Kecerdasan Multikultural Membuat Diri Mudah Beradaptasi

“Di Bumi Mana Kita Berdiri; Hormatilah Tanah, Budaya, Adat Istiadat, Bahasa, Dan Masyarakatnya.” – Djajendra

Beberapa waktu yang lalu saya di undang oleh sebuah perusahaan batu bara di Kalimantan Timur untuk memberikan on site motivation tentang kecerdasan emosional dalam lingkungan multikultural. Mereka ingin saya memberikan pencerahan dan motivasi, agar para karyawan di lokasi mampu menjaga diri, emosi, dan kepribadian untuk menciptakan situasi yang harmonis dengan masyarakat di sekitar kawasan tambang.

Pagi sekali saya sudah sampai di Bandara Soekarno – Hatta, saya menggunakan pesawat pertama. Perjalanan dari Jakarta ke Balikpapan membutuhkan waktu sekitar dua jam sepuluh menit. Sesampai di Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, terlihat pemandangan laut yang biru dan bersih. Belum selesai saya menikmati keindahan laut Balikpapan yang luar biasa itu, saya telah dijemput oleh klient saya dan langsung menuju ke kota Samarinda.

Di pertengahan jalan antara Balikpapan dan Samarinda, kami berhenti sejenak di rumah makan Tahu Sumedang, di Jl Poros Balikpapan – Samarinda di km 50. Rumah makan dengan pemandangan bukit dan kebun kecil yang indah.

Setelah selesai menikmati hidangan sunda dari rumah makan Tahu Sumedang, kami kembali bergerak menuju ke kota Samarinda, sambil menikmati kehijauan dan keindahan hutan bukit Soeharto.

Setelah tiga jam perjalanan dari Balikpapan, kami sampai di kota Samarinda, dan langsung check-in di hotel.

Setelah selesai check-in di hotel, setengah jam kemudian kami menuju ke daerah Tenggarong, untuk mengunjungi lokasi tambang milik klient kami. Di perjalanan, kami melihat aktivitas beberapa perusahaan tambang yang cukup sibuk melakukan loading batu bara dengan menggunakan conveyor.

Pemandangan sawah, rawah, semakbelukar, yang diselingi dengan beberapa rumah penduduk terlihat di kiri-kanan jalan menuju lokasi. Terdengar suara nyanyian burung dan hewan hutan lainnya. Aktivitas penduduk asli yang berjalan sambil menggendong anaknya dikeranjang yang diletakkan di pundak. Semua yang saya lihat di perjalanan menjadi sangat indah dan memberikan banyak inspirasi buat kekayaan kehidupan pribadi saya.

Multikultural! Saya langsung teringat tentang materi motivasi yang harus saya sampaikan besok pagi di hadapan para audience saya.

Di setiap daerah sangat ragam perilaku dan budaya masyarakat setempat, kita yang beraktifitas di sebuah daerah wajib untuk mengormati perilaku dan budaya masyarakat setempat. Artinya, di bumi mana kita berdiri, hormatilah tanah, budaya, adat istiadat, bahasa, dan masyarakatnya.

Sekitar tahun 1986 sampai dengan 1988, saya adalah  Auditor yang bekerja di sebuah kantor akuntan publik. Saat itu, kantor saya sering mendapat klient dari BUMN, dan saya berkesempatan melakukan audit di perusahaan perkebunan, galangan kapal, pertambangan, dan lain sebagainya. Khusus untuk perkebunan dan pertambangan, saya harus melakukan perjalanan ke daerah – daerah terpencil. Keragaman masyarakat yang saya temui pada saat itu mengajarkan banyak kekayaan kehidupan kepada saya. Dan sekarang, di tahun 2010 ini, saya masih belajar tentang keragaman kehidupan masyarakat yang luar biasa indah.

Bekerja di sektor sumber daya alam tidaklah mudah. Para karyawan dan pimpinan harus menjadi cerdas secara multikultural, bila tidak, konflik dengan masyarakat setempat bisa merugikan semua pihak.

Karyawan dan pimpinan yang cerdas secara multikultural dan emosional pasti dengan mudah beradaptasi dengan sikap dan perilaku masyarakat lokal. Lalu, mampu membangun hubungan dan komunikasi positif  dengan semua pihak secara berkualitas.

Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com