MEMAHAMI PERBEDAAN WORKSHOP, TRAINING, SEMINAR, DAN KELAS MOTIVASI

MOTIVASI

MEMAHAMI PERBEDAAN WORKSHOP, TRAINING, SEMINAR, DAN KELAS MOTIVASI

Workshop, training, seminar, dan kelas motivasi memiliki arti dan maksud yang berbeda.

Dalam kelas workshop atau lokakarya, peserta yang hadir memiliki tujuan untuk mencari solusi atau memecahkan sebuah misteri. Di kelas workshop, pembicara atau narasumber mempresentasikan teori, konsep, logika, dan menyatukan persepsi peserta untuk dapat memecahkan masalah, ataupun menemukan solusi yang diinginkan. Kelas workshop bersifat ilmiah, tidak untuk membahas hal-hal yang sifatnya praktis, peserta akan mencari solusi atau pemecahan masalah, melalui berbagai konsep yang dikenal maupun yang masih baru bagi mereka.

Training atau pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan keandalan kualitas kerja peserta. Kelas training terfokus untuk memperdalam hal-hal praktis, meningkatkan kualitas dari hal-hal yang sudah dikerjakan dalam rutinitas di tempat kerja. Dalam training, tidak dibahas tentang teori, ataupun hal-hal yang sifatnya ilmiah. Di kelas training, peserta dilatih dan dipandu oleh trainer ataupun oleh motivator, untuk dapat melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Misalnya, peserta mendapatkan training tentang budaya organisasi, maka trainer akan menyampaikan praktek dan cara untuk bisa menjalankan budaya organisasi di dalam keseharian di tempat kerja. Sifat dari training adalah praktek, praktis, ataupun pragmatis; sangat terfokus kepada target dan sasaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Trainer harus mampu memvisualisasikan materi yang disampaikan, sehingga peserta mampu melihat dan mendapatkan pengalaman baru.

Kelas seminar biasanya membahas sesuatu yang sangat luas. Bentuk pengajaran selalu bersifat akademis, ilmiah, konsep, dan apapun yang sedang dipikirkan oleh peserta. Seminar bertujuan untuk menanam ide ataupun benih pengetahuan baru. Biasanya, peran moderator menjadi sangat penting dalam sebuah seminar. Narasumber dan peserta diatur dan dikelola oleh seorang atau beberapa orang moderator. Dialog dalam seminar kadang bisa keluar dari topik pembahasan, sebab apapun yang sedang dipikirkan oleh peserta dapat dikemukakan di dalam forum. Seminar tidak begitu cocok untuk karyawan atau pekerja yang ingin meningkatkan kompetensi dan keandalan di tempat kerja. Seminar sangat cocok untuk para mahasiswa, siswa, dosen, dan orang-orang yang ingin menambah wawasan atau pengetahuan sesuai topik yang dibicarakan tersebut.

Kelas motivasi biasanya bertujuan untuk meningkatkan keyakinan, semangat, kepercayaan diri, dan membugarkan pola pikir. Motivator harus mampu memainkan emosi peserta dengan sugesti yang masuk akal, sehingga peserta mampu termotivasi dan gairah hidupnya menjadi lebih baik. Karena kelas motivasi bermain di wilayah keyakinan, emosi, mindset, dan kepribadian. Maka, penyampaian materi harus bersifat universal, sehingga perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang dalam menerima motivasi.

Pelatihan untuk karyawan sebaiknya merupakan kombinasi dari kelas training dan kelas motivasi, kalau bisa dikombinasikan dengan kelas outbound. Pelatihan karyawan bertujuan agar mereka bisa menjalankan pekerjaan mereka dengan sepenuh hati, andal, berkualitas, dan berkinerja tinggi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

ISI SLIDE PRESENTASI UNTUK DICERITAKAN, BUKAN UNTUK DIBACAKAN

ISI SLIDE PRESENTASI UNTUK DICERITAKAN, BUKAN UNTUK DIBACAKAN

“Pembicara publik harus rajin mengembangkan pikiran dan wawasan, melihat dan merasakan realitas, tidak sekedar menguasai pengetahuan dan informasi, tetapi merasakan pengetahuan dan informasi yang dimiliki.”~Djajendra

Pembicara publik selalu hadir dihadapan orang banyak untuk menyampaikan cerita nyata dari hal-hal normatif. Karena cerita nyata itu hidup dan berkembang dari perubahan dan kreativitas, maka seorang pembicara publik haruslah menjadi pembelajar, yang fokus untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan wawasan agar dapat menceritakan realitas terbaru.

Kekuatan seorang pembicara publik ada pada gagasan dan pesan yang disampaikan. Bila gagasan dan pesan tersebut disampaikan dengan energi positif, karisma, detail, serta kehadiran yang penuh semangat dan antusias, maka presentasi tersebut menjadi menarik.

Cara berkomunikasi dan berinteraksi yang penuh empati pasti memudahkan pembicara untuk memahami realitas audiens. Pembicara harus cerdas sosial saat berinteraksi dengan audiens. Sebab, audiens berasal dari berbagai latar belakang dan beragam cara berpikir, sehingga diperlukan empati dan toleransi untuk bisa terhubung dengan mereka. Komunikasi dan interaksi dua arah akan menjadikan presentasi lebih hidup.

Pembicara publik harus mengalir di dalam realitas dan tidak boleh berhenti di dalam normatif. Biasanya semua materi presentasi berkekuatan normatif, tetapi isi normatif itu harus dapat menjawab realitas audiens sehari-hari. Untuk itu, pembicara harus rajin mengembangkan pikiran dan wawasan, melihat dan merasakan realitas, dan tidak sekedar menguasai informasi saja, tetapi merasakan informasi yang dimiliki.

Pembicara publik adalah pemimpin yang mengajar beragam karakter dan latar belakang audiens. Pengaruh dan pesan yang tepat dapat menjadikan audiens mengikuti kata-kata pembicara. Pembicara wajib menyiapkan dirinya untuk mengajar beragam orang dari berbagai organisasi, industri, jasa, dan publik. Pembicara wajib memahami, merasakan, menguasai, dan mengajarkan pengetahuan untuk semua jenis bisnis dan organisasi.

Setiap presentasi biasanya dilakukan dengan slide yang dirancang sesuai karakter pembicara. Isi slide presentasi merupakan inti pikiran yang menceritakan misi, termasuk memotivasi dan memberikan pencerahan untuk berbagai dimensi dari tema pembicaraan. Jumlah kata dalam slide presentasi dapat disesuaikan dengan luasnya pembahasan yang diinginkan pembicara. Pembicara berhak untuk menciptakan slide presentasi hanya dengan satu kata, lima kata, sepuluh kata, tiga puluh kata, dan seterusnya. Dan, tidak ada jumlah kata yang benar atau ideal, semuanya tergantung kepada rencana pembicara dengan slide presentasinya. Hal terpenting adalah bahwa kata-kata di dalam slide tersebut bukan untuk dibacakan, tetapi untuk diceritakan. Pembicara publik harus pandai bercerita dengan skenario yang tidak bertentangan dengan hal-hal normatif, juga mampu membuka ruang untuk hal-hal kreatif.

Slide presentasi sebagai bahan cerita wajib disampaikan dengan nada, volume, dan kecepatan suara yang mampu didengarkan dan dipahami oleh audiens. Kemampuan untuk menciptakan karakter diri dengan bahasa tubuh, karakter kata-kata yang diucapkan, dan ketegasan ekspresi diri dalam memperkuat pesan yang disampikan, akan menjadikan pembicara tampil kuat dihadapan audiens.

Pembicara publik yang baik selalu menyediakan waktu bagi audiens agar dapat berbagi cerita. Pembicaraan satu arah tidak memberi ruang untuk berbagi cerita. Oleh karena itu, pembicara harus siap berbagi panggung, berbagi cerita dan menjadikan audiens sebagai mitra diskusi dalam setiap sesi.

Untuk pelatihan hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMBUAT FILM DIPIKIRAN SEBELUM MENYAMPAIKAN PRESENTASI KEPADA AUDIENCE

DJAJENDRA 26 FEB 2014

MEMBUAT FILM DIPIKIRAN SEBELUM MENYAMPAIKAN PRESENTASI KEPADA AUDIENCE

“Presentasi yang dibuat menjadi cerita menarik, disampaikan oleh karakter yang unik dan positif, akan menyenangkan hati pendengarnya.”~ Djajendra

Salah satu pekerjaan pembicara publik yang penting adalah mengekspresikan ide-ide dalam bentuk cerita. Intinya, sebuah presentasi tidak hanya cukup dengan data, informasi, angka, pengetahuan, dan filosofi. Diperlukan cerita yang membuka hati dan pikiran audience, sehingga audience memahami manfaat dari hal-hal yang dibicarakan tersebut.

Presentasi yang baik haruslah menjadi alat untuk interaksi, diskusi, percakapan, termasuk untuk menginformasikan dan mengekspresikan ide-ide baru.

Pembicara publik sebaiknya menjadi diri sendiri. Jangan mencoba menjadi diri orang lain. Jangan mencoba memainkan gaya atau karakter yang tidak dikuasai dengan baik. Jangan ingin melucu atau bergaya seperti komedian, bila tidak menguasai pengetahuan dan karakter untuk melucu dengan baik. Intinya, sampaikan pengetahuan, ide, pengalaman, cerita, dan presentasi sesuai dengan gaya diri sendiri, gaya diri sejati yang unik.

Seluruh slide presentasi haruslah dapat disambungkan ke dalam sebuah inti cerita yang saling terhubung. Kemudian, jadikan presentasi seperti sebuah film yang menghibur, yang memberikan pencerahan, instruksi, serta menampilkan apa yang menjadi pahlawan dan apa yang harus dimenangkan oleh pahlawan tersebut. Pada akhirnya, presentasi harus menjadi guru yang mengajarkan hal-hal terbaik, dan dapat digunakan oleh audience untuk kehidupan dan pekerjaan mereka.

Presentasi pasti menjadi menarik bila pembicara publik sudah menjadikannya film dipikirannya, sehingga dia hanya tinggal bercerita dengan memanfaatkan karakter diri atau karakter bahasa tubuh yang menyenangkan. Dalam hal ini, presentasi harus membawa realitas dari hal-hal yang dibicarakan ke dalam ruangan dan menciptakan kehidupan yang memotivasi audience.

Karakter pembicara harus dimulai dari hal-hal yang sifatnya fisik, seperti: gaya rambut, pakaian, sepatu, dan semua penampilan diri yang utuh secara visual. Kemudian, karakter kepribadian yang mampu menampilkan jati diri asli dengan kekuatan keyakinan dan kepercayaan diri terhadap segala sesuatu yang ditampilkan. Intinya, seorang pembicara publik harus mampu secara konsisten menampilkan gaya dan karakter diri yang mudah untuk diingat oleh audience.

Ucapkan kata-kata positif dan jauhkan diri dari kata-kata yang tidak terpuji.Pembicara publik haruslah menjadi energi positif yang menyampaikan kebaikan, serta menggunakan bahasa dan kata-kata positif untuk mempengaruhi audience. Ingat, audience tidak pernah ingin menyerahkan dirinya kepada orang-orang negatif, dan memaksa mereka untuk mendengarkan hal-hal negatif dari seorang pembicara berenergi negatif.

Seorang pembicara publik tidak hadir untuk menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Tetapi, hadir untuk menyampaikan pengetahuan dan ide-ide baru, yang bisa membantu kemajuan audience. Pastikan film yang dibuat benar-benar fokus pada materi yang dibutuhkan dan diinginkan oleh audience. Jangan pernah tampil dihadapan audience kalau filmnya belum dikuasai oleh pikiran dan emosi diri.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PERAN KEYNOTE SPEAKER DALAM PERTEMUAN PERUSAHAAN

DJAJENDRA PROFILE 2013

PERAN KEYNOTE SPEAKER DALAM PERTEMUAN PERUSAHAAN

“Seorang keynote speaker harus mencerahkan pikiran sadar dan mengalirkan energi optimisme ke dalam akal super sadar audience untuk menciptakan kinerja terbaik.” ~ Djajendra

Keynote speaker adalah seorang pembicara utama yang menyampaikan pesan secara garis besar, dalam durasi waktu minimal 45 menit dan maksimal 2 jam. Seorang keynote speaker tidak untuk membicarakan rincian dari ide-ide strategis secara mendalam, tetapi untuk menyampaikan kekuatan inti dari tujuan pertemuan dalam bahasa optimis dan positif.

Waktu seorang keynote speaker sangat singkat, jadi tidaklah realistis bila mengharapkan seorang keynote speaker mampu memperbaiki masalah lama perusahaan. Tetapi, bila pengetahuan positif dan energi positif dari seorang keynote speaker ditanggapi dengan pikiran yakin dan mampu oleh audience, maka pengetahuan dan energi yang singkat dari keynote speaker, akan menjadi inspirasi untuk memperbaiki dengan cepat semua masalah lama perusahaan.

Setiap pertemuan perusahaan pasti memiliki tujuan untuk mencapai sebuah target. Dalam hal ini, sebelum seorang keynote speaker menyampaikan materinya, sebaiknya perusahaan memberikan secara rinci apa-apa yang ingin dicapai dari pertemuan perusahaan tersebut kepada keynote speaker. Bila keynote speaker sudah menangkap maksud dan tujuan dari pertemuan perusahaan, maka dia dapat menciptakan materi yang kuat dengan ide-ide praktis, untuk menginspirasi audience agar semakin yakin dan percaya diri dengan target yang diberikan.

Setiap konten keynote speaker memiliki area yang fokus kepada berbagai aspek yang diperlukan untuk mencapai target tersebut. Di sini, setiap konten bertujuan untuk menjadikan setiap orang berpikir positif dan optimis dengan target mereka, dan menciptakan sugesti yang mematikan energi pikiran negatif dengan logika berpikir yang optimis.

Keynote speaker biasanya sudah memiliki storyboard presentasi sesuai dengan durasi waktu. Hal ini sama seperti sebuah film dengan durasi waktu tertentu. Jadi, bila seorang keynote speaker diberikan waktu satu jam, maka jangan pernah menguranginya secara mendadak pada saat mau presentasi. Sebab, materi yang disiapkan untuk dibicarakan selama satu jam bila secara mendadak waktunya dikurangi, maka penyampaian materi akan terasa tergesa-gesa, terburu-buru, dan pastinya audience akan bingung untuk memahami apa yang disampaikan oleh keynote speaker. Hal ini sama seperti film berdurasi dua jam yang ditayangkan dalam waktu satu jam, maka pasti penonton bingung dengan jalan ceritanya, dan terasa tidak nyambung. Oleh karena itu, jangan pernah mengurangi durasi yang telah disepakati dengan pembicara profesional. Karena, setiap pembicara profesional tidak asal tampil untuk berbicara sesuka hatinya, mereka selalu hadir dihadapan audience dengan persiapan sesuai harapan.

Peran keynote speaker dalam sebuah pertemuan perusahaan adalah untuk memberikan sugesti positif agar audience lebih meyakini pencapaian target mereka. Dalam hal ini, akan ada proses untuk mengubah pikiran menjadi lebih berani, lebih yakin, lebih percaya diri, dan lebih merasa pasti untuk pencapaiannya.

Keynote speaker adalah sumber energi positif yang mampu menyampaikan pesan yang sangat berharga, untuk mempengaruhi audience agar menghadapi kenyataan dan harapan dengan optimis.

Dalam waktu yang singkat, keynote speaker harus mampu mendorong audience ke dalam kehidupan target atau tujuan, dan secara emosional memotivasi audience untuk bertindak menciptakan hasil seperti yang diinginkan.

Seorang keynote speaker harus mampu membuat audience bersikap layaknya Michelangelo, seorang seniman besar di sepanjang sejarah. Michelangelo sudah mampu melihat wujud mahakaryanya dari potongan balok marmer. Jadi, saat dia menatap sebuah balok marmer, dia sudah mampu melihat hasil akhirnya. Kemudian, dia akan fokus dengan sepenuh hati untuk mewujudkan hasil akhir tersebut menjadi mahakaryanya.

Bila materi keynote speaker dipahami dan disimak dengan rendah hati, maka peran keynote speaker dalam pertemuan perusahaan menjadi sangat berharga untuk kemajuan setiap audience. Tetapi, kadang-kadang, tidak semua orang di dalam kelas memiliki sikap mau belajar dengan rendah hati. Hal ini disebabkan oleh pikiran yang tidak terbuka untuk memahami ide-ide baru, atau juga diri belum siap untuk memahami rahasia-rahasia sukses. Dalam hal ini, keynote speaker harus mengalirkan kekuatan logika dan akal sehat agar audience dapat merenungkan dengan baik semua pesan yang disampaikan. Persoalannya, sering sekali rahasia hanya mampu diserap dan dipahami oleh diri yang tercerahkan. Namanya RAHASIA SUKSES, dia hanya mampu dipahami oleh orang-orang yang merasa dirinya belum banyak tahu, dan selalu antusias untuk mempelajari hal-hal baru.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMANFAATKAN KEAHLIAN MOTIVATOR UNTUK KEMAJUAN ANDA

DJAJENDRA PROFILE“Seorang gladiator selalu memiliki strategi yang tepat dengan keahliannya untuk memanfaatkan kekuatan tubuhnya yang tangkas dan cepat. Seorang samurai selalu memiliki strategi yang tepat dengan keahliannya untuk memainkan pedang dengan tangkas dan cepat. Seorang motivator selalu memiliki strategi yang tepat dengan keahliannya untuk memainkan pengetahuan dan wawasan dengan tangkas dan tepat sasaran.” ~ Djajendra

Motivator adalah seseorang yang memiliki keahlian dalam bidang yang ia ceramahkan.

Memanfaatkan keahlian motivator untuk meningkatkan wawasan dan cara berpikir adalah hal baik. Dan, akan menjadikan Anda, rekan kerja, bawahan, dan pimpinan di perusahaan Anda menjadi lebih sadar, serta lebih bersemangat untuk meraih sukses.

Agar Anda dapat memanfaatkan pengetahuan dan keahlian motivator dengan maksimal,  maka pastikan bahwa suasana hati motivator Anda terjaga dengan baik. Sebab, motivator Anda harus berbicara secara alami, dan pengetahuan positif motivator harus mengalir ke luar dari hati nuraninya untuk mempengaruhi dan memberi pencerahan kepada semua orang.

Jangan mengacaukan suasana hati motivator dengan hal-hal kecil yang mungkin menurut Anda tidak penting. Misalnya, pada hari “H” secara mendadak memajukan atau memundurkan waktu ceramah motivator. Atau secara mendadak mengurangi waktu presentasi motivator.

Bila suasana hati motivator  menjadi tidak jernih dan tidak sepenuh hati oleh desakan waktu, maka aliran motivasi akan terkesan terlalu cepat dan tidak maksimal.

Satu hari sebelum presentasi atau memberikan ceramah, motivator wajib berada dalam energi tenang dan pikiran paling jernih. Hal ini diperlukan agar keahlian dan wawasan motivator dapat mengalir dengan sangat jernih dan tenang untuk mempengaruhi audience.

Motivator selalu akan hadir dengan persiapan materi sesuai durasi waktu yang Anda sepakati. Misalnya, waktunya 4 jam, 8 jam, 16 jam, atau berapapun. Bila tiba-tiba di tengah pelatihan Anda merubah jumlah waktu, maka presentasi atau ceramah motivator berpotensi tidak maksimal atau malah menjadi sangat buruk.

Sebuah ceramah atau presentasi adalah sebuah rangkaian cerita yang telah dirancang sebelumnya. Jadi, bila tiba-tiba pada hari “H” rangkaian cerita ini harus dipotong, karena waktunya kurang, maka kinerja pelatihan berpotensi kurang baik.

Kehadiran motivator  adalah untuk membicarakan atau memecahkan hal-hal yang sulit Anda pahami dalam praktik sehari-hari. Jadi, manfaatkan potensi, wawasan, pengetahuan, dan keahlian motivator untuk memasuki pengalaman baru dengan lebih percaya diri.

Motivator adalah seorang ahli yang pembelajar dan tercerahkan dalam bidang yang ia bicarakan. Bila Anda ingin menyelam melampaui batas-batas konsep dan teori dalam bidang yang dibicarakan, maka Anda harus berani berpikir dan bertanya di luar kotak kebiasaan Anda yang sekarang.

Semakin cerdas Anda menyelam ke dalam lautan pengetahuan yang dibicarakan, semakin Anda bisa menguasai atau memahami kedalaman pengetahuan tersebut.

Jangan menunggu motivator mengajak Anda untuk menyelam melihat dalamnya hal-hal yang dibicarakan, sebab hal itu tidak mungkin terjadi, karena waktu motivator sangat terbatas bersama Anda.

Jadi, Andalah sebagai audience harus bersikap kritis dan mau tahu banyak hal dari materi yang disampaikan oleh motivator, sehingga Anda dapat memahami dan menguasai dalamnya pengetahuan yang disampaikan.

Sebagai audience, persiapkan diri Anda untuk bertanya dan menambah pengalaman baru dari motivator. Tanpa persiapan, Anda tidak akan mampu mengikuti apa yang dibicarakan ataupun disampaikan oleh motivator. Kesadaran Anda untuk belajar dan mau tahu banyak, akan menjadikan Anda mendapatkan banyak hal dari motivator.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMBICARA TERBAIK ADALAH PENDENGAR YANG CERDAS

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

PEMBICARA TERBAIK ADALAH PENDENGAR YANG CERDAS

“Menjadi pendengar yang cerdas akan membuat diri menyerap banyak pengetahuan dan wawasan, sehingga diri mampu menjadi komunikator yang unggul. Pengetahuan dan wawasan yang diserap itu akan menjadi pengalaman. Pengalaman dari pengetahuan dan wawasan akan membuat diri semakin berkualitas.”~ Djajendra

Mendengar dan berbicara adalah dua hal yang sangat penting dalam kehidupan. Dengan menjadi pendengar dapat menyerap banyak pengetahuan, dan setelah menyerap banyak pengetahuan, Anda pun berpotensi menjadi pembicara terbaik. Mendengar adalah sebuah cara untuk memperluas wawasan dan pengalaman.

Mendengar berarti membuka diri untuk menerima persepsi, logika berpikir, keyakinan, dan pengetahuan orang lain. Diri yang bijaksana pasti memiliki tanggung jawab dan kecerdasan untuk tidak mudah terpengaruh dengan apa yang didengar. Dan hal ini akan membuat diri tidak mudah melarikan dirinya kepada cara berpikir orang lain.

Dengan mendengar diri akan tahu sesuatu yang belum dipahami. Bila sudah tahu, diri dengan mudah dapat mendefinisikannya sesuai dengan persepsi dan keyakinannya, sehingga diri dapat menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan rutinnya. Hidup adalah belajar dari mendengar dan terus memahami yang didengar, dan setelahnya, memaksimalkan potensi dan sumber daya diri buat kebaikan dan keuntungan diri sendiri dan orang lain.

Apapun yang didengar bukan berarti harus diterima, sangatlah wajib menggunakan akal sehat dan hati nurani ketika berurusan dengan ucapan dan pikiran orang lain. Miliki pengetahuan untuk memilih mana yang penting dan mana yang tidak penting dari hal-hal yang Anda dengar. Jadilah lebih bertanggung jawab untuk kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan diri Anda. Apapun yang dikatakan orang lain adalah sebuah referensi. Jadi, Anda tidak harus mematuhi dan berurusan dengan persepsi orang lain, saat persepsi itu menjauhkan Anda dari bahagia dan pertumbuhan pribadi.

Pembicara terbaik selalu mendapatkan pengetahuan terbaik dari kemampuannya untuk mendengarkan orang lain. Dengan membaca tulisan ini, Anda sudah mendengarkan pikiran, pengetahuan, pengalaman, dan wawasan yang saya sampaikan.  Artinya, saya sedang berbicara melalui tulisan ini, dan Anda sedang mendengarkan kata-kata saya. Mendengar tidak sebatas hal-hal yang terucap dari suara mulut saja, tapi juga hal-hal yang terucap dari suara tulisan. Saat Anda membaca, kata-kata dalam bacaan itu akan berbicara kepada batin Anda, dan batin Anda pasti mendengarkannya.

Menjadi pembicara terbaik membutuhkan wawasan, pengetahuan, dan kepercayaan diri, untuk menyampaikan gagasan dan ide-ide yang mencerahkan. Semakin kreatif dan cerdas memahami apa yang didengar, maka semakin berkualitas diri untuk menciptakan hal-hal baru yang inovatif. Pembicara yang berkualitas adalah pendengar yang bijak, serta komunikator yang mempengaruhi.

Seorang pembicara akan memperoleh rasa hormat bila dia mampu mendengarkan emosi dan pikiran orang lain. Sikap yang mampu mendengarkan dengan penuh perhatian, untuk segala sesuatu yang dikatakan, akan menjadikan pembicara semakin berkualitas.

Mendengarkan membutuhkan sikap rendah hati dan jiwa besar dalam kualitas diri yang cerdas bertoleransi, berempati, dan melayani. Pendengar yang baik pasti mau mengetahui apa yang dipikirkan orang lain. Biasanya, seorang pembicara terbaik selalu menyimak dengan cerdas tentang apa yang dikatakan orang lain, dan bila apa yang dia dengarkan masuk akal baginya, maka dia akan menjadikannya sebagai pengetahuan untuk pengembangan ide-ide kreatifnya.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KARYAWAN PEMBELAJAR DALAM ORGANISASI PEMBELAJAR

KARYAWAN PEMBELAJAR DALAM ORGANISASI PEMBELAJAR

Video pelatihan djajendra: http://www.youtube.com/user/MrDjajendra

“Belajar Bukanlah Proses Sehari Atau Dua Hari, Tapi Proses Sampai Kedewasaan Sikap, Perilaku Dan Karakter Terwujud.” ~ Djajendra

“Proses Belajar Adalah Langkah Demi Langkah, Dan Secara Bertahap Menambah Inci Demi Inci Di Setiap Saat Ketika Pembelajaran Itu Mendekati Tujuan Dari Mewujudkan Keterampilan Baru. Langkah-Langkah Kecil Yang Konsisten Akan Menyebabkan Perubahan Besar Dalam Jangka Panjang, Dan Akan Menjauhkan Karyawan Dari Bahaya Yang Terkait Dengan Melompat Terlalu Cepat.” ~ Djajendra

Masa depan membutuhkan para karyawan pembelajar dalam organisasi pembelajar. Tidak peduli berapa usia karyawan tersebut, dia harus selalu merasa muda untuk menjadi pembelajar, layaknya murid-murid sekolah dasar. Kecepatan pergerakkan informasi yang berdampak pada perubahan yang sangat cepat, dan kadang terkesan seolah-olah berada dalam ketidakpastian, membuat setiap perusahaan harus menjadi benar-benar jujur, untuk mempersiapkan setiap orang di dalam organisasinya sebagai manusia pembelajar.

Bila perusahaan dan karyawan lalai menjadi pembelajar, maka perubahan dan ketidakpastian akan menciptakan rasa takut. Dan rasa takut ini akan menghilangkan kontrol atas kepercayaan diri. Lalu, setiap orang dalam perusahaan akan takut bertanggung jawab atas perilaku perubahan yang selalu dalam ketidakpastian. Dampaknya, karyawan dan pimpinan tidak akan pernah mengetahui dalam wilayah mana ketidakpastian itu sedang terjadi, dan begitu melihat risiko, hanya rasa takut yang ada, karena mereka tidak belajar untuk mengelola semua tantangan di depan.

Jika Anda seorang karyawan pembelajar yang kaya pengalaman, Anda mungkin bisa membaca ketidakpastian, dan mampu bersikap lebih tenang untuk menemukan solusi di setiap titik ketidakpastian yang Anda temukan. Selanjutnya, Anda hanya membutuhkan waktu dan sedikit kreatifitas, untuk menemukan solusi hebat, agar perusahaan Anda bersama bisnisnya selalu dapat memenangkan kompetisi.

Proses belajar adalah sebuah evolusi untuk menyesuaikan diri dengan realitas dari perubahan yang tidak terlihat. Perubahan tersebut dikatakan tidak terlihat, karena sifatnya evolusi, jadi menjadi tidak kasat mata, dan hanya akan terlihat saat perubahan-perubahan yang tidak terlihat itu sudah terakumulasi ke dalam sebuah perubahan besar. Oleh karena itu, seorang pembelajar akan tahu bahwa setiap hari dia harus mengikuti langkah-langkah kecil perubahan yang tidak terlihat, agar saat perubahan itu membesar, dia sudah memahami cara untuk menemukan solusi yang tepat.

Seorang pembelajar sadar bahwa saat dia belajar keterampilan baru, maka dia harus berubah dari kebiasaan lama, atau mengubah diri menjadi lebih baik dengan bermodalkan keterampilan baru. Dan hal itu, tidak akan terjadi dalam semalam, membutuhkan latihan dan proses pembelajaran dengan intensitas tinggi, serta dirinya berkomitmen total untuk berubah dan menyesuaikan diri.

Seorang pembelajar tidak pernah ketakutan saat perubahan menciptakan ketidakpastian, karena dia selalu mempersiapkan diri dengan belajar keterampilan baru, dan menjadikan proses belajar sebagai hobi yang membuatnya selalu menikmati risiko dan tantangan sebagai studi kasus dari proses pembelajarannya.

Seorang pembelajar selalu sadar bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi rasa takut adalah dengan menghadapinya. Kabar baiknya adalah, setelah rasa takut itu dihadapi, biasanya rasa berani akan mendominasi emosi dan menghilang rasa takut itu, kemudian perasaan mampu akan menaklukkan rasa takut dan menjadi kekuatan untuk menemukan solusi yang hebat.

Proses belajar membutukan rasa sabar dan tidak tergesa-gesa. Belajar bukanlah proses sehari atau dua hari, tapi proses sampai kedewasaan sikap, perilaku dan karakter terwujud. Jadi, belajar itu seperti bayi yang baru mulai berdiri dan berjalan, tidak mungkin diharapkan dalam satu atau dua hari sudah bisa berjalan dengan sempurna. Ada proses jatuh bangun yang harus dilalui bayi tersebut dalam sebuah periode, sampai dia benar-benar kuat dan cerdas untuk berlari dan berjalan dengan sempurna. Dan, selama proses jatuh bangun itu orang-orang terdekat seperti ibu, ayah, dan yang lainnya harus dengan sabar membantu bayi itu berdiri, sampai akhirnya bayi itu dapat menguasai pengetahuan tentang berjalan, berdiri, dan berlari. Demikian jugalah seorang karyawan pembelajar, perusahaan dan dirinya harus sadar bahwa dia sesungguhnya seperti bayi yang sedang belajar. Oleh karena itu, setiap kali dia jatuh dalam pekerjaan, maka setiap pemimpin dan orang-orang di sekitarnya harus memberinya motivasi dan kekuatan, untuk dapat belajar lebih baik lagi, sampai akhirnya dia dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna.

Perilaku dan sikap untuk belajar sesuatu secara instan hanya akan menciptakan kemampuan keterampilan baru tanpa karakter. Seorang pembelajar sejati selalu tahu untuk bersabar, dan tidak berharap terlalu cepat untuk memiliki terlalu banyak. Harapan yang tidak realistis adalah rute tercepat untuk menyerah. Dan pada akhirnya, ambisi dan obsesi besar akan terkubur dalam perasaan tidak berdaya.

Dari pengalaman, saya menemukan, kadang-kadang ada orang-orang dalam perusahaan ingin seketika mencoba dan menjalankan sesuatu yang baru sebelum para karyawannya dapat menginternalisasikan hal-hal baru itu ke dalam mind set mereka. Pemaksaan secara instan memiliki risiko yang sangat besar, dan karyawan yang gagal akan terjebak dalam rasa putus asa, sehingga hal ini akan berdampak pada pencapaian kinerja.

Proses belajar adalah langkah demi langkah, dan secara bertahap menambah inci demi inci di setiap saat ketika pembelajaran itu mendekati tujuan dari mewujudkan keterampilan baru. Langkah-langkah kecil yang konsisten akan menyebabkan perubahan besar dalam jangka panjang, dan akan menjauhkan karyawan dari bahaya yang terkait dengan melompat terlalu cepat.

Proses belajar membutuhkan pikiran positif, karena pikiran positif akan menjadi alat bantu untuk mengatasi pikiran negatif yang dapat menyabotase usaha dan ketekunan diri dalam proses pembelajaran tersebut.

Proses belajar tidaklah boleh terlalu serius dan ngotot, sebab di dalam keseriusan dan kengototan akan kehilangan inovasi dan kreatifitas, dampaknya Anda tidak akan menemukan emosional diri sendiri yang unik untuk mengekspresikan pengetahuan baru dari hasil pembelajaran Anda. Lewati proses pembelajaran dengan banyak perenungan melalui proses kreatif, dan keluarlah dari kotak pengetahuan yang menghalangi Anda untuk berpikir berbeda dan menjadi unik bersama pengetahuan baru Anda.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KARYAWAN DAN PIMPINAN PEMBELAJAR ADALAH HARTA DAN INVESTASI BUAT KEMAJUAN PERUSAHAAN

KARYAWAN DAN PIMPINAN PEMBELAJAR ADALAH HARTA DAN INVESTASI BUAT KEMAJUAN PERUSAHAAN

“Menciptakan organisasi pembelajar berarti karyawan dan pimpinan harus termotivasi menjadi pembelajar seumur hidup bersama perusahaan. Bila karyawan dan pimpinan tidak belajar dan mengangap diri sudah pintar, maka organisasi juga akan tidak belajar dan berhenti untuk berkembang. Akibatnya, perusahaan akan menjadi tidak cerdas dalam menghadapi berbagai perubahan dan persaingan.” ~ Djajendra

Video pelatihan djajendra: http://www.youtube.com/user/MrDjajendra

Para pimpinan dan karyawan di tempat kerja adalah orang-orang dewasa yang telah mapan dengan pengalaman kerja dan pendidikan. Walaupun pengalaman dan pendidikan mereka sudah cukup tinggi, tapi kehidupan pekerjaan sangat akrab dengan perubahan. Oleh karena itu, setiap karyawan dan pimpinan harus menjadi pembelajar seumur hidup, agar organisasi atau perusahaan tempat mereka bekerja dapat terus belajar untuk menjaga keberlanjutan bisnis dan pelayanan dengan konsisten.

Selain sebagai bagian dari proses belajar organisasi, program pembelajaran pimpinan dan karyawan juga mencakup untuk peningkatan karir mereka di tempat kerja. Orang-orang yang mempersiapkan dirinya dengan pengetahuan dan wawasan yang berdaya saing tinggi akan menjadi harta dan investasi buat kemajuan perusahaan.

Karyawan dan pimpinan bukanlah murid ataupun mahasiswa, tapi mereka adalah orang-orang dewasa yang telah lulus sebagai murid dan mahasiswa. Dan sekarang mereka bekerja untuk karir, karya, uang, kehidupan pribadi, dan kehidupan sosial mereka. Oleh karena itu, di setiap proses belajar, mereka butuh meningkatkan kualitas kompetensi produktif, kompetensi adaptif, kompetensi bisnis, kompetensi normatif, dan juga kompetensi-kompetensi lainnya, agar mereka dapat menjadi pribadi-pribadi unggul, yang selalu menyediakan potensi diri mereka, untuk menciptakan pekerjaan dan pelayanan yang berkualitas tinggi sesuai tantangan.

Perubahan selalu menciptakan tantangan untuk mengupgrade keterampilan dan pengetahuan. Kesadaran dan kesiapan setiap individu di tempat kerja untuk menyediakan kualitas diri yang memenuhi kebutuhan di tempat kerja, akan menjadi investasi yang mendorong pertumbuhan perusahaan melalui pekerjaan yang berkualitas tinggi.

Pengajar untuk orang dewasa haruslah orang yang memiliki wawasan luas terhadap kebutuhan produktif, adaptif, bisnis, organisasi, dan normatif; dalam aplikasi yang dapat diterapkan di tempat kerja. Karyawan dan pimpinan sebagai orang-orang dewasa harus juga mempersiapkan dirinya dengan pikiran positif yang terbuka untuk memahami perubahan, serta menyiapkan dirinya agar dapat menjalankan prinsip-prinsip baru yang dipelajari dalam pekerjaan mereka.

Ketika memberikan pencerahan, motivasi, dan instruksi kepada pelajar dewasa harus dipastikan bahwa pemberian materi pelatihan sifatnya efektif. Hal terpenting adalah melibatkan audiens untuk mengeksplorasi materi pelatihan, agar para audiens dapat menjadi lebih interaktif dalam memahami pengetahuan yang disampaikan.

Para pelajar dewasa selalu memiliki praduga tentang pelatihan apa yang harus mereka dapatkan. Seringkali mereka memiliki pengalaman negatif saat mendapatkan mentor yang wawasannya kalah dengan mereka. Dampaknya, mereka akan menutup diri dan selalu berpikir lebih banyak tahu daripada para mentor yang melatih mereka. Oleh karena itu, para pengajar atau mentor yang melatih orang dewasa haruslah memiliki wawasan dan pengetahuan praktis produktif; serta cerdas mempengaruhi, memotivasi dan mentransfer pengetahuan sesuai harapan perusahaan.

Para pelajar dewasa pada umumnya adalah orang-orang berpendidikan tinggi, sehingga secara akademis mereka telah mengetahui banyak pengetahuan. Oleh karena itu, seorang mentor tidak perlu lagi mengulang-ulang hal-hal yang telah mereka ketahui. Bila diulang-ulang, mereka pasti tidak akan mendapatkan nilai tambah baru dari proses belajar tersebut.

Para pelajar dewasa membutuhkan wawasan dan pengetahuan, untuk membantu peningkatan kualitas diri mereka dalam menciptakan kualitas pekerjaan dan pelayanan kepada organisasi dan stakeholder. Oleh karena itu, seorang mentor harus dapat menciptakan proses belajar yang relevan dengan pekerjaan, serta cerdas menggunakan metedologi belajar yang menekankan bagaimana pembelajaran disimulasikan melalui studi kasus, contoh-contoh dari fakta di tempat kerja, teknik pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari, cara mereka mempersiapkan diri dan potensinya untuk memberikan kinerja terbaik, serta kemampuan adaptif mereka dalam menggunakan prinsip-prinsip baru dalam pekerjaan sehari-hari.

Struktur materi pelatihan untuk orang dewasa haruslah membantu mereka untuk mengikuti dan menerima pesan yang ingin disampaikan. Konsep visual dengan menciptakan sebuah narasi sederhana akan memberikan sebuah cerita yang mudah untuk diikuti dan dipahami audiens.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MEMBANGUN HUBUNGAN YANG BERMANFAAT ANTARA PEMBICARA DAN PESERTA DALAM SEBUAH PELATIHAN

MEMBANGUN HUBUNGAN YANG BERMANFAAT ANTARA PEMBICARA DAN PESERTA DALAM SEBUAH PELATIHAN

“Ketika Seorang Pelatih Jujur Dengan Diri Sendiri Dan Jujur Dengan Yang Dilatih; Ketika Seorang Yang Dilatih Memiliki Kerendahanhati Untuk Belajar Dengan Jujur; Maka Hubungan Belajar-Mengajar Akan Terpuaskan, Dan Akan Membuat Penerimaan Hati Untuk Perubahan Ke Arah Yang Lebih Baik.” ~ Djajendra

Dalam sebuah pelatihan yang baik hubungan antara pembicara dan peserta harus saling melengkapi melalui niat baik, untuk mencapai GOAL masing-masing secara sadar dan proaktif. Kedua belah pihak harus mempersiapkan diri dengan baik. Pihak pembicara harus menyiapkan materi presentasi yang tepat sasaran, dan kemudian menyampaikannya dengan sangat sederhana dan tegas. Pihak peserta harus mempersiapkan diri untuk belajar, dan menyerap sebanyak mungkin pengetahuan dengan cara menjaga hubungan belajar-mengajar secara proaktif. Selanjutnya, kedua belah pihak, baik pembicara maupun peserta harus mencapai GOAL nya dengan cara memainkan emosi positif dan pikiran positfi, untuk mendapatkan banyak GOAL dari proses belajar-mengajar tersebut.

Pelatihan yang baik bukan pertemuan untuk obrolan tanpa tujuan, tapi sebuah uji pengetahuan untuk perubahan. Oleh karena itu, materi yang disampaikan pembicara harus dijadikan sebagai pertemuan yang menggerakkan peserta menuju tujuan yang diinginkan dari pertemuan tersebut.

Kekakuan hubungan belajar mengajar antara peserta dan pembicara tidak akan mencapai niat dan tujuan dari pertemuan itu. Jika pembicara tidak memberikan penjelasan yang logis dan tegas, maka bertanyalah dalam bahasa yang paling sederhana melalui pikiran positif. Demikan juga dengan peserta harus selalu merasa penting untuk mengamati, bertanya, memikirkan, dan memberikan pemahamannya atas materi pembicaraan.

Pembicara dan peserta harus selalu berada dalam satu level energi, dan dengan ikhlas saling berkontribusi secara aktif terhadap topik yang dibahas. Pembicara dan peserta harus tulus mengendalian ego dan perasaan lebih tahu, agar hubungan belajar mengajar dapat menjadi lebih kreatif, serta memiliki gairah dan antusias untuk mencapai tujuannya dengan baik.

Keberhasilan untuk memahami sebuah topik pelatihan sangat tergantung dari perilaku proaktif pembicara dan peserta, untuk mengupas dan memiliki niat dalam menguasai makna dari setiap ide yang disampaikan dalam pelatihan tersebut. Setiap slide presentasi harus dapat memberikan satu ide untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan setiap peserta harus memiliki gairah dan motivasi tinggi buat belajar dengan ikhlas dan rendah hati, agar pengetahuan yang disampaikan dapat menghasilkan manfaat buat kemajuan peserta dan organisasinya.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

 

MEMBUAT KARAKTER KARYAWAN LEBIH TERMOTIVASI DALAM MENGERJAKAN SUATU PEKERJAAN

Pertanyaan

Saya seorang instruktur, ingin menanyakan mengenai cara membuat karakter karyawan di perusahaan lebih termotivsi dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Terus terang kelemahan saya di penguasaan materi. Apakah ada saran agar saya bisa mengajar dengan lebih baik?

Djajendra Menjawab

Bila ingin membuat karakter karyawan di perusahaan lebih termotivasi dalam mengerjakan suatu pekerjaan, maka terlebih dahulu perusahaan harus berbudaya dan memiliki kepemimpinan yang unggul.

Perusahaan harus membangun budaya kerja atas dasar budaya organisasi, yang dicerminkan melalui nilai-nilai perilaku kerja.

Nilai-nilai perilaku kerja ini akan menjadi etos kerja yang harus diinternalisasikan ke mind set, agar dapat dipatuhi oleh setiap karyawan dan pimpinan di perusahaan.

Ketika nilai-nilai perilaku kerja dari budaya organisasi sudah dapat diterima oleh karyawan, saat itu proses karakterisasi nilai-nilai ke dalam kepribadian karyawan lebih mudah untuk dilakukan.

Penguasaan materi untuk seorang pembicara atau instruktur bersifat mutlak. Oleh sebab itu, Anda harus mempersiapkan materi secara sangat serius dan sangat terencana.

Pahami hal-hal yang benar-benar dibutuhkan oleh karyawan, agar motivasi dan perilaku kerja mereka dapat ditingkatkan.

Saran saya, jadilah diri sendiri yang unik, dan jangan pernah meniru gaya mengajar dari siapa pun.

Metode mengajar yang baik adalah membuat peserta berpartisipasi aktif secara interaktif.

Ciptakan kegembiraan dan kesenangan agar suasana hati peserta dapat menyatu dengan program pelatihan yang Anda buat.

Jangan menggurui peserta, tapi ajaklah peserta untuk berkontribusi melalui berbagai cara dan teknik penyampaian materi yang bersifat kreatif dan efektif.

Djajendra

KARYAWAN BERKUALITAS ADALAH MODAL INTELEKTUAL PERUSAHAAN

KARYAWAN BERKUALITAS ADALAH MODAL INTELEKTUAL PERUSAHAAN

“Karyawan Adalah Modal Intelektual Yang Paling Bernilai Untuk Dirawat Secara Berkelanjutan Demi Keunggulan.” – Djajendra

Pengembangan kualitas karyawan yang berkelanjutan haruslah menjadi prioritas. Bila perusahaan secara terencana melakukan investasi di dalam pengembangan karyawan, maka  kemampuan dan kualitas karyawan akan menjadi modal intelektual dari perusahaan. Oleh karena itu, promosikan budaya belajar di tempat kerja Anda, agar karyawan di perusahaan Anda dapat menjadi modal atau aset intelektual yang membuat perusahaan Anda cemerlang di sepanjang  zaman.

Bila karyawan sudah menjadi modal intelektual dari perusahaan, maka karyawan akan menjadi energi yang kuat untuk menciptakan nilai tambah perusahaan. Termasuk, untuk menciptakan keuntungan, reputasi, kredibilitas, goodwill, ekspansi, dan keunggulan perusahaan dalam memenangkan kompetisi di pasar.

Untuk membuat karyawan menjadi modal intelektual, perusahaan harus memiliki program pelatihan yang terarah kepada visi dan misi perusahaan. Perusahaan harus melakukan program mentoring kepada karyawan secara berkelanjutan untuk membuat karyawan memahami apa yang diharapkan perusahaan dari mereka. Perusahaan harus membangkitkan motivasi belajar karyawan agar mereka bisa menjadi pembelajar yang kreatif untuk memiliki etos kerja sesuai visi dan misi perusahaan.

Peran kepemimpinan untuk  mendorong ide-ide baru ke dalam pekerjaan akan menjadi motivasi yang membangkitkan gairah belajar dari karyawan. Membina proses belajar kreatif haruslah melalui jalan komunikasi yang memotivasi dan memberikan harapan positif melalui masa depan kepada karyawan. Selanjutnya, kepemimpinan harus selalu berdiri paling depan dengan sikap tegas, untuk membantu setiap proses mewujudkan karyawan menjadi modal intelektual dari perusahaan. Tidak boleh ada keraguan di dalam jiwa kepemimpinan untuk membuat semua karyawan sebagai modal inteletual dari perusahaan.

Partisipasi aktif karyawan untuk pertumbuhan dan perkembangan kualitas diri mereka, akan menjadi sebuah cara yang efektif dalam membuat karyawan menjadi modal intelektual dari perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan harus memiliki strategi untuk membangun kesadaran karyawan agar karyawan mampu me-manage diri sendiri untuk dapat menjadi modal intelektual demi keberhasilan masa depan perusahaan dan dirinya sendiri.

Keterlibatan dan kemampuan tim manajemen dalam mewujudkan modal intelektual perusahaan melalui pekerjaan karyawan yang lebih berkualitas; kompensasi dan perhatian yang adil dan wajar; turnovers karyawan yang rendah; penghematan biaya non karyawan; peningkatan kepuasan dan loyalitas pelanggan; perilaku kerja karyawan yang lebih besar inovasi, kreativitas, produktivitas, profitabilitas, dan keberanian untuk mengambil risiko yang terkalkulasi; akan menjadi sebuah kekuatan yang membuat semua karyawan menjadi modal intelektual dari perusahaan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

KARYAWAN HARUS DIBEKALI DENGAN KETERAMPILAN DASAR

Bekerja Dengan Orang-Orang Yang Kurang Memiliki Kemampuan Komunikasi Dapat Menjadi Pengalaman Frustrasi Dan Sakit Hati.” – Djajendra

Setelah perusahaan merekrut karyawan, sebaiknya karyawan tersebut dilatih dengan keterampilan dasar yang harus mereka miliki untuk menjalankan pekerjaan di perusahaan. Khususnya untuk menguasai budaya perusahaan, komunikasi dan interaksi di internal perusahaan, manajemen waktu, manajemen marah, keterampilan bekerja sama, keterampilan menjalankan peran dan fungsi organisasi, dan keterampilan untuk selalu produktif, efektif, bersama integritas dan etika. Semua ini harus diajarkan dan dilatih secara terus-menerus sehingga karyawan menjadi ekselen untuk berkontribusi secara profesional kepada perusahaan.

Perusahaan tidak hanya cukup menyerahkan tanggung jawab pekerjaan kepada karyawan, tanpa melengkapi mereka dengan sebanyak mungkin keterampilan dasar agar para karyawan tersebut mampu berprestasi dan sukses di tempat kerja. Biasanya, karyawan baru hasil lulusan perguruan tinggi, memiliki pengetahuan yang sangat memadai, tapi memiliki keterampilan dasar yang sangat minim, serta tidak memiliki pengalaman untuk berkomunikasi kepada stakeholder melalui panduan etika bisnis dan etika kerja yang profesional.

Dalam hal penguasaan keterampilan dasar, saya selalu mengamati bahwa orang-orang yang sudah sangat berpengalaman pun sering sekali sangat minim kemampuan keterampilan dasarnya. Akibatnya, mereka menjadi sumber daya manusia yang menghambat kualitas dan pelayanan kerja terbaik di tempat kerja. Di sini, perusahaan harus turun ke sebuah awal untuk melatih kembali setiap karyawan yang miskin keterampilan dasar tersebut dengan berbagai keterampilan dasar, agar mereka bisa menjadi pribadi-pribadi unggul yang menciptakan kualitas kerja dan pelayanan kerja terbaik di dalam organisasi.

Keterampilan dasar karyawan bisa hard skill atau pun soft skill. Untuk hard skill biasanya tidak sulit, dan perusahaan dengan sangat mudah mampu melakukan evaluasi dan penilaian atas kemampuan hard skill karyawan. Tetapi, hal ini tidak berlaku untuk penilaian terhadap soft skill. soft skill seperti kemampuan interpersonal, kecerdasan emosional, kecerdasan integritas, dan kecerdasan etika tidaklah mudah untuk dinilai. Para penilai soft skill juga tidak bisa sembarangan orang, sebab di dalam soft skill semua hal-hal akan saling berkaitan dan menyatu ke dalam kepribadian seseorang secara unik, sehingga diperlukan penilai dengan kepribadian dewasa yang tercerahkan oleh empati dan nilai-nilai positif kehidupan.

Berikut ini ada tiga hal dalam soft skills yang tidak boleh diabaikan oleh siapa pun di internal perusahaan. Ketiga hal tersebut adalah keterampilan dasar komunikasi, keterampilan dasar pemecahan masalah, dan keterampilan dasar interpersonal.

Keterampilan dasar komunikasi adalah sebuah ketrampilan dasar yang sangat menentukan keberhasilan di tempat kerja. Bekerja dengan orang-orang yang kurang memiliki kemampuan komunikasi dapat menjadi pengalaman frustrasi dan sakit hati. Oleh karena itu, perusahaan harus sangat peduli untuk melatih secara terus-menerus terhadap setiap karyawan tentang kemampuan membaca, menulis, mendengar, dan berbicara secara efektif kepada stakeholder dalam sifat baik, tatakrama dan sopan-santun. Khususnya, dalam hal membaca, menulis, dan mendengar. Biasanya, ketiga hal ini selalu diabaikan, dan perusahaan selalu lebih suka memperhatikan komunikasi berbicara efektif. Padahal kemampuan untuk membaca dan memahami dokumen-dokumen dalam pelayanan organisasi kepada stakeholder sangatlah menentukan kualitas interaksi dengan stakeholder; kemampuan untuk menulis dan memilih kata-kata yang tepat dan santun dalam penulisan melalui email ataupun penulisan untuk kepentingan stakeholder dalam bentuk non email sangatlah membangun reputasi perusahaan; dan kemampuan untuk mendengarkan secara aktif tentang stakeholder juga tidak kalah pentingnya dalam menciptakan komunikasi yang luar biasa dengan stakeholder.

Keterampilan dasar pemecahan masalah adalah keterampilan dasar yang sangat menentukan kemampuan setiap orang untuk mendapatkan solusi yang hebat, serta untuk bisa menghindari kesalahan dan konflik. Hal ini termasuk tentang cara mengidentifikasi masalah, brainstorming untuk menghargai pendapat orang lain dan untuk menemukan solusi terbaik, mengevaluasi suatu keadaan untuk mendapatkan jawaban alternatif untuk sebuah keadilan, dan kecerdasan untuk menerapkan ide-ide terbaik buat kebahagiaan stakeholder. Tujuan utama dari pemecahan masalah adalah untuk menyelesaikan masalah secara efektif, produktif, wajar, dan adil.

Keterampilan dasar interpersonal adalah sebuah keterampilan dasar yang sangat menentukan kerja sama dan kontribusi karyawan untuk keberhasilan perusahaan. Itulah sebabnya, mengapa karyawan perlu untuk mengembangkan kualitas seperti empati, kecerdasan emosi, sikap baik, perilaku positif, dan keterampilan untuk mendukung kebutuhan kerja organisasi. Pastikan bahwa karyawan sudah tercerahkan untuk memahami betapa pentingnya keterampilan interpersonal ini. Kemudian, bentuk mind set dan bangkitkan semangat karyawan untuk selalu menjaga sikap positif, bekerja pada ketegasan sop, mencegah ketegangan di tempat kerja, kemampuan untuk mengatasi masalah, kemampuan untuk bekerja dalam integritas diri, kemampuan untuk menjalankan etika dan prinsip-prinsip kerja berkualitas, serta kecerdasan untuk menyelesaikan konflik yang merugikan organisasi dan stakeholder.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PEMBICARA PROFESIONAL

“Seorang Pembicara Profesional Bukanlah Seorang Aktor Yang Harus Memainkan Peran Sesuai Skenario Dari Sutradara. Tapi, Dia Adalah Seorang Pemikir, Perenung, Dan Pencipta Ide-Ide Baru Untuk Disampaikan Kepada Para Hadirin Dari Berbagai Kelompok.” – Djajendra

Pembicara profesional adalah pekerjaan untuk menyampaikan ide, pemikiran, dan saran kepada para pendengar. Semua ide, pemikiran, dan saran yang disampaikan tersebut haruslah merupakan hasil riset dan pengalaman pribadi melalui perenungan yang sangat mendalam; sehingga materi yang disampaikan tersebut mampu menyatu bersama semangat dan bahasa tubuh pembicara. Untuk itu, pembicara harus selalu bersikap konsisten untuk menyampaikan ide dan pemikiran dari dirinya sendiri, bukan menyampaikan ide dan pemikiran orang lain. Bila pembicara tergoda untuk menyampaikan ide dan pemikiran orang lain, maka pembicara tidak akan mampu menjadi diri sendiri dalam presentasinya kepada para hadirin.

Peran pembicara profesional dalam sebuah pelatihan perusahaan adalah untuk menyampaikan gagasan, pesan dan ide dengan cara mendorong, menginspirasi, memotivasi, dan menggerakan mind set peserta melalui sebuah topik pembahasan yang terencana dengan baik sesuai dengan tujuan akhir yang ingin dicapai. Materi yang disampaikan haruslah merupakan ide dan pemikiran dari pembicara, serta disampaikan secara normatif melalui cerita yang mampu membantu peserta untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan pekerjaan sehari-hari di tempat kerja. Materi pembahasan tidak boleh bersifat abstrak, tapi harus bersifat umum dan dapat diterima secara akal sehat untuk dijalankan dalam realias sehari-hari.

Sebuah topik pembahasan yang dibuat pembicara haruslah merupakan sebuah pesan dan ide yang terstruktur secara sederhana dalam sebuah perjalanan pesan dan ide yang tersambung ke dalam sebuah tujuan akhir. Pesan dan ide tersebut haruslah terfokus kepada beberapa sisi terpenting saja, dan tidak boleh terlalu meluas. Biasanya seorang pembicara dengan banyak gagasan dan ide akan tergoda untuk membahas banyak hal dalam waktu yang terbatas, dan hal ini tidak baik dan tidak boleh dilakukan. Bila pembahasan terlalu meluas, maka peserta akan bingung dan tidak mampu memfokuskan dirinya untuk menerima pesan dan ide yang terlalu banyak disampaikan.

Pembicara yang baik adalah dia yang mampu menahan diri dan tidak berambisi untuk memamerkan semua pengetahuannya dalam sebuah topik pembahasan. Setiap topik pembahasan biasanya dibagi dalam sebuah sesi pelatihan berdurasi maksimal dua jam. Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, pembicara tidak boleh membuat materi presentasi yang sangat meluas, harus fokus pada satu atau dua sisi terpenting saja.

Menjadi diri sendiri dan menggunakan kalimat-kalimat sendiri adalah hal terpenting dari seorang pembicara profesional. Jangan pernah tergoda untuk menjadi orang lain, selalu bersyukur dan berterima kasih atas penampilan diri sendiri. Berlatihlah setiap hari untuk menjadi diri sendiri sesuai keinginan Anda, dan jangan memaksa diri Anda menjadi diri tertentu sesuai keinginan orang lain. Seorang pembicara profesional bukanlah seorang aktor yang harus memainkan peran sesuai skenario dari sutradara. Tapi, dia adalah seorang pemikir, perenung, dan pencipta ide-ide baru untuk disampaikan kepada para hadirin dari berbagai kelompok.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

SOFT SKILL

SOFT SKILL

“Soft Skill Adalah Dasar Utama Untuk Membuat Organisasi Terhindar Dari Mismanajemen Dan Tetap Bersinar Terang Bersama Kinerja Terhebatnya.” – Djajendra

Salah satu kemampuan yang paling serius dibutuhkan oleh pimpinan dan karyawan adalah belajar menguasai soft skill secara sempurna. Soft skill atau keterampilan yang terkait dengan kepribadian seseorang adalah dasar terpenting untuk membuat sebuah pekerjaan menjadi berkualitas. Tanpa keunggulan soft skill para pimpinan dan karyawan berpotensi menimbulkan mismanajemen di dalam organisasi. Apakah perusahaan, instansi, atau organisasi Anda telah memberikan perhatian penuh pada kebutuhan soft skill pegawai dan pimpinan di kantor? Jika belum, Anda harus segera melakukannya agar perusahaan, instansi, atau organisasi Anda tidak melakukan mismanajemen terhadap aktivitasnya.

Apa itu soft skill? Soft-skills adalah keterampilan atau pengetahuan tentang pemecahan masalah, komunikasi, kualitas pribadi dan etika kerja, interpersonal dan kerja sama, integritas dan moralitas. Setiap individu di tempat kerja wajib untuk menguasai keterampilan dan pengetahuan soft skill tersebut agar mampu menjadi sadar untuk berdedikasi dan berkontribusi melalui keunggulan integritas, etika, dan loyalitas kepada organisasi dan stakeholders.

Keterampilan pemecahan masalah adalah sebuah soft skill yang mengharuskan seseorang untuk selalu berdisiplin dan terampil dalam hal pemecahan masalah. Soft skill pemecahan masalah membangun kebiasaan-kebiasaan atau naluri kerja yang tajam untuk selalu bekerja dengan cara mengidentifikasi masalah sebelum membuat keputusan; untuk selalu merumuskan masalah dengan informasi dan data yang benar sebelum membuat keputusan; untuk selalu melakukan evaluasi dan memiliki solusi alternatif dengan menimbang risiko dan manfaat sebelum membuat keputusan. Dalam soft skill ini setiap orang diharuskan menjadi sangat berdisiplin melalui kebiasaan-kebiasaan berpikir dan bertindak yang terstruktur dalam sebuah proses pemecahan masalah dengan kemampuan untuk mempertimbangkan segala aspek risiko secara tepat dan benar.

Keterampilan komunikasi adalah sebuah soft skill yang mengharuskan setiap orang untuk memiliki keterampilan dan kemampuan mengembangkan dan menyampaikan informasi yang tepat dalam bahasa bicara atau tulisan yang sopan dengan menggunakan kata-kata yang tepat; keterampilan dan kemampuan untuk mendengarkan, memberi dan memahami instruksi, serta berkomunikasi dengan cara – cara yang sesuai dengan situasi dan orang-orang di sekitar. Keterampilan komunikasi yang berkualitas selalu membutuhkan empati dan toleransi agar komunikasi tersebut bisa mengalir dengan lancar melalui perilaku yang santun dan yang saling menghormati.

Kualitas pribadi dan etika kerja adalah sebuah soft skill yang mengharuskan setiap individu untuk memiliki kualitas pribadi dalam upaya meningkatkan prestasi kerja termasuk harga diri, pengelolaan diri, tanggung jawab, dan motivasi. Dalam hal ini individu wajib menyiapkan dirinya secara tegas dan profesional untuk bisa melayani setiap kepentingan organisasi dan stakeholder, dengan kualitas kepribadian unggul untuk bisa menghasilkan kualitas kerja dan kualitas pelayanan unggul.

Keterampilan interpersonal dan kerjasama adalah sebuah soft skill yang mengharuskan individu untuk selalu terampil dan penuh percaya diri dalam hubungan antar pribadi termasuk dalam kerjasama dengan stakeholder. Keterampilan interpersonal dan kerja sama ini selalu dibutuhkan untuk keperluan bernegosiasi dengan orang lain, untuk berpartisipasi sebagai anggota tim, dan untuk menyelesaikan konflik.

Kualitas integritas dan moralitas adalah sebuah soft skill yang mengharuskan individu untuk selalu menjadi jujur dengan diri sendiri dan orang lain; untuk selalu bekerja dengan mematuhi norma-norma, prinsip-prinsip, nilai-nilai, etika, budaya, dan kesetiaan atas dasar moral.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BRAINSTORMING

“Melakukan Brainstorming Berarti Bahwa Setiap Orang Wajib Mengeluarkan Ide Sebanyak Mungkin Dan Tidak Wajib Mempertentangkan Ide – Ide Yang Ada.” – Djajendra

Sebuah ide tidak harus luar biasa, tapi cukup biasa-biasa saja, dan yang penting bahwa ide yang biasa-biasa tersebut dapat dikerjakan dengan cara-cara luar biasa kreatif. Kami percaya bahwa setiap orang punya ide atau pandangan hidup yang layak diajak untuk memperkaya tujuan, misi, visi, dan juga budaya organisasi.

Salah satu teknik atau cara untuk memperkaya ide dari tujuan, misi, visi, dan budaya organisasi adalah melalui brainstorming. Tujuan utama dari brainstorming adalah untuk menghasilkan sejumlah besar ide dalam waktu singkat dari banyak orang secara adil, wajar, terbuka, dan beretika.

Dalam brainstorming setiap orang harus patuh pada aturan yang dibuat. Aturan harus dibuat untuk mendapatkan ide-ide yang lebih baik untuk sebuah tujuan yang sedang diperjuangkan. Artinya, setiap peserta brainstorming terikat secara etika dan moral untuk tidak memperdebatkan sesuatu, tapi hanya memfokuskan diri masing-masing untuk mengeluarkan ide, bukan untuk saling mempertahankan ide melalui diskusi panjang lebar.

Brainstorming tidak sama dengan diskusi. Dalam diskusi setiap orang berhak mempertahankan ide yang dimiliki dengan berbagai argumen yang masuk akal, tapi dalam brainstorming setiap orang wajib menampilkan ide dan membangun ide satu sama lain, tanpa mempertentangkan atau mempertanyakan ide-ide yang ada.

Salah satu syarat terpenting dalam melakukan brainstorming adalah bahwa setiap orang wajib mempunyai ide untuk disampaikan. Hal terburuk dalam brainstorming adalah bila seseorang sama sekali tidak memiliki ide. Oleh karena itu, setiap peserta sebelum mengikuti forum brainstorming harus diberitahukan terlebih dahulu tentang topik yang dibahas, dan juga harus diinformasikan bahwa tidak tahu ​​adalah ide yang buruk dalam forum brainstorming.

Brainstorming ini sangat tepat digunakan saat organisasi menginginkan pokok-pokok pikiran atau isi hati dari para karyawannya dalam membangun budaya organisasi, mencapai tujuan strategis organisasi, dan juga untuk hal-hal lain yang bersifat mendapatkan dukungan dari setiap orang di dalam organisasi.

Kumpulan ide-ide dari hasil brainstorming ini harus ditindaklanjutkan untuk mendapatkan hasil akhir yang mencerminkan keinginan, harapan, impian, dan cita-cita dari setiap orang di dalam organisasi terhadap kemajuan organisasinya.

Pengalaman saya dalam memanfaatkan brainstorming untuk menyatukan dan mengkompakan perilaku karyawan terbukti sangat luar biasa.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PRESENTASI

“Slide Presentasi Harus Memiliki Nilai-Nilai Yang Bisa Menceritakan Solusi Untuk Sebuah Realitas.” – Djajendra

Bicara presentasi akan mengingatkan Anda pada PowerPoint, seperti namanya, PowerPoint adalah alat yang ampuh untuk menyampaikan pesan sambil menyatukan persepsi, asumsi, dan motivasi. Gunakan kata-kata dasar dalam setiap slide presentasi. Lalu, ceritakan makna dari setiap kata-kata dasar tersebut dengan realitas yang sesuai dengan tema yang sedang Anda bahas.

Sering sekali, isi slide presentasi yang sama, bila dipresentasikan atau disampaikan oleh orang yang berbedah, maka artinya juga akan berbeda. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena, setiap individu selalu hadir bersama logika berpikirnya sendiri, nilai-nilai kehidupannya sendiri, asumsi dan persepsinya sendiri terhadap kehidupan. Dan, sangat disarankan bahwa Anda yang ingin melakukan presentasi wajib memiliki keunggulan wawasan, kecerdasan, pengalaman, pengetahuan, empati, intuisi, gairah, energi, dan motivasi yang kuat untuk menerjemahkan setiap kata-kata di slide agar sesuai dengan misi presentasi Anda.

Sebelum menyusun presentasi, pastikan Anda telah melakukan riset yang sangat mendalam terhadap materi yang akan Anda sampaikan tersebut. Jangan pernah mengutip materi presentasi dari sana-sini untuk dicantumkan dalam slide presentasi, nanti Anda akan terlihat tidak unik dan sangat normatif. Bila semua hal bersifat normatif, maka para audience Anda akan kehilangan gairah untuk mendengar presentasi Anda. Dan Anda juga akan terlihat tidak istimewa dengan gagasan-gagasan kering Anda.

Presentasi Anda harus dapat dimanfaatkan oleh audience Anda sebagai alat untuk memecahkan masalah mereka. Untuk itu, Anda harus cerdas merangkai kata-kata yang sesuai dengan harapan para audience. Pastikan para audience memfokuskan perhatian untuk mendengarkan rangkaian kata-kata Anda dan bukan untuk sekedar membaca isi slide Anda.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Sampaikan Presentasi Sesuai Pengetahuan, Wawasan, Dan Niat Anda

“Pendengar Anda Membutuhkan Hal-Hal Terbaru Dari Anda, Oleh Karena Itu, Siapkan Presentasi Anda Dari Sudut Pandang Yang Baru.” – Djajendra

Sikap percaya diri dan kecerdasan saja masih belum cukup dalam memberikan presentasi kepada orang lain. Anda harus menguasai materi presentasi untuk bisa mengatakan sesuatu yang lebih baik kepada orang lain. Sebab, sering sekali para pendengar Anda adalah orang-orang yang luar biasa cerdas, dan biasanya mereka sangat menguasai teori, konsep, dan praktik dari hal-hal yang Anda bicarakan.

Salah satu trik dalam memberikan presentasi terbaik adalah memfokuskan materi presentasi sesuai dengan pengetahuan dan wawasan terbaik yang Anda miliki. Bila Anda merasa masih belum  total menguasai suatu persoalan, sebaiknya tunda dulu untuk memberikan presentasi, pelajari dulu semua materi secara total dan menyeluruh, setelah Anda merasa memahami materi dari A sampai Z, barulah Anda berhak tampil dihadapan orang lain untuk membahasnya.

Katakanlah apa maksudmu, demikian tulis Tony Benn di presentation magazine. Tony Benn adalah politikus veteran dan pembicara terkenal. Tony Benn memberi beberapa saran untuk sebuah presentasi yang baik.

1. Katakanlah Apa Yang Anda Maksud.

Tony Benn menyarankan agar dalam setiap penyampaian pidato atau presentasi harus sesuai dengan suara hati atau niat yang akan disampaikan. Hal-hal yang tidak diniatkan untuk dibicarakan, jangan pernah dibicarakan pada saat presentasi tersebut.

2. Artikan Apa Yang Anda Katakan.

Tony Benn menyarankan agar setiap ucapan yang disampaikan harus memiliki arti atau makna yang jelas dan mudah dicerna oleh logika dan akal sehat.

3. Jangan Membuat Serangan Pribadi.

Tony Benn menyarankan, apa pun pendapat dan sikap peserta, pembicara harus mendengarnya, dan tidak boleh merasa tersinggung lalu menyerang balik.

4. Dengarkan Dengan Hormat.

Tony Benn menyarankan untuk selalu mendengarkan suara hati pendengar dengan bijaksana, peduli, dan penuh toleransi.

5. Mendorong Orang.

Tony Benn menyarankan untuk selalu mendorong semangat dan rasa percaya diri para pendengar. Artinya, seorang pembicara tidak hanya menyampaikan materi presentasi, tapi juga memiliki tanggung jawab untuk mendorong orang lain menjadi lebih baik.

Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com