FAKTA INTEGRITAS BUKAN JUBAH INTEGRITAS

FAKTA INTEGRITAS BUKAN JUBAH INTEGRITAS

“Fakta integritas dibuat untuk melengkapi dokumen formal, serta untuk membuat jati diri asli ikhlas menjalankan nilai-nilai perilaku etis dan terpuji.” ~ Djajendra

Ketika seseorang menandatangani fakta integritas, maka dia secara tertulis telah menyatakan kejujuran dirinya untuk menjalankan seluruh nilai-nilai, sistem, kebijakan, prosedur, tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabilitas kepada setiap stakeholder.

Integritas selalu didefinisikan sebagai kesadaran dan kejujuran diri sendiri, untuk berkehidupan sesuai dengan nilai-nilai hidup, yang dijadikan komitmen untuk dijalankan secara otentik dan etis.

Fakta integritas tidak cukup sekedar berfungsi untuk melengkapi dokumen formal, agar seolah-olah budaya integritas sebagai energi dari implementasi good corporate governance muncul secara formal di tempat kerja. Fakta integritas merupakan pengakuan diri sendiri atas kemampuan diri mengeksplorasi semua sikap dan perilaku terbaik, dalam semangat menjalankan praktik-praktik tata kelola atau bisnis yang profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan kapan saja.

Keberadaan fakta integritas di tempat kerja bukan sekedar sebagai sebuah jubah yang dapat dilepaskan kapan saja. Tapi, merupakan sebuah jati diri asli, yang dibuat dengan keyakinan diri sendiri untuk dapat dipenuhi secara sempurna.

Ketika kepribadian seseorang menganggap fakta integritas di tempat kerja sebagai sebuah jubah, yang hanya dipakai saat diperlukan oleh persepsi dan kepentingannya, serta dapat dilepas saat persepsi dan kepentingannya merasa tidak nyaman dengan fakta integritas tersebut, maka orang tersebut sudah pasti berkepribadian kurang integritas.

Menjalankan fakta integritas tidaklah tergantung kepada kepentingan sesaat, atau kepada arah kenyamanan yang ada di dalam organisasi. Tapi, merupakan sebuah komitmen yang paling jujur dari hati nurani diri yang asli, yang tidak akan pernah berubah oleh pengaruh apapun.

Ketika seseorang selalu hidup dalam keraguan dan kendali ego diri yang kurang integritas, maka fakta integritas yang dia tandatangani hanya akan menjadi sebuah bukti tentang kepalsuan dan ketidakjujuran dirinya sendiri kepada hati nuraninya.

Kesiapan menandatangani sebuah fakta integritas seharusnya diikuti dengan kesiapan fisik dan mental untuk menjalankannya dengan sepenuh hati. Fakta integritas tidak boleh menjadi budaya formal yang tidak jujur dengan nilai-nilai inti, yang wajib untuk dijalankan di tempat kerja. Sebab, sebuah fakta integritas yang ditandatangani merupakan ucapan kebenaran tentang diri sendiri, serta tidak membohongi kebenaran diri sendiri.

Seseorang yang menandatangani fakta integritas berarti dirinya sudah mampu berkomunikasi dengan energi integritas, mengekspresikan kejujuran hati nuraninya, serta memberikan respon integritas kepada setiap stakeholder dari hati nurani yang paling jujur.

Fakta integritas hanya selembar kertas, dengan isi yang berkomunikasi dengan diri sendiri dan stakeholder, untuk mengikat diri yang paling jujur sebagai syarat dalam menjalankan tata kelola terbaik dan terjujur.

Fungsi fakta integritas adalah sesuai konteks, yaitu memberikan kejelasan untuk menjadi pribadi jujur, etis, loyal, dan berintegritas; dalam budaya kerja yang terbuka, adil, dan mampu mengalirkan informasi terbaik dalam ketepatan budaya etis dan integritas.

Setiap orang yang menandatangani fakta integritas telah mengikatkan dirinya untuk berbakti dan berkontribusi buat kejujuran dan kebenaran. Bila orang-orang yang menandatangani fakta integritas, tapi dikemudian hari melakukan hal-hal yang bertentangan dengan integritas dan kejujuran, maka orang tersebut adalah orang tidak baik, yang berjubah integritas, untuk membohongi stakeholder dengan berpura-pura menjadi orang baik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com