MENGATASI KEMARAHAN DENGAN KESADARAN

“Kemarahan adalah dampak dari ilusi yang tidak menemukan realitasnya.”~Djajendra

Biarkan kemarahan bersandar pada kesadaran tertinggi, jangan menghentikannya. Kemarahan adalah akibat dari persepsi yang tidak sama dengan realitas. Kemarahan adalah ilusi yang tidak menemukan realitasnya. Kemarahan harus ditafsirkan melalui kesadaran. Bila kemarahan dibiarkan melalui pemikiran dan hati yang egois, maka dia akan melukai diri sendiri dan juga orang lain.

Siapapun berpotensi menemukan realitas yang tidak sesuai dengan keinginan, ataupun realitas yang menyakitkan perasaan, dan saat itu rasa marah bisa muncul tiba-tiba dari batin terdalam. Bila rasa marah disikapi melalui pemikiran egois, maka rasa marah berpotensi menciptakan konflik ataupun kekerasan yang merugikan diri sendiri. Sebaliknya, bila rasa marah disikapi melalui kesadaran diri yang tinggi, maka rasa marah bisa menjadi energi yang membantu untuk bertransformasi ke dimensi spiritual yang lebih tinggi.

Anda tidak perlu berubah atau menjadi orang lain untuk bisa meredam marah. Anda harus tetap menjadi diri sendiri yang unik, lalu kembangkan kesadaran diri agar apapun situasinya Anda tetap dapat bersikap tenang dan damai. Marah tidak perlu ditahan, dihapus, ataupun dimusnahkan dari diri Anda. Ingat! Marah diperlukan untuk transformasi, untuk berkembang, untuk tumbuh dan untuk kreativitas. Rasa marah dalam kesadaran mengubah pengalaman buruk yang tidak memuaskan ego menjadi pengalaman indah, dan hal ini bisa dijadikan modal untuk memulai transformasi diri menuju lebih baik.

Ketika kesadaran menjadi majikan dari rasa marah, maka dia menjadi arena untuk latihan spiritual. Saat rasa marah memuncak, saat itulah kesadaran membangkitkan kecerdasan emosional Anda. Saat kecerdasan emosional menanggapi rasa marah, dia dengan mudah dapat menjadikannya sebagai energi untuk perbaikan diri sendiri.

Orang-orang bijak suka berterima kasih kepada bagian tersulit kehidupannya, termasuk pada rasa marah mereka. Mereka menjadikan momen tersulit untuk lebih memperkuat energi positif. Rasa marah dan bagian tersulit dari hidup juga sering dijadikan sebagai alat menguji daya tahan diri sendiri.

Pikiran selalu berfungsi untuk mengatur segalanya. Bila kesadaran tidak konsisten, maka pikiran akan mensabotase kesadaran. Dampaknya, marah menjadi tidak terkendali, dan ego akan menyibukkan pikiran untuk mengganggu kedamaian batin.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com