Pemimpin Hendaknya Tidak Membeo

Pemimpin bukanlah sebuah boneka yang digerak-gerakkan oleh para dalang untuk sebuah pertunjukkan di pentas hiburan. Pemimpin bukanlah wayang kulit yang didalangi semalaman untuk sebuah dongeng masa lalu. Tetapi, pemimpin adalah simbol keadilan dan simbol penyatu atas semua perbedaan dan kekurangan yang ada, lalu bersikap bijak dan realistis pada keadaan.

Pemimpin seharusnya seorang pribadi yang memiliki orisinalitas pemikiran dan bersikap mandiri dalam melihat semua persoalan dan tantangan yang ada. Bersikap bijaksana yang tidak membeo dari pendapat dan opini orang lain, atau tidak membeo dari tulisan dan pendapat para ahli dan pakar, tapi memiliki kemandirian dan keorisinalitas dalam sikap dan tindakan yang sesuai dengan hati nurani.
Pemimpin hendaknya selalu fokus dan penuh perhatian kepada berbagai harapan dan indikasi yang ada serta bertindak secara bijak. Untuk itu, pemimpin harus mau dan bisa melakukan analisa secara mendalam terhadap segala hal yang dibutuhkan oleh orang-orang yang dipimpinnya. Tidak asal comot teori dan konsep dari sana sini lalu disajikan kepada para pengikut tanpa memiliki empati dan intuisi terhadap realitas yang ada.
Pemimpin itu simbol dari sebuah harapan yang selalu dituntut oleh para pengikutnya untuk memiliki kesempurnaan dan keorisinalitas dari setiap tindakan dan kebijakan yang diambilnya. Oleh karena itu, setiap tindakan kepemimpinan yang tidak bijak akan membuat para pengikut merasa sangat kecewa, dan pastinya kesetiaan para pengikut pada pemimpinnya akan luntur dan memudar. Pemimpin wajib memiliki kepercayaan diri dan bersikap tidak membeo serta realistis terhadap keadaan. Sikap untuk tidak membeo dari pendapat dan pengaruh pihak lain, bermaksud untuk membangun kesadaran dan kualitas kepemimpinan yang nyata, dan yang dibutuhkan oleh orang-orang yang dipimpin.
Pemimpin itu adalah sebuah simbol kemenangan yang memerlukan orisinalitas, baik dalam bersikap maupun dalam bertindak. Jadi, pemimpin hendaknya tidak terobsesi pada sebuah teori atau pun konsep tertentu, lalu memaksakan kehendaknya yang tidak relevan dengan realitas yang berkembang. Pemimpin sewajarnya bersikap dan bertindak secara lebih fleksibel dalam mengatasi berbagai persoalan dan tantangan yang ada. Pemimpin juga wajib memiliki keterbukaan pemikiran terhadap berbagai macam kritik dan protes yang dialamatkan orang padanya. Ia harus memiliki kekuatan positif untuk bersikap sabar dan bekerja dengan penuh perhatian terhadap semua tuntutan yang diarahkan pada dirinya. Dan, tidak bersikap bodoh lalu menggunakan berbagai macam cara negatif dan kekerasan, untuk mengkambinghitamkan orang-orang yang berbeda pendapat dengan dirinya. Ia wajib berpikir secara profesional dan bertindak secara objektif, melalui interaksi yang penuh logika dan akal sehal dengan memahami berbagai persoalan yang ada secara bijak.
Pemimpin bukanlah burung beo yang selalu membeo dari kata-kata para penggoda yang sedang mamainkan dirinya untuk sebuah lelucon bodoh. Pemimpin bukanlah sebuah boneka yang digerak-gerakkan oleh para dalang untuk sebuah pertunjukkan di pentas hiburan. Pemimpin bukanlah wayang kulit yang didalangi semalaman untuk sebuah dongeng masa lalu. Tetapi, pemimpin adalah simbol keadilan dan simbol penyatu atas semua perbedaan dan kekurangan yang ada, lalu bersikap bijak dan realistis pada keadaan. Pemimpin seharusnyalah memimpin dengan jati diri sendiri, dan bukan sekedar menjadi topeng monyet yang digendangi oleh para tuan-tuan yang merawatnya.

untuk seminar/training silakan hubungi www.ninecorporatetrainer.com

Author: DJAJENDRA

Djajendra is corporate motivator. The best corporate motivator in Jakarta, Indonesia. web site: http://www.djajendra-motivator.com E-mail: training@djajendra-motivator.com E-mail: konsultasi@djajendra-motivator.com