Saat Pemimpin Memotivasi Jiwa-Jiwa Lelah

“Saat Jiwa-Jiwa Bawahan Anda Lelah; Saat Jiwa-Jiwa Pengikut Anda Jenuh; Saat Semua Kehidupan Melihat Hari Esok Dengan Rasa Takut; Maka Saatnya Pemimpin Bangkit Untuk Memotivasi Semua Aspek Kehidupan Dengan Cinta Dan Kepedulian Yang Tulus.”-Djajendra

Saat bawahan dan pengikut terus-menerus didera rasa lelah dan rasa jenuh pada rutinitas yang ada, maka saatnya pemimpin bangkit untuk menjadi pribadi yang bijaksana. Pribadi bijaksana yang tidak dungu, tidak tuli, dan tidak buta terhadap semua kondisi yang dialami oleh para bawahan dan pengikut. Pemimpin haruslah pribadi yang penuh empati, untuk memulai memasuki jiwa-jiwa lelah para bawahan dan pengikut dengan inspirasi, motivasi, dan segala niat baik, agar para bawahan mampu mengatasi semua rasa lelah dan jenuh yang ada.

Di zaman krisis kehidupan seperti saat ini, pekerjaan terpenting pemimpin adalah membangun rasa percaya diri dari setiap bawahan dan pengikutnya.

Pemimpin harus sadar bahwa saat ini berbagai jenis krisis, mulai dari krisis ekonomi, krisis jati diri, krisis kehidupan, serta berbagai jenis krisis lainnya, telah membuat kehidupan menjadi sangat kompleks dan rumit. Oleh sebab itu, pemimpin harus mau menjadi motivator, inspirator, dan sahabat yang baik, buat membantu mengatasi semua rasa lelah dan rasa jenuh dari para bawahan dan pengikut.

Pemimpin yang cerdik pasti tahu cara-cara hebat untuk memotivasi jiwa-jiwa lelah dari para bawahan dan pengikutnya. Ia adalah seorang pemimpin yang bijak dan sekaligus seorang sahabat buat semua bawahan dan pengikut. Ia tidak akan pernah membiarkan jiwa-jiwa bawahan dan pengikutnya merana dan tidak bahagia. Ia tahu dan selalu mengajarkan kepada para bawahan dan pengikutnya untuk memahami bahwa kebahagiaan dan kedamaian adalah milik abadi mereka. Dan untuk itu, mereka harus rajin dan tekun memperjuangkan diri mereka secara terus-menerus tanpa henti, agar mampu menjadi pribadi-pribadi yang bahagia, dengan jiwa-jiwa yang penuh semangat dan optimis dalam melihat hari esok cerah.

Pemimpin yang bijak pasti mengarahkan semua pengikutnya untuk menjadi pribadi-pribadi yang membangun peradaban perdamaian dan peradaban kebahagiaan, agar semua jiwa-jiwa pengikutnya ada dalam rasa damai dan rasa bahagia yang abadi.

Pemimpin haruslah pribadi yang memiliki kekuatan spiritual untuk kebahagiaan dan kedamaian semua orang, agar ia bisa menjadi cahaya penerang buat jiwa-jiwa yang lelah.

Pemimpin yang bijak adalah pribadi pembangun kultur; pribadi pencipta keadilan; pribadi pemberi cinta dan kepedulian; pribadi yang menjadikan orang lain berharga; pribadi yang memiliki suara hati kebenaran; pribadi yang memiliki keberanian untuk berjuang membawa kemakmuran; pribadi yang cerdas membangun rasa percaya diri pengikutnya; pribadi yang memiliki kecerdasan spiritual tanpa batas untuk kebahagiaan dan kedamaian alam semesta.

Dalam hal memotivasi jiwa-jiwa lelah para bawahan dan pengikut, pemimpin tidak boleh merasa ragu, tapi harus yakin dan percaya diri, bahwa sesungguhnya kekuatan motivasi dan inspirasi mampu menaklukkan semua jiwa-jiwa lelah dan jiwa-jiwa lemah yang ada disekitar pemimpin.

Keteguhan hati dan pikiran pemimpin untuk menghadirkan sejuta kebaikan kepada bawahan dan pengikut, akan menjadi motivasi tersendiri buat jiwa-jiwa lelah, untuk bangkit dan menyegarkan diri dari rasa lelah dan jenuh.

Pemimpin bijak pasti menjadi motivator penuh empati, yang mampu menyegarkan dan mencerahkan jiwa-jiwa lelah. Ia seorang pemimpin dengan sikap hidup sederhana, yang penuh dengan semangat, gairah, cinta, kepedulian, dan perhatiaan.

Ia adalah sang pemimpin sejati, si guru kebenaran, yang mengajarkan kebahagian sejati buat setiap bawahan dan pengikutnya. Ia tidak pernah lelah untuk memotivasi jiwa-jiwa lelah dari pengikutnya.