Stakeholder Dalam Sebuah Bisnis

”Bisnis Itu Seperti Air Yang Selalu Mengalir Dengan Caranya Sendiri, Tanpa Perduli Pada Apapun, Dan Terus Mengalir Menerobos Setiap Hambatan Untuk Mencapai Hasrat Dan Kepentingan Dari Yang Lebih Kuat Dan Lebih Cerdik. ” – Djajendra

Dunia bisnis adalah dunia komitmen, di mana para stakeholder yang terkait dalam sebuah bisnis wajib untuk saling terikat secara moral dan etika, serta memelihara komitmen untuk tidak melalaikan dan merugikan stakeholder yang lain.

Setiap stakeholder wajib menjaga kehormatan melalui integritas demi kepentingan para stakeholder yang lain. Sebab, bisnis hidup dari hubungan saling percaya dan saling mendukung.

Hubungan bisnis yang tidak tidak beretika biasanya cendrung merugikan para stakeholder yang posisi tawarnya lemah di bisnis tersebut. Hal ini disebabkan, para profesional yang mengelola bisnis tersebut tidak memiliki integritas dan niat baik pada stakeholder secara keseluruhan.

Pada dasarnya setiap stakeholder memiliki kebutuhan yang berbedah, kecuali dalam hal pelayanan, di mana semua stakeholder memiliki kebutuhan yang sama, yaitu mengharapkan mereka dilayani secara jujur, terbuka, penuh tanggung jawab, wajar, berkualitas, dan adil.

Para pengelola bisnis seharusnya bersikap profesional untuk memberikan yang terbaik buat kepentingan para stakeholder.

Seorang  pendiri bisnis pasti bermaksud untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin buat dirinya. Keuntungan yang maksimal ini sangat tergantung dari loyalitas stakeholder kepada perusahaan. Khususnya, pelanggan, pemasok, dan karyawan.

Keberadaan stakeholder merupakan bagian dari mata rantai bisnis yang hadir dengan beragam misi, target, dan kepentingan. Dan untuk melayani semua kepentingan yang berbeda tersebut, para pengelola bisnis wajib menjalankan praktik bisnis berdasarkan etika bisnis yang berintegritas.

Dalam dunia bisnis hubungan antara para pengelola bisnis dengan pemegang saham adalah hubungan pegawai dan majikan, sedangkan hubungan antara pengelola bisnis dengan stakeholder adalah hubungan etika dan moral untuk tidak merugikan kepentingan masing-masing dalam bisnis.

Persoalan muncul pada saat pengelola bisnis memprioritaskan keinginan dan tujuan dari para pemegang saham mayoritas. Mengingat kekuatan pemegang saham mayoritas sangat kuat untuk memberi perintah pada manajemen secara langsung, sedangkan stakeholder di luar shareholder adalah kepentingan yang tidak dapat langsung memiliki pengaruh pada manajemen.

Hubungan harmonis antara stakeholder adalah sebuah obsesi yang wajib diwujudkan oleh para pengelola bisnis, dan harus menjadi komitmen untuk menjaga kepentingan dari para stakeholder dalam sebuah lingkaran bisnis yang harmonis dan seimbang.

Menjaga kepentingan stakeholder haruslah menjadi kunci kekuatan dalam sebuah hubungan bisnis yang berintegritas tinggi. Sikap independen dan profesional dari pengelola bisnis untuk bertindak jujur dan adil kepada stakeholder adalah sebuah tindakan yang akan membuat perusahaan mendapatkan reputasi dan kredibilitas yang tinggi.

Pengabdian para pengelola bisnis pada pemegang saham mayoritas adalah mutlak. Sebab, shareholder dengan kekuatan RUPS (rapat umum pemegang saham) secara absolut menentukan eksistensi dari para pengelola bisnis. Bila para pengelola bisnis tidak patuh pada pemegang saham, maka mereka berpotensi kehilangan jabatan dan fasilitas. Tetapi, hal ini bukanlah berarti para pengelola bisnis boleh melalaikan para stakeholder dan bertekuklutut pada setiap permintaan shareholder.

Para pengelola bisnis harus selalu ingat bahwa suksesnya bisnis sangat dipengaruhi oleh stakeholder, khususnya para konsumen dan penyuplai. Jadi, pengelola bisnis tidak boleh kehilangan akal sehatnya dalam menjaga semua kepentingan shareholder dan stakeholder secara utuh dalam sebuah integritas yang adil dan bermoral tinggi.

Shareholder dan stakeholder adalah dua kekuatan terpenting  dalam dunia bisnis, yang harus dipahami secara jujur dan adil oleh para pengelola bisnis, tanpa merugikan siapapun.

www.djajendra-motivator.com