Cerita Kecerdasan Emosional

“Kecerdasan Emosional Menjadi Sangat Penting Untuk Menghadapi Kompetisi Dan Tekanan Kerja. Jika Anda Gagal Meningkatkan Kualitas Diri Anda Dengan Etos Kerja Yang Cerdas Secara Emosional, Maka Anda Berpotensi Mengalami Kegagalan.” – Djajendra

Ada sebuah kisah tentang seorang karyawan di sebuah kantor. Sebut saja kisah ini tentang si A. Si A ini adalah seorang pekerja yang sangat kreatif, efektif, dan pintar. Dia selalu berhasil menyelesaikan semua persoalan dengan cepat dan tuntas. Intinya, si A selalu memberikan yang terbaik dari semua kemampuannya. Persoalannya, si A terlihat sangat dominan, sangat dipercaya, sangat menentukan nasib karyawan lain, cendrung bersikap sombong, dan menganggap dirinya terlalu sempurna dan pintar.

Jelas! Sikap dan perilaku si A ini akan ada yang suka, tapi juga akan ada yang tidak suka. Artinya, walaupun secara etos kerja si A ini sempurna, tapi secara emosional si A ini masih belum sempurna. Akibatnya, kondisi emosional si A ini telah menciptakan musuh-musuh dalam selimut, yang ternyata secara diam-diam menggagalkan semua ambisi si A untuk memberikan yang terbaik buat perusahaan.

Kisah karier kerja si A ini berakhir oleh sebuah persoalan kecil yang disengaja oleh orang-orang disekeliling dia. Pimpinan tertinggi perusahaan berusaha menyelamatkan si A, tapi demi menjunjung tinggi etika, moralitas, profesionalisme, peraturan dan prosedur kerja, maka si A akhirnya diberhentikan dari pekerjaannya.

Kisah si A ini adalah kisah nyata.Tidak ada satu orang pun yang bisa menyelamatkan si A dari ketidakcerdasan emosionalnya untuk memahami semua seluk beluk politik kantor. Dia sangat spektakuler dengan kemampuan teknis dan pengetahuan kerjanya, tapi dia tidak pintar secara emosional untuk memahami emosional orang-orang disekitarnya.

Di atas kertas, si A adalah pribadi dengan potensi dan bakat yang begitu spektakuler dan sempurna. Sayangnya, si A belum banyak belajar dari kehidupan nyata yang sering sekali bisa menjadi sangat kejam kepada siapa pun.

Si A jatuh oleh ketidakpahaman dirinya tentang orang lain. Sikap dan perilaku dominan dia telah mengundang musuh-musuh yang tak terlihat untuk mengakhiri karier kerjanya di perusahaan tersebut.

Hidup ini tidak hanya cukup menjadi hebat dari sisi akademis dan kemampuan teknis lainnya. Tapi juga harus menjadi mahir untuk memiliki empati dan intuisi, agar bisa mempelajari emosional dan perilaku orang lain.

Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com