dan hati nurani. Bila perusahaan membiarkan etika bisnis di ruang hitam-putih; maka, perusahaan berpotensi kehilangan klien, karyawan dan kinerja bisnisnya.

Etika bisnis diperlukan agar keputusan dan sikap bisnis berorientasi pada keadilan. Selain itu, etika bisnis merupakan alat yang dapat menciptakan efisiensi bisnis. Tantangan etika bisnis selalu muncul dari sudut persepsi. Biasanya, stakeholder memahami etika bisnis, tetapi mereka juga memiliki persepsi tentang harga dari kontribusi yang mereka berikan, sehingga disinilah biasanya mereka berharap kepentingannya diperhatikan dan dilayani dengan baik.

Setiap pilihan selalu membawa konsekuensi. Pebisnis yang cerdas mampu memilih yang terbaik untuk memecahkan masalahnya. Dia tetap ingin bisnisnya sukses, dia tetap ingin stakeholder percaya kepadanya, dia tetap ingin menjalankan etika bisnis dengan penuh tanggung jawab. Pebisnis yang andal tidak akan mengkhawatirkan dilema etika, dia mampu menemukan solusi untuk melancarkan bisnis dan hubungan baik dengan kliennya.

Bisnis menghidupi banyak kehidupan. Jangan sampai dilema etika membuat bisnis mati oleh aturan baik-buruk. Kehidupan bisnis harus selalu diperkuat agar dia bisa menghidupi kemanusiaan dan kebutuhan hidup. Bisnis yang baik mampu menjadi alat yang efektif untuk menumbuhkan kehidupan ekonomi masyarakat luas. Bisnis yang sehat mampu meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan daya beli masyarakat. Kehidupan bisnis tidak boleh dibebani dengan biaya tinggi, sebab bisnis akan melemah dan kesejahteraan masyarakat akan turun. Disinilah, peran etika bisnis menjadi penting.

Etika bisnis menuntut perilaku jujur dan penuh tanggung jawab. Perilaku yang bijak dan cerdas dalam implementasi etika bisnis menjadi syarat penting. Perilaku etis membantu perusahaan untuk menciptakan bisnis yang sehat dan adil. Perilaku etis meningkatkan kualitas lingkungan bisnis dengan moral dan kebaikan. Perilaku bisnis yang etis memberikan kejujuran, tanggung jawab, kebaikan, dan keadilan bagi semua stakeholdernya.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com