Mendaki Puncak Pencerahan Total

Apakah manusia pernah mencapai puncak pencerahan total?, atau apakah manusia mampu mencapai puncak pencerahan total secara sempurna?  Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan di atas tidaklah mudah, kita harus mendengar suara kejujuran dari orang – orang yang mengaku telah sampai di atas puncak pencerahan total. Kita semua menyadari bahwa puncak pencerahan total adalah puncak imajinasi atas keyakinan spritualitas diri seseorang yang merasa bahwa dia telah sampai di puncak pencerahan diri yang paling tinggi. Pikiran positif dan batin positif melalui perasaan penuh empati positif merupakan jalan pendakian terbaik menuju puncak pencerahan total.
Dimanakah puncak pencerahan total itu berada? Sudah banyak sekali sejarah spritualitas mencatat tentang kisah – kisah anak manusia yang berjuang keras untuk sampai ke puncak pencerahan total. Tetapi cerita – cerita mereka belum juga memberikan kedamaian abadi dalam kehidupan umat manusia. Sebut saja para guru Zen yang mengajarkan jalan dan cara spiritual menuju diri sendiri, atau Mohandas Karamchand Gandhi yang rela meninggalkan karier kerjanya untuk bersatu bersama rakyatnya dalam mendaki puncak pencerahan total, yang akhirnya kita kenal sebagai ajaran anti kekerasan “Ahimsa” Mahatma Gandhi. Masih banyak lagi contoh – contoh para pendaki puncak pencarahan total yang dapat kita pelajari. Mereka semua memulai langkah awal menuju pendakian puncak pencerahan total, setelah mereka sadar dari penderitaan panjang dan membangun sebuah keyakinan yang kuat di dalam diri mereka, bahwa kebaikan dan perilaku positif adalah jalan menuju kedamaian, kebahagian, dan kemakmuran bersama.
Puncak pencerahan total  ada pada batin  pribadi  yang peduli pada cinta setiap manusia tanpa terkecuali, yang telah melatih dan belajar untuk menjadikan dirinya sebagai sumber segala kebaikan hidup tanpa ada perasaan pamrih atas pikiran dan jiwa positifnya tersebut. Dia adalah pribadi yang menyerahkan dirinya untuk cinta, kasih sayang, kebaikan, dan menerima semua realitas hidup sebagai kodrat untuk dijalani secara sempurna tanpa berpikir negatif. Dan, dia hanya berpikir positif atas semua peristiwa hidupnya, dia bersyukur atas semua keadaannya, dia tidak suka memperdebatkan benar atau salah tentang nilai-nilai spiritual, dia adalah seorang yang hidup damai dengan pikiran dan tindakan positif,  yang pada akhirnya memancarkan sinar aura cinta kasih keseluruh lingkungan hidupnya. Siapakah orang tersebut ? Jawabannya bisa Anda, atau siapa saja tanpa terkecuali yang mau dengan ikhlas dan tulus berbagi hidup dengan kehidupan lain melalui cinta dan kepedulian.
Ada sebuah cerita tentang seorang imam bernama Zuigan. Cerita ini saya kutip dari Hakikat Zen -Sekkei Harada. Setiap pagi, saat bangun tidur, Zuigan akan selalu berbicara dengan dirinya sendiri. Zuigan akan bertanya pada dirinya sendiri, “Guru, apakah kamu sadar?” kemudian Zuigan akan menjawab sendiri, “Ya, ya.” Ini adalah latihannya. Lalu Zuigan akan berkata, “jangan dibodohi orang lain.” kemudian Zuigan akan menjawabnya sendiri, “Tidak, tidak.” demikianlah semua latihan yang bersifat monolog tersebut secara teratur dan terus – menerus dilakukan oleh imam Zuigan sampai dia benar – benar mendapatkan dirinya telah duduk di puncak pencerahan total.
Mendaki puncak pencerahan total memerlukan integritas tinggi untuk hidup dalam sebuah perilaku, imajinasi, dan penyerahan total kepada segala kebaikan hidup. Cerita imam Zuigan yang selalu melatih pengendalian dirinya melalui cara monolog, dimana dalam monolog tersebut Zuigan berimajinasi bahwa suara hatinya adalah guru yang membimbing dirinya menuju puncak pencerahan total.
Mendaki puncak pencerahan total memerlukan kesabaran, komitmen, dan integritas untuk berbuat kebaikan dalam hidup ini, yaitu sebuah kebaikan total yang tidak didasarkan oleh kepentingan ego diri. Puncak pencerahan total hanya memerlukan penyerahan total kepada segala kebaikan hidup, yang melayani cinta dan kasih sayang kepada semua kehidupan tanpa batas dan tanpa pamrih.
Apakah Anda perlu mendaki puncak pencerahan total ?  Jawabannya adalah kalau Anda berniat untuk hidup bahagia, nyaman, tenteram,  jelas Anda perlu mendaki puncak pencerahan total. Caranya adalah Anda wajib melakukan latihan – latihan intensif untuk berpikir positif, bertindak positif, dan penyerahan total kepada segala kebaikan hidup. Latihan seperti apa yang harus dilakukan ?  Terserah setiap individu untuk memilih cara latihan menuju puncak pencerahan total yang sesuai dengan keyakinan batin dan suara hatinya. Seperti imam Zuigan yang melatih dirinya dengan monolog, seperti Mahatma Gandhi dengan sehelai kain putih yang membalut dirinya dalam praktik hidup sederhana, atau mungkin seperti Anda dengan segala kekayaan materi mulai melatih diri untuk tidak lagi hidup Anda dikendalikan oleh benda – benda yang ada disekitar Anda, tetapi Andalah mengendalikan semua harta benda yang ada ditangan Anda untuk membangun kebahagian sejati diri Anda.
Semua cara menuju puncak pencerahan total adalah mutlak pilihan pribadi Anda, sebab puncak pencerahan total hanya dapat dicapai secara individu oleh setiap manusia melalui pengalaman khusus yang didapatkannya dalam proses perjalanan spritualitasnya menuju puncak pencerahan total.
Jalan menuju puncak pencerahan total sama seperti sidik jari dari setiap orang, yang pasti berbeda antara satu sidik jari dengan sidik jari yang lain. Spritualitas adalah hak individu yang sangat pribadi, mungkin yang paling pribadi dibandingkan apapun. Tidak ada dua pengalaman spiritualitas yang sama antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Tuhan memang menciptakan manusia satu per satu dengan potensi dan keunikan yang berbeda antara satu orang dengan yang lain, walaupun manusia adalah pribadi sosial yang harus hidup secara berkelompok. Tetapi Semua keunikan dan pengalaman spritualitas individu tersebut merupakan kekayaan potensi kehidupan  manusia yang luar biasa besar, tanpa batas, dan ukuran dalam menciptakan kreatifitas positif bagi nilai tambah kehidupan di bumi ini.