Merangkul Lawan Menghentikan Debat Kusir

”Berbeda Visi Ditengah Badai Hanyalah Perbuatan Sia-Sia, Yang Tidak Menguntungkan Buat Menanggulangi Bahaya Resesi Yang Sedang Mengancam Dunia. Bangsa Yang Kaya Pengalaman Dan Dewasa Cara Berpikirnya Pastilah Tahu Tentang Hal Ini.”-Djajendra

Pemimpin bijak selalu cerdik melihat situasi dan kondisi yang ada. Di saat-saat tertentu pemimpin bijak tidak segan-segan mengajak para lawan dan pesaingnya untuk menyatu bersama membangun cita-cita dan impian.

Di masa lalu, tahun 1861, President Amerika Serikat, Abraham Lincoln, merangkul lawan-lawan politiknya menjadi anggota dalam pemerintahannya.

Saat itu, tahun 1861, negara-negara bagian di selatan Amerika Serikat menyatakan Perang Saudara. Abraham Lincoln menunjuk lawan politiknya, Edwin Stanton, sebagai menteri perang. Padahal Stanton pernah menghina Lincoln. Abraham Lincoln juga menunjuk Salmon P Chase, yang suka mengkritik Lincoln, sebagai menteri keuangan. Abraham Lincoln waktu itu merangkul semua lawan-lawannya ke dalam sebuah tim yang tangguh, karena Amerika memerlukan orang-orang kuat untuk mengatasi persoalan fundamental saat itu, dan menurut dia semua lawan politik dan tukang kritiknya adalah orang- orang terkuat yang perlu ia rangkul.
Di hari ini Obama sedang menyusun strategi, untuk merangkul lawan-lawan politiknya untuk duduk bersama dirinya membangun bangsa Amerika. Dan, Ia juga siap untuk menerima perbedaan pendapat.
Kecerdasan dan keberanian seorang pemimpin untuk merangkul dan bekerja sama dengan lawan-lawan politiknya, adalah sebuah sikap ksatria yang patut ditiru oleh siapa pun.
Obama adalah contoh pemimpin cerdas dan bijak, yang pintar membaca situasi dan kondisi yang ada. Apalagi saat ini resesi ekonomi sedang menjalar seperti hantu yang menakutkan. Dan untuk melawan resesi ekonomi, semua pihak haruslah bersatupadu, dan melupakan semua persaingan yang ada, dengan tujuan untuk fokus pada perbaikan ekonomi secara bersama-sama.

Obama sangat cerdik dan pintar, Ia tidak lagi melihat warna partai, tapi Ia mulai melihat persoalan bangsa yang ada di depan mata. Ia mencoba merangkul setiap kekuatan dengan kekuasaan dan kebaikan yang ia miliki.

Obama tidak terpengaruh dengan perspektif berbeda, tapi Ia mencoba menyerap semua perbedaan ide dan konsep, untuk memperkuat bangsa dan negaranya dengan penuh empati.
Berbeda visi ditengah badai hanyalah perbuatan sia-sia, yang tidak menguntungkan buat menanggulangi bahaya resesi yang sedang mengancam dunia. Bangsa yang kaya pengalaman dan dewasa cara berpikirnya pastilah tahu tentang hal ini.

Saya pribadi yakin bahwa Obama melihat dan memahami tantangan resesi yang ada dihadapannya. Oleh sebab itu, keinginan dirinya untuk merangkul semua lawan-lawan politiknya untuk memperbaiki hal-hal yang kurang, adalah sebuah langkah hebat yang cerdas.
Merangkul lawan dan menghentikan debat kusir adalah penting untuk menyelesaikan semua persoalan yang ada, melalui empati dan kepedulian yang lebih besar, untuk membangun kekuatan negara dan bangsa yang lebih tangguh.
membentuk tim yang berisi semua kekuatan bangsa dengan warna pikiran yang berbeda, untuk tujuan menyelesaikan semua masalah dan persoalan yang ada, adalah tidak mudah. Tetapi, kekuatan cinta, empati dan kecerdasan emosi pasti mampu mengatasi semua hal yang tidak mudah itu.
Dunia saat ini sedang menghadapi ujian besar dalam menghadapi krisis ekonomi. Dan, saatnya para pemimpin menghentikan debat kusir, lalu mulai membangun tim kerja yang kompak dan tangguh untuk membangun kekuatan ekonomi yang lebih kokoh.

Krisis ekonomi artinya kita harus lebih efisien dan efektif dalam memanfaatkan semua kekayaan sumber ekonomi secara bijak dan profesional. Jadi, krisis bukanlah maut, tapi krisis hanyalah sebuah situasi yang menuntut kita untuk lebih cerdas berpikir, lebih cerdik bertindak, dan lebih bijak memahami makna kehidupan yang ada.

Ketangguhan dan keunggulan sebuah bangsa hanya akan terwujud saat stabilitas ekonominya terjaga dengan sempurna. Bila kekuatan ekonomi stabil dan kuat, maka tidak mungkin angkaramurka hadir mengganggu kehidupan damai yang ada.

Di saat krisis mengancam sebuah bangsa, maka janganlah melakukan PHK atau membuat orang-orang kehilangan pekerjaan, tapi saatnya menambah lapangan pekerjaan baru, untuk membuat semua orang bekerja. Walau mungkin pekerjaan itu tidak menguntungkan siapa pun dari sisi bisnis, tapi akan menguntungkan bangsa dan negara untuk meredam memburuknya krisis yang ada. Dan, akan menyelamatkan banyak orang dari kelaparan dan kekurangan. Jelas, semua ini memerlukan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosi, kecerdasan empati, dan kecerdasan untuk berbagi. Tanpa itu semua kita hanya akan hidup buat ego dan kepentingan diri masing-masing.

Untuk seminar/training hubungi  www.djajendra-motivator.com