KepemimpinanYang Berempati

“Empati Berarti Mampu Menyatu Secara Emosional Ke Dalam Emosional Orang Lain.” – Djajendra

Empati? Kalau kita membuka kamus bahasa Indonesia, empati bermakna keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya di keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Nah, apakah mungkin pemimpin dengan kekuatan dan kekuasaan di tangannya memiliki empati pada  bawahannya?

Mahatma Gandhi adalah sebuah contoh pemimpin yang berempati kepada masyarakatnya. Beliau menanggalkan jas dan dasi, untuk kemudian memakai pakaian yang sangat sederhana, dan menyatu kepada masyarakatnya, dalam empati yang sempurna. Mahatma Gandhi juga adalah seorang pemimpin yang menyatu dalam kesadaran tertinggi untuk melayani orang lain dengan tulus, ikhlas, dan tanpa pamrih.

Kepemimpinan yang berempati berarti bisa memahami perasaan dan pikiran pengikutnya, atau mampu merasa senasib dengan pengikutnya dalam perjuangan menuju cita – cita dan harapan bersama.

Empati adalah sebuah nilai kehidupan yang dapat menghubungkan emosi pemimpin dengan pengikutnya untuk menghasilkan sebuah kekuatan mental dalam perjuangan meraih keberhasilan.

Empati menciptakan penyatuan persepsi dalam memandang setiap keadaan melalui kesadaran arah dan visi yang  sama. Empati juga merupakan salah satu sumber kredibilitas kepemimpinan yang dapat mendorong organisasi untuk memiliki keyakinan yang kuat untuk mencapai semua rencana sesuai misi, visi, dan nilai – nilai yang diusung bersama.

Pemimpin bukanlah superior, pemimpin adalah koordinator, motivator, fasilitator, dan evaluator
bagi seluruh pengikutnya dalam kerja sama yang bersinergi untuk dapat mencapai rencana, misi, dan visi yang telah disepakati. Empati diperlukan sebagai alat pengikat kebersamaan antara pemimpin dengan bawahan. Ikatan kebersamaan yang harus dapat memberikan rasa aman dan nyaman dalam hubungan yang saling percaya di dalam organisasi.

Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com