
“Pada Kondisi Ego Puasa, Pikiran Dalam Keheningan, Emosi Dalam Sukacita Total; Anda Akan Menemukan Diri Anda.”~Djajendra
Diri kita adalah sukacita yang memiliki kesadaran untuk kebahagiaan dan kedamaian abadi. Tetapi, di dalam kehidupan nyata yang kita alami, sukacita yang menjadi sifat asli kita itu sangat sulit diwujudkan secara permanen. Hal ini terjadi karena pikiran, ego, emosi menguasai dan menaklukkan diri kita secara permanen. Kondisi ini membuat kita sudah tidak mengenali siapa kita sesungguhnya. Pikiran, ego, dan emosi seolah-olah menjadi diri kita yang sesungguhnya, padahal mereka semua hanya alat bantu kita untuk kehidupan sehari-hari. Bagi kita yang sudah seratus persen dikuasai pikiran, ego, dan emosi; hal yang disampaikan ini sangat sulit untuk dipahami. Bagi Anda yang memiliki gairah dan rasa ingin tahu yang besar tentang siapa diri Anda sesungguhnya, maka akan terbuka jalan untuk mengetahui bahwa Anda ini adalah sukacita yang permanen. Prosesnya hanya dapat dilakukan ketika Anda membuat ego puasa, pikiran dalam keheningan, dan emosi dalam sukacita total. Sebenarnya mudah sekali, tetapi juga menjadi sangat sulit dan kadang menjadi tidak mungkin.
Dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan dari kita sudah dikuasai oleh pikiran dan ego. Dan, mereka memaksa kita untuk memuaskan kebutuhan mereka yang tidak pernah habis-habisnya. Diri kita dijadikan budak untuk melayani nafsu mereka. Sifat sejati dari ego adalah ingin dipuji, menjadi terkenal dan menarik banyak perhatian, harus menang, harus juara, harus menjadi yang terbaik, tidak boleh kalah dari orang lain, harus kaya raya dan banyak uang, harus tampil paling mewah, dan ego Anda secara permanen mengharapkan perhatian dan cinta dari orang lain. Pikiran juga demikian, tidak akan pernah mau Anda tenang dan damai pada momen ini. Sifat pikiran selalu mengganggu Anda dengan bolak-balik dari masa lalu ke masa depan dan sebaliknya, kemudian menciptakan berbagai macam harapan dan keinginan di dalam khayalan. Anda tidak akan dibiarkan oleh pikiran untuk berada dalam momen ini; padahal masa lalu hanya memori, masa depan hanya imajinasi, kehidupan yang nyata hanya momen ini. Karena diri Anda sudah dikuasai sepenuhnya oleh pikiran dan ego, Anda tidak akan pernah mengerti tentang hal ini. Sebab, Anda pikir, pikiran dan ego adalah Anda. Anda tidak mungkin akan berpikir bahwa Anda adalah kehidupan dan sukacita adalah sifat asli Anda.
Untuk mengenal diri sendiri dibutukan latihan dan proses yang panjang agar Anda dapat memisahkan diri Anda dari ego, pikiran, dan emosi. Proses ini tidak mudah dan juga tidak sulit. Mulai dari satu langkah kecil yaitu menyadari bahwa Anda bukan pikiran dan emosi. Anda adalah kehidupan. Kemudian ciptakan kebiasaan hidup untuk mengheningkan pikiran, membiarkan ego puasa, dan tidak melayani keinginan ego. Pikiran yang lenyap akan melenyapkan ego dan emosi. Pada momen pikiran lenyap, Anda menemukan titik awal untuk mengenali sifat asli Anda yaitu sukacita dan kedamaian. Setelah kondisi ini sudah dapat Anda alami dengan sempurna; Anda mulai belajar untuk menggunakan pikiran, ego, dan emosi sebagai alat bantu Anda. Anda mulai belajar berarti ada proses panjang dan seumur hidup. Sebab, Kita semua sangat membutuhkan pikiran, ego, dan emosi untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Jadi, harus dipahami bahwa tanpa pikiran, ego, dan emosi kita tidak dapat menjadikan diri kita berharga untuk kebaikan hidup ini. Tujuan mengenal diri sendiri hanya satu yaitu membuat Anda mengalami kedamaian dan sukacita secara permanen. Sedangkan dalam urusan duniawi Anda tetap membutuhkan pikiran, ego, dan emosi sebagai alat bantu.
Di dalam pikiran ada kecerdasan, akal, dan emosi. Di dalam jiwa ada ego. Semuanya dibutuhkan untuk membuat kita bersemangat dengan hidup yang kita jalani. Yang penting kita mampu mengendalikannya dan menggunakannya dengan bijaksana agar kita tidak menjadi cemas, marah, khawatir, takut, dan gelisah di sepanjang hidup. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa kita adalah sukacita dan kedamaian. Karena kita hidup di dunia dualitas, maka semua alat bantu kita akan mengalami energi yang saling bertentangan itu. Jadi, sangat wajar kalau kadang kita mengalami rasa senang berlebihan, semangat yang berlebihan, dan juga kecemasan yang berlebihan, ketakutan yang berlebihan. Semua itu wajar terjadi, tetapi kita harus sadar bahwa diri kita adalah sukacita dan kedamaian. Semua ini boleh terjadi untuk keadaan yang bersifat sementara, tidak boleh menjadi permanen. Dalam hal ini, kita perlu mengendalikan semua alat bantu kita, seperti: pikiran, emosi, dan ego agar tidak menghilangkan stabilitas sukacita kita.
Diri kita sebagai kehidupan harus mampu menyaksikan cara kerja semua alat bantu kita. Diri kita menjadi pengawas dan sekaligus manajer yang mengatur seperti apa perilaku dari pikiran, ego, dan emosi. Semua kegiatan hidup harus berpusat pada diri kita. Diri kita adalah pusat dari keberadaan kita. Semua alat bantu harus difungsikan untuk mencapai kemajuan dalam hal apa pun yang kita tekuni. Jadi, Anda adalah pusat kehidupan Anda. Pikiran, ego, emosi diperlukan untuk mengatur kehidupan yang damai, tenang, kaya, sejahtera, bahagia, gembira, dan penuh sukacita. Jangan sampai keliru menganggap pikiran, ego, dan emosi sebagai penguasa yang berhak mengatur jalan hidup kita. Kekuatan pikiran, ego, emosi akan hilang kalau diambil oleh diri kita. Kita adalah pusat dan penguasa sejati atas keberadaan kita. Pikiran, ego, dan emosi menguasai diri kita karena kita telah memberikan kekuasaan itu kepada mereka. Oleh karena itu, jangan pernah memberi mereka kekuasaan dan kekuatan, semua kekuasaan dan kekuatan harus berpusat di dalam diri kita.
Djajendra 15042024
Mau mengundang Djajendra? e-mail. djajendra2024@gmail.com
